Reincarnation Room

Reincarnation Room
Bal Masqué


__ADS_3

Dengan disampaikannya wacana Alastor, sisa suara di dalam ruangan tersebut menghilang. Hanya suara nafas berirama Shana saja yang masih terdengar.


Ryan pun hanya terdiam. Ini adalah pembicaraan yang kesekian kalinya seseorang meminta Reiji Maigo darinya. Ia bahkan hampir bosan dengan semua ini.


Tapi, Ryan paham mengapa Alastor kembali mengajukan wacana ini. Sydonay lah yang menjadi konsentrasi Alastor atas keamanan Reiji Maigo.


"Thousand Changes selalu menjadi anomali di antara para Crimson Lord. Dia lebih suka menjadi tentara bayaran dan menerima misi dari Denizen lain. Namun, sikapnya terhadap Reiji Maigo sangat berbeda dengan Crimson Denizen lainnya."


Alastor berkata, "Meskipun Reiji Maigo adalah Treasure Tool (Hogu) paling berharga dan selalu menjadi dambaan para Crimson Denizen, tapi kegembiraan yang ditunjukkan Thousand Changes saat melihat Reiji Maigo sangat berbeda. Pasti dia memiliki alasan lain yang sangat berbeda dengan kebanyakan Crimson Denizen."


Tebakan Alastor hampir sepenuhnya benar.


Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sikap Sydonay.


Kalau tidak, jika Crimson Lord dari jaman kuno ini benar-benar menginginkan Reiji Maigo, maka dia akan melakukan segala upaya untuk merebutnya dari Ryan. Apalagi Sydonay memiliki kesempatan untuk membunuh Ryan. 


Tapi, di antara pilihan yang ada, dia lebih memilih untuk mundur. Dari sini, sudah pasti dia memiliki alasan tertentu 


"Dan, alasan ini pasti sangat penting."


Alastor berkata kepada Ryan, "Aku pikir, Sydonay tidak akan pernah berhenti di situ dan pasti akan datang lagi untuk merebut Reiji Maigo. Saat itu terjadi, dengan kekuatanmu sendiri, aku tidak yakin kamu dapat melindungi Reiji Maigo."


Alastor berkata demikian, bukan tanpa alasan.


"Lagipula, Thousand Changes adalah salah satu Crimson Lord dari Bal Masqué."


Mendengar ini, mata Ryan tiba-tiba mulai bersinar.


Bal Masqué, adalah organisasi Crimson Denizen yang cukup besar. 



Meskipun Crimson Denizen yang datang ke dunia sekarang dari Crimson Realm selalu berbuat seenaknya sendiri dan suka menyendiri, namun ternyata tidak semuanya begitu.


Denizen-denizen seperti itu akhirnya berkumpul menjadi satu dan membuat sebuah organisasi besar bernama Bal Masqué.


Karena jumlah Crimson Denizen yang bergabung cukup banyak, hal ini membuat Flame Haze sangat berhati-hati jika berurusan dengan mereka.


Sydonay adalah salah satu anggota Bal Masqué, dan juga salah satu dari tiga Crimson Lord yang memimpin organisasi ini. Ketiga pemimpin itu di sebut Trinity.


Sejak pemimpin utama Bal Masqué menghilang, Thousand Changes bersama dua Crimson Lord Trinity lainnya lah yang mengurus organisasi ini agar tidak hancur.


Alastor lalu berkata dengan nada yang cukup serius. "Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan organisasi Bal Masqué."


Dengan kata lain, sikap Sydonay terhadap Reiji Maigo yang sangat aneh ini disebabkan oleh Bal Masqué.


Yang mengincar Reiji Maigo bukan individual seperti Sydonay, tetapi sebuah organisasi Denizen.


"Jika dugaanku ini benar, itu akan menjadi sangat merepotkan."


Maka dari itu, Alastor berkata bahwa Ryan tidak akan bisa melindungi Reiji Maigo. Melawan Thousand Changes saja sudah sangat sulit, apalagi melawan seluruh organisasi.


Di Bal Masqué, ada banyak Crimson Lord. Walau tidak sekuat Friagne, tapi kuantitasnya sangat merepotkan. Selain itu, ada dua Denizen lagi di dalam Trinity, yang artinya, kedua Denizen tersebut tidak lebih lemah dari Thousand Changes.


"Dengan situasi seperti ini, keberadaan Reiji Maigo di tanganmu sangat tidak aman." Alastor menimbang kata-katanya dan berkata, "Tapi, kalau Reiji Maigo ditangani oleh kami, mungkin kami bisa bekerja sama dengan Flame Haze lain untuk melindunginya."


"Atau kami akan menggunakan cara lain agar Crimson Denizen lain tidak dapat memilikinya."


Bahkan Alastor membuat pernyataan seperti itu. Dapat dibayangkan bahwa ini bukanlah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu atau dua individu saja.


Dan tentu saja, Ryan juga tahu tentang hal ini.


