
Jihan pamitan sambil senyum-senyum, melihat ruangan begitu berantakan apalagi tempat tidur yang kusut masai, kelihatan karena terbuka dan langsung menghadap taman dan kolam renang dalam ruangan itu.
"Sekarang aku mau tidur istirahat dulu, baru besok kita eksplor Anyer dan sekitarnya." Adelia berkata di tujukan sama suaminya Fath, tapi Fath tak menjawabnya.
Fath membuka pakaiannya, dan menyisakan celana boxer nya saja, Adel tahu itu maksudnya apa.
Adel naik tempat tidur duluan menarik selimut dan menyalakan AC, Fath juga begitu tapi membelakangi Adel seperti lagi marah.
Adel senyum memandang punggung suaminya yang membelakanginya tahu maksud Fath, pengennya di sapa duluan, manjanya lagi keluar.
Adelia memeluknya dari belakang dan menggodanya, menggigit pelan kuping Fath, lalu menggesekkan dadanya ke punggung Fath, Ajaib banget Fath langsung berbalik menyelusupkan wajahnya di dada Adel dengan nyamannya.
"Awww, Fath pelan sayang sakit ... setiap waktu kamu nggak bosan-bosan berada di tempat itu!"
"Tapi kamu juga suka kan?" Suara Fath tak begitu jelas dari balik dada Adel.
"Biasa saja!"
"Nggak mungkin kalau cuma biasa saja."
"Fath, kenapa Jihan begitu tak suka ya, padahal kita menjalani sudah begitu lama malah semakin hot saja?" Adel bicara sambil memejamkan matanya.
"Itu dari hatinya dia yang nggak bisa menikmati, ada yang salah dalam hubungan mereka sayang, kita saling cinta, jadi kita saling menikmati, menerima apa adanya dan mensyukuri juga ikhlas menerima pasangan kita." jawab Fath begitu kedengaran dewasa.
"Fath!"
"Hemght ...."
"Aku punya rencana, tapi bisa nggak ya? bagaimana caranya biar bisa mereka balikan dan baikan kembali, aku merasa kasihan pada anaknya walaupun belum pernah bertemu dan melihatnya, anak segede itu kehilangan figur seorang ayah dan menjadi saksi runtuhnya sebuah rumah tangga Mama dan Papanya, betapa miris kehidupan anaknya walaupun semua bisa tercukupi hanya karena keegoisan kedua orang tuanya."
"Sayang nanti kita bahas lagi soal Jihan ya karena tidak cukup waktu sedikit untuk membahasnya, kita selesaikan dulu satu babak ini ya!"
"Iya Fath, lanjutkan! kamu kan nggak bisa tidur siang kalau nggak main dulu."
"Adel suami istri itu sah melakukan apapun dan kapanpun jadi kita harus mensyukuri semuanya, kita manfaatin waktu luang kita sebelum datang masa sempit kita, kalau suami senang istri juga harus senang, Aku senangnya di sini ya kita nikmatin bersama." Fath menenggelamkan kembali mukanya ke dada Adel.
"Kapan kita punya waktu sempit Bos? semua serba luang dan bebas, kita usaha sendiri, nggak di atur orang juga tak terikat peraturan, kita banyak waktu bersama, di rumah di pekerjaan. Tapi sepertinya kita nggak ada kendor-kendornya?" ucap Adel yang memandang ke bawah dadanya, dimana Fath asyik bermain di situ.
__ADS_1
"Iya ya, padahal belum pernah aku kehilangan satu malam pun sejak kita menikah." Fath menjawab sambil melepaskan sesuatu dari dalam mulutnya, lalu menciumnya berkali kali kedua benda kesenangannya itu.
Manis madu cinta di lalui dengan kebahagiaan dan di nyatakan dengan nyata dalam balutan kasih sayang yang tak pernah surut.
Cinta yang luar biasa sanggup mengalahkan semua perbedaan dan rintangan apapun, tak ada halangan yang berarti semua dapat mereka lalui, sedikit aral menjadi halangan bagi mereka sanggup mereka halau dengan mudahnya. Yang ada hanya kebahagiaan dan rasa suka yang mereka rasakan.
Fath harus selalu tersenyum membesarkan hati istrinya dan memeluknya saat dalam keadaan terpuruk, apalagi akhir-akhir ini istrinya kelihatan begitu sensitif dan merasa tertekan perasaannya.
Bagaimana tidak pergi ke Bali liburan kurang lebih seminggu, mendapatkan keponakan yang begitu cantik membuat Fath sama Adel begitu jatuh hati sama Alinea kecil yang sangat menggemaskan.
"Kapan kita punya yang seperti ini Fath?" Adelia seperti merajuk pada suaminya, Saat Alinea di bawa ke kamar mereka atau di bawa jalan-jalan.
