Reincarnation Room

Reincarnation Room
Lolos


__ADS_3

"Itu …"


Di lounge, Cecily Wong dan Zhao Hufeng sekali lagi menatap layar hologram. Di sana, mereka melihat dua robot yang sangat istimewa.


Salah satu robot, memiliki tubuh mekanis secara keseluruhan. Tingginya lebih dari dua meter. Terdapat tonjolan seperti otot yang terbuat dari logam di tubuhnya. Seperti seorang jenderal ksatria, dia menggunakan baju besi yang membuat keberadaannya terasa sangat menonjol.



Sementara robot lainnya, memiliki penampilan seperti gadis manusia bertubuh ramping dengan baju zirah logam di tubuhnya. Wajahnya terlihat tidak memiliki emosi, seakan dia tidak peduli terhadap apapun.



Sepasang robot ini sama-sana mengenakan lencana Akademi Arlequint.


Melihat kedua robot ini, satu persatu penonton di Sirius Dome mulai saling berdiskusi.


Hal ini membuat komentator Phoenix Festa sangat antusias.


"Hadirin sekalian, kali ini, boneka tipe baru dari Akademi Arlequint hadir sebagai pengganti dua kontestan kita, Ernesta Kühne dan Camilla Pareto. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, panitia Festa mengizinkan boneka untuk bertanding sendirian!"


"Yang disebut boneka adalah sebuah robot. Biasanya boneka tempur semacam ini memerlukan seorang operator untuk mengoperasikannya. Saat operator mengoperasikan boneka, ada delay dalam pemberian perintah. Akibatnya, sangat sulit untuk menggunakannya dalam pertempuran."


"Namun, berdasarkan informasi yang kami terima, boneka yang hadir kali ini adalah boneka jenis baru hasil pengembangan Akademi Arlequint. Mereka memiliki kesadaran diri dan tidak memerlukan operator. Jadi, mereka bisa bertarung secara mandiri."


"Yah, AI bukan hal yang aneh sekarang. Banyak contoh praktis penggunaannya di seluruh dunia. Jadi, penerapan AI pada boneka hanya masalah waktu."


"Dari informasi dasar yang telah diberikan, boneka yang seluruh tubuhnya berbentuk mekanik dengan kode AR-D, memiliki nama Ardi. Sedangkan boneka berwujud perempuan yang memiliki kode RM-C itu, bernama Rimsy. Mereka berdualah yang menjadi wakil dari Ernesta Kühne dan Camilla Pareto!"


"Sementara itu, lawan mereka adalah kontestan dari Institut Hitam Rewolf. Dan salah satunya menduduki peringkat ke-12 Page One Rewolf, Moritz Nessler. Ini sepertinya akan lebih menarik dari apa yang kita pikirkan."


Mendengarkan penjelasan komentator ini, suasana hati penonton di seluruh stadion mulai tersulut, dan sorakan kembali terdengar.


Namun, hal yang tak disangka terjadi di arena.


"Hei, dua manusia di sana, dengarkan aku baik-baik!"


Ardi tiba-tiba melangkah maju dan menunjuk ke arah lawan dengan arogan.


"Meskipun kemenangan bukanlah masalah besar, tapi Master ingin membuktikan kekuatan kita di arena ini. Maka dari itu, sudah menjadi kewajibanmu untuk memberitahu semua orang betapa kuatnya kami."


Meski suara Ardi terdengar seperti robot, tapi ia dapat membawa emosi manusia yang sangat kuat dari intonasinya.


"Kami akan memberi kalian waktu satu menit. Dalam periode waktu ini, kami tidak akan meluncurkan serangan apa pun, dan kalian boleh menyerang kami."


Begitu kata-kata Ardi terdengar, para penonton langsung riuh.


Sebaliknya, dahi kedua peserta dari Rewolf mengeluarkan sulur pembuluh darah. Ekspresi mereka menjadi sangat tidak normal. Wajah mereka seakan berkata, 'Kami diremehkan!'     


Terlebih lagi, yang meremehkan mereka bukanlah manusia, melainkan boneka. Jadi wajar saja jika Moritz dan rekannya, Gerd Schiele marah.


