
Ryan tidak menjawab dan hanya mengangkat dagunya ke arah bus yang berjalan di bawah. Beberapa saat kemudian, Ryan berkata, "Cobalah lihat lagi baik-baik bus tersebut."
Aria lalu melihat kembali keadaan bus tersebut. Akhirnya, ia menyadari bahwa ada sebuah mobil yang melaju tanpa pengemudi dengan senapan mesin terpasang di dalam mobil tersebut terus mengikuti laju bus.
"Itu …" Ekspresi Aria menjadi sangat serius. "Senapan mesin ringan?"
"Ya, itu benar. Selain itu, aku yakin sang pelaku juga menempatkan kamera pengintai pada mobil Remote Control itu agar dia dapat terus memantau bus dan area sekitar bus secara real time."
"Jika kita melompat dengan parasut secara gegabah, kita akan menjadi sasaran empuk senapan mesin."
Mendengar penjelasan Ryan, Aria berpikir sejenak. "Hmm … kalau begitu, kita harus menyingkirkan mobil Remote Control itu dulu."
“Benar, kita harus menyingkirkannya dulu.” Ryan melihat jalanan yang ada di bawah. “Tapi kita harus menunggu pihak Kepolisian dan Biro Bute untuk menutup semua jalan yang ada. Jika kita bertindak di jalanan yang penuh warga sipil, ini akan sangat berbahaya.”
“Hmm …” Ekspresi rumit tampak muncul pada wajah Aria yang imut itu. “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Mendengar pertanyaan Aria, Ryan awalnya tidak menjawab. Ia menatap Aria yang sedang berpikir keras dan berusaha memecahkan masalah ini.
‘Ini bercanda kan? Bahkan seorang Butei peringkat B saja bisa menilai situasi ini dengan baik dan membuat rencana untuk memecah kebuntuan ini.’ pikir Ryan.
Dalam benak Ryan, ia sedikit kecewa dengan kemampuan Aria. Walau menurut rumor kekuatan Aria memang hebat, namun sepertinya Aria memiliki kelemahan yang sangat fatal, yaitu bertindak sembrono tanpa berpikir panjang.
Akan tetapi, Ryan mencoba untuk berpikir positif. ‘Mungkin saja dia ingin mengetesku. Benar, mungkin saja seperti itu. Tidak mungkin Butei peringkat S akan melakukan hal bodoh seperti ini.’
Ryan lalu mencoba mengumpulkan informasi lebih mengenai bus tersebut. “Aria, apa kamu tahu bus apa yang kini sedang menjadi target pengeboman?”
Aria memiringkan kepala, tak lama kemudian berkata, "Sepertinya bus tersebut adalah bus dengan kode G3 yang biasa berhenti di gedung asrama ketiga tepat pada pukul 07:58."
Mendengar informasi ini, Ryan menghela nafas dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Aku nggak nyangka pria itu benar-benar memiliki nasib yang sangat sial.”
Dengan segera, Ryan melakukan panggilan telepon. Tak lama kemudian, telepon Ryan diangkat dan suara dengan nada penuh kecemasan terdengar dari telepon.
"Ryan?!" Dan suara itu adalah suara Kinji.
"Hei, Kinji." Ryan berkata sambil tertawa, "Kamu benar-benar telah dikutuk."
__ADS_1
"Aah! Kamu benar!" Suara keras Kinji terdengar dari sisi lain ponsel.
"Sekarang aku terjebak di dalam bus dan tidak bisa keluar dari sini. Begitu ada bagian tubuh yang terlihat di jendela, senapan mesin itu akan selalu menembaknya.”
“Bahkan sang supir bus yang merupakan warga sipil juga menjadi korban!”
“Tenang, Kinji, tenang …” Ryan lalu langsung beralih ke topik lain. “Bagaimana menurutmu, apakah kamu bisa menyingkirkan mobil dengan senapan mesin itu?”
"Tidak!" Kinji langsung menjawabnya tanpa ragu. "Sekarang kemampuanku … kamu tahu kan?"
Dengan kata lain, Kinji hanya memiliki satu cara untuk masuk ke dalam mode Hysteria Savant Syndrom.
Ryan menghela nafas panjang begitu mengingat kondisi Kinji. “Haah~ benar juga … Kemampuan Khususmu benar-benar sangat merepotkan.”
