
'Anjir, ini bercanda kan? Bukankah misi sampingan ini malah mempersulit diriku untuk menyelesaikan misi utamaku?'
'Arghhh! Aku curiga Dewa pencipta Reincarnation Room adalah orang yang sadis!' pikir Ryan sembari duduk di sofa.
Ryan pun kembali teringat atas misi-misi sampingan yang diberikan sistem Reincarnation Room di dunia-dunia sebelumnya. Semua misi sampingan itu selalu membuatnya berhadapan dengan lawan yang sangat kuat.
'Urgh, memikirkan hal ini, aku jadi takut kalau suatu saat Sistem bakal memintaku menghadapi Son Goku dari dunia Dragon Ball dengan mata tertutup dan tangan terikat. Bukankah itu sama saja bunuh diri?'
'Tapi di sisi lain, semakin berbahaya misinya, semakin besar hadiah yang aku dapatkan!'
Semakin memikirkannya, ekspresi beku Ryan berubah menjadi ekspresi tak berdaya.
"Ryan-kun?" Melihat kondisi aneh Ryan selama beberapa waktu, membuat Cecily Wong bertanya, "Apa yang terjadi padamu?"
"Ah, nggak apa-apa kok Kak." Ryan hanya tersenyum kecut dan berkata tak berdaya, "Hanya sedang memikirkan sesuatu yang membuatku senang sekaligus sedih."
Ini adalah pertama kalinya Ryan mendapat misi sampingan yang saling terhubung. Namun isi misi sampingan ini benar-benar menambah tingkat kesulitan hidup Ryan di dunia ini. Hal ini tentu membuatnya sedikit sedih.
Tapi, di sisi lain, hadiah yang ditawarkan juga lumayan besar. Jika Ryan berhasil menyelesaikan ketiga misi sampingan itu, maka Ryan bisa mendapat 20.000 poin, di mana jumlah poin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Misi Utama ketiga adalah 20.000 poin.
Mau tidak mau, Ryan terpaksa harus menyelesaikan misi sampingan ini demi Misi Utama ketiga.
'Padahal, aku baru saja berkata bahwa Ayato bukanlah ancaman untuk saat ini, tapi tiba-tiba Sistem Reincarnation Room memberikan misi seperti ini. Dewa Pencipta sepertinya tidak senang jika hidupku terlalu mudah.' gumam Ryan dengan penuh kesal.
Setelah memenangkan diri, Ryan kembali menganalisa ketiga misi sampingan itu.
Misi sampingan pertama meminta Ryan untuk membuka segel Ayato sebelum Phoenix Festa berakhir.
Itu artinya, Ayato yang telah memulihkan seluruh kekuatannya pasti akan menjadi lawan yang lebih sulit dari Ardi.
Lalu pada misi sampingan kedua, Sistem Reincarnation Room meminta Ryan hanya menggunakan kekuatan yang diperolehnya di dunia ini selama Phoenix Festa.
Dengan kata lain, Ryan tidak boleh menggunakan Mystic Eye of Death Perception dan juga Stigma. Jika tidak, maka misi ini tidak dapat diselesaikan.
Kedua misi sampingan itu tampak dangat sederhana. Namun yang membuatnya jadi tidak sederhana adalah misi sampingan ketiga, di mana misi ini terhubung dengan kedua misi sampingan sebelumnya.
Pada misi sampingan ketiga, Ryan diwajibkan untuk mengalahkan Ayato, dengan persyaratan misi pertama dan misi kedua. Ini benar-benar misi bunuh diri.
Kalau gagal, maka Misi Utama Ketiga otomatis akan gagal, dan akan mempengaruhi Ujian Kenaikan Tingkat Ryan.
'Tapi aku yakin pasti ada solusinya. Sistem nggak akan memberikan misi yang nggak mungkin bisa aku selesaikan.'
Memikirkan ini, Ryan kembali bersemangat. Ia lalu membuka layar hologram dan melihat bagan pertandingan.