"Sebelum aku menjawab, ijinkan aku bertanya padamu.'


Ryan kemudian bertanya, "Seandainya aku menyerahkan Reiji Maigo pada kalian, menurutmu, apa cara yang terbaik agar Reiji Maigo tidak direbut oleh Crimson Denizen?"

__ADS_1


Mendengar ini, Alastor terdiam sejenak untuk berpikir.


Tak lama setelahnya, Alastor berkata, "Cara terbaik yang bisa aku pikirkan adalah menghancurkan Reiji Maigo. Dengan cara ini, tidak peduli konspirasi macam apa yang menghadap, mereka tidak akan pernah mendapatkannya."


Itu memang cara terbaik untuk menghadapinya.


Meskipun Reiji Maigo adalah Treasure Tool (Hogu) paling berharga, tapi itu hanya berharga bagi Crimson Denizen yang membutuhkan Power of Existence. Flame Haze juga tidak bisa menggunakannya. Karena penggunaannya yang sangat terbatas ini, maka dari itu item ini hanya memiliki tingkat Perunggu.


Jadi, jika Reiji Maigo dihancurkan, hanya Crimson Denizen jahat saja yang mempermasalahkannya. 


Namun, tak disangka Alastor, ternyata Ryan menyanggahnya.


"Kalau aku ingin menghancurkannya, maka dari dulu aku sudah melakukannya. Ngapain juga aku harus menunggu kemunculan kalian untuk menghancurkannya?"


Sebagai orang yang pernah menonton Anime Shakugan no Shana, tentu Ryan mengetahui rahasia Reiji Maigo. Ia tahu jika Reiji Maigo dihancurkan, akan terjadi Butterfly Effect yang sangat besar.


Terlebih lagi, Reiji Maigo sendiri juga masih berguna bagi Ryan. Dengan kombinasi Cincin Ionic, Reiji Maigo menjadi Power Bank tak terbatas bagi Ryan tiap tengah malam.


"Ini adalah benda milikku, jadi terserah aku Reiji Maigo mau aku gunakan seperti apa." tegas Ryan. Ia kemudian memberi saran pada Alastor. "Jika kamu tidak ingin terlibat dalam pusaran air ini, lebih baik kalian tinggalkan kota ini lebih awal."


Mendengar saran ini, Alastor kembali terdiam dan tidak lagi berbicara.


Melihat sikap Alastor, Ryan tersenyum kecil. Setelah beberapa saat menatap wajah tidur Shana yang manis, Ryan menutup matanya, dan kembali tidur.


Malam pun berlalu dengan tenang.


~***~


Di tempat lain yang sangat jauh dari lokasi Ryan, terdapat bangunan terbuka yang mirip sebuah kuil.


Bangunan ini memiliki deretan tiang putih yang tertata rapi. Tiang ini menjulang tinggi hingga ujungnya tidak terlihat.


Tidak ada dinding, tidak ada langit-langit, hanya ada tiang-tiang berakar dan tanah gelap seperti kristal.


Dan di tengah bangunan melingkar yang dikelilingi silinder putih ini, juga terdapat sebuah altar yang terbuat dari batu putih bersih.


Gadis kecil itu mengenakan jubah besar dan juga topi besar. Ia memiliki perawakan tubuh yang mungil dan rambut biru muda pendek sebahu. 


Walau penampilan gadis itu tampak sangat suci, tapi sayangnya, wajah gadis suci itu seperti tidak memiliki emosi.



Wajah menawan yang lembut dan halus itu memiliki perasaan seakan dia bukan makhluk hidup. Dia lebih seperti patung yang diukir dengan hati-hati, sehingga menambah banyak perasaan dingin seperti es.


Gadis muda itu menutup matanya dan berdoa tanpa ekspresi di altar.


Suasana khusyuk dan hening ini mendadak pecah pada detik berikutnya.


Dari arah belakang gadis itu, terdengar suara langkah kaki. Mendengar suara seperti itu, gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya dan tetap menutup matanya, seolah-olah ia tidak tertarik dengan pendatang baru.


Dan sepertinya, pendatang baru ini sudah terbiasa dengan sikap gadis muda itu. 


"Hai, Hecate yang imut …"


"Kamu masih saja seperti sebelumnya, selalu bersikap dingin padaku …"


Bersamaan dengan ucapan seperti itu, muncul seorang pria tinggi berusia paruh baya yang mengenakan jas dan kacamata gelap, memberikan perasaan dia adalah seorang bos mafia.


Pria tersebut ternyata adalah Sydonay. Ia lalu melepas kacamata gelapnya dan bersikap agak manja. "Apakah kamu tidak bisa sekali saja menyambutku ketika aku datang?"


Siapa sangka, pria paruh baya yang gagah dan sangat buas saat bertarung melawan Ryan, sekarang bersikap lembut dan manja.


Namun, gadis bernama Hecate itu masih saja diam berlutut di sana tanpa ekspresi, seolah-olah Sydonay hanyalah sebuah angin lalu, begitu dingin dan sedih.


