Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Baru seminggu,belum sebulan...


__ADS_3

Seminggu sudah Adrian berada di rumahnya hanya dari kamar turun ke bawah ke kamar lagi paling ke teras depan rumahnya,kontrol ke rumah sakit dan begitulah kesehariannya tiada kegiatan lain Adrian begitu berharap bisa menghubungi Aryanti bagaimanapun caranya sejak Adrian tahu dari Pak Edi 4 hari yang lalu kalau Aryanti juga sudah pulang ke Bandung, tapi menghubungi Aryanti laksana berada di planet lain begitu susahnya.


Sudah beberapa kali ponsel Ibunya dibanting dibelikan yang baru dan dibanting lagi setelah Adrian tetap tak bisa menghubungi Aryanti, ingin rasanya Adrian marah se marah marahnya melampiaskan segala emosinya tapi kepada siapa ? hanya kepada benda yang ada dihadapannya, berkali-kali Bi Ani menyapukan gelas pecah menyapukan bubuk pecahan piring,dan casing handphone pecah,semua menjadi sasaran kemarahan dan kekecewaan.


Kepada Pak Edi juga menjadi sasarannya kemarahannya kenapa tidak disuruh menghidupkan ponselnya ? kenapa tidak dipaksa ? kenapa tidak bisa meyakinkannya ? dan 1000 kenapa-kenapa lainnya ditujukan kepada Pak Edi, Pak Edi bingung mau menjawab apa menjawab begini salah menjawab begitu juga salah, semua dikatakan kepada Adrian apa adanya tapi usahanya sia-sia bahkan Pak Edi mengatakan dengan berbohong segala pada Aryanti kalau staf stafnya nanti ada perlu Aryanti bisa berkonsultasi tetapi Aryanti kukuh pada pendiriannya belum mau mengaktifkan ponselnya.


Sampai pada siang entah hari ke berapa Adrian tidak menghitungnya memanggil Pak Agum yang kebetulan sedang pulang kerumah dari mengantar Bapaknya ke kantor,Adrian merasa dirinya sudah sembuh merasa dirinya sudah kuat lalu mengajak Pak Agum keluar dan yang dituju tidak lain adalah rumah Aryanti,tak luput Pak Agum juga menjadi sasaran kemarahan dan kekesalannya.


"Mas Adrian apakah Bapak tunggu di sini atau bapak pulang lagi, Mas Adrian akan lama apa tidak ? Pak Agum bertanya sambil menarik rem tangan.


"Pokoknya Pak Agum tunggu disini sampai saya pulang lagi,mau lama mau sebentar,mau seminggu mau sebulan juga tunggu aja"


"Tapi Mas takutnya Bapak atau Ibu ada perlu sama saya takut mau di antar kemana gitu"


"Ini juga sama keperluan ! keperluan Bapak sama Ibu di tunda dulu,yang paling sangat perlu itu saya sekarang,matikan ponselnya !"


"Nih duit buat makan atau ngopi di sana ada warung,pesan sekalian sepuluh gelas biar aman"


"hah ???"


Adrian turun tanpa melihat lagi ke arah Pak Agum yang seperti ketakutan dan juga seperti geli dan bingung,baru kali ini tingkah majikan mudanya sangat aneh.


Aryanti ! Aku hanya ingin tahu keadaanmu Aku hanya ingin tahu kesehatan mu hanya ingin mendengarkan suaramu,melihatmu,Aku ingin meminta maaf kepadamu aku ingin mendengar kata maaf darimu agar aku bisa menjalani kehidupan kedepannya dengan langkah tanpa beban, aku begitu tersiksa dengan perasaan bersalahku dan aku begitu tersiksa dengan perasaan rinduku.


Turun dari mobil langkah Adrian begitu panjang-panjang ingin cepat sampai ke rumah Aryanti setelah sampai Adrian mengetuk pintu,tapi tak ada yang menjawab mengucap salam sama tidak ada yang menjawab.


