Reincarnation Room

Reincarnation Room
Misi Sampingan Tak masuk Akal


__ADS_3

Berlian keruh meledak di udara dan berubah menjadi gelombang api yang berjatuhan dengan keras.


Di dalam ledakan besar itu, tubuh Ryan yang diselimuti api keruh ungu terbang keluar dengan banyak asap dan jatuh ke tanah seraya terguling-guling hingga beberapa puluh meter.


Wuuush


Di bawah suara yang redup, api keruh yang menutupi tubuh Ryan perlahan mulai padam. Kini, kondisi Ryan tampak menyedihkan. Ia tergeletak di tanah dengan kondisi kulit di sekujur tubuhnya hangus terbakar.


Saat ini, Ryan hanya memiliki satu perasaan, “Ugh … sakit sekali!”


Kali ini, Ryan benar-benar merasakan rasa sakit yang teramat sangat, baik secara fisik maupun jiwanya,


Semburan rasa sakit yang hebat menyerang pikiran dan saraf Ryan, membuat Ryan serasa terlempar ke Neraka dan mengalami rasa sakit yang tak tertandingi.


Penglihatan sudah mulai kabur.


Pikiran sudah mulai tidak jelas.


Perasaan ini, membuat Ryan kembali mengingat bagaimana ia mati sebelum terpilih sebagai Reincarnator oleh Reincarnation Room.


“Apakah ini kematian?”


Dengan pertanyaan seperti itu, Ryan diam-diam menonaktifkan Mystic Eye of Death Perception, dan membuat kedua matanya kembali berwarna gelap.


Ryan begitu terasa tenang setelah mematikan kemampuan matanya, seakan ia telah kembali ke saat-saat ia mati dibunuh oleh begal. Ryan benar-benar melupakan semua tujuan hidupnya, dan membuat emosinya kembali menghilang.


Beberapa saat kemudian, tiga aura yang sangat kuat datang menghampiri Ryan. Tanpa melihatnya pun, Ryan tahun siapa pemilik aura ini.


“Sepertinya kamu telah mencapai batasnya,” ucap Sydonay sembari memegangi tombak bajanya ke depan Ryan dengan tubuhnya yang goyah.


Bel Peol mendekati Ryan dengan tubuh yang dililit oleh rantai. Dengan mulut yang masih berlumuran darah, ia berkata, "Harus aku katakan, kami benar-benar terlalu meremehkanmu, manusia!”


Hecate dengan satu tangan memegang Trigon, dan satu tangan lainnya mencengkeram dadanya, menatap Ryan yang terbaring di tanah. Terlihat adanya fluktuasi emosi di mata Hecate, saat ia memandang mata Ryan.


Sekarang, di mata Ryan,, tidak ada sama sekali kepanikan, tidak ada rasa takut, dan hanya ada ketenangan yang tidak bisa dipahami.


Hecate tidak bisa tidak melihat ketenangan yang tidak bisa dipahami.


“Mengapa?”


Hecate seperti sedang mengejar sesuatu. Jadi, dengan suara penuh keingintahuan, ia bertanya pada Ryan, "Mengapa kamu bisa memperlakukan kematian dengan begitu tenang?"


Pertanyaan ini membuat Sydonay dan Bel Peol sama-sama terkejut. Mereka tidak menyangka Hecate akan berinisiatif untuk bertanya. Apalagi, suara Hecate dipenuhi emosi rasa penasaran.

__ADS_1


Sementara Ryan, ia menatap Hecate seolah sedang mengobrol, "Kamu seharusnya sudah memahaminya kan?"


Ya, Hecate memang mengerti apa yang terjadi pada Ryan. Hal ini disebabkan karena Hecate telah melihat esensi jiwa dari Ryan.


Setelah melihat lautan hitam yang merupakan sekumpulan rekaman kematian, Hecate paham mengapa Ryan begitu menganggap enteng kematian.


Jiwa Ryan yang telah cacat, terus merekam berbagai kematian. Akibatnya, rekaman kematian yang tersimpan di dalam jiwa Ryan menjadi terlalu banyak, sampai-sampai ia mulai kehilangan emosi sama sekali.


Bagi Ryan, melihat kematian itu sama seperti makanan sehari-hari.


Hecate, yang pernah melihat laut hitam itu, tentu memahami ini.


Hanya saja, ada hal yang Hecate tidak mengerti.


"Jika kamu seperti ini, bahkan jika kamu masih hidup, bisakah kamu dianggap hidup?" ucap Hecate dengan suara rendah.


