
Mendapat peringkat S Butei bukanlah hal yang mudah. Di dunia ini, hanya ada 713 orang yang mendapat peringkat S, termasuk Ryan.
Oleh karena itu, Butei peringkat S bisa dikatakan sebagai pilar komunitas Butei. Dalam sistem penilaian Butei, orang yang mampu mendapat peringkat S adalah orang yang memiliki kekuatan tempur setara dengan satu Kompi Pasukan khusus.
Maka dari itu, keberadaan orang yang mendapat peringkat S pada saat tes masuk, cukup untuk menarik perhatian banyak negara.
Setidaknya, di SMA Butei Tokyo, jumlah peringkat S dapat dihitung dengan satu tangan.
Namun, belum lama ini, seorang murid pindahan datang ke SMA Butei Tokyo dan masuk ke kelas Assault
"Kanzaki H. Aria."
Riko kembali memeluk lengan Ryan dan bersikap manja seperti anak kecil.
“Dia adalah Butei peringkat S dari Inggris. Semester lalu, dia pindah ke SMA Butei Tokyo."
"Senjata yang dia gunakan adalah dua buah pistol Colt M1911 Government Model. Ia sering menggunakannya secara bersamaan."
"Dia juga memiliki julukan, Quadra Aria."
"Kamu benar-benar menyelidikinya dengan sangat baik." Ryan menyeringai dan berkata, "Sesuai yang diharapkan dari Butei peringkat A."
Meskipun Riko adalah seorang gadis otaku dan memiliki kepribadian ceria tanpa beban seperti ini, tetapi Riko adalah seorang Butei yang terampil dalam hal mengawasi, menyelinap, menguping dan meretas. Dengan teknik pengumpulan informasi yang handal seperti ini, wajar saja Riko mendapat peringkat A.
“Dengan peringkat S-nya, aku yakin murid pindahan itu dapat memuaskan Ri-Ri.” ucap Riko sambil meraba dada Ryan menggunakan jari telunjuknya.
“Aku juga dengar, bahwa dia sering mencarimu di kelas Assault. Hanya saja, ketika dia mencarimu, secara kebetulan kamu selalu sedang mengerjakan Komisi Pribadi.”
Selama semester 2, Ryan memang jarang bersekolah dan selalu pergi mengerjakan Komisi Pribadi. Hal ini membuat Ryan juga terkenal sebagai maniak kerja.
Begitu ada misi dengan tingkat kesulitan yang tinggi, Ryan pasti akan mengambilnya.
Misi yang sulit pada umumnya memakan waktu yang cukup lama. Misi tersebut tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan satu atau dua hari saja. Bahkan durasi misi ini bisa mencapai dua bulan.
Tentu saja, jenis misi ini umumnya tidak mungkin dipasang di Papan Buletin Misi. Sebaliknya, Guru dari Bagian Administrasi akan memilih kandidat yang tepat di antara murid SMA Butei Tokyo untuk melaksanakan misi tersebut.
Sebagai supernova kelas Assault, Ryan selalu aktif dalam mengambil Komis Pribadi, tidak seperti Kinji yang jarang melakukannya.
Oleh karena itu, Ryan sering dipercaya oleh Divisi Urusan Akademik untuk menerima Komisi Pribadi dengan tingkat kesulitan tinggi.
Selain Ryan, sang murid pindahan dari Inggris, Kazaki H. Aria juga sering mengerjakan Komisi Pribadi setelah ia pindah ke SMA Butei Tokyo. Maka dari itu, Aria dan Ryan tidak pernah bertemu sejak kepindahannya.
Memikirkan hal ini, Ryan tidak bisa menahan senyumnya. "Bukankah itu berarti, Kanzaki-san sangat ingin menantangku berduel?"
“Sepertinya begitu.” Riko berkata dengan suara manis, "Namun, Riko juga mendengar bahwa murid pindahan itu akan satu kelas dengan kita."
"kelas Kita? Maksudmu kelas 2-A ini?" Ryan sedikit terkejut.
“Iya, itu benar. Tapi tampaknya, hari ini murid pindahan itu tidak bisa datang sekolah.” Riko mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Ryan.
Ryan tidak tahu apakah itu hanya ilusi, tapi dalam sepersekian detik, di mata polos Riko, tampak ada gejolak aneh. Pandangan matanya seakan seperti seorang pemburu yang sedang menantikan perburuan yang sangat brutal dan menyenangkan.
