Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Lu gaul sama santri ya ?


__ADS_3

Lega rasanya Aryanti telah menyelesaikan satu sesi dari bagian skripsinya, dan masih melanjutkan lagi untuk revisi-revisi yang lainnya sebagai kelengkapan, tapi itu bisa lewat e-mail atau telephon saja tidak semua harus dengan pertemuan tatap muka.


Aryanti melangkah keluar dan berjalan ke gedung olahraga mencari cari sosok Adrian dan benar saja Adrian masih aja ada di situ, perasaan waktu dua jam di ruangan dosen terasa lama baginya entah karena ada yang nungguin tapi Adrian kelihatan enjoy aja di balkon atas menyaksikan cabang-cabang olahraga yang pada lagi latihan.


Aryanti menghampirinya, dan Adrian senyum menatapnya Aryanti merasa jengah dan malu.


"Hai udah ya, lancar nggak?"


"Alhamdulillah Mas, lama nggak nunggunya?"


"Biasa aja, kita pulang sekarang atau mau kemana dulu?"


"Terserah Mas, aku sih nggak ada acara lagi biasanya beres ya langsung pulang."


"Heemght...makan aja dulu yuk."


"Boleh."


Mereka berjalan bersampingan menuju tempat makan yang kayaknya khusus pengunjungnya anak anak muda gitu, yang kebanyakan ngobrolnya daripada makannya.


"Mas tadi kerja dulu ya sibuk nggak kerjaannya?"


"Lumayan banyak tamu, tapi aku udah izin nggak masuk lagi setengah hari aja."


"Sebenarnya aku kangen..."


"Kangen siapa?" Adrian langsung melirik.


"Maksudnya kangen tempat kerja heeee..."


"Aku kira kangen sama Pak Daud haaaaaaaa..."


"Dasar kamu!"


Mereka duduk bersebrangan sambil ngobrol berbagai topik sambil makan.


"Yan gimana kalau mulai besok Senin kita pindah ke bagian lain, terus bagian mana dulu yang paling kamu minati?"


"Emang udah boleh Mas? apa sudah memenuhi syarat kita pindah menurut Pak Daud gimana?"


"Justru aku mau mengusulkan tapi ya sama kamu juga"


"Apa nggak nunggu di pindahin aja Mas?"


"Siapa yang mau mindahin kita, eh... maksudnya aku?"


"Oh eh iya saya terserah Mas aja, kalau saya maunya ke bagian marketing hotel karena kuncinya ada di marketing tapi bagian mana saja boleh."


"Menurutmu itu bagian paling punya tantangan ya ?"


"Setahu saya begitu Mas,orang yang jago di marketing bisa membawa perusahaannya lebih maju lagi, tapi paling penting di situ strategi dan merayu calon tamu atau instansi untuk meeting biar bisa kita yakinkan masuk ke Hotel kita."


"Ok aku, ikut kamu aja."

__ADS_1


"Kok ikut aku?"


"Iya semua pemikiran mu aku fahami aku setuju, mulai besok kita dalami di marketing siapa ya kepala marketingnya aku belum kenal."


"Hai bro lo kemana aja kayak ilang gitu, cewek mu curcol mulu ama gue tentang lo..." satu suara mengagetkan Adrian dan Aryanti.


"Hai Adit lo di sini juga sama siapa?" Adrian melirik kiri dan kanan.


"Tuh sama Irene."


"Gue lagi males Dit... gue mulai ikuti keinginan bokap nyokap, gue belajar kerja."


"Haaaaaaaa...sejak kapan Adrian insyaf lo tobat ya ada angin apa nih, kayaknya kabar ini akan jadi viral banget haaaa..."


"Terserah lo semua yang pasti gue seperti si Firman mulai menata diri, tapi bukan berarti gue lupa elo-elo semua, tapi gue kayaknya nggak bisa seperti dulu lagi sorry ya."


"Lo serius bro?"


"Ya beginilah gue udah seminggu masuk kerja, eh kenalin nih teman kerja gue" Adrian melirik Aryanti yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka.


Adit mengulurkan tangannya dan Aryanti juga sambil tersenyum menyebut nama mereka masing masing. Adit menelisik Aryanti dari atas sampai bawah dan Aryanti merasa jengah dan kikuk, Adrian tahu itu lalu mengalihkan perhatian temannya.


"Lo gaulnya sama santri ya sekarang haaaaaaaa..."


"Terserah penilaian lo aja."


"Si Livia nggak lo tengok-tengok tuh?"


"Haaaaaaaa...lo emang tega."


"Ya udah, gue udah makannya nih lo masih mau di sini?"


"Ok duluan aja, gue masih belum tadi kebelet ke toilet hati hati bro haaaaaaaa..."


"Siap siiip, salam buat Irene ya."


"Asiap!"


