Pesona Aryanti

Pesona Aryanti
Perth


__ADS_3

Pertama kali Adrian menginjakkan kaki di bandar Udara Perth Australia Barat dengan tujuan untuk belajar yang di tuju adalah Universitas Curtin atau Curtin University sama seperti Adiknya Adelia yang masih menimba ilmu di sana, jarak tempuh sekitar 4 jam setengah dari kota Bandung sampai bandar udara Australia tak membuat Adrian merasa lelah terlihat semangat dalam dirinya karena semua sudah diniatkan bahwa dirinya akan belajar sebaik-baiknya dan akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,dengan satu tujuan untuk cepat-cepat bisa pulang kembali dan berkumpul dengan kekasih hatinya dan meneruskan janji hati mereka.


Bandar udara Perth yang ramai seperti nggak pernah tidur di Australia Barat melayani secara komersil untuk semua turis domestik dan non domestik, kesibukannya menenggelamkan sosok Andrian saat mencari seseorang yang dikenalnya yang sudah janji sebelumnya untuk menjemput, Adelia menyebutkan identitas dirinya memakai baju warna merah tetapi dari sekian ribu orang yang berada di bandara begitu banyak orang yang berbaju merah Adrian menggerutu sendiri kenapa begitu banyak orang yang berbaju merah hari ini.


Adrian celingukan sendiri mencari dan meneliti setiap orang yang berbaju warna merah tetapi Adrian tidak menemukannya, Adrian lalu menelepon Adelia keberadaan dirinya sudah di Bandara dan menyebutkan dirinya memakai jaket hitam duduk di ruang jemputan.


Dalam kebingungannya sendiri tiba-tiba dari belakang Adrian ada yang memeluknya dan Adrian kaget lalu melirik ke atas Adelia telah nyengir sambil meledeknya,dan yang jelas Adelia itu mengerjai dirinya bukan baju warna merah yang dia pakai tetapi dia memakai baju sweater warna pink, sifat jahil adiknya memang masih belum hilang.


"Heeeeeee...kena jebakan juga,ternyata masih belum pintar pangeran tampan yang satu ini...selamat datang di kota Perth Australia Barat"


"Bukan kena jebakan,tetapi itu namanya penipuan, kurang lebih setahun di Australia kamu sudah mulai pintar menjadi bunglon rupanya heh...? asalnya merah berubah menjadi warna pink" Adrian masih kesal.


"Dari pada kayak kakak jadi buaya tanpa identitas darat,laut,apa udara... apa sudah usai ceritanya dari itu tuh sama yang sok ke bule bulean Livia ? hehe..."


"Sembarangan kamu sekarang nggak ada nama Livia dalam hidup gue,bukannya tambah pinter tinggal dan kuliah di sini malah tambah pikun itu namanya kalau baju pink disebut warna merah ?"


"Jangan marah warna pink itu bagi sebagian orang di belahan dunia manapun juga selalu menyebutnya dengan warna merah jambu kakakku tersayang heeeeeee..."


"Karep mu sajalah..."


"Tenang dan harus banyak sabar kakakku tersayang masih banyak kejutan kejutan lain menunggumu heee...ayo kita naik taksi sekarang apa mau nginap di sini ?"


Mereka naik taksi Adrian tak tahu ke arah mana mereka akan melaju tapi yang pasti yang dinaiki nya adalah taksi warna kuning, Adrian merasa beruntung karena adiknya sudah terlebih dulu berada di kota ini, jadi dirinya tidak perlu repot-repot melihat dan membaca rute apalagi peta kota yang membuat pikirannya ruwet.

__ADS_1


"Kak ngomong-ngomong kesalahan apa sih yang buat Kakak di kirim ke sini karena aku yakin ini bukan murni keinginan Kakak, pasti Kakak bikin ulah lagi ya Kakak bikin marah Bapak sama Ibu aku nggak tahu ceritanya, Ibu nggak pernah cerita apapun selalu menutupi kejelekan Kakak, tapi kalau kebaikannya Kakak selalu aja di omong omong, tapi terakhir waktu Ibu nelpon sama Bapak,cuma ngomong Kakak kamu juga mau nyusul kuliah di sana itu aja"


"Nggak ada apa apa,aku ingin memperdalam bidang Perhotelan aja karena kan orang yang bijaksana itu harus sukses meneruskan bisnis orang tua, yang pasti aku setahun saja di sini aku kembali pulang setelah itu nanti kamu punya kakak ipar haaaaa...."


"Hah ? yang Livia itu kak...???"