Akan tetapi, situasi selanjutnya membuat semua orang kehilangan kata-kata.

__ADS_1


Moritz, walau hanya menduduki peringkat ke-12, tapi ia adalah seorang Dante. Ia memiliki Kemampuan memanipulasi angin untuk membungkus kedua tangannya hingga berbentuk kerucut seperti bor, yang terkenal dapat menembus apapun. Kemampuan ini disebut Borea Spira.



Dengan menggunakan Borea Spira, Moritz menyerang Ardi membabi buta.


Namun, menghadapi serangan seperti itu, Ardi tetap diam tak bergerak. Ardi hanya menggunakan sistem pertahanannya untuk menghalau serangan Moritz.


Alhasil, saat serangan tersebut akan menghantam tubuh Ardi, tiba-tiba di sekitar tubuh Ardi akan terbentang dinding cahaya yang dibentuk oleh beberapa kristal berbentuk segi enam yang akan menghalau lawan.



Putaran angin seperti bor menghantam dinding cahaya dengan keras, dan menghasilkan percikan api yang kuat. Situasi ini cukup untuk memberitahu para penonton betapa mengerikannya serangan Moritz.


Tanpa ada jeda, Moritz terus menghantam sistem pertahanan Ardi dengan Borea Spira miliknya.



Hanya saja, semua serangan Moritz sama sekali tidak bisa menembus dinding cahaya Ardi.


Berbeda dengan Ardi yang hanya diam tak bergerak, Rimsy memilih untuk terbang menggunakan jetpack yang terpasang di bagian belakang tubuhnya. Sambil melayang di udara, ia terus menembak menggunakan Lux tipe pistol miliknya.


Tentu saja, tembakan Rimsy bukan untuk menyerang, melainkan untuk bertahan. Karena, lawan dari Rimsy dalam pertandingan ini  juga seorang pengguna Lux bertipe pistol.


Dalam situasi seperti ini, setiap tembakan Rimsy dapat secara akurat mengenai peluru Mana milik lawan. Ini benar-benar mirip dengan Teknik milik Tohyama Kinji di dunia Aria The Scarlet Ammo, di mana Kinji dapat memantulkan peluru secara akurat. 


Dengan cara seperti ini, hasilnya tentu saja tidak perlu dikatakan lagi. Selang Satu menit kemudian, Ardi dan Rimsy meraih kemenangan telak.


Ryan juga terdiam sambil menyipitkan matanya sedikit.


Beberapa saat kemudian, Cecily Wong mulai membuka mulutnya terlebih dahulu. “Adik Seperguruan, mungkinkah ini adalah hambatan terbesar kita untuk memenangkan Festa?”


Mendengar ini, Ryan tersenyum ringan dan menjawab, “Kali ini, lawan kita memang sangat berat. Tapi, mereka bukanlah hambatan bagi kita. Asalkan kita serius saat bertemu mereka di arena, kita pasti bisa mengalahkannya.”


~***~


Tak terasa, tujuh hari telah berlalu dalam sekejap mata. 


Tepat pada hari ini, Ryan dan Cecily Wong menjalani babak ketiga penyisihan. 


Jika Ryan dan Cecily Wong berhasil memenangkan pertandingan hari ini, maka mereka akan lolos ke babak 32 besar.


Sekarang, Ryan dan Cecily Wong telah berdiri di atas arena.


Tak butuh waktu lama, suara mekanis dari lencana sekolah berbunyi.


"Permainan dimulai."


Begitu suara terdengar, Cecily Wong langsung mengambil beberapa jimat dan melemparnya ke atas. Seketika itu juga, hujan petir jatuh menghantam kedua lawan mereka hingga hangus dan tak sadarkan diri. Dan semua ini terjadi tidak sampai satu menit.


"Permainan selesai. Pemenangnya, Ryan Herlambang x Cecily Wong."

__ADS_1


Setelah suara mekanis itu terdengar, suara para penonton meledak menjadi sangat meriah. Bahkan kedua komentator pun ikut gembira dengan hasil pertandingan ini.


