Reincarnation Room

Reincarnation Room
Persiapan Phoenix Festa


__ADS_3

"Inazuma, rakka shi, sonzai suru subete no mono o shōmetsu sa semasu! Kōgeki!"


Di bawah suara teriakan keras Cecily Wong, sepotong jimat tampak tersapu oleh angin puyuh di udara. 


Tiba-tiba saja, jimat tersebut bersinar dan membentuk wujud harimau raksasa.


"Roar!"


Harimau petir ini meraung begitu rendah dan jatuh ke bawah dengan keras diiringi dengan angin kencang.


Debu dan angin bercampur menjadi satu bagai badai dan berhembus ke segala arah.


Di bawah pemandangan seperti itu, angin debu tersebut menerpa keras tubuh Ryan. Akan tetapi, Ryan tetap tenang tanpa ada fluktuasi emosi sambil terus memandangi Harimau Petir raksasa yang baru saja turun dari langit.


Perlahan, Ryan mengangkat Orga Lux di tangannya.


Shiiiiiiii


Prana yang mempesona mulai keluar dari tubuh Ryan.


Hanya saja, meskipun Prana ini sangat mempesona, namun memberikan perasaan yang dalam, hening, seperti jurang maut yang dalam.


Dengan kontrol Prana yang lebih baik dari sebelumnya, Prana yang keluar dari tubuhnya itu seperti aliran cahaya, mereka berbondong-bondong masuk ke dalam Orga Lux putih.


Shiiiii


Cahaya putih bersih dan suci bersinar dari Urm Manadyte.


Ryan mengangkat Seraph yang ada di tangannya tinggi-tinggi dan menembakkan sebuah jarum Mana ke arah Harimau Petir raksasa. 


Jarum ini tampak sederhana. Yang membuatnya istimewa adalah warnanya yang putih bersih berkilau.


Namun, saat jarum Mana ini menyentuh tubuh Harimau Petir raksasa, mendadak suara raungannya berhenti.


Tak lama kemudian, Harimau raksasa yang terbentuk dari petir itu justru meledak.


Boom


Harimau Petir yang meledak itu berubah menjadi kilatan petir, dan langsung bergerak berkumpul di ujung bilah belati Seraph membentuk sebuah bola petir raksasa.


"Ini tidak bagus!" Melihat semua ini, secara insting, Cecily Wong langsung melempar beberapa jimat.


Di bawah gerakan segel tangan Cecily Wong, beberapa jimat itu bersinar dan membentuk penghalang petir.


Hampir pada saat yang sama, bola petir besar berkumpul di depan ujung tajam Seraph tiba-tiba menyusut terkonsentrasi. 


Bola petir yang telah terkonsentrasi ini terbang dengan kecepatan tinggi bagai meteor dan menabrak penghalang petir Cecil Wong.


BOOM!


Sebuah guncangan hebat yang diiringi suara ledakan keras dan tiupan angin kencang disertai cambuk petir terjadi begitu saja.


Bagaikan badai, angin, debu, serpihan batu, serta Kilatan Petir bercampur menjadi satu dan meluas ke segala arah.


Kejadian ini benar-benar seperti ada meteor jatuh yang menghantam ruang latihan.


Ketika semua itu mereda, terlihat sebuah lubang besar di depan Cecily Wong.     


Ryan dan Cecily Wong saling berpandangan selama beberapa saat. Prana yang keluar dari tubuh mereka berdua pun berangsur-angsur melemah.

__ADS_1


"Haah~" Ryan menghela nafas lega sambil meregangkan tubuhnya. 


Ryan lalu menurunkan tangan kanannya yang membawa Seraph. "Kak Cecily, cukup sampai di sini hari ini."


Mendengar ucapan Ryan, Cecily juga meregangkan tubuhnya dan langsung duduk di lantai semen. "Adik seperguruan, kekuatanmu benar-benar meningkat pesat. Aku khawatir kalau aku sudah bukan lawanmu lagi."


"Bahkan di ranjang pun kakak masih belum bisa mengalahkanku, hehehe …" gurau Ryan.


"Ih~ dasar genit! Aku bicara serius ini." ucap Cecily Wong dengan sedikit kesal. Namun, wajah kesalnya ini malah membuatnya tampak imut.


Harus Cecily Wong akui, Ryan memang bertambah kuat sejak mendapatkan Seraph. Mengandalkan kemampuan Seraph, Ryan dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya untuk menyerang.


Bahkan kekuatan lawan pun bisa Ryan manipulasi menggunakan Seraph, seperti apa yang dilakukannya pada Cecily Wong.