Adrian membuka pintunya dan tidak di kunci lalu masuk tak ada siapa-siapa mulai dari depan rumah di tengah rumah dan hanya pintu kamar Aryanti yang terbuka sedikit,Adrian perlahan masuk,terlihat Aryanti lagi tidur memeluk boneka membelakangi pintu,rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya,bekas luka di dahinya masih tergambar jelas,sejenak Adrian terpaku memandang sosok yang begitu di rindukannya,sosok yang hampir setahun ini mengisi hari hari dengan bahagianya,melewatkan senja senja dengan gelora asmara mereka,Aryanti yang selalu di peluknya dengan perasaan cintanya, Aryanti yang selalu menyandarkan kepala di bahunya dengan manja,mengisi sanubari dan relung hatinya yang terdalam,hati Adrian begitu teriris mengingat semua yang telah menimpa belahan jiwanya,Adrian ingin memeluknya ingin membelainya ingin menciumnya dengan perasaan setulus hatinya tapi Adrian hanya berdiri dengan lelehan air mata.


Adrian perlahan berkeliling tempat tidur Aryanti lalu duduk di sisi salah satu tempat tidur Aryanti, memandang sekeliling isi kamar yang begitu rapi di atas kepalanya tergeletak kotak perhiasan pemberiannya dan juga laptop dan ponselnya.

__ADS_1


"Sayang apa kamu baik baik aja ?"


Aryanti menggeliat seperti mimpi mendengar suara seseorang,dan Adrian mengusap kepala Aryanti membuka matanya perlahan.


"Astagfirullah, Mas sejak kapan di sini ?" Aryanti sibuk mencari ikat rambutnya dan mengikatnya,lalu mencari kerudung penutup kepalanya,dan cardigan penutup badannya yang di buka tadi,Aryanti hanya memakai tangtop,mukanya memerah karena malu,di pandang Adrian dalam keadaan seperti ini, Tapi semua itu tak sempat dilakukannya keburu Adrian menariknya.


"Ssssssssst ..." Adrian menarik kedua tangannya lalu mencium sebelah atas kedua tangan Aryanti dan memeluknya bertubi tubi,kontan Aryanti kaget, gugup, takut,takut kedua orang tuanya tahu dan melihatnya.


"Mas"


"Jangan katakan apapun"


"Mas aku takut Mamaku datang ! dan melihat kita"


"Biarin"


"Aku nggak mau di peluk Mas"


"Aku benci Mas"


"Itu urusanmu"


"Aku nggak kangen sama Mas"


"Pasti itu bohong besar"


"Mas lepaskan aku"


"Aku nggak mau"

__ADS_1


"Nanti Mamaku melihat kita"


"Biarin dia lapor RT"


"Aku malu sama Mamaku"


"Mereka juga pernah pacaran"


"Iiiiiiiiiih Mas aku nggak mau di paksa"


"Kalau nggak di paksa kamu tak mengerti perasaanku"


"Aku teriak sekarang nih"


"Teriak saja biar semua orang tahu"


"Aaaaaah,Mas lepaskan aku ! keluar dari kamarku,siapa yang suruh masuk Mas ke sini ? sembarangan saja nggak menghargai privasi orang itu namanya"


Ariyanti mendorong Adrian sampai pelukan mereka lepas Aryanti menatap tajam Adrian yang meringis kesakitan dan terhuyung duduk di lantai,Aryanti kaget takut Adrian sakit kembali, lalu Aryanti bangkit dan menghampiri Adrian yang menahan sakit duduk di lantai dengan perasaan cemas.


Ditariknya kedua tangan Adrian diajaknya berdiri dan didudukkan di ujung tempat tidurnya, Adrian memegang perutnya nafasnya kelihatan tersengal-sengal lalu Aryanti mengambil air minum bekas minum dirinya yang masih ada di meja kecil di samping tempat tidurnya dan memberikannya kepada Adrian dan minumnya setelah itu Adrian memejamkan matanya sampai kelihatan masih meringis menahan sakit.


"Nak ini buahnya Mama sudah beli di pasar"


Bagai disambar petir Aryanti kaget luar biasa mendengar suara mamanya datang lalu Aryanti sibuk mencari cardigan nya dan memakainya juga kerudungnya cepat-cepat duduk di samping Adrian dalam keadaan pakaian yang belum rapi karena dipakai terburu-buru, Andrian terasa geli melihatnya tingkah Aryanti yang sangat lucu, mengatur dan memposisikan dirinya dalam keadaan gugup di depan orang tuanya.


"Ya Ma"


"Di meja ya, Mama sholat dulu"

__ADS_1


Aryanti terdiam sambil membenarkan pakaian juga melirik ke pintu Mamanya sudah nggak kedengaran lagi, Aryanti memandang Adrian dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan, entah itu perasaan kangen entah itu perasaan benci marah atau kecewa tapi yang pasti Adrian lihat sorot kerinduan juga seperti dirinya.


__ADS_2