Dalam bagan, Ryan melihat bahwa lawan-lawan berikutnya tidaklah terlalu kuat. Semuanya jauh di bawah kekuatan Ardi.
Bisa dibilang, Ryan dan Cecily Wong sudah pasti dapat melaju hingga babak semifinal dengan mudah.
Ryan kemudian melihat bagan pertandingan milik Ayato. Ternyata, lawan Ayato pada babak 16 besar adalah Song Ran dan Luo Kunzhan, yang merupakan peringkat ke 20 dan 22 Institut Ketujuh Jie Long.
Mereka berdua juga merupakan murid Banyuu Tenra dari Faksi Kayu. Hanya saja, Song Ran dan Luo Kunzhan masih jauh lebih lemah dibanding Ryan.
Lalu di babak 8 besar, tim Ayato kemungkinan besar bakal bertemu Li Bersaudara, itupun kalau Li Bersaudara berhasil memenangkan babak 16 besar. Tapi dilihat dari lawannya, kemungkinan Li Bersaudara menang babak 16 besar sangatlah tinggi.
'Semoga Li bersaudara brengsek itu kalah dari Ayato. Kalau nggak, maka misi sampinganku bisa gagal!'
Ryan sedikit mengkhawatirkan Ayato. Apalagi, karena pertandingan hari ini, tubuh Ayato menjadi terbebani. Dan hal ini membuat Ayato tidak bisa melepas segelnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Melihat sifat busuk dari Li bersaudara, mereka pasti akan memanfaatkan keadaan Ayato ini.
Ryan bisa saja melepas segel Ayato sekarang. Tapi menemui Ayato sekarang dan berkata bahwa ia bisa melepas segelnya, tentu Ayato tidak akan mempercayainya.
Maka dari itu, Ryan punya rencana lain untuk bagaimana ia akan menghancurkan segel Ayato.
Setelah selesai berpikir, Ryan berdiri dari sofa dan berkata pada Cecily Wong. “Kak Cecily, bisakah Kakak kembali sendiri? Aku ada sedikit urusan, jadi aku nggak bisa kembali bersamamu.”
“Pergilah.” Cecily Wong melambaikan tangannya. Tak lama kemudian, ia menutup matanya dan tertidur.
Melihat ini, Ryan tertawa dan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia melangkah keluar dari lounge.
~***~
Begitu ia keluar dari lounge, tidak lama kemudian Ryan merasa langkah kakinya sedikit kaku. Konsumsi Prana yang berlebihan telah membuat tubuh Ryan sedikit melemah. Ryan pun tidak tahu butuh berapa lama untuk dirinya bisa kembali.
"Sayang sekali, Kristal Penyembuh nggak bisa dipakai untuk memulihkan energi …" gumam Ryan sambil berjalan menyusuri koridor..
Namu, tiba-tiba saja, tekanan yang tak terlukiskan muncul dan menyelimuti seluruh koridor, seolah-olah udara menjadi begitu berat sehingga menyelimuti pemandangan itu.
Ryan pun langsung menghentikan langkahnya. Saat ini, Ryan dapat dengan jelas merasakannya. Tepat belakangnya, muncul dua aura misterius yang cukup kuta.
Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka mulai berbicara. "Apakah ini murid dari Banyuu Tenra yang kamu ceritakan sebelumnya?"
Ini adalah suara seorang pria. Dan Ryan merasa seperti pernah mendengar suara pria tersebut di suatu tempat.
Ryan jelas merasa kenal dengan suara ini. Tapi entah mengapa, setiap ia ingin mengingatnya, Ryan tidak dapat mengingat siapa pemilik suara ini.
Akan tetapi, suara orang berikutnya, Ryan dapat mengenalinya dengan jelas.
Mendengar suara seperti itu, Ryan langsung berbalik. Kini di depan matanya, Ryan melihat seorang pria bertopeng dengan jas gelapnya, dan juga seorang wanita berkalung besar menyerupai mata.