"Hehehe, maaf-maaf …"


"Tapi walau begitu, konsumsi Prana yang harus aku keluarkan sangat besar."


Ryan dapat merasakan jumlah Prana yang  digunakannya barusan untuk memanipulasi petir telah menghabiskan 70 sampai 80 persen Prana yang ia miliki.


"Meski dapat memanipulasi benda mati apapun, termasuk serangan lawan, tapi kebutuhan konsumsi Prana juga sangat besar. Jika bukan pilihan terakhir, aku tidak akan menggunakannya."


Karena jika Prana Ryan habis saat bertarung, maka akibatnya akan sangat fatal.


"Tapi Orga Lux itu benar-benar membuat kekuatanmu meningkat," ucapnya. Cecily Wong lalu melihat ke arah Orga Lux yang ada di tangan Ryan. "Kalau tidak salah, nama Orga Lux itu Seraph kan?"


"Benar." Ryan memasukkan Orga Lux miliknya pada sebuah sarung yang ada di pinggangnya. 


Ryan lalu menggaruk pipinya dan bersuara seakan tidak berdaya. "Meski Orga Lux dapat menambah kekuatan penggunanya, tapi Kakak Senior Zhao tidak begitu suka menggunakan Orga Lux-nya."


"Hufeng hanya tidak ingin bergantung pada kekuatan eksternal. Dia ingin menjadi  yang terhebat dengan kekuatannya sendiri." Cecily kemudian berdiri sambil tersenyum pada Ryan. "Ryan-kun, kamu juga jangan terlalu bergantung dengan kekuatan Seraph.”


“En!” angguk Ryan.


Oleh karena itu, meski Cecily tidak memperingatkannya, Ryan tidak akan seenaknya menggunakan kemampuan Seraph.


Cecily lalu menepuk bahu Ryan dan berkata, “Kita sudah tidak memiliki waktu lagi, tapi apakah kamu sudah siap?”


“Tentu saja.” Ryan tidak ragu untuk menjawab sambil tersenyum tipis. “Phoenix Festa akan menjadi milik kita, Kak Cecily … kita pasti menang!”


“Semangat yang bagus! Aku menyukainya, hahahaha ,,,” Cecily Wong tertawa terbahak-bahak.


Sudah satu bulan berlalu sejak pertemuannya dengan Sylvia. Dan besok, Phoenix Festa akan dimulai.


“Hari ini sepertinya adalah hari dimana daftar peserta pertandingan dan juga bagannya diumumkan. Guru seharusnya sudah menerima daftarnya. Ayo kita segera menemui Guru.” ajak Ryan.


“Oke.”


Ketika Ryan dan Cecily tiba di ruang audiensi, mereka melihat semuanya telah berkumpul.


Selain Fan Xinglou yang duduk di singgasananya seperti biasa, Zhao Hufeng, Li Shenyun dan Li Shenhua juga telah hadir di sana.


Melihat Ryan dan Cecily Wong masuk, Fan Xinglou menyeringai dan menyapa. “Akhirnya kalian datang juga. Wanita Tua ini sudah tidak sabar untuk memulainya.”


Di hadapan Fan Xinglou yang seperti anak kecil itu, Zhao Hufeng hanya bisa menghela nafas lelah, seakan ia dibuat frustasi oleh tingkah Fan Xinglou.


Sementara Li bersaudara, mereka memandang Ryan dan Cecily dengan senyum palsunya.


“Selamat malam Kakak Senior Wong, Adik Seperguruan …” ucap Li bersaudara secara bersamaan sambil membungkuk. Sapaan ini begitu sopan, hingga terlihat sekali jika sikap mereka hanya dibuat-buat.

__ADS_1


Dalam hal ini, Cecily Wong hanya melambaikan tangannya dan berkata, "Cukup, kalian tidak perlu sesopan ini.”


Berbeda dengan sikap Cecily Wong, Ryan hanya melirik sebentar Li bersaudara, dan kemudian memilih untuk mengabaikan mereka.


Bagaimanapun juga, Li bersaudara telah menyinggung Ryan. Maka dari itu, Ryan  sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaannya pada mereka..


Li bersaudara tampaknya tidak mempedulikan hal ini. Setelah selesai memberi hormat pada Ryan dan Cecily Wong, mereka berdua kembali melihat ke arah Fan Xinglou.


“Guru …” Zhao hufeng yang sejak tadi diam tiba-tiba berbicara. “Karena semuanya sudah lengkap, kami mohon Guru untuk memperlihatkan daftar peserta Phoenix Festa.”