“Apakah kamu sudah memeriksa bus yang kamu tumpangi itu?”
“Aku sudah memeriksanya.” Kinji kemudian memberi penjelasan singkat. “Kami sudah memeriksa di bawah kursi, bantalan tempat duduk, dan tempat menaruh barang. Intinya, kami sudah memeriksa seisi bus, namun kami belum menemukan bomnya.”
"Bagaimana dengan tas yang kamu bawa dan juga para murid lainnya? Apakah kalian sudah memeriksanya?” tanya Ryan.
Mendengar ini, Kinji tidak berani mengabaikannya dan dengan cepat mulai memeriksa semua tas yang ada bersama para Butei lainnya.
"Kalau begitu, bom hanya bisa berada di atap atau bagian bawah mobil." Ryan mengutarakan hasil analisanya sendiri.
“Akan akan tetapi, jika pelakunya memasang bom tersebut pada atap, maka bom akan terlalu mudah untuk ditemukan, apalagi dengan cuaca hujan seperti ini, pasti mempengaruhi kinerja bom."
"Jadi, kemungkinan yang tersisa adalah, bom tersebut berada di bawah bus atau berada di suatu tempat tersembunyi di dalam bus.”
"Jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang?" Kinji bertanya dengan sedikit depresi.
"Jika kamu ingin kami memeriksa bagian bawah bus, maka kami harus keluar bus terlebih dahulu. Akan tetapi, ada senapan mesin yang menunggu kami jika kami keluar dari bus. Maka dari itu, kami tidak bisa berbuat apa-apa.”
"Kalau begitu, bersembunyilah! Jangan bertindak gegabah. Aku akan segera ke sana.” ucap Ryan.
"Kamu?" Kinji bertanya dengan penuh keraguan. "Bisakah kamu melakukannya sendiri?"
__ADS_1
Ryan tersenyum ketika mendengar pernyataan ini. “Kode etik Butei nomor 1, percaya pada rekan-rekanmu dan saling membantu satu sama lain.”
Setelah meninggalkan kalimat ini, Ryan langsung menutup teleponnya. Ia kemudian mengambil ransel parasut yang ada di sana dan segera memakainya.
Aria yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan Ryan dan Kinji akhirnya mulai membuka mulutnya. “Aku benar-benar tidak salah untuk memilihmu. Kamu orang yang sangat baik.”
‘Jika bukan karena misi, aku nggak akan memperdulikan hidup dan matinya orang-orang tersebut.’ batin Ryan.
Tanpa menanggapi ucapan Aria, Ryan langsung membuka pintu Helikopter.
Wuush
Angin kencang beserta air hujan bertiup masuk ke dalam kabin Helikopter.
Ryan melihat ke bawah dan menemukan bahwa kendaraan umum milik warga sipil di jalan raya tidak terlihat, hanya menyisakan bus dan mobil Remote Control saja.
"Polisi dan Biro Butei sepertinya telah selesai memblokir jalan." Ryan berkata pada Aria. "Kita bisa mulai bergerak."
Aria sepertinya sudah siap lebih awal dan langsung menjawab, "Kalau begitu turunkan helikopternya. Mari kita singkirkan mobil Remote Control itu."
Namun, saat Aria akan mengambil tas parasut, Ryan mencegahnya. "Kamu nggak perlu membawanya."
Ryan tiba-tiba merangkul Aria dengan tangan kirinya.
"Eh?" Aria tampaknya terkejut dengan apa yang dilakukan Ryan.
Tanpa menanggapi reaksi Aria, Ryan langsung melompat.
Wuuush
Suara deru angin dingin bersiul di udara. Air hujan yang lebat terus menghantam tubuh Ryan yang sedang memeluk Aria dengan satu tangannya.
Ketika jarak Ryan dengan tanah mencapai 10 meter, Ryan segera membuka parasut dibelakangnya.
Dalam sekejap, parasut tersebut mekar dan memperlambat kecepatan jatuh Ryan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat tercengang, Aria akhirnya mulai merespon perbuatan Ryan.
Wajah menawan Aria mendadak menjadi merah. "Ka-kamu … kamu, kamu, kamu … apa yang kamu lakukan?!"