Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Saya hanya ingin mendengar itu


__ADS_3

Seperti malam kemarin Aryanti hanya memeluk Alinea di tempat tidurnya dan pengembaraan lamunannya begitu liar tak terkendali menembus ruang angan dan bawah sadarnya, sadar dalam kesendiriannya membayangkan saat saat terpuruknya Aryanti merasa takut yang luar biasa melihat tatapan Made Ardika saat itu pada dirinya,membuat jantung Aryanti berdegup kencang...tapi dirinya syukur saat ini sudah bebas dan Aryanti mengusap dadanya.


Malam ini Aryanti tak bisa tidur suara binatang malam dengan bermacam macam suara begitu jelas mengisi suasana yang senyap,hati dan perasaannya begitu tak tenang,gelisah dan hanya memandangi jarum jam yang dirasa berputar begitu lambat,pada siapa semua resah ini ku adukan ? yang pasti bukan pada suaminya... saat ini tahanan bukan tempat yang begitu nyaman untuk mendengar keluh kesahnya dan bukan waktu yang tepat juga untuk alasan apapun selain untuk istirahat malam karena waktu menunjukkan pukul 01.10 malam.


Aryanti gamang dengan dirinya,apa negosiasi dengan Made Ardika yang dirinya lakukan dengan mengembalikan uang yang di seleweng kan dengan alasan Made Ardika protes sama management pusat itu sudah benar ? juga keinginan dirinya menambah area tanah pengembangan kebun binatang Hotel ini dan di jadikan satu kesepakatan dirinya dan Made Ardika itu juga benar ?


Aku tak perduli penilaian orang dan Aku belum mendengar pendapat Pak Surapraja,Pak Daud,juga Pak Daman dan Pak Bharata...yang terfikirkan saat itu hanya itu bukan yang lain...


Ingin segera pagi menjelang dan Aryanti ingin berkunjung kembali menengok suaminya dan syukur syukur bisa pulang dengan Mas Adrian...Aryanti begitu penuh harap dan hanya kerinduannya yang ada di dalam dadanya.


"Mas... begitu tak menentu perasaan ini tanpa kamu,Aku baru menyadari rasa ini begitu besar untukmu saat kusadari kita saling tak bertemu..."


Aryanti menangis di sepertiga malam dalam sholat malam dan sujud nya...galau hatinya tak menentu dan Ibu mertuanya yang bangun saat ada suara pintu kamar di buka melihat menantunya ke kamar mandi dan kembali masuk kamarnya dan pintunya tak di tutup rapat.


Bu Handayani mengetuk pintu kamar Aryanti dan masuk mendapati menantunya lagi menangis,hatinya jadi ikut bersedih...Bu Handayani jadi ikut nggak tenang fikirannya,seribu ketakutan menyerangnya takut menantunya trauma yang berlebihan dan memerlukan penanganan psikologis khusus.


"Nak apa bisa tidur ?"


"Oh Ibu...sebentar sebentar tidur dan terjaga lagi sulit untuk bisa nyenyak Bu..."


"Tidurlah lagi masih malam biar Ibu temani di sini..."


Aryanti hanya terpekur dan menunduk.


"Apa yang kamu mau yang ada dan nyaman dalam bayanganmu Nak ?"


"Aku hanya ingin cepat siang Bu...ingin segera bertemu Mas Adrian..."


"Ya ya ya Ibu tahu itu...perasaan suami istri harusnya seperti itu saling ingat dan mengingatkan setiap waktu, tapi kamu juga harus sehat,harus istirahat... jangan abaikan itu kasihan anakmu kalau kamu sampai sakit, Bapak nya juga nggak ada apa kamu tega ?"


Aryanti terdiam dan menyeka Air matanya,membenarkan kata kata Ibu mertuanya.


"Sini kita ngobrol saja kalau kamu nggak ada rasa kantuk lagi biar Ibu temani, ceritakan segala uneg-uneg yang ada di hatimu Nak..."


"Ibu begitu banyak yang ingin Aku keluarkan sebagai sesuatu yang mengganjal di hati ini..."


"Sini...sini duduk di sini" Bu Handayani menggeser duduknya dan Aryanti duduk di sampingnya di ujung tempat tidur.

__ADS_1


"Ibu Aku menangkap sinyal dingin di mata Mas Adri padaku Aku tak tahu apa itu hanya perasaanku saja ? atau juga Mas Adri meragukan Aku Bu ?


"Anakku...jangan dulu berprasangka jelek karena akan jelek yang kamu dapatkan dari prasangka mu,tapi berbaik sangka lah niscaya akan baik apa yang kamu dapatkan... kecemasan suamimu kehilangan waktu selama hampir lima hari lima malam itu adalah kekhawatiran yang sangat beralasan... seorang istri adalah kehormatan bagi suaminya begitupun sebaliknya,itu semua dirampas dari dirinya...dapat semua orang bayangkan... amarah,emosi dan murkanya seorang yang merasa di lecehkan harga dirinya"


"Ibu Aku tak di perlakukan tak senonoh,tak ada pelecehan tak ada perlakuan tidak sopan... Made Ardika hanya ingin 'drama' itu untuk Anaknya Aira"


"Ya Ibu percaya itu... Made Ardika tak melakukan itu semua pada dirimu, dan dramanya begitu sukses tapi ingat cara dia mengambil paksa kamu seperti mafia saja...di bawah rata rata sopan santun tata krama dan melanggar norma dan melanggar hukum semua harus di bayar dengan ganjaran hukuman yang setimpal,tak ada pembelaan sama sekali untuk perbuatannya"


"Lalu aku seperti apa Bu meyakinkan Mas Adri...?"