"Ngaco kamu,Livia udah end ! udah nanti ceritanya"


"Pokoknya aku enggak percaya semua omongan Kakak,jangan jangan Kakak ini bikin hamil anak orang ya ? lalu konflik Bapak sama Ibu marah besar lalu di kirim deh kakak ke sini"


"Enak aja sembarangan nuduh orang kamu... sudah sudah semua nggak ada yang bener nanti aku cerita"


"Yah aku nggak jadi deh kenalin Kakak sama teman aku Jihan cantik,baik lho Kak..."


Adel bicara sesuatu pada sopir taksi mungkin dia memberitahu alamat yang dituju sopir itu mengangguk dan tak lama dia belok ke salah satu jalan dan berhenti di sebuah bangunan gedung yang menurut kita di Jakarta di Bandung seperti apartemen.


Mereka sibuk menurunkan bawaan dan koper-koper mereka Adelia membayar sopir taksi menurut harga yang tertera di argo menurut mata uang yang ada dan sopir taksi pun mengangguk sopan.


Tidak terlalu banyak memang bawaan Adrian, laki-laki memang simpel tidak terlalu banyak yang mesti dibawa cukup dengan pakaian untuk santai dan yang semi resmi, Adrian cukup membawa dua koper pakaian, tidak seperti waktu Adelia berangkat sampai memerlukan lima koper, dengan alasan cengeng yang susah dimengerti dan masuk akal semua dimasukkan termasuk boneka kecil kenangan dari dari Si A dan Si B.


Setelah naik lift sampai atas Adrian gak tahu ini mungkin lantai berapa dirinya cuman mengikuti aja apa langkah adiknya dan membawanya ke mana,berhenti lalu berjalan masuk ke lorong panjang dengan pintu berderet seperti gang gang kiri kanan terdapat kamar berhenti di salah satu kamar dan Adelia membuka kuncinya.


"ini kamar Kakak,dan yang kedua dari ujung jajaran kamar ini itu kamarku,ayo masukin kopernya ,kamar sudah di bersihin tinggal nempatin dan Kakak istirahat dan mandi dulu"

__ADS_1


"Terima kasih adikku yang cantik,kali ini gue akui kamu baik banget..." Adrian masuk sambil mencubit pipi Adelia.


"Emang cantik ,dan itu sudah takdir heeee...ya sudah jangan lupa kedua dari ujung ya jangan sampai nyasar kamar bule..."


"Heemght..."


Adrian masuk kamar melihat sekeliling,melihat semua ruangan yang begitu kecil ada satu tempat tidur single, lemari pakaian,dapur mini kamar mandi dan sedikit ruangan ber karpet mungkin untuk lesehan belajar depan televisi di meja kecil.


Andrian membuka koper mengambil perlengkapan mandi dan baju buat salin,membuka jendela matahari sore begitu terang dan hangat masuk ventilasi udara dan lewat kaca,begitu segar Adrian mandi dalam guyuran shower dengan pengaturan otomatis bisa dingin bisa hangat.


Selesai mandi Andrian berpakaian dan pergi ke kamar kedua dari ujung tanpa mengetuk pintu Adrian nyelonong aja masuk,Adel kelihatannya lagi memasak sesuatu langsung menghampirinya.


"Kayaknya kamu mengerti banget kalau aku lagi lapar ya heeee... tadinya aku mau ngajak kamu makan keluar sekalian aku biar tahu jalan dulu, masuk aja ke sini aku enggak tahu ini lantai berapa sih ?"


"Dasar malas mikir... ini lantai 7 lorong ke 1 nomor kamarnya Kakak no 90 kamarku no 99 kedua dari ujung,sejajar nya 50 kamar berhadap hadapan jadi100 kamar di satu lantai"


"Puyeng banget mikirin kamar juga kayak matematika aja,berarti kita tiap hari harus punya hitungan lantai 7 lorong 1 kamar no 90


ada rumusnya nggak biar simpel mengingatnya heh ?"


"Haaaaaaaa... Kakak ini lucu baru mengingat inget tempat tinggal aja sudah bingung, apalagi nanti kalau sudah belajar aktif, itu karena belum terbiasa aja, nanti kalau sudah terbiasa enjoy aja ,belum rute ke kampus ke tempat praktek atau keu tempat belanja keperluan sehari hari,santai saja baru datang ya banyak bingungnya"


Adel menyodorkan satu piring makanan dan satu piring dihadapannya untuk dirinya Adrian nggak tahu itu makanan apa tapi yang pasti kelihatan enak dan Adel pun memakannya seperti sudah terbiasa mereka makan berdua sambil tetap bercerita.

__ADS_1


__ADS_2