Sydonay hanya bisa mengangkat bahunya sembari menghela nafas panjang, seakan ia telah ditolak oleh putri imutnya.

__ADS_1


"Apakah kamu marah karena aku terlalu lama tidak kembali?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Hecate tetap diam seribu bahasa. Namun, ada suara lain yang menjawabnya dari arah samping.


"Kamu terlalu banyak berkhayal, Jenderal. Kamu seharusnya tahu bahwa Hecate selalu bersikap seperti ini."


Ini adalah suara feminim yang sangat dewasa dan memiliki daya tarik tersendiri.


Mendengar suara ini, Sydonay menoleh dan melihat ke arah kiri.


Di sana, sosok jangkung berjalan dengan langkah kaki yang tajam datang dengan perlahan.


Sosok tersebut mengenakan gaun berwarna gelap. Di sekeliling tubuhnya, terdapat rantai besar yang melayang-layang seperti selendang. Rambut merah gelap menjuntai panjang di belakang sosok wanita dewasa tersebut.



Tubuh wanita dewasa itu memancarkan temperamen yang mempesona. Akan tetapi, dalam pesona ini, ada semacam aura jahat dan aneh.


Mungkin hal ini disebabkan wanita itu memakai penutup mata dan juga memiliki satu mata di dahinya.


Melihat wanita ini, Sydonay mengangkat alisnya, dan berkata dengan sikap yang sama sekali berbeda saat berbicara dengan Hecate.


"Oh, lama tak jumpa, nenek tua …"


Mendengar panggilan tidak sopan ini, kaki wanita itu langsung berhenti. Segera setelahnya, ia tersenyum dan berkata, "Jendral, aku harap kamu bisa mengganti caramu memanggilku."


"Baik, ahli strategi militer kita yang paling hebat, Bel Peol." jawab Sydonay sambil mengangkat tangannya seakan ia menyerah.


"Jangan panggil aku dengan sebutan usang itu." Bel Peol berkata, "Sekarang, orang-orang di Bal Masqué memanggilku sebagai Kepala Staf."


"Benarkah?" Sydonay menatap Bel Peol dan menyeringai. Ia lalu menatap Hecate sekali lagi dan berkata, "Ngomong-ngomong, Trinity sangat jarang sekali berkumpul. Jadi, jangan mengkhawatirkan hal-hal kecil semacam itu."


Ketiga Crimson Lord yang berkumpul di depan altar ini adalah Trinity, Dewan Penanggungjawab Bal Masqué. Setelah Pemimpin tertinggi Bal Masqué menghilang, mereka bertiga lah yang mengelola organisasi.


Ketiga Crimson Lord yang disebut Trinity itu memiliki tugasnya masing-masing.


Jenderal yang bertanggung jawab untuk memimpin, Thousand Changes, Sydonay.


Ahli strategi yang bertanggung dalam pembuatan strategi organisasi, Arbiter of Reverse Reasoning, Bel Peol.


Dan Miko yang bertanggung jawab untuk mendengarkan perintah Pemimpin Agung Bal Masqué, Master Throne, Hecate.


Ketiganya telah menjadi pemimpin Bal Masqué selama Ribuan tahun setelah Snake of Festival menghilang.


"Kamu benar-benar lucu bisa berkata seperti itu, Jenderal …" Bel Peol tersenyum tidak setuju. "Kamu selalu saja sibuk menjadi tentara bayaran di luar. Sementara Hecate, dia hanya diam sepanjang waktu dan berdoa."


"Di antara kita bertiga, hanya aku yang selalu sibuk sepanjang waktu mengurus Bal Masqué. Aku sangat berharap kamu bisa diam di sini dan membantuku meringankan sebagian bebanku, Jenderal …"


"Walau begitu, kamu senang kan dengan pekerjaan semacam itu?" Sydonay berkata tanpa ragu. "Oh ya, kedatanganku kali ini, membawa sebuah informasi yang sangat penting."


Tanpa basa-basi, Sydonay langsung mengungkap informasi yang ia bawa.


"Aku menemukan Reiji Maigo."


Saat informasi ini keluar dari mulut Sydonay, suasana di tempat itu berubah total.


"Hehehehe …" Bel Peol tersenyum dan tertawa, menunjukkan kegembiraan yang teramat sangat. "Akhirnya ketemu."


Dan di atas altar, gadis muda yang sejak tadi sedang berdoa itu tiba-tiba membuka matanya.


Matanya terlihat transparan bagaikan kristal yang sangat indah.


Segera setelah itu, gadis muda bernama Hecate perlahan membuka mulutnya. "Harus mendapatkan Reiji Maigo."


Tak lama setelah itu, Hecate menoleh dan menatap Sydonay. "Di mana Reiji Maigo?"

__ADS_1


Sydonay menjawab tanpa ragu. "Kota Misaki."


__ADS_2