Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Obsesi Made Ardika


__ADS_3

Aryanti duduk di sofa dalam ruangan pimpinan dan Adrian juga sama duduk di sampingnya masih menahan marah dengan muka merah.


''Mas sabar apa apaan semua ini malu sama orang,mungkin itu ucapan orang putus asa saja...''


''Tidak ! aku menangkap sorot mata itu tiga tahun lalu,saat kita datang ke sini,saat kamu menyukai Anaknya di situlah mungkin tumbuh perasaannya''


''Mas itu hak dia mau suka sama Aku atau enggak tapi Aku tak pernah menyukainya titik,jangan ada masalah antara kita tapi itu adalan masalah orang lain,masalah dia sendiri dan perasaan dia sendiri''


''Panggil Komang sekarang biar kita lebih tahu dan jelas melihat permasalahan ini'' Adrian masih dengan nada emosinya.


''Aku nggak mau kalau Mas masih emosi seperti itu,aku mau tanya kenapa harus emosi ? terus salah saya apa ? biarkan orang menyukai kita,memuja kita apa adanya dan kita tidak tahu perasaan orang seperti apa pada kita''


Aryanti memanggil kembali Komang Putri lewat ponselnya dan duduk berjajar dengannya bertiga setelah terlebih dulu Komang Putri mengetuk pintu yang tidak tertutup dan Aryanti mempersilahkannya untuk duduk.


''Maafkan saya Bu Aryanti Pak Adrian''


''Nggak apa apa kamu tidak bersalah tenanglah kami hanya ingin memastikan semuanya itu benar atau sekedar omongan kosong belaka ?''


''Itu benar Bu Aryanti,Bli Ardika menyukai Bu Aryanti seperti yang selalu di katakan nya, Bli Ardika selalu menanti Bu Aryanti yang dianggapnya adalah reinkarnasi dari wujud istrinya yang sudah tiada,dan katanya akan datang suatu hari ke Pulau ini,dan kembali ke keluarganya''


''Ya ampuuuuun,maaf Komang Putri dalam Agama kami kami tidak ada pemahaman seperti itu,bagi kami itu kesalahan cara berfikir dan cara pandang Pak Made saja''


Komang Putri diam,memang dirinya pun tidak setuju dan tidak boleh punya pandangan seperti itu dan menganggapnya itu mutlak salah.


''Komang Putri apa dia bicara seperti itu kelihatan lagi sehat tidak lagi terganggu fikirannya juga kelihatan sadar ?''


''Ya saya memastikan itu dia sadar dan memberi photo di frame pada putrinya Aira photo Bu Aryanti''


Adrian sama Aryanti melongo berdua,seakan semua yang di ucapakan Komang Putri itu dongeng dan cerita saja.


''Justru dari situ saya merasa takut,setelah benar Bu Aryanti dan Pak Adrian datang beberapa bulan yang lalau dan menetap ada di sini'' Komang berbicara menjadi lebih serius.


''Menurut kamu itu suatu ancaman buat kami dan keluarga kami ?''Adrian bicara agak keras.

__ADS_1


''Ya jelas itu ancaman terutama pada Bu Aryanti yang Bli Ardika sukai,Bli Ardika menurut saya sudah sakit secara psikologis nya dan dia bisa melakukan apa saja yang menurutnya benar,dan itu telah menjadi pembicaraan dengan tetua Adat kami semua tak menemukan jawaban karena Bli suka pergi begitu saja saat di ajak bicara''


''Astagfirullahaladzim,Gimana ini Mas ?'' Aryanti merinding dan merasa takut.


Maaf Bu Aryanti saya kadang merasa sedih saat dia memandang dari belakang benteng Hotel ini serasa Bli Ardika masih memimpin di Hotel ini,malah seakan dia memiliki Hotel ini''


''Terus apalagi yang Komang Putri tahu tentang perasaan lain Pak Made Ardika selain perasaan pada istri saya ?" Adrian yang ganti bertanya dengan tegas dan di jawab Komang Putri dengan tegas pula.


"Dia membenci keluarga Pak Surapraja,karena menurutnya semua bermula dengan adanya hubungan orangtuanya transaksi jual beli tanah ini dan dirinya bisa sekolah ke luar negeri dan bekerja di Hotel ini adalah kesepakatan salah orangtuanya"


Adrian dan Aryanti semakin bengong saja mendengar kejujuran Komang Putri.


Aryanti masih terngiang dan mengingat dengan jelas percakapan antara dirinya dan Pak Made Ardika kurang lebih tiga tahun lalu,saat Aryanti minta maaf karena ketidaktahuan nya bertanya soal Mama nya Aira yang telah meninggal dunia.


