
Saat ini, Ryan dan Alisa melihat ada sesosok Aragami berukuran besar, yang bahkan ukurannya melebihi Vajra. Aragami tersebut berada di ujung padang tandus ini, tepatnya ada di sisi lain sebuah bukit.
"Jadi inikah Aragami tipe Deusphage? Secara ukuran saja, Venus sudah melebihi ukuran para Aragami bertipe Besar!" gumam Ryan.
Venus terlihat sedang marah. Dari tubuhnya, muncul banyak tentakel yang terus menerus menghantam tanah dan membuat kegaduhan.
Boom
Di bawah amarah Venus, seluruh langit dan bumi tampak berguncang. Ini benar-benar situasi yang sangat mengerikan.
Melihat semua ini, Ryan akhirnya sadar mengapa Venus sangat marah. "Jadi begitu, Lindow dan lainnya sedang bertarung melawan Venus."
"Bagaimana cara mengalahkan monster seperti itu?" bisik Alisa.
Ryan pun terdiam mendengar pertanyaan Alisa.
'Membunuh monster sebesar itu memang bukanlah hal yang mustahil, namun butuh usaha ekstra berat. Aku yakin Lindow dan lainnya bisa mengalahkannya. Apalagi, Lindow di masa depan berhasil membunuh Ouroboros.'
'Hanya saja, aku takut keberadaanku di dunia ini menyebabkan Butterfly Effect dan membuat Lindow, Soma, serta Sakuya mati.' pikir Ryan.
Mereka berdua kini hanya bisa berdiri diam terpaku melihat amukan Venus dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, Alisa bertanya pada Ryan. "Apakah kamu tidak ingin pergi ke sana?"
Ryan terdiam sesaat. Kemudian ia menghela nafas dan berkata, "Apa menurutmu aku bisa mengalahkan makhluk sekuat itu?"
"Tapi bukankah mereka adalah rekanmu?" Alisa menoleh dan menatap tajam ke arah Ryan. "Aku cuma berpikir, apakah ketiga God Eater itu mampu mengalahkan makhluk semengerikan itu? Bukannya aku meremehkan mereka, tapi menghadapi Makhluk seperti itu, kemungkinan untuk menang sangatlah tipis."
"Kalau kamu pergi ke sana sekarang, mungkin kamu masih sempat untuk menyelamatkan mereka."
Kata-kata Alisa benar-benar mengusik hati Ryan. Ia jadi teringat lagi mengenai Butterfly Effect yang ia buat di dunia Kabaneri the Iron Fortress. Ryan tidak ingin keberadaannya malah membuat Lindow, Soma, dan Sakuya mati.
Ryan awalnya ingin membuat Lindow, Soma, dan Sakuya bertarung dengan Venus sampai Venus terluka parah. Lalu kemudian ia akan muncul di saat-saat terakhir dan membantu mereka membunuh Venus. Dengan begitu, Ryan tidak perlu bersusah payah membunuh Venus yang kemungkinan besar adalah misi tersembunyi dari sistem di dunia God Eater.
Setelah berpikir matang-matang, Ryan menghela nafas panjang. "Haah~ sepertinya aku harus pergi ke sana. Lalu bagaimana dengan mu, Alisa? Apa kamu ikut?"
Ekspresi Alisa mulai berubah. Beberapa saat kemudian, Alisa akhirnya memutuskan untuk ikut.
~***~
30 menit berlalu sejak Alisa memutuskan untuk pergi bersama Ryan. Kini tubuh Alisa mulai berangsur pulih.
Sosok Venus pun sudah tidak terlihat lagi di depan. Namun, suara Venus masih tetap terdengar di telinga Ryan dan Alisa.
“Ayo kita percepat perjalanan kita.” ajak Alisa.
“Apa kamu yakin? Apakah tubuhmu sudah benar-benar pulih?”
__ADS_1
Menanggapi pertanyaan Ryan, Alisa menunjukkannya dengan berlari zig-zag di depannya.
‘Aku nggak nyangka kemampuan regenerasi God Eater cukup kuat.’ gumam Ryan setelah melihat aksi Alisa.
“Oke, ayo pergi …”
Setelah itu, mereka berdua berlari dengan sangat cepat. Seperti halnya mobil, mereka mampu menjaga kecepatan larinya meski terkena hembusan angin kencang.
Di belakang Ryan, Alisa memandang punggung Ryan dengan sangat serius. ‘Bagaimana mungkin dia bisa lebih cepat dariku? Bukankah dia hanya seorang manusia biasa!?’
‘Itu artinya, kekalahanku malam itu bukan hanya karena teknik dan pengalaman bertempurku yang kurang, tapi juga karena ia memiliki fisik yang setara dengan God Eater!’
‘Bahkan kecepatanku masih di bawahnya! Padahal aku sudah bersusah payah memaksimalkan kekuatan fisikku untuk mengimbanginya, tapi tetap saja aku tidak bisa mendahuluinya!’
‘Orang biasa tidak akan mampu menjaga kecepatan secara konstan dalam waktu yang lama. Tapi Ryan berbeda, ia dapat terus berlari dengan kecepatan tinggi. Siapa Ryan sebenarnya?’
