
"Badan Rahasia Keamanan Negara ya … aku nggak nyangka, Pemerintah memiliki Badan seperti itu." gumam Ryan sambil membakar mayat-mayat yang ada di halamannya.
"Sepertinya ini adalah kali terakhir aku kembali ke dunia ini. Padahal aku telah membeli banyak barang di sini. Tapi mau bagaimana lagi, salah satu Badan milik Pemerintah telah mengincarku. Sedangkan aku nggak mau berurusan dengan Pemerintah."
Beberapa jam kemudian, mayat-mayat tersebut kini telah menjadi abu. Ryan juga telah mengantarkan Ajeng pulang. Karena tadi Ajeng tertidur dengan pulas, jadinya ia tidak tahu apa-apa mengenai pembantaian di halaman belakang tadi.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah barunya, ponsel iPhone yang baru ia beli mendadak berdering. Ia melihat nomor tidak dikenal sedang menghubunginya. "Siapa yang menelponku? Perasaan aku belum memberitahu nomorku kepada siapa pun deh, kecuali Ajeng. Tapi ini bukan nomernya."
Ryan akhirnya mengangkat telepon tersebut. "Halo."
Suara seorang pria terdengar dari telepon. "Ryan Herlambang, datanglah ke kompleks pergudangan Kenjeran sekarang. Jika tidak, nyawa pacarmu akan dalam bahaya."
"Hei, apa maksudmu, jangan nge-prank ya! Aku tutup lho …"
Tiba-tiba, suara seorang wanita yang sangat Ryan kenal muncul dari telepon. "Ha-halo … hiks hiks … Ryan, kamu masih hidup? Hiks …"
Jantung Ryan seakan berhenti mendadak mendengar suara ini. "Rea?"
"Ryan? Ini Ryan bukan? Ini beneran Ryan kan? Hiks hiks …"
Setelah itu, suara dari telepon kembali lagi ke suara seorang pria. "Kamu sudah dengar kan? Segera kemari, akan ku kirimkan alamat lengkapnya lewat sms. Jika dalam 1 jam kamu tidak datang, mungkin hal buruk akan menimpa pacar cantikmu ini, hehehehehe …"
Klik
Tut Tut Tut Tut
"Brengsek!" Ryan emosi dan memukul setirnya hingga retak. "Kalian benar-benar keterlaluan!"
Ryan langsung membanting setirnya dan berbalik arah menuju kompleks pergudangan kenjeran. Tak sampai 45 menit, Ryan telah tiba di sebuah gudang yang sesuai dengan alamat dalam sms.
Saat Ryan membuka pintu gudang, Ryan melihat Rea sedang diikat pada sebuah kursi di tengaj gudang. "Rea!"
Ryan langsung berlari menuju Rea. Namun, Rea berteriak pada Ryan. "Jangan kemari, ini adalah jebakan!"
"Apa!?"
Dor Dor Dor
Mendadak, banyak orang berjas hitam muncul dari balik barang-barang terbengkalai dan mulai menembaki Ryan. Tapi semua peluru tersebut mengarah ke bagian yang tidak vital seperti tangan dan kaki, seakan mereka tidak mau membunuh Ryan.
Reflek, Ryan langsung mengaktifkan Mystic Eye of Death Perception dan menghunuskan pisau dapur yang ada di dalam tas pinggangnya.
Slash Slash Slash
__ADS_1
Dengan mata birunya, Ryan menebas semua peluru yang datang sambil terus bergerak menuju salah satu agen terdekat.
Bagaikan serigala yang kelaparan, Ryan langsung menebas secara diagonal tubuh agen yang ada di depannya. Seketika itu, tubuh agen itu pun terbelah menjadi dua.
Darah menyemprot bak air mancur. Usus agen tersebut juga berceceran keluar dari perutnya.
Kejadian ini membuat agen lainnya menjadi ketakutan. Dengan berhentinya hujan peluru ini sebentar, Ryan dengan cepat berlari seperti hantu menuju semua agen terdekatnya. Satu tebasan, satu mati. Melihat temannya satu per satu tewas, Roy memerintahkan semuanya untuk menembak kembali. "Tembak! Jangan berhenti, cepat tembak!"
Dor Dor Dor Dor
Berbeda ketika melawan Hunter, saat itu Ryan terluka parah sehingga membutuhkan kerja keras lebih untuk menghindari sebuah peluru. Namun sekarang ia dalam keadaan sehat dan bugar. Menghindari hujan peluru dari sebuah pistol bukanlah hal yang susah.
Dengan santainya, Ryan bergerak menghindari peluru. Terkadang ia menggunakan pisaunya untuk menebas peluru yang datang padanya.
Pembantaian pun terus berlanjut. Dari total 80 agen, kini tersisa hanya 1 orang saja. Dan lagi-lagi orang itu adalah Roy.
Melihat Dewa kematian yang akan datang padanya. Roy bergegas menghampiri Rea dan menodongkan pistolnya pada kepalanya. "Jangan bergerak! Atau ku tembak pacarmu ini!"
Melihat Roy menggunakan Rea untuk mengancamnya, Ryan merasa menyesal telah membiarkan Roy pergi siang tadi. "Sepertinya aku masih terlalu naif. Melepaskanmu siang tadi adalah kesalahan terbesarku!"
