
Akhirnya sampai mau maghrib baru Aryanti dan Habil kembali ke lobby Hotel, Linda belum pulang juga karena merupakan tugasnya juga untuk mengawasi Aryanti sebagai amanat dari Pak Edi, begitu khawatirnya orang-orang terdekat Aryanti melihat Aryanti di datangi seseorang laki laki di luar jam kerjanya,walau mereka tahu Aryanti orang dewasa dan bukan anak kecil lagi, dan Linda tak bisa berbuat apa-apa apa hanya mengirim pesan singkat kepada Pak Edi.
Setelah shalat Maghrib Habil belum pulang juga dan Aryanti merasa nggak enak hati mencari cara agar dirinya bisa menghindar dan juga agar Habil bisa pulang, tetapi saat ini Aryanti seakan buntu tak menemukan solusi karena posisi dirinya ada di tempat itu jadi mungkin pikiran Habil juga karena Aryanti tidak kemana-mana jadi dirinya bebas bertamu di situ kecuali Aryanti ada acara lain baru dirinya bisa pulang.
Di satu sisi Aryanti begitu ingin ada teman sekedar untuk mengobrol di malam minggu seperti ini tapi di sisi lain begitu tak enaknya dirinya dalam pandangan Pak Edi dan pandangan orang-orang yang tahu dirinya adalah seorang tunangan seseorang begitu dilema Aryanti saat ini.
Apa aku biarkan saja Pak Habil sampai menyatakan perasaannya lalu aku tolak dengan halus dengan alasan satu cincin pengikatnya ?
Atau kasih tahu saja status sebenarnya dirinya agar Pak Habil berhenti mengejarnya berhenti berharap terhadap dirinya berhenti mencari cara untuk dekat dengan dirinya.
Aryanti tidak tahu apa yang harus dilakukannya semua serba bingung dibuatnya.
Pak Habil tipe orang yang serius, selalu optimis dan bicara apa adanya Aryanti suka pembawaannya enak sebagai teman ngobrol walaupun bukan cowok tipe idamannya, terlalu serius seseorang menjadi hilang kesan romantisnya, tak seperti Adrian yang hadir dengan segala sesuatu yang menjadi tipe impiannya, ada saatnya serius ada saatnya bercanda ada saatnya juga romantis dan juga gombal nggak kepalang.
Aryanti hanya tersenyum sambil membuka kain mukenanya sehabis sholat Maghrib, lalu dia bercermin dan mengambil kotak perhiasan lalu mencium cincin tunangannya dan mengenakannya.
Aryanti kembali ke cafe dan benar saja Habil masih saja duduk di situ dengan minuman baru di hadapannya, dan satu lagi Aryanti melihat Pak Edi kembali ke hotel setelah tadi pulang, Aryanti tahu dirinya ada dalam pengawasan dan ada dalam kekhawatiran orang orang.
Aryanti menemui Pak Edi yang seperti pura-pura ada yang dikerjakan di dalam office, Pak Edi tersenyum melihat Aryanti datang menghampirinya.
"Pak Edi tadi Pak Habil datang menemui saya walaupun di luar jam kerja jadi dia menawarkan kerja sama sama Hotel kita, jadi nanti seandainya ada rombongan tamu dia yang mau outbound jadi dia menyerahkan kepada kita di sini"
"Ya saya faham Bu,walau itu bukan alasan utamanya dia datang ke sini,saya tahu alasan yang di tuju nya adalah tak lain Bu Aryanti"
"Heemght..."
__ADS_1
"Ya saya tahu itu Bu Aryanti " Pak Edi menatap Aryanti.
"Terus saya sekarang serba salah menemuinya salah,nggak menemuinya juga salah lagi atau Pak Edi saja yang menemuinya ?"
"Haaaaaaaa... gimana ya Bu Aryanti ? dia datang ke sini mau menemui Bu Aryanti bukan menemui saya jadi saya ngomong apa sama dia ?"
"Gini aja Pak Edi saya saat ini benar-benar minta saran Pak Edi jelas Pak Habil itu ingin dekat dengan saya, Pak Edi juga tahu dan melihat,terus yang layak menyampaikan posisi,status saya ini saya atau Pak Edi ? maksudnya seandainya orang lain yang menyampaikan sopan nggak ya seperti itu ?"
