Reincarnation Room

Reincarnation Room
Lebih Dekat Dengan Sylvia


__ADS_3

“Tidak apa-apa, tidak masalah.” Sylvia melambaikan tangan tanpa peduli. “Bagaimanapun, sekolah kami tidak terlalu memperdulikan Festa. Bahkan, tidak banyak orang yang benar-benar ingin menang.”


Meskipun Festa adalah acara besar di Tingkat Dunia dan sangat penting bagi Integrated Enterprise Foundation, namun hal itu tidak berlaku bagi Akademi Putri Queenvail.


Berbeda dengan sekolah lain yang berfokus pada peningkatan kekuatan ataupun penelitian, Queenvail berfokus pada pengembangan karir akting dan menyanyi.


Jadi, bagi mereka Festa hanyalah sebuah panggung bagi murid-muridnya untuk menunjukkan karisma mereka dan bahkan menjadi debut pendatang baru.


Oleh karena itu, penampilan Akademi Putri Queenvail di Festa tidak sepenting sekolah lainnya.


"Tentu saja tidak semua seperti itu. Ada juga orang yang sangat ingin menang di Festa. Contohnya saja aku, yang sangat ingin memenangkan Lindwurm Festa." 


Mendengar ucapan Sylvia, Ryan berpikir sejenak. "Kalau nggak salah, kamu menjadi juara dua di Lindwurm Festa tahun lalu?"


Ryan mengarahkan pandangannya pada Sylvia dengan ekspresi ingin bertarung.


“Oooh.” Sylvia tiba-tiba mengeluarkan suara terkejut, dan berkata dengan gembira, "Wajahmu mengatakan bahwa kamu benar-benar ingin bermain denganku.”


"Kamu adalah juara kedua Lindwurm Festa. Dengan kata kain, secara teori kamu adalah murid terkuat kedua di kota ini." Ryan mengungkapkan senyuman provokatif dan berkata, “Aku ingin tahu seberapa kuatnya dirimu."


Sylvia tidak hanya seorang Strega, namun ia juga seorang Genestella yang cukup terlatih dan sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat.


Ryan pernah melihat salah satu video pertarungan Sylvia dalam Lindwurm sebelumnya.


Oleh karena itu, Ryan dapat memastikan bahwa jika dibandingkan murid-murid Jie Long, kemampuan pertarungan jarak dekat Sylvia termasuk sangat kuat. Bahkan dengan hanya menggunakan pertarungan jarak dekat saja, Sylvia dapat dengan mudah masuk ke dalam Page One.


Cecily Wong, sebagai Daoshi, juga sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat.


Dan kemampuan pertarungan jarak dekat Sylvia diperkirakan tidak akan lebih lemah dari Cecily Wong.


Ditambah lagi, sebagai Strega, Sylvia juga sangat hebat. Ia memiliki Kemampuan yang di sebut Supremacy, dimana ia bisa memanipulasi Mana menjadi apapun kecuali untuk kekuatan penyembuh. 


Oleh karena itu, Ryan sedikit tertarik untuk melawannya.


"Secara pribadi, aku harap kamu tidak tertarik dengan kekuatanku saja." Sylvia menyeringai dan menunjukkan ekspresi yang agak canggung. Ia membawa wajahnya ke depan wajah Ryan dan tersenyum.


"Mungkinkah, kamu tidak memiliki rasa ingin tahu lebih banyak lagi tentang aku?"


"Aku ini seorang Diva lho, masa kamu tidak penasaran?"


Mendengar ucapan Sylvia dan juga tingkahnya saat ini, membuat Ryan terpana.


Pada yang sama, bau harum tercium di hidung Ryan. ia tidak mencium bau ini ketika Sylvia menggandeng lengannya. Tapi sekarang, aroma ini sangat jelas masuk ke dalam pikiran Ryan.


Sylvia membuat wajah sangat dekat dengan Ryan. Bahkan ia tersenyum nakal menggodanya.

__ADS_1


Dalam keadaan seperti itu, Ryan secara alami sekali lagi melihat mata Sylvia tersembunyi di balik pinggirannya.


Seperti batu kecubung, mata bening dan transparan.


Melihat sepasang mata itu, hati Ryan juga naik dengan perasaan yang luar biasa.


'Anjir! Aku benar-benar nggak paham dengan orang ini. Dia bersikap menjaga jarak, tapi dia juga memancing untuk digoda.' pikir Ryan.


Dengan tenang, Ryan menjentikkan jarinya ke dahi Sylvia. 


Sontak hal ini membuat Sylvia meringis kesakitan. 


"Aduh!" keluhnya sembari mundur dua langkah dan memegang dahinya.


Ini adalah pertama kalinya Sylvia mendapat perlakuan seperti ini. Apalagi dari seorang pria yang baru dikenalnya. 


"Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu tiba-tiba menjentik dahiku?!”


Melihat reaksi Sylvia, Ryan tersenyum dan berkata, "Maaf, tapi ini semua salahmu."


"Bagaimana mungkin ini salahku?" tanya Sylvia dengan nada sedikit kesal.


"Itu karena kamu terlalu cantik, makanya aku melakukannya. Kalau nggak, aku mungkin nggak akan bisa menahan diriku untuk membelai wajah menawan yang ada di depanku."


Setelah meninggalkan kalimat ini, Ryan berjalan melewati Sylvia yang masih sedikit tertegun dan terus berjalan ke depan.


Mengingat perkataan Ryan, wajah menawan Sylvia kembali memerah. Walau begitu ia menahan rasa malunya dan segera menyusul Ryan.


Hanya saja, saat Sylvia mengejar Ryan, ia berbisik, "Dasar pria bermulut manis!" 


Setelah kejadian ini, Ryan dan Sylvia kembali masuk ke kerumunan.


Di saat yang sama, di sebuah sudut jalan, beberapa orang melihat Ryan dan Sylvia secara diam-diam. 


Mereka saling berpandangan ketika melihat betapa intimnya Sylvia dan Ryan.


"Apakah kalian melihatnya"


"Ya, kami melihatnya." balas keempat orang lainnya.


Sekelompok gadis berjumlah lima orang, bersembunyi di pinggiran gang sambil mengenakan topi di kepala mereka.


Mereka berlima juga mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menyembunyikan identitas mereka.


Seakan telah menemukan berita kontroversial, mereka berlima tampak bahagia dan bersemangat     

__ADS_1


"Ayo kita ikuti mereka."


"Ayo!" jawab keempat orang lainnya.


Kelima gadis mencurigakan tersebut langsung menyelinap ke dalam kerumunan, diikuti tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya.  


~***~


Sesaat kemudian, Ryan dan Sylvia tampaknya telah melupakan perbuatan mereka dan mulai jalan-jalan di sepanjang area komersial.


Mereka berdua mulai berkeliling dan memasuki satu persatu toko yang ada di sana.


Terkadang mereka masuk ke toko pakaian, mampir ke kedai minuman, mampir ke toko mainan, dan juga mampir ke restoran cepat saji.


Setelah mengunjungi berbagai toko, mereka akhirnya tiba di sebuah taman di dekat kawasan administrasi.


Di bangku taman depan air mancur, Ryan dan Sylvia duduk sembari memegang minuman dingin di tangan mereka. Mereka saling mengobrol sambil memakan camilan yang telah mereka beli di pinggir jalan.


"Aku sudah lama tidak pergi jalan-jalan seperti sekarang ini."


Setelah menyedot minumannya, Sylvia berkata dengan senyum di matanya. "Ini benar-benar menyenangkan. Tidak sia-sia aku memohon dengan putus asa agar hari ini bisa libur pada agenku."


"Cukup sudah senang-senangnya." Ryan memakan cemilannya dan berkata dengan santai. "Bisakah kita langsung ke intinya saja sekarang?"    


"Haah~" Sylvia menghela napas dan terdiam beberapa saat. 


Setelah itu, raut wajah Sylvia yang awalnya penuh senyuman, tiba-tiba berubah menjadi serius.


"Sebelum itu, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan terlebih dahulu padamu.” Sylvia memandang Ryan dan bertanya, “Bisakah kamu memberitahuku, kemampuan apa yang dimiliki Seraph?"


 “Seraph?” dahi Ryan berkerut.


Karena hampir 100 tahun Seraph tidak pernah memiliki pengguna, informasi mengenai Seraph masih sangat terbatas. Terutama kemampuan Seraph.


Saat ini, yang mengetahui kemampuan asli Seraph hanyalah Ryan dan Fan Xinglou.


Meski Seidokan telah mengumpulkan beberapa informasi saat konfrontasi terakhir antara Ryan dan Kirin, tapi informasi yang diperlihatkan Ryan cukup membingungkan mereka.


Apalagi, saat itu, Ryan mengubah pedangnya menjadi angin, membuat ukuran pedangnya mengecil hingga seukuran belati, dan juga memanipulasi tanah.


Dengan kemampuan yang tidak selaras itu, informasi yang dapat Seidokan kumpulkan sangat tidak cukup untuk menyimpulkan apa kemampuan aslinya.


Oleh karena itu, banyak orang yang penasaran dengan kemampuan Seraph dan berusaha menarik informasi tersebut.


Hanya saja, Ryan tidak menyangka bahwa Sylvia akan mencari informasi mengenai hal itu.

__ADS_1


'Mengapa Sylvie menginginkan informasi ini? Apakah semua yang dia lakukan hari ini hanya demi mencari informasi mengenai Seraph?'


__ADS_2