Fath hanya bisa memeluk mencium dan mengusap-usap Adelia, memberikan asupan kesabaran dan support yang luar biasa menanamkan rasa kesabaran yang memang seharusnya tiada batas.
Pulangnya ke Bandung, melihat Fath sama Adel masih berdua, melenggang dengan bebasnya belum ada buntut mengikuti mereka dan merepotkan mereka ada sedikit nasehat orangtua yang memang dianggap sangat wajar tetapi diterima dengan sensitif sama Adelia, Adel seperti tertekan, semua kata-kata tentang anak dan keturunan seperti menghujam pada hatinya, walaupun Ibu Handayani selalu menyampaikan dengan do'a dan harapan dengan kata-kata lembut, tetapi diterimanya sama Adelia dengan perasaan lain dan akhirnya membuat Adelia uring-uringan sendiri dan tidak betah di rumah.
Fath hanya bisa memeluknya dan menghibur, semua orang tak akan ada yang sama, harus berbeda, lain orang lain kisah dan jalan ceritanya, semua harapan tak akan selalu terkabul dengan cepat semua butuh proses dan usaha yang maksimal.
Adelia memandang suaminya yang sudah tidur pulas, kecapekan. Kelihatan begitu tanpa beban dan begitu menikmati liburannya.
Adel mengusap rambut suaminya dan memandang wajahnya dengan penuh perasaan cinta yang tak bisa di jabarkan.
'Betapa ingin aku berikan kebahagiaan padamu Fath sebagai tanda cinta kasih kita, buah hati pengikat cinta kita yang akan lebih mempererat hubungan kita.'
'Aku tahu kamu begitu menginginkannya, seperti inginnya diriku. Menjadikanku sempurna sebagai seorang perempuan. Menikah punya suami dan bisa menimbang buah hati yang di harapkan.'
'Aku tahu semuanya Fath, tapi kamu lebih bisa menyimpan perasaan kamu sendiri.'
Adel mencium pipi suaminya yang lagi tidur dan menggeliat sedikit, lalu pulas kembali.
Adel tersenyum dan turun dari tempat tidur, lalu membersihkan diri di kamar mandi.
Keluar kamar mandi mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu meraih ponselnya. Terasa segar seluruh badannya.
Adel menelephon Kakak iparnya Aryanti. Lama nyambungnya tapi akhirnya di angkat juga.
"Ya Adel, dimana kamu sekarang? Ibu sama Bapak sehat?" Aryanti mencecar Adel dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Iya Kak Aryanti, Bapak sama Ibu sehat. Aku sama Fath lagi di Anyer ini." jawab Adel.
"Ya ampuuuuun, kalian langsung ke Anyer? Adel kasihan Ibu sama Bapak sepertinya mereka masih kangen, apa nggak di ajak sekalian Ibu sama Bapak jalan-jalan?" suara Aryanti kedengaran begitu perhatian sama kedua mertuanya.
"Udah Kak, kemarin aku sama Fath nginap di rumah tapi cuma satu malam heee ... nanti juga pulang lagi Kak paling di Anyer tiga malam saja, tadi dah ketemu Jihan."
"Oh, ya syukurlah." Aryanti menjawab datar saja.
"Eh apa Kak Aryanti nggak mau dengar kabar Jihan?"
"Apa perlunya buat aku Adel? itu kan teman kamu?"
"Tapi kan suaminya Pak Habil teman Kak Aryanti waktu di Pangandaran."
Adelia, Pak Habil adalah temanku tidak pernah ada apapun, walaupun pernah ada sedikit pernyataan beliau pada Kakak, tapi semua clear saat itu juga, saat tahu Kakak sudah tunangan sama Mas Adrian. Hanya itu saja luar itu kami berteman sangat cocok, karena dia pintar, supel dan nyaman untuk jadi teman apalagi kita satu profesi di bidang yang sama." Panjang lebar Aryanti memberi pengertian pada Adelia.
"Iya Kak, Adel mengerti maksud Adel apa Kak Aryanti mau tahu keluarga Pak Habil gitu!"
"Antara ya dan tidak Adelia, Kakak harus lebih bijaksana dalam menyikapi apapun karena sekarang kan kakak sudah tidak sendiri lagi, Kakak sangat menjaga sekecil apapun kesalahpahaman diantara Kakak dan Mas Adrian. Ya sekecil apapun itu. Kisah perjalanan Kakak sama Mas Adrian terlalu panjang dan rumit tak ada yang diinginkan selain kedamaian dan keharmonisan keluarga kami kini Adel." Aryanti selalu dengan bijaksana dalam tiap tutur katanya.
"Maaf ya Kak Aryanti, mungkin Adel belum bisa seperti Kak Aryanti."
"Iya Adel, sama-sama, mendengar kabar sahabat lama Kakak Pak Habil baik-baik saja juga aku merasa bersyukur."
"Justru tidak baik-baik saja Kak!"
.
.
.
.
Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.
Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏
__ADS_1
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