"Dibandingkan dengan apa yang kamu miliki, eksistensi kehidupanku masih terlalu kecil."


Hecate tidak mengerti, bagaimana bisa Ryan dapat bertahan hidup selama ini dengan lautan seperti itu.


Tidak, lebih tepatnya Ryan dapat hidup hingga saat ini karena memiliki lautan kematian itu.


Jika lautan tersebut terlalu kecil, Ryan yang tidak terbiasa dengan kematian pasti akan dipenuhi rasa takut dan keputusasaan saat dihadapkan dalam keadaan seperti sekarang ini.


Karen lautan dalam jiwa Ryan begitu luas, ia dipenuhi dengan kematian dalam jumlah yang cukup besar untuk membuat orang menjadi terbiasa dan mati rasa, sehingga Ryan selalu dapat mengabaikan rasa sakit dan keputusasaan akan kematian dan bertahan hingga saat ini.


"Itu hanya mayat berjalan …"


Ryan akhirnya tertawa ketika mendengar gumaman Hecate.


"Mungkin saja …" jawab Ryan dengan ringan.


"Meskipun jiwaku memang cacat, tapi setidaknya aku berusaha mempertahankan kemanusiaanku dengan emosi yang namanya cinta."


"Dengan begitu, aku bisa tetap dianggap hidup."


"Tanpa cinta, mungkin kamu bisa menyebutku sebagai mayat berjalan yang akan terus membunuh tanpa kenal lelah."


Hecate terdiam dan merenung atas perkataan Ryan.


'Ya, manusia ini masih bisa dianggap hidup. Setidaknya, dia masih memiliki emosi seperti cinta, yang membuatnya terus bertahan.'


'Dia tidak bisa menangisi rasa sakit dan keputusasaan orang lain, tetapi dia bisa menyayangi dan mencintai orang-orang terdekatnya. Maka dari itu, manusia ini berhasil tetap hidup.' pikir Hecate.

__ADS_1


"Tapi kamu berbeda." Ryan berbicara dengan nada acuh.


"Kamu tidak akan tertawa atau menangis."


"Tidak ada emosi dan tidak ada hati."


"Dalam dirimu hanya ada kekosongan. Tidak ada rasa substansi kehidupan. Tidak ada yang ingin kamu lakukan. Hanya bertindak sesuai dengan keadaan yang ada. Bahkan sebagai Pendeta Agung Bal Masqué, kamu tidak peduli siapapun pemimpinnya."


"Maka dari itu, kamu bahkan tidak tahu apakah kamu bisa dibilang hidup atau tidak."


Kata-kata Ryan membungkam Hecate lagi, dan matanya dipenuhi dengan fluktuasi yang tidak terduga.


Sriiing


Tiba-tiba saja, tombak baja berat dengan suara tajam diayunkan ke depan leher Ryan.


Sydonay memandang Ryan dan berkata sembari menekan amarahnya, "Bisakah kamu berhenti mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang Hecate-ku?"


"Hecate sangat penting bagi kami. Tolong jangan buat dia goyah." Bel Peol berkata dengan nada acuh seperti Ryan, "Kamu adalah manusia yang sangat berbahaya. Tampaknya aku harus merevisi cara kami dalam mengurusmu."


Bel Peol kemudian berbalik dan berkata pada Sydonay, "Jenderal, tolong bawa dia kembali. Aku akan memikirkan cara agar dia tidak bisa melarikan diri lagi."


Singkatnya, nasib Ryan selanjutnya telah ditentukan.


Akan tetapi, tiba-tiba saja suara notifikasi sistem terdengar di telinga Ryan.


Ding


[Nomor Serial 124.888 telah memicu misi sampingan tingkat A+, -Kabur-] ______________________________________________________________________


Misi : Kabur


Keterangan :


Sebelum ditangkap kembali, segera kabur dari tangan Trinity dan tinggalkan Seireiden.


Hukuman : Tidak Ada


Hadiah : 30.000 poin


______________________________________________________________________


Suara notifikasi sistem membuat kepala Ryan semakin sakit. Walau begitu, Ryan hanya bisa tertawa pahit ketika membaca detail Misi Sampingan yang diberikan sistem.

__ADS_1


'Lari? Sistem, apa kau bercanda? Dengan tubuh seperti ini, kamu memberiku misi yang hampir mustahil ini?'


Rasa lelah dan rasa sakit yang teramat sangat, membuat tubuh Ryan benar-benar tidak bisa bergerak lagi. Melakukan perlawanan balik dan kabur adalah hal yang sangat mustahil.


__ADS_2