"Kalau ada perintah Bu Aryanti saya siap saja Bu"
"Deal !!! silahkan Pak Edi, saya tak tega melihat matanya saya tak sampai hati melihat orangnya,kebaikannya,ketulusannya aku tak mau menyakitinya..."
Pak Edi hanya terdiam sambil menunduk dirinya juga bingung dihadapkan pada kondisi seperti ini Aryanti adalah atasannya Adrian juga atasannya Pak Surapraja adalah bosnya jelas ia berpihak kepada siapa, dan dia harus punya keberanian untuk menjaga amanat Adrian dan Pak Surapraja yaitu keamanan Aryanti jangan ada gangguan nyamuk sekalipun seperti yang di katakan Adrian,apalagi Adrian sebentar lagi pulang.
Aryanti dan Pak Edi masih terlihat duduk berhadap-hadapan di sofa office.
"Oh silahkan Bu Aryanti, saya percaya sama Bu Aryanti...Maaf Bu saya hanya menjalankan tugas saja"
"Iya iya saya lebih mengerti Pak Edi..."
Aryanti bangkit berjalan kembali ke cafe dan menyapa Habil sambil duduk di seberang Habil yang tersenyum menyambutnya,tak berani rasanya Aryanti menatap muka Habil yang begitu berseri dengan senyum yang terlihat selalu mengembang.
"Pak Habil ini serius nggak ada acara malam minggunya heee..."
"Bu Aryanti ini gimana,kan acara saya ke sini bersama Bu Aryanti,ya kalau Bu Aryanti berkenan mau keluar juga boleh ayo sekedar jalan jalan atau cari makan di luar barangkali"
__ADS_1
Habil begitu bersemangatnya mengajak sambil menatap Aryanti yang kelihatan salah tingkah,tangannya mulai memegang tangan Aryanti yang di lipat di atas meja depan dadanya,tapi perlahan Aryanti menariknya seraya tersenyum.
"Maksud saya nggak ada yang marah,nggak ada yang nungguin gitu ?"
"Oh nggak,nggak ada serius..."
"Maaf Pak Habil,maaaaaaf banget sebelumnya sebenarnya saya sudah ada janji,dan berkomitmen dengan seseorang, dan ini adalah sebagai simbol ikatan kami"
Aryanti memperlihatkan cincin yang dipakai di jari manisnya, seraya Aryanti menutup kembali jarinya dengan telapak tangan sebelahnya, dan Habil begitu tersentak kaget dan menyadari kesalahannya sendiri,seakan menyalahkan dirinya sendiri Habil meminta maaf kedua tangannya di satukan di dadanya.
"Oh ya ampuuuuun Bu Aryanti maafkan saya,saya tidak bertanya dulu,tidak mencari tahu dulu,saya hanya mengikuti kata hati saya sendiri,mengikuti rasa suka saya sendiri,sekali lagi saya minta maaf..."
"Pak Habil,saya senang menjadi sahabat Pak Habil,kita adalah teman baik dan kedepannya semoga menjadi mitra yang saling memberi manfaat"
Muka Habil begitu tegang dan kelihatan menyesali diri kenapa dirinya tidak melihat respons yang diberikan Aryanti...pantesan selama ini kalau Aryanti diajak ngomong dan bicara ke arah pribadi selalu berkelit dengan pintarnya.
Aryanti mengusap pangkal lengan Habil sepintas,seakan menenangkan dan menguatkan Habil sambil mengangguk dan tersenyum.
"Saya juga minta maaf Pak Habil,saya tak berterus terang dari awal,tapi itu lebih saya merasa malu,jadi biarlah Pak Habil tahu sendiri saja"
Pak Habil mengangguk dan mengerti,ingin rasanya Habil cepat-cepat pamit tapi karena dirasa tidak sopan Habil berusaha menenangkan diri dan hatinya di depan Aryanti.
"Saya do'akan Bu Aryanti bahagia dan sukses selalu"
"Terimakasih Pak Habil, terimakasih, do'a terbaik juga buat Pak Habil..."
__ADS_1
Habil pamit diantar senyum Aryanti yang begitu mengisi relung hatinya selama ini dan sampai sekarang masih belum hilang,ada rasa kecewa di hatinya,tapi kecewa pada siapa ? memang kenyataannya seperti itu.
Hanya menerka nerka dalam hati Habil siapa orang yang telah melingkarkan cincin di jari manisnya Aryanti,pasti bukan orang sembarangan Habil tahu kelas cincin di jari Aryanti bukan kelas rendahan.