Reincarnation Room

Reincarnation Room
Akhir Pertarungan Shana Dan Margery Daw


__ADS_3

Di atas Jembatan Misaki, Shana menggetarkan sayap api di belakangnya, melompat tinggi ke udara, dan mengayunkan Nietono no Shana yang telah terbakar api teratai merah ke arah Margery di bawah.



Api teratai merah yang sangat panas tiba-tiba berubah menjadi gelombang menderu yang menyapu udara seperti banjir api.


Panas mengerikan ini  menyebabkan udara di sekitarnya terdistorsi. Seakan-akan terjadi distorsi besar dalam ruang di balik dinding Fuuzetsu.


Skala api dalam tebasan Shana ini sangat besar, sehingga menutupi seluruh bidang penglihatan Margery sepenuhnya.


"Brengsek!"


Tepat di bawah banjir api, Margery berteriak kesal sembari berdiri di atas buku hardcover besar yang melayang di udara. Ia secara bertahap dapat merasakan hawa panas yang menakutkan terus datang menghampirinya.


Dengan segera, Margery mengangkat kedua jarinya dan merapalkan Puisi Pembantaian Improvisasi (Improvisational Poem of Slaughter).


“Bara no hanawa o tsukurou yo, haha!” (Let's make a wreath of roses, haha!")


“Pokke nya hana ga ippai-sa, tto!” (My pocket is full of flowers!)


Di bawah gema dengungan Marchosias dan Margery, Mantra tak terbatas tersebut membentuk sebuah cincin yang berpusat di sekeliling dua jari Margery. Lingkaran tersebut tersebut berputar dan meluas mengelilingi tubuh Margery bagaikan lingkaran yang mengelilingi planet Saturnus.


Detik berikutnya, semburan api yang jatuh dari langit segera turun menyapu tubuh Margery.


Boom


Sebuah ledakan besar mekar di udara.


Gelombang api teratai merah turun bagaikan air terjun yang jatuh di atas batu. Seluruh ruang terbuka di dekat Margery berubah menjadi kobaran api yang menyebar dan membakar segala sesuatu di sekitarnya.


Suhu tinggi yang menakutkan ini membakar seluruh ruang, memungkinkan suhu di dalam Fuuzetsu naik sangat cepat dan langsung melebihi apa yang bisa ditanggung manusia.


Dibanding dengan area sekitar, suhu pusat nyala api berkobar hampir seperti panasnya suhu permukaan luar matahari. Dengan warna api yang sangat merah menyerupai magma, jembatan Misaki serta sungai di bawahnya telah menghilang digantikan lahar panas.


Dalam hal ini, Margery sekali lagi tampak sedang berselancar sembari menginjak buku hardcover besar, dan perlahan-lahan berayun di bawah pengaruh gelombang api yang mengerikan.


Setiap kali api teratai merah akan menyentuh tubuhnya, Mantra Tak Terbatas berbentuk cincin yang mengelilingi tubuh Margery akan berputar dan membentuk perisai tak terlihat, sehingga kobaran api tidak mengenai tubuhnya.


Hanya saja, tiap kali Mantra Tak Terbatas seperti cincin itu menahan serangan api maha dahsyat itu, cahaya pada cincin ini akan semakin meredup.


Kratak

__ADS_1


Sampai akhirnya setelah beberapa saat, suara retakan tajam mulai terdengar dari Mantra Tak Terbatas seperti cincin itu.


“Tsk!” Margery tak kuasa untuk berdecak melihat hal ini.


“Hati-hati! Dia datang!” ucap Marchosias memperingatkan Margery.


Segera setelah itu, sesosok mungil dengan sayap merah di belakangnya,turun dan menyerbu dengan kecepatan yang mencengangkan.


"Jangan meremehkanku!" Margery berteriak dengan kasar sembari mengacungkan jarinya ke atas.


"Kaulah yang suka memandang rendah orang lain!" balas Shana yang bergegas turun bagaikan meteor. Bersamaan dengan itu, Shana melemparkan belati tajam di tangan kirinya dengan keras.


Swoosh


Belati tajam itu langsung berubah menjadi kilatan dingin yang melesat langsung ke arah Margery.


Di saat yang sama, belati yang melesat bagai kilatan petir itu berputar dengan sangat cepat.