"Aku sebenarnya juga tidak mau melakukan semua ini, Ryan. Tapi atasanku memaksaku untuk melakukan ini! Jika tidak, anak dan istriku akan mati!" teriak Roy.
Roy terlihat sangat depresi dengan semua ini. Di sisi lain, ia tidak ingin melibatkan orang tidak bersalah seperti Rea, sementara di sisi lainnya, keluarganya berada dalam bahaya jika tidak segera menangkap Ryan.
"Sayang sekali, aku bukanlah pembela kebenaran yang iba dengan cerita semacam itu." Dengan sekuat tenaga, Ryan menghentakkan kakinya ke tanah dan meluncur ke arah Roy bagaikan busur panah.
Roy sangat terkejut dengan aksi Ryan. Bagaimana tidak, orang pada umumnya akan khawatir pada kondisi sandera dan akan menuruti kemauan sang penculik. Namun berbeda dengan Ryan, tanpa memperdulikan sandera, ia malah maju menyerang. Hal ini membuat Roy sedikit terlambat untuk menekan pelatuk.
Slash
Seketika itu juga, tangan kanan Roy yang memegang pistol terbang ke udara. Darah pun muncrat mengenai wajah Rea.
"Arghh! Tanganku!"
Tanpa memperdulikan erangan Roy, Ryan langsung menebas garis kematian yang melintang secara diagonal dari bahu hingga pinggangnya.
Croot
Hujan darah membuat area sekitar Rea penuh dengan genangan merah. Baju yang Rea kenakan pun penuh dengan cairan merah.
Ryan kemudian memotong ikatan Rea pada kursi. Kini Rea telah terbebas, namun ia masih duduk dengan tangan yang terus gemetaran.
Dengan terbata-bata, Rea memanggil Ryan. "Ry-Ryan …" Wajah Rea tampak sangat pucat setelah melihat pembantaian ini. Menyadari hal ini, Ryan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kamu sudah aman Rea, kamu sudah aman …" Ryan mengusap-usap punggung Rea. Tak lama kemudian, Rea menangis tersedu-sedu.
Setengah jam kemudian, Kondisi Rea sudah agak tenang. Ryan pun ingin mengantarkan Rea pulang. Namun Rea menolaknya, dengan alasan ia tidak bisa pulang dengan penampilannya saat ini. Akhirnya, Ryan mengajak Rea ke rumahnya.
Begitu mereka sampai di rumah Ryan yang baru, Rea sangat terkejut. "Ryan, ini rumah siapa?"
"Tentu saja rumahku. Ayo masuk." ajak Ryan.
"Ugh … kamu tadi mengendarai Ferrari, sekarang kamu tinggal di rumah sebesar ini. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Ryan?" Rea masih bingung dengan semua yang ia lalui hari ini.
Ryan kemudian mempersilahkan Rea untuk mandi dan mengganti baju. Karena Ryan tidak memiliki pakaian wanita, Ryan akhirnya meminjamkannya kemeja yang baru ia beli tadi pagi. Pemandangan Rea mengenakan kemeja saja tanpa menggunakan celana benar-benar seksi.
"Ryan, katakan sejujurnya padaku, apakah kamu benar-benar Ryan? Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu telah dikubur!"
"Aku memang Ryan. Dan aku memang sudah mati."
"Apa maksudmu? Lalu, apa buktinya bahwa kamu benar-benar Ryan yang aku kenal?"
"Mohon maaf, tapi aku belum bisa menceritakannya. Namun aku bisa membuktikan bahwa aku adalah Ryan." Ia kemudian mulai bercerita di mana hanya Rea dan Ryan yang tahu tentang hal itu. Setelah hampir 2 jam mengobrol, kini Rea yakin bahwa pria yang ada di depannya adalah Ryan.
Malam semakin larut, suasana romantis di antara keduanya juga semakin kuat. Alhasil, suara erangan kenikmatan pun mulai terdengar kembali di rumah Ryan. Mereka berdua pun terus melakukannya hingga pagi.
Tak terasa, waktu Ryan di dunia ini hampir habis. Ryan melihat Rea masih tertidur pulas di sampingnya. Karena tak membangunkannya, Ryan menulis pesan ada sebuah kertas yang ia taruh di atas meja kamarnya.
Ding
[Reincarnator dengan nomor serial 124.888 sudah menghabiskan waktu selama 1 hari di dunia asalnya. Saatnya kembali ke Reincarnation Room]
Seketika itu, Ryan menghilang dari kamarnya, meninggal Rea yang sedang tertidur sendirian.
~***~
[Nomor Serial 124.889, anda terpilih untuk masuk Reincarnation Room]
Tiba-tiba, Roy tersadar telah duduk di sebuah ruangan remang-remang. "Di mana ini? Bukankah aku sudah mati?"
Sejauh mata memandang, hanya ada empat tembok yang membatasi ruangannya, meja dan kursi yang ia gunakan saat ini, serta sebuah pintu berwarna coklat. "Hmm, jadi begitu … ini adalah tempat yang dicari-cari oleh Pak Reinhart selama ini."
"Jika melihat kondisi Ryan yang sangat kuat setelah keluar dari sini, itu artinya aku juga bisa melakukannya! Lihat saja, Ryan, Pak Reinhart … di kesempatan keduaku ini, akan ku pastikan aku membalas semua perbuatan kalian!"
[Memulai Instruksi]
...
__ADS_1