
"Adelia,kamu happy banget pagi ini,apa malemnya kamu dapat undian? atau dapat hadiah dari si Fath bener dia habis panen kelapa sawitnya ? ataaaa...u pertama kali di cium Fath ya...?"
"Idiiiih Kakak... !!! enak aja ngarang Kak Adrian ini,kepo banget kayak cewek,mau tahu kenapa aku bahagia ?"
"Kenapa heh ?"
"Pikir aja sendiri"
"Aku kan males mikir"
"Maunya Kakak apa ?"
"Aku mau kamu antar beli oleh oleh special buat Aryanti"
"Wah... ke mana itu Kak ayo aku juga mau lihat lihat,tapi ajak Fath boleh kan ?"
"Oh boleh banget,tapi kalau lu gandengan sama si Fath gue gandeng siapa heee"
"Ntar nyari truk dulu biar sama truk gandengan itu yang mau ke pelabuhan heeee.."
Adelia begitu girangnya Kakaknya mengajak minta diantar untuk membeli oleh-oleh,langsung dia mengambil ponselnya dan nelpon sama Fath tapi sayang Fath nggak bisa ikut,dia mau main futsal sama teman-temannya sudah kepalang janji, Adelia cemberut menyayangkan kenapa Fath nggak bisa ikut.
"Orang nggak bisa ikut ya biarin aja kita masih bisa pergi berdua"
Adelia mengangguk sambil menatap Kakaknya, kebahagiaan tersendiri bagi dirinya melihat sikap Kakaknya,mendengar pernyataan Kakaknya terhadap Jihan tadi,tidak seperti yang Adelia pikirkan sebelumnya ternyata Kak Adrian begitu setia.
"Kakak mau diantar Adel kemana ? pikirkan dulu tujuannya..."
"Ok, Australia penghasil mutiara terbaik di dunia gue mau beli langsung dari galeri resminya,mau memilih dari tempatnya yang istimewa sebuah kalung mutiara buat Aryanti"
"Ya ya ya berarti kita pergi ke Upper Floor,kalau masih banyak waktu kita ke Murray Street ya Kak ? heee...nyari baju baju cantik cantik"
"Terserah...yang penting gue duluan yang dapat baru anterin lu"
Mereka mengobrol sambil Adelia berdandan dan Adrian duduk di depan TV di karpet lesehan, jauh di dalam hatinya Adrian ingin mengajak Jihan entah kenapa ada rasa kasihan terhadap Jihan apalagi setelah tahu dia menyatakan suka terhadap dirinya,semoga Jihan mengerti keadaan dirinya, keburu Adelia datang tiba-tiba,ingin Adrian lebih jauh memberi pengertian dan menghiburnya, layaknya seorang sahabat baik.
Adelia selesai berdandan dan duduk di hadapan Adrian,seperti ada yang ingin di sampaikan.
__ADS_1
"Kak Adri maafkan Adel ya..."
"Maaf untuk apa ?"
"Akhirnya Kakak mau selesai juga di sini,aku jadi sedih,tadinya kita bisa bersama sama, mungkin kurang lebih dua bulan kedepan setelah itu Aku sendiri lagi..."
"Bukannya lu senang gue cepet pulang ? katanya gue bikin pusing lu ?
Adelia diam,walau bagaimanapun Adrian adalah satu satunya saudaranya,baik buruknya tetap menyayanginya.
"Nggak usah lebay...masih satu bulanan lebih kita di sini,ayo kita berangkat sekarang..."
Adrian menepuk tangan Adel dan mereka bangkit keluar kamar,Adel mengunci pintu dan Adrian berjalan duluan sambil melirik kamar Jihan yang terbuka sedikit.
"Nggak lu ajak si Jihan ?"
Adrian melirik Adel saat sudah duduk di dalam bus, dan mereka duduk berdampingan.
"Nggak atuh Kak nggak enak membeli sesuatu buat kak Aryanti di depan orang lain, lagian aku pengen berdua sama Kakak"
Adrian tersenyum dan mengangguk,sesuatu yang tak terfikirkan olehnya,ternyata Adel lebih dewasa dalam berfikir, hal yang dianggapnya biasa biasa saja menurutnya,tapi bagi Adel itu suatu yang nggak begitu baik.
"Kakak tahu darimana dia cerdas ?"
"Dari dia memilih lu jadi pacarnya heeee..."
"Aaaaah... Kakak !"
"Jadi lu ajak main ke Indonesia ?"
"Maunya sih jadi biar kenal sama Ibu Bapak heee..."
"Terus kapan lu main ke Malaysia ?"