“Valda-Vaoth …”
Tekanan di koridor tiba-tiba meningkat drastis. Seperti gaya gravitasi, tekanan kuat ini menekan tubuh Ryan dengan kuat.
Ryan perlahan mengangkat kepalanya dan menggerakkan tangannya sedikit. Akan tetapi, saat Ryan melakukannya, mata kalung Valda-Vaoth langsung mengeluarkan sinar gelap.
Ryan segera berhenti melihatnya. Insting Ryan memberitahu bahwa jika ia berani bertindak gegabah, Valda-Vaoth dan juga rekannya pasti akan melancarkan serangan,
Oleh karena itu, Ryan menghentikan tangan yang akan menjangkau sarung Seraph. Ekspresi wajah Ryan pun berubah menjadi sangat serius.
Melihat Ryan seperti itu, pria bertopeng itu berkata dengan kagum, “Anak yang sangat sensitif, tidak heran dia bisa menerima Orga Lux yang dibuat oleh Banyuu Tenra. Aku sedikit mengerti mengapa Valda-Vaoth sangat peduli padamu."
“Bukannya aku peduli padanya.” Valda tanpa emosi berkata, "Ini hanya karena dia tahu mengenai identitasku. Mau tidak mau aku harus peduli padanya.”
Selama percakapan, kalung di depan Valda selalu bersinar dan warnanya semakin kaya.
“Bagaimana? Apakah kamu ingin membunuhnya di sini?” Valda-Vouth berbicara seperti mengabaikan keberadaan Ryan. “Prana-nya tidak banyak tersisa. Dia bisa dikatakan berada dalam kondisi terburuk. Jika ingin membunuhnya, sekarang adalah waktu yang terbaik."
“Mmm, tunggu … ” Pria bertopeng itu berpikir sejenak, lalu berkata, "Biarkan aku berbicara dengannya dulu. Mungkin aku bisa mengorek informasi darinya."
“Manusia suka melakukan hal-hal yang menyusahkan.” Valda-Vaoth mundur sedikit dengan wajah tanpa ekspresi.
Pria bertopeng itu maju selangkah dan membungkuk di depan Ryan untuk melakukan etiket standar kelas atas dan perlahan membuka mulutnya.
"Maaf tiba-tiba mengganggumu. Izinkan aku memperkenalkan diri dulu. Namaku Laminamors.”
__ADS_1
Kata-kata pria topeng itu menyebabkan Ryan memiliki rasa ketidaktepatan yang besar. Itu karena Ryan mengenal pria ini. Tidak, lebih akurat untuk mengatakan bahwa Ryan mengetahui identitas asli dari pria ini.
Oleh karena itu, ingatan yang berada jauh di benaknya terus memberi tahu Ryan nama asli pria ini. Namun nama ini sulit sekali untuk diingat dan diucapkan.
Tentu saja, meskipun Ryan tidak dapat memikirkannya, bukan berarti Ryan melupakannya. Maka dari itu, Ryan akhirnya sadar mengapa dirinya seperti ini.
“Jadi begitu …" Ryan dengan tenang berkata, "Dengan menggunakan kemampuan serangan mental Valda-Vaoth, kamu menghalangi pemahamanku tentangmu."
“Hoo~” Laminamors mengangkat sudut mulutnya. "Seperti yang dikatakan Valda-Vaoth, kamu seperti sangat mengenalnya. Kalau begitu, apakah kamu juga mengetahui identitas asliku?”
Perasaan yang berat menyelimuti udara di koridor dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya secara instan.
Jika itu adalah orang biasa, mereka pasti akan jatuh tak sadarkan diri,
Sayangnya, Ryan bukanlah orang biasa. Ia hanya tersenyum menyindir dan berkata, "Jadi kamu datang ke sini hanya untuk mengkonfirmasi masalah ini?"
