
Saat Ryan membuka matanya, ia melihat area pemakaman yang cukup luas. Deretan batu nisan terlihat tidak beraturan membuat kesan angker keluar dari tempat ini. Tepat di depan tempat Ryan berdiri, terdapat batu nisan dengan nama Ryan Herlambang.
"Jadi ini kuburanku …" Ryan terus memandangi batu nisannya dengan penuh ekspresi.
Beberapa menit kemudian, datang seorang wanita berpakaian serba hitam membawa satu kantong bunga. Wanita itu mengangguk pada Ryan dan berjongkok di depan makam. Beberapa detik kemudian, wanita itu langsung menoleh ke arah tempat Ryan berdiri. Namun Ryan sudah tidak ada di sana lagi.
"Apakah aku sedang berhalusinasi? Mungkin aku sudah sangat rindu padanya." Perlahan, wanita itu meneteskan air mata dan menangis dengan keras. "Ryan, hiks hiks …"
Dari balik pohon kamboja, Ryan mengintip ke arah wanita yang sedang menangis itu. "Rea …" Ryan juga sangat ingin bertemu dengan Rea. Namun Reincarnation Room memiliki aturan dimana ia tidak boleh membocorkan tentang eksistensi Reincarnation Room. Jika melanggarnya, maka Ryan akan langsung dimusnahkan.
Oleh karena itu, Ryan tidak mau bertemu dengan teman dan keluarganya secara langsung. Ia bingung harus memberi penjelasan apa pada mereka.
Ryan terus memandangi Rea, hingga akhirnya 2 jam kemudian, Rea pergi dari makamnya. Tampak sekali mata Rea yang bengkak akibat banyak menangis. Melihat hal ini, hati Ryan terasa sangat sakit. Ryan kemudian mengunjungi makam Ayahnya yang kebetulan masih satu area pemakaman. Lalu setelah itu, ia mengunjungi Ibunya secara diam-diam. Dari sini Ryan akhirnya tahu, bahwa sudah 50 hari berlalu sejak hari kematiannya.
"Sudah cukup dengan semua suasana depresi ini! Saatnya menghamburkan uang yang aku dapatkan dari sistem, hehehehe …" Ryan tak henti tersenyum melihat nominal saldo bank yang dimilikinya. Di sana, tertera uang sebesar 500 Miliar Rupiah.
Sebelum Ryan kembali ke dunianya, ia tak lupa menukarkan poin yang ia miliki dengan uang. Dan hasilnya, ia mendapat uang 500 Miliar Rupiah secara instan hanya dengan 500 Poin.
Setelah membeli pakaian bermerek dan juga mobil, Rian kemudian pergi ke agen properti untuk membeli rumah.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang wanita cantik dengan blus rendah berwarna merah.
"Siang … saya ingin membeli rumah." senyum Ryan. Marketing-marketing wanita yang kebetulan ada di situ langsung tercengang melihatnya. Termasuk dengan wanita yang sekarang sedang melayani Ryan.
Melihat wanita berambut panjang di depannya hanya diam saja, Ryan pun mengeluarkan suara batuk kecil. "Ehem …"
Sontak, wanita itu pun tersadar dari lamunannya. "Ah, maaf Pak. Dengan Bapak siapa?"
"Saya Rio Cassano." ucap Ryan sambil menjabat tangan wanita itu. Rio Cassano adalah identitas baru Ryan yang diberikan Reincarnation Room. Tidak mungkin Ryan menggunakan identitas lamanya, karena secara resmi ia sudah mati di dunia ini.
"Perkenalkan, nama saya Ajeng. Mau cari yang tipe berapa Pak Rio?" Wanita itu kemudian beberapa kali melihat penampilan Ryan dari atas ke bawah. Bagaimana tidak, semua benda yang Ryan pakai saat ini semuanya adalah merek terkenal yang harganya ratusan juta Rupiah.
'Gila, nih cowok udah ganteng, tajir pula! Kali ini, aku harus membuat dia membeli rumah dariku!'
"Saya mau rumah yang paling mahal, lengkap dengan furniturnya. Apakah ada?"
"Kebetulan kami memiliki 1 rumah yang sesuai dengan kriteria Pak Rio. Mau coba melihatnya secara langsung?" ajak Ajeng sambil mengedipkan matanya dengan centil.
"Oke, ayo ke sana pakai mobilku." Ryan kemudian mengajaknya menaiki mobil Ferrari F12 Berlinetta yang baru saja ia beli dari dealer seharga 12,5 Miliar Rupiah.
__ADS_1
Setelah 1 jam berkendara, Ryan dan Ajeng akhirnya sampai di sebuah rumah putih yang sangat besar.