Tapi setelah itu, Riko kembali tersenyum dengan senyum manisnya. "Yah, cepat atau lambat Ri-Ri pasti akan bertemu dengannya."
Riko lalu melepas pelukannya dan melompat kebelakang seperti kelinci.
“Riko sudahi dulu sampai di sini. Jika Riko terus menempel pada Ri-Ri, lambat laun Shirayuki pasti akan tahu dan segera membunuhku.” Setelah itu, Riko segera meninggalkan Ryan dan berbicara dengan murid kelas 2-A lainnya.
Mendengar hal ini, Ryan hanya bisa tersenyum kecut mengingat betapa mengerikannya Shirayuki pada saat-saat tertentu.
__ADS_1
Ryan kemudian menoleh dan melihat pemandangan di luar jendela. Dari luar, ia tampak seperti sedang melamunkan sesuatu. Padahal, dalam hatinya, ia sedang memikirkan hal yang tidak baik.
‘Hee~ ternyata target keduaku juga akan masuk kelas yang sama. Ini akan menjadi sedikit lebih mudah.’
‘Selama semester dua aku terlalu sibuk untuk menyelesaikan misi kedua dari Reincarnation Room. Jadi aku tidak sempat untuk mendekatinya. Tapi kali ini, aku akan mendapatkannya.’ Perlahan, Ryan tersenyum menyeringai.
~***~
Tak terasa, matahari pun mulai terbenam. Satu per satu murid mulai berjalan keluar dari sekolah, termasuk Ryan.
Hari ini, Ryan pulang sendirian. Kinji telah menghilang sejak tadi pagi, dan Riko memiliki agenda Otaku yang tidak bisa ia tinggalkan. Sementara Shirayuki, ia memiliki jadwal yang berbeda dengan murid Butei.
Supranatural Selective Research membutuhkan lebih banyak waktu daripada kelas lainnya. Akibatnya, murid S-ken terkadang pulang lebih malam daripada murid kelas lainnya.
Maka dari itu, hari ini, Ryan akan kembali ke asrama sendirian.
Saat Ryan berjalan di jalanan yang redup, Ryan mendapat ratusan SMS dari Shirayuki.
“Hanya karena nggak bisa menemaniku pulang ke asrama, Shirayuki mengirimiku begitu banyak SMS permintaan maaf?”
Ryan tidak bisa menahan tawa melihat begitu banyaknya SMS. Tapi di sisi lain, Ryan sendiri agak takut dengan sikap Shirayuki ini.
Beberapa saat kemudian, Ryan tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Di saat yang sama, suasana di sekitar Ryan berubah.
"..."
Keheningan yang sangat tidak normal mulai menyeruak dan mengisi ruang di sekitarnya. Keheningan ini terasa sangat mencekam.
Mata Ryan berangsur-angsur terangkat dari layar ponselnya. Dengan lembut, ia menutup ponsel lipat di tangannya, dan melihat ke sekelilingnya.
Selama satu tahun di SMA Butei Ryan memang menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja keras untuk menyelesaikan Misi kedua Reincarnation Room
Tapi, dalam kelas Assault, Ryan juga belajar banyak teknik yang biasa digunakan seorang Butei Profesional.
Seperti teknik pelacakan, teknik anti-tracking, metode pembebasan saat diikat, kesadaran saat sedang diawasi, dan berbagai macam teknik untuk menghadapi segala situasi yang tidak menguntungkan Ryan.
Oleh karena itu, dengan pendengaran dan intuisinya, Ryan samar-samar menyadari bahwa ia tidak sedang sendirian.
Ryan dapat merasakan nafas bergolak yang bersembunyi di dalam kegelapan. Ia juga mendengar ada beberapa langkah kaki yang terdengar tidak beraturan.
“Sepertinya aku telah dikepung …” gumam Ryan.
Perlahan, bayangan gelap mulai muncul satu persatu dari beberapa gang yang ada di sekitar jalan.
“Roaar.”
“Roaar.”
Bayangan gelap yang perlahan keluar dari gang gelap itu ternyata adalah sekelompok serigala.
