Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Pisah ranjang


__ADS_3

"Terimakasih untuk kehadiran semuanya di rapat tertutup ini saya sebagai penggagas rapat menyampaikan terimakasih kita di hadiri dari team management pusat yaitu Pak Daud Alhamdulillah masih di sini dan saya merasa begitu senang bisa berdiskusi banyak hal dengan beliau"


Semua diam dan Komang Putri membuka buka map dan mempersiapkan alat tulisnya kalau kalau ada yang perlu di tulisnya.


"Saya hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang tak terhingga atas kejadian kemarin...karena tanpa dukungan dan kerja keras rekan semua mungkin kami tidak bisa melewati masa masa sulit itu,yang sampai sekarang rasa trauma masih saya rasakan,dan saya menitik fokuskan pada satu yang menjadi ganjalan di hati saya yaitu menyisakan satu pertanyaan di hati dan saya hanya ingin pendapat di forum rapat ini untuk pertanyaan saya ini"


Anggota rapat semakin diam semua menyimak jelas kata kata Bu Aryanti.


"Selama saya dalam sekapan Made Ardika dan ber 'drama' menjadi Mama bagi anaknya dan begitu berhasil sampai Anaknya tidak bisa membedakan mana Mama yang asli dan mana seorang Aryanti,saya ada kompensasi dan penawaran juga negosiasi dan kesepakatan karena saya orang bisnis semua di lihat dari kacamata bisnis, sengaja saya menekan Made Ardika juga lewat kacamata bisnis,dengan kompensasi yang akhirnya setelah saya tahu tujuan Made Ardika yang sesungguhnya ada keikhlasan dari hati saya, adapun semua yang sudah saya terima berupa pengembalian dana Hotel juga semua sudah pada tahu, cek itu cair ada isinya,Made Ardika tidak bohong,yang menjadi pertanyaan saya adalah Apa saya salah melakukan itu semua ?"


Aryanti melirik Adrian suaminya yang hanya diam dan juga melirik Pak Daud,dan Adrian mulai berkata.


"Saya tekankan jangan ada keikhlasan untuk orang gila itu ! Perusahaan kami tak perlu kompensasi dana,itu hak milik kami bila perlu jadikan bukti untuk membuka kasus baru korupsi di Hotel ini !"


"Maaf Pak Adrian keikhlasan itu hanya milik pribadi saya sebagai rasa kemanusiaan,masalah anda tidak suka itu hak anda tidak ada hubungan dengan perusahaan, saya seorang Ibu dari seorang anak yang mungkin sama haus akan kasih sayang,hati saya terenyuh merasakan kepahitan masa kecil masa mesti di pupuk dengan kasih sayang,walau semua hanya drama dan pura pura tapi saya berhasil membangkitkan semangat hati seorang anak kecil dan membuat nya tersenyum dan bangkit dari keterpurukannya" Aryanti menatap tajam pada Adrian.


"Jangan menyamarkan kesalahan dengan kompensasi yang di terima dan keikhlasan Bu Aryanti ! salah tetap salah harus ada hukuman yang di terima"


"Saya bukan orang yang melawan hukum Pak Adrian semua di vonis menurut hukum dan aturan,tapi saya sebagai objek juga menjadi saksi ! atas kebenaran dan kesalahan"


"Stop ! stop...sudah sudah ! ini rapat apa debat? adu argumen hebat diri kalian masing masing ? kenapa jadi begini ? kita kembali ke konteks awal bahasan kita tadi..." Pak Daud jadi emosi mendengar Adrian dan Aryanti beradu faham masing masing di forum.

__ADS_1


"Dek Aryanti anda tidak salah,dalam suasana tertekan anda masih bisa berfikir jauh dan balik menekan lawan dengan hasil yang fantastis,saya salut dan kagum akan keberanian anda dan saya ucapkan selamat...juga sebagai saksi saya salut juga anda lugas mengatakan semua kronologi kejadian dengan sesungguhnya"


"Saya hanya punya kejujuran Pak Daud,dan saya tidak bisa berkata apa apa terhadap orang yang meragukan saya,biarlah kejujuran itu yang menjawab semuanya"


"Pak Adrian jangan termakan emosi yang berlebihan,semua ada porsinya kita serahkan pada hukum,pelaku akan dengan porsinya menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, Made Ardika bukan orang lain bagi Pak Surapraja dan lingkungan Hotel ini banyak juga jasanya bukan berarti saya membenarkan kelakuannya itu keterpaksaan yang menurut dirinya itu yang lebih baik,Made Ardika tidak membela diri bahkan dia pasrah dengan vonis apapun dengan meninggalkan anaknya yang begitu dia cintai,semua masalah ini sudah selesai kita tunggu saja khabar vonis bagi dirinya"


"Satu lagi Pak Adrian,seandainya Made Ardika menepati janji,saya membutuhkan Area untuk pengembangan kebun binatang saya meminta lahan untuk di beli dengan harga yang umum dan pantas di belakang Hotel ini apa itu bisa di lanjutkan dan di terima ?"