“Oke …” Dengan suasana hati yang sangat baik, Fan Xinglou mengangkat tangannya dan membuka layar hologram besar yang melayang di udara.


Semua orang yang ada di ruang audiensi segera memfokuskan pandangan mereka ke layar hologram.


Pada layar besar itu, terdapat nama-nama peserta yang tertata rapi sesuai dengan jadwal pertandingan.


Jumlah peserta Phoenix Festa pada babak penyisihan pertama ini sebanyak 512 orang, yang terbagi dalam 256 tim.


Phoenix Festa berlangsung selama dua minggu. Minggu pertama Festa akan digunakan sebagai babak penyisihan. Di mana dari babak ini, akan dipilih 32 tim terkuat yang akan maju pada babak selanjutnya.


“Besok adalah upacara pembukaan Phoenix Festa. Lokasi Festa akan diadakan di Stadion Sirius dan tiga stadion kecil lainnya yang berada di Distrik Administrasi.”


“Nantinya, setiap tim akan bertanding di empat tempat tersebut, sesuai dengan grup kalian berada.” jelas Zhao Hufeng.


“Saat babak penyisihan selesai, lawan dari pertandingan utama akan diputuskan dengan undian. Untuk itu, kami akan mengirimkan informasi mengenai peserta Festa yang telah kami siapkan sebelumnya, termasuk beberapa tim paling populer dalam Festa.”


Zhao Hufeng lalu mengoperasikan layar hologram, dan membaginya menjadi empat bagian. Masing-masing layar tersebut ia bagikan pada Ryan, Cecily Wong, Li Shenyun dan Li Shenhua.


Begitu mereka menerimanya, Ryan dan lainnya mulai mencari informasi peserta yang menurut mereka harus diwaspadai.


Dalam hal ini, Ryan langsung menelusuri informasi mengenai peserta dari Akademi Seidoukan.


Tak butuh waktu lama, Ryan menemukan informasi tersebut. Pada layar yang ada di depannya, Ryan melihat dua foto gadis muda berseragam Akademi Seidokan. Hanya saja, salah satu gadis tersebut memakai seragam SMP, dan satunya lagi mengenakan seragam SMA.


“Toudou Kirin?” Zhao Hufeng melihat layar hologram milik Ryan. Ia tampak serius melihatnya. “Dia salah satu peserta yang harus diwaspadai.”


Ryan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Fan Xinglou. "Apakah paman Kirin yang mengaturnya untuk ikut Phoenix Festa?”


Meski hal ini tidak ada dalam informasi yang diberikan Zhao Hufeng, namun Ryan merasa bahwa Fan Xinglou pasti telah menyelidikinya.


Lagipula, Fan Xinglou sangat menyukai Toudou Kirin. Dengan umurnya yang masih berusia 13 tahun, Kirin telah berhasil menduduki peringkat pertama Seidokan. Jadi wajar saja kalau Fan Xinglou tertarik padanya.


Dan benar saja, Fan Xinglou dapat menjawab pertanyaan Ryan.


"Setelah kamu mengalahkannya, paman Kirin telah kehilangan kualifikasinya untuk menjadi calon Eksekutif di Integrated Enterprise Foundation.” 


Fan Xinglou tertawa dan berkata, “Jadi, dia langsung menyerah dengan rencananya menggunakan Kirin untuk menaikkan posisinya di Integrated Enterprise Foundation.”


Dengan kata lain, keputusan untuk berpartisipasi dalam Phoenix Festa kali ini sepenuhnya dilakukan oleh Kirin sendiri.


Sedangkan partner dari Kirin, dia adalah seorang gadis dengan rambut merah mudah sepinggang. Dia memiliki postur tubuh seperti seorang Ksatria wanita.



"Oh?" Ekspresi malas di wajah Cecily Wong tiba-tiba menghilang. Ia menatap foto itu dengan ceria. "Mungkinkah ini Glühen Rose dari Akademi Seidoukan?"


Glühen Rose, ini adalah nama sebutan yang disematkan pada Julis Alexia van Riessfeld.


Sesuai namanya, Julis merupakan seorang Strega dengan kemampuan memanipulasi api.

__ADS_1


Di Akademi Seidoukan, Julis menempati peringkat kelima. Konon katanya, dengan kemampuan yang dimilikinya, Julis mampu masuk ke dalam tiga besar,


Melihat gadis muda ini sebagai partner Kirin, Ryan cukup terkejut.


__ADS_2