
Dengan perasaan lunglai seperti tak bertenaga Habil Ismail Hasan Al Rasyid seperti pulang dari medan perang dan mendapati dirinya dalam kekalahan,hatinya berontak,rasa malu di hadapan Aryanti telah memporak porandakan pertahanan jiwanya,tak ada kata lagi untuk bisa di ungkapkan.
Menyalahkan diri sendiri, mengutuk dirinya kenapa begitu sembarangan mengumbar perasaan, kenapa tidak mencari tahu dulu ? kenapa dia begitu terbawa arus perasaannya sendiri kenapa juga dirinya begitu suka kepada Aryanti ? kenapa dirinya begitu pede ? dan yang di dapatkan Aryanti telah bertunangan,deg ! semua terasa nyelekit di dadanya.
Aryanti begitu sempurna di matanya, menjadi hiasan dalam hatinya, mengisi setiap sudut relung relung hatinya dan selalu hadir setiap mimpi-mimpinya kala tidur,bayangan dan senyumnya yang menggoda di setiap nafas ingatannya,sekarang dirinya tahu Aryanti sudah ada yang memiliki,Aryanti sudah ada yang punya,Aryanti sudah bertunangan mungkin sebentar lagi akan segera menikah.
Kenapa begitu sulitnya mencari seseorang yang cocok di hatinya,atau haruskah dirinya pasrah pada perjodohan yang di tawarkan Abi nya ? kenapa jalan terakhir harus ke sudut perjodohan ?
Masih terngiang percakapan Dirinya dengan Abi nya Hasan Al Rasyid beberapa tahun yang lalu,saat dirinya mengajukan tidak setuju dan penolakan terhadap keinginan orangtuanya,atas perjodohan dengan sepupunya Jihan.
"Abi hanya mengarahkan kamu Habil pilihlah salah satu dari keponakanmu dari sepupumu Jihan atau Sarah atau Salma, nasab dan keturunan mereka tidak diragukan lagi, apa mereka kurang cantik bagimu ? mau mencari yang bagaimana lagi ? atau kamu malah mau mencari jodoh kamu dari jalanan dari orang yang tidak tahu babat bobot bebetnya ? tidak jelas keturunannya ? fikirkanlah itu fikirkan manfaatnya juga baik buruknya"
"Abi,Habil setuju saja mengikuti saran Abi,tapi Jihan juga setuju dengan semua ini ? sepertinya aku menangkap sinyal penolakan dari dirinya"
"Itu baru perkiraan kamu saja, perempuan itu sulit di mengerti setuju tidak setuju tetap diam,suka duka tetap menangis"
"Aku sudah melihat penerimaan Jihan padaku di beberapa pertemuan keluarga"
__ADS_1
"Dekat lah saja dulu tidak harus tergesa gesa,Abi yakin dia juga taat pada orangtuanya,buat apa titel,gelar sekolah sampai Kairo lulusan terbaik,prestasi berjajar,memenangkan hati seorang perempuan kamu tidak bisa"
Habil merasa tersudut tidak bisa lagi beladiri di hadapan orang tuanya,terasa sakit di hatinya tetapi Habil sadar diri Abi nya adalah orang tuanya sebagai keramat bagi dirinya yang harus dituruti dan harus ditaati walau hatinya tidak setuju dengan semua ini.
Ingin rasanya Habil mengutarakan semua uneg-unegnya,kalau menaklukkan hati seorang perempuan memang tidak ada jurusannya dan juga tidak ada fakultasnya di tempatnya kuliah di Kairo, sungguh semua menjadi fikiran yang sangat mengganggu hari harinya.
Waktu Habil di habiskannya di sekretariat PHRI di tempat Hotelnya bekerja begitu malas pulang ke rumahnya,setiap pulang selalu di hadapkan pada persoalan-persoalan yang sama, juga selalu tak jauh dari harapan orangtuanya yang ingin segera dirinya berumah tangga, obrolan obrolan yang berbau sekitar perjodohan dan keluarga nama baik keturunan babat bobot bebet dan juga nasab orang tuanya.
