
"Jihan, tragis banget perjalanan lo!"
"Lebih dari tragis Adel, sejak saat itu gue gak pernah bicara apapun dengan Kak Habil walaupun saat hamil, dan gue terapi sampai sembuh terus lahiran dia yang mengurus karena kami masih sama-sama tinggal di Pangandaran waktu itu, baru setelah Zaid lahir gue meminta pindah ke sini dan menata hidup gue sendiri. Kak Habil datang secara rutin walaupun terkadang dia nggak ngomong sama sekali, begitu juga gue, hanya menengok putranya Zaid yang sekarang sudah berusia 2 tahun, terkadang dia juga ingin membawanya ke sana tapi gue nggak pernah kasih." tutur Jihan panjang lebar.
"Ya ampuuuuun Jihan, masalahnya hanya ucapan itu doang? suami lo pernah kagum sama Kak Aryanti? Masya Allah Jihan, kenapa pikiran lo begitu picik menurut gue! kan lo juga pernah suka sama Kak Adrian, dan lo perjuangkan bukan hanya di Australia saja, bahkan sampai Kak Adrian menikah juga lo masih berharap ada keajaiban jadi apa bedanya sama suami lo?" Adel mengatakan pendapatnya.
"Tapi gue merasa jadi tumbal orang lain dalam kehidupan suami gue Adel, hidup dalam bayang-bayang orang lain itu tidak enak dan menyakitkan, tidak seperti yang kita bayangkan, setiap kita mengingatnya akan memicu panasnya hati kita." Jihan dengan enteng membela diri seakan dirinya paling benar.
"Apa pikiran lo hanya tertuju pada suami lo saja Pak Habil? jujur nggak ada pria lain terlintas di otak dan pikiran lo? sekalipun itu aktor Korea atau Australia?" Adel ingin sekali menyudutkan Jihan merasa tidak rela melihat rumah tangganya berantakan hanya karena masa lalu yang sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi.
Aryanti sudah tenang dengan kehidupannya begitu juga Kak Adrian Kakaknya sendiri, mungkin sudah tidak memikirkan lagi tentang masa lalu yang pernah mengisi hari-hari mereka.
Sedangkan Jihan masih saja berkutat dengan masa lalunya yang begitu mempengaruhi masa-masa sekarang ini, seharusnya dirinya juga sudah bisa menata masa depannya dengan bahagia, ada anak, ada suami yang begitu sabar dan mencintainya, harusnya Jihan juga sudah bisa keluar dari masa lalunya karena semua sudah punya kehidupan masing-masing, itu yang tak habis Adelia pikir merasa Jihan pintar dalam segala hal tetapi untuk masalah perasaan kenapa dia begitu tertinggal?
"Ji, apa bedanya dengan kita mengidolakan artis aktor penyanyi yang sekarang banyak banget, begitu dipuja juga di sanjung sanjung, begitu banyak bertebaran di semua media, aktor artis Korea dalam dan luar negeri. Kalau gue jujur yang gue hadapain sekarang adalah masa sekarang suami gue! bukan masa lalunya, kalau masa lalunya bodo amat! coba begini saja, lo cari tahu bagaimana respon Kak Aryantinya sendiri? mana dia tahu? dia sudah punya kehidupan sendiri punya rumah tangganya sendiri sedangkan kita hanya sibuk dengan perasaan cemburu yang tidak mendasar hanya sibuk dengan perasaan emosi yang di lampiaskan kepada suami, suami gue murni milik gue ada di hadapan sekarang dan selanjutnya titik, itu prinsip gue!"
Jihan diam, entah mengerti entah kepikiran entah apa lagi.
"Berpikirlah yang benar Ji! gampangnya saja begini ngapain kita memikirkan orang lain yang orang lain itu tidak memikirkan sama sekali apa yang kita pikirkan, habis waktu kita sia-sia untuk memikirkan hanya sekedar ucapan masa lalu, gunakan foto kita untuk hal-hal yang bermanfaat untuk hal-hal yang positif, semua orang juga punya masa lalu."