"No problem Bu Aryanti,semua adalah proses kehidupan,maaf Bu Aryanti setelah saya melihat Bu Aryanti saya jadi teringat Istri saya yang telah tiada karena sekali lagi maaf.... Bu Aryanti begitu mirip dengan Mamanya Aira...sampai sampai tadi Aira mengira Bu Aryanti adalah Mamanya yang telah kembali"


Dan Aryanti juga menelaah semua ucapan Pak Made Ardika juga mengingat ingat sorot matanya memang ada kekaguman pada dirinya,tapi dulu Aryanti hanya melihatnya biasa saja semua di anggapnya tak berlebihan.


"Ya berhati hati saja,dan saya akan menginfokan pada Bu Aryanti juga sama Pak Adrian jika ada apa apa dan satu lagi menurut hemat saya jangan dulu melobi orang di kampung saya yang ingin jual tanahnya karena akan lebih menanamkan kebencian keluarga Bli Ardika pada keluarga Pak Surapraja dan lingkungan Hotel ini"


Adrian dan Aryanti menjadi diam tak berkata tak berkomentar apa apa hanya saling pandang dan sesekali melihat pada Komang Putri.


"Bukan saya mengecilkan hati Pak Adrian dan Bu Aryanti tapi demi ketentraman dan proyek Bu Aryanti terealisasi biar saya yang cari tahu dulu dari mulut ke mulut siapa tahu ada di sekitar sini yang berbatasan dengan Hotel ini yang akan menjual tanahnya"


Aryanti mengangguk angguk begitu juga Adrian.


"Sebenarnya saya beban banget dari awal awal saya bertemu dengan Pak Adrian dan Bu Aryanti tentang masalah ini,tapi sekarang saya menjadi ikut bertanggungjawab atas masalah ini,saya tahu Bu Aryanti orang yang sangat baik begitu juga Pak Adrian dan saya nggak mau terjadi apa apa dengan keluarga Pak Adrian"


"Terima kasih Komang Putri atas informasinya,sementara kami merasa cukup,silahkan meneruskan kerja lagi,suatu saat saya butuh akan saya panggil lagi"


"Iya Bu sama sama,maafkan saya"


"Aryanti tersenyum dan mengangguk"

__ADS_1


Aryanti melirik Adrian yang masih diam dan seperti berfikir, Aryanti mendekatinya dan memeluk sebelah tangan suaminya seperti ingin meminta perlindungan dari ketakutan dan kecemasannya.


Adrian mengusap usap punggung istrinya dan memandangnya begitu dalam.


"Aku begitu takut Mas,Aku menjadi tidak fokus"


"Tenang kan ada Aku...semua harus tenang dan sikapi dengan kepala dingin,atau apa ini yang lebih baik Aku datangi saja orangnya ?"


"Mas jangan ! jangan menyulut permasalahan baru kita baru tahu hanya dari omongan Komang Putri,semua belum tentu seperti itu pada kenyataannya''


''Sayang antisipasi semua harus kita semua merasa terancam sama orang gila itu,semua bisa saja dia lakukan apalagi dia sangat terobsesi dengan dirimu''


''Mas jangan sambil emosi mencari jalan penyelesaian semuanya aku malah semakin takut,aku akan biasa saja seperti tak ada apa apa...''


Aryanti memeluk Adrian dengan berlinang air mata dari semua perjalanan hidupnya hanya saat ini dirinya merasa takut padahal ada di sisi suaminya.


''Yang aku takut dia mengintai kita setiap saat dan kita tak tahu itu,kita jadi sasaran kebenciannya''


''Mas sudah jangan membahas semua itu,ayo kita pulang dulu aku mau melihat Anak kita''


Adrian membimbing Aryanti yang mendadak seperti tak ada tenaga,semua berubah menjadi paranoid yang sebenarnya belum beralasan.


Adrian berjalan berdampingan di tengah hilir mudik orang dan tamu pengunjung Hotel juga yang duduk duduk sambil melihat lihat ponselnya di bawah pohon rindang di taman taman.


Sampai rumahnya Aryanti melihat Bi Inah lagi nyapu lantai depan yang heran kedua majikannya datang bukan pada waktunya.


"Mana Dedek Bi ?"


"Baru saja bobok Neng"


"Oh...ya sudah"


Aryanti masuk rumah dengan perasaan lunglai dan menengok putrinya yang lagi tidur di ranjangnya,dan Aryanti duduk di samping suaminya di sofa ruang keluarga,semua pada diam sibuk dengan fikiran masing masing.

__ADS_1


__ADS_2