"Aku udah,waktu liburan tahun kemarin"
"Hah ? lu udah main ke tempatnya Fath ? cewek cewek mainnya jauh,ntar kesasar tahu rasa...
__ADS_1
"Heeeee...emang anak kecil ?"
Mereka turun dari bus di tengah hiruk pikuknya orang-orang di suasana siang hari juga saat liburan tanggal merah, benar adanya Australia selain indah dengan segala objek wisatanya, penghasil segala macam dari mulai hasil bumi, hasil tambang perikanan kelautan dari segala segi memang sudah menjadi negara yang sangat maju, terbukti dari penataan kota penataan galeri galeri yang memanjakan traveler dari seluruh dunia, dan memudahkan untuk mencari sesuatu yang diinginkan, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,dan penyumbang devisa yang begitu besar bagi Australia sendiri.
Adelia menggandeng tangan Adrian mereka mencari ke setiap sudut yang menurut mereka menarik mereka datangi dan yang menarik hati mereka mereka beli,setelah capek mereka duduk beristirahat di tempat peristirahatan sambil makan ice cream.
Dari mulai kaki lima sampai galeri-galeri kelas dunia merek yang terkenal, menyediakan perhiasan dan aksesoris dengan bermacam-macam pilihan semua ada,kios kios
menjajakan semua oleh-oleh,suvenir, cenderamata, mulai dari yang termurah sampai yang termahal ada di situ.
"Capek Kak ya..."
"Heemght"
"Kak Aryanti pasti seneng dapat oleh-oleh"
"Ya iya lah yang pasti bukan oleh-olehnya yang bikin senang tapi orangnya yang datang heee..."
"Kakak kelihatan sayang banget sama Kak Aryanti ya ?"
"Adel,gue bukan hanya sayang sama dia mungkin kalau diucapkan melebihi segalanya, mencintainya lebih cinta gue pada diri sendiri,
Dia mampu meyakinkan hati gue mampu membawa perubahan di dalam hidup gue sampai bisa seperti sekarang ini,tidak bisa dipungkiri kalau tidak bertemu dia mungkin hidup gue belum beraturan dan masih berantakan seperti dulu,pertemuan kami diawali dengan ketidaksengajaan, terlalu panjang kisah perjalanan kami sampai kami pada titik ini"
Adel memegang tangan Adrian sambil mendengarkan ceritanya.
"Kecantikan Aryanti kelembutannya, ketulusannya, kejujurannya dan juga kepintarannya telah membius gue, dan satu lagi sebelum gue berhubungan dengan Aryanti Bapak itu sudah menyayangi Aryanti dan mengajak bergabung di perusahaan kita mungkin intuisi orang tua tahu dan bisa membaca seseorang yang pintar dan baik itu ada pada diri Aryanti"
Adelia tersenyum.
"Gue ingin memberikan yang terbaik untuk dia gue ingin hidup bersama dia,terlalu panjang dan indah perjalanan kisah cinta kami"
Sampai di situ Adrian berhenti bercerita seperti hatinya menerawang jauh, membayangkan sosok Aryanti yang membayang di pelupuk matanya,dan merasakan kerinduan yang tak bertepi sendiri, mengingat waktu yang telah Ia lalui bersama dan di setiap senja favorit mereka berdua, membuat dada Adrian terasa berat,betapa kerinduan itu begitu menyiksa.
Perasaan sayangnya terhadap Aryanti telah membuat Adrian introspeksi diri dengan apa yang telah diberikan dan dilakukan terhadap Aryanti, betapa ingin Adrian memperbaiki dirinya lebih baik lagi di hadapan Aryanti.
Adrian melirik tas jinjing yang berisi satu kotak beludru merah hati berisi perhiasan mutiara terbaik,yang ada hatinya begitu puas bisa memilih dan membelinya ,ingin rasanya cepat terbang pulang dan memakaikan kalung ini di leher Aryanti, dan ingin segera rasanya Adrian melihat ekspresi kebahagiaan di wajah Aryanti.
__ADS_1
Mungkin saking capeknya Adelia yang ada disampingnya tertidur dan menyenderkan kepalanya di bahunya dan Adrian memandang wajah adik nya dengan perasaan sayang,seperti juga sayangnya Adelia pada dirinya,dan Adrian tak lupa mengabadikan semua itu dengan memfoto dirinya yang meledek Adelia yang tidur dengan polos di bahunya,dan mengirimnya pada Fath.
Saling jail sejak kecil tak mengubah segalanya tetap seperti itu walau dari dulu Adrian lebih dominan terhadap adiknya mungkin itu karena dia sebagai Kakak dan juga sebagai laki-laki,Adelia sebagai adik lebih banyak nurutnya dan mengikuti apa yang diajak Kakaknya.