Jihan masih saja diam, mungkin memikirkan ucapan apa yang tepat buat menyangkal omongan Adel yang memang benar.
__ADS_1
"Ayo gue sama Fath antar lo ke Pangandaran, jangan berbuat lebih banyak dosa lagi terhadap suami lo yang kelihatan begitu sayang, begitu mencintai lo!" ajak Adel, begitu antusias.
"Terkadang gue juga kesepian Adel, mungkin menginginkan kebersamaan dan kedamaian dalam rumahtangga, tapi mengingat Kak Habil mungkin begitu mencintai Kakak ipar lo hatiku jadi sakit dan berontak!" ucap Jihan sangat kekanak-kanakan pemikirannya.
"Jihan, kalau Kak Aryanti punya pikiran seperti lo saat ini, lo malah pernah ada main sama Kak Adrian di Australia juga di sini pasti rumahtangganya sudah berantakan juga, tapi Kak Aryanti orangnya lebih bijaksana dalam berpikir juga dalam tindakannya."
Di balikin seperti itu Jihan merasa tertpojok, Jihan merasa dirinya juga bukan seorang wanita yang bebas dari salah, bahkan saat Adrian sama dirinya bertemu di Australia status Adrian sudah bertunangan sama Aryanti, bahkan Jihan tetap mencari celah dan kesempatan untuk mencari peluang bisa masuk ke hati Adrian, bahkan saat Adrian sudah menikah, Jihan masih saja datang ke Pangandaran memastikan siapa tahu ada kecocokan yang tidak di temukan Adrian pada istrinya Aryanti.
"Sudah gue antar lo ya? sekalian gue tengok hotel yang di Pangandaran, kita bulan madu lagi sama-sama nanti di sana, nanti giliran gue yang fasilitasi lo di hotel gue." ajak Adel sekali lagi.
"Apaan bulan madu? gue udah ada anak, Zaid segalanya sekarang buat gue."
"Memang gue egois Adel, tak bisa mengendalikan perasaan gue sendiri."
"Stop, mulai sekarang ayo kita mulai dengan pandangan baru, anak lo butuh kasih sayang kedua orangtuanya, lo juga butuh seorang suami, kalau gue sudah punya anak akan gue korbankan segalanya, jangankan masa lalu yang tak beri apa-apa pada kehidupan sekarang, lo harusnya lebih bersyukur menikah langsung isi dan punya anak, sedangkan gue tiap malam kadang siang juga ngos-ngosan hanya enak aja belum jadi anak." tutur Adel, Jihan tersenyum merasa ada sedikit pencerahan di dalam hatinya ada sedikit pembenaran terhadap apa yang diucapkan Adelia.
"Jadi ya kita bareng ke Pangandaran, gue pengen lihat lo bulan madu lagi setelah sekian lama lo garing tak di sentuh suami lo, ngapain membiarkan diri tenggelam dalam emosi yang tak berarti."
"Gue pikir-pikir dulu Adel, gue kepalang betah di sini."
"Jihan, nggak ada yang lebih betah dan nyaman selain kita di sisi suami kita, mau ngapain tak ada yang mengganggu, sebenarnya lo juga mencintai Pak Habil tapi lo kelewat jutek, jadinya seperti ini, coba bayangkan seandainya suami lo tidak ketemu lo sekian bulan, tidak hidup bersama-sama sekian lama, seorang suami itu butuh begitu banyak perhatian lahir bathin nya yang tidak lo penuhi, sedangkan dia tidak mendapatkan sama sekali dari lo, bagaimana seandainya Pak Habil mencari kenyamanan pada perempuan lain? apa lo akan rela? akan lebih kompleks lagi permasalahan seandainya terjadi. Gue bukan menakut-nakuti lo tapi itu kemungkinan akan seperti itu."
__ADS_1
Deg! tak sedikitpun Jihan berpikir ke arah itu mungkin hatinya akan berdarah lagi, memang benar sejak Zaid lahir mereka hampir tidak berkomunikasi dengan baik apalagi berhubungan layaknya suami istri, semua ucapan Adelia menjadi ketakutan tersendiri bagi Jihan.
.
.
.
.
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1