Adrian menatap Aryanti dengan tatapan elang,entah apa arti tatapan itu masih tak percayakah ? atau bahkan kerinduan ? terasa Adrian penuh selidik dan hati hati memilih kata kata untuk menjawab,dan Adrian berfikir sangat lama sampai pada akhirnya buka suara dengan jawaban ngambang.


"Karena itu adalah jual beli bukan kompensasi dan kesepakatan, dengan siapapun jual beli ada hitam diatas putih saya serahkan pada semua anggota rapat suara terbanyak yang diambil..."


Aryanti tersenyum merasa dirinya menang dan semua anggota rapat pasti menyetujuinya termasuk Pak Daud sudah ke pegang dari pendapatnya.


"Maafkan Kami Pak Daud saya merasa terpancing menjawab semua pertanyaan dan tanggapan yang kurang enak kedengarannya... kami belum bisa bijaksana seperti Pak Surapraja dan Pak Daud heee..."


"Saya tahu Mas Adrian dan Dek Aryanti profesional dan selesaikan masalah pribadi di kamar kalian"


Semua anggota rapat tersenyum dan rapat di tutup.


Aryanti buru buru pulang setelah bicara dengan Komang Putri karena dirinya mau belanja sudah habis semua keperluannya di rumah,minta diantar Komang Putri dan suruh janjian sama sopir kantor.

__ADS_1


Bu Inah juga Alinea dengan senang ikut juga lega rasa hati Aryanti bisa memeluk buah hatinya yang mulai pintar bernyanyi sepanjang jalan di dalam mobil.


Adrian pulang dan mendapatkan rumahnya begitu sepi,tak ada istrinya,Bi Inah juga Alinea hatinya di liputi kecemasan dan menelephon Komang Putri yang juga nggak ada di kantor tadi,dan benar saja mereka pergi bersama sama dan Adrian baru merasa lega.


Adrian masuk ke rumahnya yang dalam keadaan sepi nggak seperti biasanya selalu ada aktivitas begitu lengang suasana di rasakan Adrian,tanpa senyum istrinya,tanpa suara cerewet anaknya juga suara larangan Bi Inah pada putrinya Alinea...tapi Adrian belum bisa menghapus rasa tak percayanya pada istrinya,dan rasa bencinya pada Made Ardika masih saja jadi ganjalan di hatinya.


Aryanti pulang dengan belanjaan diantar sama sopirnya sampai teras rumahnya,Aryanti menggendong Alinea yang ngomong ngoceh begitu pintar dengan mainan barunya dan langsung di buka dan di mainkan nya,Bi Inah membereskan semua belanjaan dan Aryanti masuk kamar dan berganti pakaian lalu masuk kamar mandi tak memperdulikan suaminya yang duduk di sofa.


Begitu malas dan sakit hati Aryanti menjadikannya malas bertegur sapa sama suaminya biarlah dia dengan kesibukannya sendiri dan dirinya dengan acaranya sendiri.


Sampai malam tiba Adrian masih tak memperlihatkan raut muka yang seperti biasanya,dan Aryanti takut dirinya yang harus duluan menyapa sebagai seorang istri apa salahnya bertanya baik baik itu fikir Aryanti.


"Mas kenapa sih dan ada apa ? Aku hanya ingin dengar salah saya apa ? sejenius apapun orang kalau tidak mengatakan tak akan tahu isi hati seseorang"


"Syukur kamu bertanya dan ingin tahu..."


"Loh aku selalu menunggu Mas terbuka mendengarkan setiap waktu juga" Aryanti menatap suaminya.


"Aku ingin pisah ranjang sampai aku merasa yakin dengan dirimu !"


"Deg ! sekali lagi Aryanti merasa ada yang menimpa batu yang begitu besar di ulu hatinya,tanpa terasa dan tanpa di undang airmatanya begitu panas merembes di ujung matanya,Aryanti menatap Adrian yang tak memandangnya.

__ADS_1


"Atas dasar apa Mas ? apa atas dasar ketidak percayaan ? sebegitu rendahnya Mas memandang aku ? baiklah cari kepercayaan sendiri ! kalau kata sudah tak bisa memberi penjelasan ! silahkan pilih jalan yang terbaik menurut Mas paling baik mau kamar mana ? atau mau di kantor silahkan ! jangan datang padaku dengan keraguan !!!" Aryanti bicara sambil menangis dan masuk kamarnya dan menguncinya dari dalam dan menangis dengan begitu sakit hati,merasa di pojokan dengan suatu tuduhan yang tidak di lakukannya.


__ADS_2