Adrian ke kasir bayar makan, Aryanti berdiri menunggu di luar pintu rumah makan itu, dan tak lama Adrian keluar menggandeng tangan Aryanti yang dingin.


"Sorry ya Yan, tadi teman aku si Adit sebenarnya dia anak anggota Dewan tapi begitulah belum kerja-kerja ya kerjanya gitu keluyuran kayak aku dulu heee..."


"Nggak apa-apa, saya jadi kenal teman Mas Adrian juga Mas Adrian jadi kenal teman saya."


"Hemght...tapi teman saya rata rata tukang main nggak kayak teman kamu."


"Itu kan proses semua ada saatnya, ada waktunya berubah."


"Seperti saya ya sudah mau berubah sekarang sejak punya teman kamu heeee..." Adrian tertawa sambil men starter mobilnya.


Aryanti hanya tersenyum,dan mobil pun melaju pelan saja.


"Makasih loh mas udah antar aku nunggu aku, traktir makan aku."

__ADS_1


"Sama dong aku juga makasih,udah mau jadi teman aku."


Aryanti tersenyum kembali, seorang Adrian belum pernah ucapin terimakasih seingatnya sejak di tolongin waktu habis nabrak odong-odong dan dagangan orang, juga waktu di tolongin di rumah sakit saat bapaknya masuk UGD tapi sekarang sejak kenal dekat sebagai teman kerja begitu kelihatan baiknya.


"Kamu langsung pulang aja?"


"Iya Mas."


"Ya sudah nanti sore kita ketemu di sasana ya."


"Iya, paling aku pulang sholat ashar dulu, terus samper temanku dulu Mita."


"Ya ya ya..."


Aryanti turun dari mobil dan Adrian melajukan kembali mobilnya. Aryanti memandang belakang mobil Adrian seakan tak percaya apa yang telah terjadi hari ini, Aryanti mematung di ujung gang dan tersadar saat mobil Adrian hilang di tikungan jalan dan hiruk pikuk jalanan.


Aryanti masuk rumah dan memberi salam tapi tak ada jawaban, mungkin Mamanya lagi di belakang. Aryanti masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur terasa cape hari ini tapi asyik bathin nya, sambil senyum-senyum sendiri Aryanti mulai berkhayal seandainya dan seandainya.


Andai seorang Adrian itu pacarnya mungkin seneng banget saat jalan seperti tadi, bisa memandang wajahnya, duduk bersebrangan atau mungkin pegangan tangan,


ah...benar kata orang jatuh hati itu indah rasanya...


Aryanti terkejut dengan lamunannya sendiri beristighfar sambil mengusap mukanya,


Hai Aryanti !!! jangan menyakiti hatimu sendiri dengan lamunan itu, belum tentu yang kamu lamun kan itu satu kenyataan tapi kalau kamu bertepuk sebelah tangan kamu yang cinta sendiri kamu akan sakit sendiri, stop berkhayal stop memimpikan seorang Adrian jadi kekasihmu. Adrian hanya teman kerjamu, hanya partner kerjamu, dan kamu juga bisa kerja di situ atas kebaikan hati Bapaknya Adrian yang simpatik pada dirinya.


Aryanti termenung di depan meja riasnya mulai membuka kerudungnya, bajunya dan menyisir rambutnya yang panjang dibawah pundak hampir sepinggang. Aryanti memandang wajahnya di cermin dan melihat bayangannya.


Aku ini cukup cantik pikirnya, dengan rambut lurus panjang pipi mulus lesung Pipit sebelah kiri, hidung mancung untuk ukuran wanita indonesia, dagu ada belah nya dan bibir agak tipis, gigi rapi putih, badan standar nggak pendek pendek amat, aku memang cantik tak kalah sama orang orang blasteran, mereka hanya menang di kulit yang bule atau oriental tidak exotic seperti dirinya.


"Tok tok tok..."


"Nak kamu udah pulang? makan dulu apa dari pagi nggak makan makan."


"Ya Ma, nanti mau mandi dulu."


Habis mandi sholat Aryanti sudah berpakaian taekwondo dan makan sambil di lihatin sama Mamanya, Mamanya heran makan kok sedikit banget padahal dari pagi belum kelihatan anaknya makan, takut terlalu bawel di mata anaknya yang sudah dewasa Mamanya hanya diam saja, dan Aryanti pun begitu merasa di perhatikan sama Mamanya dia nggak biasa berbohong tapi kali ini ia tak berterus-terang sudah makan di luar sama teman kerjanya, harus menerangkan panjang kali lebar Aryanti malu...


.


.


.


.


.


Penulis sedang merevisi novel ini dari awal dan ingin menyempurnakannya menjadi idealnya bab sebuah novel, jadi untuk itu akan menambah bab tanpa merubah tokoh dan alur cerita.


Terimakasih, Selamat membaca kembali 🙏


💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2