"Pada babak ketiga penyisihan hari ini, Cecily Wong seorang diri mengalahkan kedua lawannya. Dan seperti biasanya, Ryan hanya berdiri diam di belakang Cecily Wong. Hal ini membuat kekuatan Ryan yang sebenarnya masih menjadi misteri!”


"Sebagai alumni Jie Long, aku ikut bangga dengan lolosnya kedua kontestan yang luar biasa ini. Benar-benar layang disebut sebagai murid Banyuu Tenra.”


“Setelah pertarungan ini, Ryan dan Cecily Wong telah resmi masuk ke babak 32 besar. Di pertandingan berikutnya, dapatkah Cecily Wong tetap mempertahankan performanya selama ini? Dan bisakah kita melihat kekuatan Ryan yang sebenarnya?”


"Kita lihat saja nanti.”


Bersamaan dengan tepuk tangan penonton, Ryan dan Cecily Wong meninggalkan arena dan segera pergi ke Lounge khusus peserta.


“Akhirnya, babak penyisihan yang membosankan ini berakhir.” ucap Cecily Wong dengan antusias. “Babak berikutnya adalah babak 32 besar. Aku harap lawan kita berikutnya tidak membosankan.”


"Secara pribadi, aku ingin bisa berdiri diam seperti biasanya. Tapi sepertinya itu benar-benar tidak mungkin." Ryan tertawa menggelengkan kepalanya.


Ryan lalu membuka layar hologram dan melihat beberapa informasi. "Selain kita, sisa pertandingan babak penyisihan ketiga juga telah berakhir, banyak tim kuat telah berhasil masuk babak 32 besar."


"Benarkah?" Cecily langsung bertanya, "Tim manakah itu?"


"Seperti yang kita duga sebelumnya, semua tim yang harus kita waspadai telah lolos ke babak berikutnya. Seperti tim Ayato x Saya, Julis x Kirin, dan juga Ardi x Rimsy, mereka semua lolos."


"Aku benar-benar ingin bertarung dengan mereka, terutama Glühen Rose." Cecily menyeringai dan berkata kepada Ryan, "Bagaimana denganmu? Apakah kamu punya seseorang yang ingin kamu lawan? ”


"Tentu saja." Ryan tiba-tiba tersenyum. "Jika memungkinkan, aku ingin bertarung dengan Ayato."


Ayato adalah tokoh utama asli dunia ini, dan juga pemenang Phoenix Festa di cerita aslinya. Jadi wajar saja jika Ryan ingin mencoba bertarung dengannya.


Setelah berbincang sesaat dengan Cecily Wong, mereka berdua pergi memutuskan untuk segera kembali ke Jie Long. Tentu saja sebelum pulang, Ryan dan Cecily Wong harus menghadapi para Wartawan yang telah menunggu mereka.


~***~


Setibanya di Jie Long, Ryan dan Cecily Wong berpisah.


Saat Ryan ingin masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba ruang di sekitarnya terdistorsi menciptakan putaran mirip lubang cacing.


Ryan pun jatuh ke dalam lubang distorsi tersebut hingga akhirnya ia telah berada di dalam ruang audiensi.


Situasi ini, membuat Ryan sedikit tidak berdaya. "Guru, jika Guru ingin menemuiku, setidaknya panggil aku secara normal."


Mendengar ini, Fan Xinglou yang duduk di singgasana tertawa. "Maaf, maaf, Wanita Tua ini agak tidak sabar untuk bertanya padamu mengenai Amagiri Ayato."


"Amagiri Ayato?" Ryan mengedipkan mata dan bertanya, "Mungkinkah, Guru tertarik padanya?"


"Ya, itu benar." Fan Xinglou tersenyum gembira. "Bocah itu sangat menarik, seperti menyembunyikan sesuatu. Wanita Tua ini sangat penasaran dengan apa yang disembunyikannya."


Tepat ketika Ryan hendak mengatakan sesuatu, Fan Xinglou tiba-tiba menyipitkan matanya.


"Sepertinya sesuatu yang tak terduga telah datang berkunjung."


Bersamaan dengan ucapan Fan Xinglou ini, suasana di sekitarnya tiba-tiba berubah.

__ADS_1


__ADS_2