Melihat belati yang berputar datang padanya, membuat Margery teringat kembali serangan tornado sebelumnya. Hal ini membuat nyali Margery menyusut, dan membuat pikirannya kacau.


Margery sama sekali tidak menyadari bahwa serangan kali ini dibandingkan dengan yang terakhir kali, sangat jauh berbeda.


Pada serangan sebelumnya, kekuatan putaran belati yang sangat cepat dan kuat itu membuat semua angin di sekitarnya tersedot dan bersatu menjadi angin tornado yang menembus langit. Benar-benar serangan yang sangat mematikan.


Namun, bisa dikatakan bahwa serangan Ryan sebelumnya telah tercetak dalam-dalam pada benak Margery, sehingga ia bereaksi sangat berlebihan.


Jadi, Margery mencoba yang terbaik untuk menginjak buku hardcover besar dengan postur yang sangat memalukan dan bergerak ke samping.


Moon Blade yang terus berputar segera melewati sisi Margery dan mendarat di ruang kosong.


Begitu melihat lemparan belati ini tidak ada apa-apanya dibanding sebelumnya, Margery mendapati dirinya merasa dibodohi.


"Ini tidak bagus!" Seru Marchosias.


Namun, sudah terlambat untuk bereaksi saat ini.


"Haaaaaaah!"


Shana terbang menukik ke bawah membawa Nietono no Shana yang terbakar api teratai merah begitu ganas. Bagaikan meteor, Shana menerjang tubuh Margery yang sudah kehilangan perlindungan Mantra Tak Terbatas.


Boom

__ADS_1


Suara ledakan terdengar lagi. Gelombang api teratai merah juga mekar dan menyelimuti area sekitarnya.


"Aaaaargghh!"


Dalam gelombang api, Margery merengek kesakitan terbakar oleh api teratai merah yang mulai membakar tubuhnya.


Ketika gelombang api yang menghantam sekeliling mulai memudar, tampak Margery berdiri di tengah-tengah asap hitam, dengan beberapa bagian kulit yang hangus, seakan-akan ia adalah korban serangan bom yang dijatuhkan dari udara.


"Margery!"


Suara cemas Marchosias terdengar dari buku hardcover besar itu.


"Uuugh!"


Rasa sakit mengalir di sekujur tubuh Margery, membuatnya merintih kesakitan hingga meneteskan air mata. 


Jejak hitam hangus memenuhi tubuh Margery. Bahkan rambut yang dikuncir seperti ekor kuda itu telah rusak dan terurai ke mana-mana.


Margery hanya bisa berusaha membuka matanya dengan keras dan berjuang untuk bangkit.


Namun, sebelum itu, sebuah ujung bilah Odachi telah berada tepat di depan mata Margery. Hal ini membuat ekspresi mata Margery berubah secara dramatis.


Di depan Margery, Shana berdiri sambil mengacungkan Nietono no Shana ke mata Margery dan memandangnya dengan tatapan penuh hinaan juga merendahkan.


Tak lama kemudian, Shana berkata dengan tegas. "Aku menang."


Tak ada yang meragukan deklarasi kemenangan Shana.


"Inilah akhirnya." Alastor juga dengan sungguh-sungguh, "Jika kita terus bertarung, maka itu adalah hal yang sia-sia."


"Kalian berani sekali berkata seperti itu!" 


Margery menatap Shana dengan tajam dan berkata penuh ironi, "Kamu adalah seorang Flame Haze, tetapi demi melindungi seorang Crimson Denizen, kamu rela sampai bertarung dengan kekuatan penuh melawanku yang juga sedang menjalankan misi Flame Haze!"


"Siapa di sini yang melakukan hal sia-sia, apakah itu aku, atau kamu?!" 


"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu, dan aku sedang juga tidak mood untuk memperdebatkan sudut pandang siapa yang benar." Shana berkata dengan nada yang tidak perlu dipertanyakan lagi, "Yang pasti, pemenang dalam pertarungan ini adalah aku. Jadi, sebagai pihak yang kalah, kamu harus mau mendengarkanku."


Mendengar perkataan egois Shana, ekspresi wajah menawan Margery sedikit berubah.


Pada saat yang sama, suara yang terdengar sangat santai masuk ke telinga semua orang.

__ADS_1


"Hai semuanya~"


"Sebelum melanjutkan obrolan kalian, bisakah kalian mendengarkanku mengatakan beberapa patah kata?"


__ADS_2