“Tidak, aku hanya sedikit penasaran. Kamu sepertinya tahu banyak hal tersembunyi di kota ini." Laminamors berkata, "Apakah Banyuu Tenra yang memberitahumu? Tapi seharusnya Monster Immortal itu tidak tertarik sama sekali dengan urusan kita.”
“Lalu apakah aku harus menjadi seorang cenayang untuk memahami hal-hal semacam ini?” Ryan melihat langsung ke Laminamors dan dengan acuh tak acuh berkata, "Bagaimanapun juga, dunia ini memiliki banyak orang yang memiliki kemampuan aneh. Contohnya saja Guruku, bahkan ada Orga Lux yang dapat mengambil alih tubuh orang lain. Jadi nggak akan ada yang aneh jika ada orang yang memiliki kemampuan prekognisi masa depan kan?”
Laminamors tiba-tiba terdiam, seolah-olah ia benar-benar mempertimbangkan ucapan Ryan sembari memegang dagunya.
Adapun Valda-Vaoth dengan agak cuek berkata pada Ryan, "Apakah kamu menyindirku?"
"Masalah buatmu?" Ryan berkata dengan senyum tipis, "Kamu datang kemari dengan maksud yang nggak baik. Maka dari itu aku juga nggak perlu bersikap sopan padamu."
"Kamu benar." Valda benar-benar menyetujui ucapan Ryan dan menghela nafas. "Sepertinya aku sudah terlalu lama hidup dengan manusia. Aku jadi lupa bahwa kita tidak perlu berpura-pura sopan pada musuhmu."
"Tidak, Valda-Vaoth, bukan begitu." Laminamors merentangkan tangan dan berkata, "Kamu tidak boleh terbujuk oleh ucapannya."
Valda-Vaoth kemudian diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sepertinya terlalu malas untuk merespon ucapan Laminamors.
Laminamors lalu bertanya kembali pada Ryan. "Aku ingin tahu, seberapa banyak informasi yang kamu ketahui tentang rencana kami?"
Mendengar ini, Ryan hanya mengangkat kepalanya menatap Laminamors dan Valda-Vaoth.
Faktanya, Ryan sendiri tidak tahu banyak tentang hal itu. Lagi pula, dalam anime-nya, belum diceritakan lebih jauh lagi tentang rencana rahasia Laminamors dan Valda-Vaoth.
Ryan hanya tahu bahwa ada organisasi rahasia bawah tanah di Kota Akademi Asterisk ini. Organisasi ini tampaknya mencoba menjalankan rencananya melalui Festa.
Valda-Vaoth dan Laminamors adalah anggota organisasi ini.
Jelas organisasi ini sangatlah rahasia. Oleh karena itu, Laminamors dan Valda-Vaoth tidak ragu untuk menemui Ryan secara pribadi. Semua itu dilakukan hanya untuk memastikan seberapa banyak hal yang diketahui Ryan agar rencana mereka tidak terkendala.
"Kudengar kamu sepertinya memiliki semacam Kemampuan Khusus. Bahkan Kemampuan Valda-Vaoth tidak mempan padamu. Maka dari itu kami memutuskan untuk mendatangimu di waktu seperti ini."
"Dalam kondisi tubuhmu yang seperti ini, bahkan jika kamu memiliki Kemampuan Khusus, Kemampuanmu itu tidak akan bisa mengembalikan jiwamu dari akhirat."
Laminamors tersenyum dan berkata, "Jadi, alangkah baiknya jika kamu memberitahu kami, seberapa banyak informasi yang kamu ketahui tentang kami? Dan dari mana kamu mendapatkan informasi tersebut?"
"Jujur saja aku ingin sekali memberitahu kalian." Ryan juga tersenyum tipis pada Laminamors. "Sayangnya, bahkan jika aku memberitahumu, kamu pasti nggak akan mempercayai ucapanku."
"Benarkah?" Laminamors terdiam beberapa saat, lalu menghela nafas. "Sayang sekali."
Swoosh
Diiringi dengan suara tajam yang membelah langit, serangan tajam mengalir dari arah depan Ryan.
__ADS_1