"Luas tanah rumah ini 2000 meter persegi. Sementara luas bangunannya 3000 meter persegi. Rumah dengan 3 lantai ini memiliki 10 kamar utama, dan 1 kamar pembantu. Ada aula serba guna, kolam renang indoor, lapangan badminton, dan danau buatan." jelas Ajeng sambil mengajak Ryan berkeliling
Setelah 30 menit, Ryan memutuskan untuk membeli rumah ini dengan harga 100 Miliar Rupiah. Sudah termasuk dengan biaya pengurusan surat-surat.
"Terima kasih Pak Rio, telah membeli rumah dari kami. Bahkan Bapak sama sekali tidak menawar." ucap Ajeng sambil menempelkan dadanya ke lengan Ryan.
Ajeng kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rian. "Pak Rio tidak mau mencoba langsung tempat tidur di kamar utama?"
Ryan menatap mata Ajeng dengan tatapan penuh arti. "Ayo …" Ryan mengajaknya ke kamar utama yang ada di lantai 3.
Begitu mereka berdua masuk, Ryan langsung mencium Ajeng dengan panas. Tak henti disitu, tangan Ryan mulai bergerilya memegang dua gunung kembar berukuran 36B tersebut.
Suara demi suara kenikmatan pun menggema memenuhi kamar tersebut. Dua jam berlalu, kini Ajeng telah tidur akibat kelelahan setelah bermain beberapa ronde.
"Sepertinya staminaku benar-benar sudah di atas normal. Bahkan bermain 5 ronde dalam 2 jam saja aku sama sekali nggak kelelahan." gumam Ryan sambil memakai bajunya lagi.
Tiba-tiba, Ryan merasa ada orang yang mengawasinya dari luar. Ryan langsung mengambil pisau dari dapur dan berlari menuju halaman belakang rumah.
"Jangan bergerak!"
Melihat ia sudah terkepung, Ryan pun mengangkat tangannya. "Siapa kalian?"
"Kamu tidak perlu tahu itu, Ryan Herlambang …" ucap salah seorang pria berjas hitam tersebut.
Mata Ryan terbelak mendengarnya.
"Kami tidak akan membunuh mu kalau kamu bersedia bekerjasama dengan kami."
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Atasan kami hanya ingin informasi mengenai tempat itu."
"Tempat itu?" Rian melihat pria itu dengan ekspresi penuh tanya.
Pria itu tersenyum lebar. "Benar, tempat dimana orang yang sudah mati bisa dihidupkan kembali …"
Mendengar ucapan pria itu, Ryan akhirnya sadar informasi apa yang mereka cari. "Maaf ya, aku nggak peduli alasan kalian menginginkan informasi tersebut. Namun, kalian telah mengganggu liburanku yang berharga ini!" Sesudah mengatakannya, mata Ryan berubah menjadi biru.
__ADS_1
Para pria berbaju hitam itu langsung merinding begitu melihat mata biru Ryan. Mereka merasa seakan dewa kematian sedang menatap mereka.
Bagaikan kilat, Ryan bergerak cepat menghampiri salah satu pria berjas hitam. Ia kemudian menghunuskan pisau dapur yang ia simpan pada tas pinggangnya.
Tanpa sempat dapat menembak, leher pria itu langsung ditebas Ryan.
Slash
Tak berhenti di situ, Ryan kemudian menghampiri satu persatu pria berjas hitam yang ada di halaman rumahnya. Hujan darah pun tak terelakkan. Hanya dengan satu tebasan, mereka semua kehilangan nyawa mereka satu persatu.
"To-tolong jangan bunuh aku!" pinta pria yang sejak tadi berbicara kepada Ryan. Ia begitu ketakutan hingga celana kainnya basah.
Ryan menodongkan pisaunya ke leher pria tersebut. "Siapa namamu?"
"R-Roy Saputra."
"Aku akan membiarkanmu hidup kalau kamu mau menceritakan semua yang kamu tahu. Bagaimana menurutmu?" tanya Ryan dengan senyum menyeringai.
~***~
Tok Tok Tok
"Masuk …" jawab seorang pria tua berumur 70 tahunan dari dalam ruangan.
Kemudian, seorang pria dengan kondisi berantakan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Maafkan kami Pak. Kami gagal menangkapnya."
Mendengar laporan tersebut, pria itu melihat Roy dengan mata melotot. "Gagal katamu?"
"Lebih tepatnya, ia dengan mudah membantai kami semua Pak. Kini, hanya aku saja yang berhasil lolos dari kematian."
"Dasar bodoh!" Pria tua itu langsung melemparkan gelas ke kepala Roy
Pyar
Darah pun mulai mengalir dari kepala Roy.
Pria tua itu kemudian membentak Roy. "Aku tidak peduli bagaimanapun caranya, tangkap orang orang itu hidup-hidup! Kalau tidak, aku bisa saja membuat anak dan istrimu mati dalam sebuah kecelakaan."
Mendengar ucapan dari atasannya, Roy mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan darah. "Ba-baik Pak!"
__ADS_1