"Kamu tidak salah Anakku...tapi di posisi yang serba salah tak ada kata lain selain jujur dan setia pada kejujuran itu sendiri...Kamu begitu jenius dalam hal apapun di mata Ibu tak ada kekurangan,yakinkan suamimu dengan kejujuran, itu saja"


Aryanti mulai berfikir dan berfikir dan ingin segera saat itu datang dan Aryanti bisa bertemu suaminya dan berbagi suka duka,dan menumpahkan perasaannya di pelukannya. Aryanti begitu ngantuk sebagian waktunya di bawa untuk ngobrol dan curhat dengan Ibu mertuanya,dan Aryanti tidur kembali di samping Alinea.


Bangun pagi agak kesiangan kepala Aryanti dan mata terasa begitu berat tapi begitu banyak yang di agendakan nya hari ini,dengan tetap semangat Aryanti melakukan aktivitas paginya dan semua beres pada waktunya...


Alinea bangun saat Aryanti sudah siap berangkat ke kantor dan memanggil Mamanya saat bangun tidur.


"Mama Dedek bangun Ma...."


Alinea mengangguk... kepintarannya membuat Aryanti sedih tak banyak waktu dirinya saat ini untuk melepas kangen menemani putrinya belajar dan bermain,begitu banyak urusan yang harus di selesaikan Aryanti,hanya sedih menggelayuti hati Aryanti..


"Mama mau kelja ya...?" Alinea bertanya saat Aryanti menggendongnya.


"Heeee...iya sayang...Dedek di rumah main sama Nenek juga Bi Inah jangan nakal ya pinter... Mama mau jemput Papa nanti pulang..."


sekali lagi Alinea mengangguk.


"Dedek mau nonton tv apa mau mainan saja hemght...sayang ?"


"Dedek mau ini aja..." Alinea mengacungkan mainan yang di pilihnya dan Aryanti tersenyum sambil mengangguk.


Aryanti menggelar karpet untuk Alinea main dan Alinea mengambil mainan mainan yang di sukai nya dan mulai anteng dengan mainannya.


Aryanti menemui Bi Inah sedikit memberi pepatah khususnya buat Alinea dan pamit kan sama Ibu mertuanya karena Aryanti berangkat pagi pagi banget...banyak hal yang harus di selesaikan...


Sebelum berangkat Aryanti memastikan isi tasnya juga dandanannya...lalu memangku dan menggendong Alinea mencium sayang kedua pipinya dan Alinea balas mencium pipi Mamanya sambil tersenyum dan Aryanti menurunkan Putrinya lalu melambaikan tangan..

__ADS_1


"Dah sayang...nanti mandi makan dan main lagi ya..."


"Dah Mama..." Aira mulutnya berucap tapi matanya tak melihat anteng pada mainan.


Aryanti begitu berenergik berjalan menuju tempat kerjanya dan baru ada beberapa orang saja staf di office,dan kelihatan masih pada santai ada yang masih ngopi dan sarapan...


Datang Komang Putri yang kelihatan datang masih pagi.


"Pagi Bu Aryanti..."


"Ya pagi juga Komang..."


"Apa Bu Aryanti sudah sarapan ? kalau belum biar saya yang ambilkan sekalian mau apa juga minumnya apa ?"


"Oke ambilkan saya apa saja juga minumnya apa aja... terimakasih ya..."


"Sepertinya pasrah banget heee..." Komang Putri tersenyum,begitu juga Aryanti


"Saya lagi nggak mood,tapi sarapan belum dan nggak terfikirkan apa apa yang penting minumnya hangat"


"Iya siap Bu..."


Datang Komang Putri dengan satu nampan gede berisi minuman dua gelas dan makanan kecil dua piring dan di simpan di meja kerja Aryanti... tanpa di suruh Komang Putri duduk langsung di hadapan Aryanti yang sudah mengambil gelas minumnya dan meniupnya sedikit.


"Apa Pak Surapraja,sama Pak Daud sudah ada kelihatan di kantor ?"


"Belum Bu tapi sepertinya tadi saya lihat mereka menuju ke area melihat lihat kebun binatang"


"Oh ya sudah gimana Aira apa Komang bertemu dan melihatnya ?"


"Ya saya ke sana semalam...Aira baik baik saja lagi bermain,juga sekolah mau,malah saya tak melihat ada sedikitpun trauma di wajahnya...dia kenal saya dan datang memeluk saya..."


"Syukurlah...saya hanya ingin mendengar itu"


"Waktu saya tanya Mana Papa ? dia jawab Antar Mama kerja naik pesawat terbang..."


"Anak pintar..."

__ADS_1


__ADS_2