Serigala-serigala tersebut menatap Ryan seakan sedang melihat mangsanya. Mereka terus maju dengan perlahan hingga menutup rapat semua jalan keluar Ryan.
Melihat semua ini, Ryan dengan tenang menganalisa kejadian ini. ‘Mereka jelas bukan serigala liar. Jika mereka serigala liar, tidak mungkin hawa keberadaan mereka setipis ini.’
‘Selain itu, serigala liar tidak akan bisa mengenali target secara spesifik. Jika mereka di lepas di jalanan yang penuh orang, maka mereka akan menyerang orang-orang secara acak. Tentu hal ini akan menimbulkan kepanikan.’
‘Tapi, berbeda dengan serigala-serigala ini. Mereka dapat mengenaliku sebagai target secara spesifik.’
__ADS_1
‘Mereka juga telah dilatih untuk menyergap seorang Butei. Jika yang disergap adalah Butei peringkat A ke bawah, kemungkinan besar orang tersebut tidak akan menyadari pengepungan ini dan mati menjadi makanan serigala-serigala ini.’
‘Dengan kata lain, ada dalang dibalik penyerangan ini. Tapi siapa? Tidak ada orang normal yang melatih serigala untuk menjadi pembunuh.’
Ryan terus memperhatikan serigala-serigala tersebut. Mereka memiliki rambut putih keperakan dengan ukuran tubuh yang besar.
Ryan pun teringat pernah melihatnya pada buku yang ia baca. "Serigala Perak Kaukasus. Seharusnya serigala ini sudah punah."
“Auuuuu!”
Diiringi dengan suara lolongan dari salah satu serigala perak, sekelompok serigala yang mengelilinginya secara bersamaan melompat ke arah Ryan.
Melihat hal ini, mulut Ryan tersenyum sangat lebar.
Segera setelah itu, Ryan mengangkat tangannya, dan kilatan cahaya melintas ke sekeliling Ryan dengan cepat.
Dor Dor Dor Dor Dor
Suara tembakan bertubi-tubi terdengar memekakkan telinga
Tapi anehnya, tidak ada yang dapat melihat di mana pistol Ryan berada.
Ryan hanya mengangkat tangannya, dan membidik serigala-serigala itu dengan tangan kosongnya tersebut.
Namun, longsongan demi longsongan peluru kosong terus berjatuhan di sekitar Ryan. Padahal, tidak terlihat sama sekali adanya pistol di tangan Ryan.
Peluru-peluru ini meluncur merobek atmosfer dan menyebar ke berbagai arah.
Semua terlihat seolah-oleh Ryan menembakkan peluru hanya dengan telapak tangannya saja.
Inilah mengapa, Ryan mendapat julukan Weapon Wizard.
Dalam keadaan seperti itu, para serigala tersebut tidak dapat menghindari tembakan tak terlihat tersebut. Alhasil, peluru-peluru tersebut dengan tepat menembus tengkorak kepala mereka dan menghancurkan isi otaknya
Sluup Sluup Sluup
Bersamaan dengan suara peluru menembus kepala, percikan darah dari kepala serigala-serigala tersebut terus bermekaran bagaikan bunga merah yang indah di bawah pemandangan matahari terbenam.
Satu per satu, tubuh serigala perak itu pun jatuh ke tanah. Dengan cepat, jalanan di sekitar Ryan telah penuh dengan genangan darah.
Saat serigala terakhir jatuh, tiba-tiba daun telinga Ryan bergerak sedikit. Ia merasa mendengar suara yang sangat aneh.
Seketika itu juga, Ryan langsung melihat ke sebuah sudut jalan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Di sana, ada sebuah mobil yang mesinnya baru saja dinyalakan. Mobil itu lalu memacu lajunya dengan cepat.
“Jadi di sana rupanya!”
Tanpa ada keraguan, Ryan langsung menembak mobil tersebut.
Dor
Peluru tersebut langsung melesat mengenai ban mobil tersebut. Mobil itu pun kehilangan keseimbangannya. Akhirnya, mobil tersebut terbalik dan menabrak lampu jalan.
Boom
Suara ledakan yang cukup keras tercipta. Dalam waktu yang singkat, mobil tersebut telah diselimuti api yang berkobar-kobar.
Dengan ekspresi yang dingin, Ryan berjalan maju mendekati mobil tersebut.
__ADS_1