Habil mengakui dirinya memang belum bisa menaklukkan wanita seperti yang di katakan Abi nya,tapi dirinya bukan belum bisa hanya belum waktunya saja, akan ada saatnya semua juga sampai tiba pada waktunya.
Habil merasa dirinya tak mudah jatuh cinta,tak mudah untuk mencintai,dan tak mudah menyatakan cinta,tapi sejak pandangan pertama bertemu dengan Aryanti hatinya begitu terpanah, dan tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Aryanti.
Entahlah Habil melihat Jihan waktu itu Jihan belum terlalu dewasa hanya kira-kira kalau satu atau dua SMA mungkin usia labil pada waktu itu dan jauh dari kata dewasa dan sekarang sudah beberapa tahun tidak bertemu mungkin Jihan sudah berubah atau mungkin lebih berubah dari yang diperkirakan Habil,apalagi Jihan sekarang mengambil Ekonomi di Perth Australia.
Sekian tahun tidak bertemu dengan Jihan jangankan bertemu nomor teleponnya aja Habil nggak punya bahkan seperti apa Jihan sekarang Habil juga tidak tahu biarlah waktu yang bicara dan memberi jawaban dari semuanya.
Hanya pada Ummi nya Habil bisa protes mencurahkan kekecewaan hatinya,dan dari Ummi nya Habil menemui ketenangan.
__ADS_1
"Tenang saja,Ummi mengerti kamu nggak mau di atur sama Abi sama Ummi, tapi itu bukan aturan yang mutlak,carilah perempuan yang cocok, bawalah pada Abi dan Ummi buktikan kalau perempuan itu perempuan baik-baik dari keturunan baik-baik, seiman dengan kamu hanya itu harapan Abi sama Ummi"
Habil hanya diam mendengarkan kata demi kata dari Ummi nya,dan sampai saat ini Habil belum bisa membuktikan apa-apa terhadap kedua orang tuanya.
"Apa salahnya kamu mencoba menjalin hubungan baik-baik dengan Jihan soal rasa rasa sayang rasa cinta akan timbul dengan sendirinya karena kata pepatah 'cinta akan datang karena telah terbiasa'
"Ummi aku nggak tahu Sikap Jihan sekarang ini, entah masih bersikap seperti dulu atau berubah..."
"Semua kalau belum di coba tidak akan tahu,coba cari tahu nomor telephonnya,jalani apa adanya secara alami,Ummi dengar satu tahun lagi Jihan selesai kuliahnya"
Habil pasrah dengan keadaan dirinya saat ini, tak yang bisa dilakukan,harapan terbesarnya adalah seorang Aryanti yang begitu menarik hatinya tetapi dirinya seperti menabur angin dan mentok tembok, semuanya buyar dan gagal di tengah jalan pendakian nya.
Kata kata Ummi nya bisa di terimanya dalam keadaan otak yang tenang tapi dalam keadaan otak berontak,semua faham terasa salah dan memojokkan dirinya,inilah saat terpuruknya, Habil tenggelam dalam lamunannya di ruang kerjanya di malam minggu yang sepi sendiri.
Sungguh tak bisa mengusir bayang-bayang Aryanti dari pelupuk matanya dari ingatannya dari hatinya semua begitu nyata Aryanti telah mencuri hatinya Aryanti telah mengalihkan perhatiannya dan Aryanti setelah membuka dunia nya,.
Nggak ada lagi gairah dalam hidupnya penjajakan yang selama ini telah menemui jalan buntu, hilang sudah harapan Habil untuk membuktikan kepada orang tuanya bahwa dirinya juga mampu memperkenalkan orang yang bisa memenuhi harapan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Satu satunya jalan sekarang Habil pindah haluan mencari tahu tentang Jihan,tentang sikapnya sekarang,dan hatinya setelah dewasa,dan Habil akan mencoba berdamai dengan aturan orang tuanya.