Alisa yang awalnya acuh, kini mulai penasaran dengan Ryan. Tak hanya rasa penasaran yang muncul dalam benak Alisa, namun juga rasa iri.
Alasan Alisa menjadi God Eater adalah untuk menjadi kuat. Namun sekarang, di depan matanya, muncul seorang pria yang bukan seorang God Eater, tapi memiliki kekuatan yang setara dengan God Eater.
Hal ini membuat Alisa membenci Ryan. Ia tidak bisa mengakui eksistensi Ryan. Pada saat yang sama, Alisa juga membenci dirinya sendiri.
Mendadak, Ryan yang berlari di depannya tiba-tiba berhenti. Alisa pun akhirnya juga menghentikan lajunya. Ia kemudian mengikuti arah pandang Ryan dan melihat sekelompok Aragami bertipe Kecil sedang berjalan di depan mereka.
“Apakah kamu masih bisa bertarung?” tanya Ryan tanpa melihat ke belakang.
Alisa menanggapi pertanyaan Ryan dengan memukulkan kepalan tangannya ke dadanya. “Kamu pikir aku ini siapa? Aku selalu siap untuk bertarung!”
“Seorang God Eater pemula?” senyum Ryan.
“Ugh …” Mata Alisa langsung bergetar. Ia menggenggam erat God Arc miliknya sambil memandang Ryan dengan tatapan yang tajam.
“Aku bukannya ingin merendahkanmu, tetapi kamu harus sadar dengan kelemahanmu. Walau kamu adalah God Eater Tipe Baru (New-Type), tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kamu baru saja bergabung dengan cabang Rusia.”
“Secara fisik, kamu memang kuat. Tapi kamu masih belum memiliki banyak pengalaman. Teknik bertarungmu juga masih perlu diasah lagi.”
“Kamu telah mengabaikan semua kelemahanmu ini. Kamu terlalu percaya diri dan sombong, sehingga kamu berpikir bahwa kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Kalau kamu bertindak seperti ini terus, kamu pasti akan cepat mati!”
Mendengar ucapan Ryan ini, hati Alisa perlahan mulai terbuka. Sorot mata Alisa terlihat seakan ia telah terbangun dari mimpi panjangnya.
Memang dalam Game dan Anime-nya, sosok Alisa diciptakan dengan sifat yang seperti itu. Tapi Ryan tidak ingin melihat Alisa yang seperti ini. Sifat Alisa yang seperti ini akan membahayakan teman satu timnya..
‘Jujur saja, melihat Alisa seperti ini mengingatkanku pada diriku sendiri saat aku menjalankan misi di dunia sebelumnya. Aku dulu juga sangat percaya diri akan kemampuanku, padahal aku sama sekali tidak memiliki dasar dan pengalaman bertarung. Akhirnya, aku pun dihajar habis-habisan oleh Biba.’
‘Semoga saja Bacot no Jutsu-ku ini berhasil membuka hatinya, sama seperti saat aku melakukannya pada Mumei.’ pikir Ryan.
Kemudian, Ryan melanjutkan ucapannya sebagai penutup dari Bacot no Jutsu-nya kali ini. “Setiap manusia memiliki kelemahannya masing-masing. Tetapi itu bukanlah alasan untuk mengabaikannya. Sebagai makhluk hidup, manusia harus berani menghadapi kelemahannya.”
__ADS_1
“Apa kamu juga sedang menghadapi kelemahanmu?” tanya Alisa. Jantung Alisa berdegup kencang mendengar semua ceramah Ryan.
“Kalau kamu nggak bisa mengakui kelemahanmu, jangan ikut dalam pertarungan ini!” Setelah mengucapkannya, Ryan langsung maju ke depan.
Di depan mata Alisa, sosok Ryan tiba-tiba berubah menjadi bayangan buram dan terus melaju ke arah kerumunan Aragami di depannya.
Pasukan Aragami yang ada di depan tampaknya menyadari keberadaan Ryan. Mereka pun membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Ryan.
Tiba-tiba saja, dalam sepersekian detik, muncul keraguan dalam hati Ryan.
‘Misi pertamaku adalah membunuh Aragami. Dengan menggunakan Mystic Eye of Death Perception, aku bisa membunuh mereka dengan memotong garis kematian pada bagian Inti (Core).’
‘Tapi di saat yang sama, Misi keduaku adalah mengumpulkan Inti (Core) Aragami sebanyak mungkin. Bukankah ini misi yang sangat berlawanan? Aku harus menemukan solusi untuk masalah ini. Sementara itu, aku akan menyelesaikan misi pertamaku terlebih dahulu!’
Setelah Ryan memutuskan apa yang akan ia lakukan, pupil mata Ryan berubah menjadi biru. Ia juga mengambil Moon Blade dari ruang penyimpanan dimensi dan memegangnya dengan erat.
“Grooooaaaar”
Pasukan Aragami bertipe Kecil di depannya mulai mengaum.
Bagai Kilat, cahaya dingin putih kebiruan dari belati Ryan langsung menyambar Aragami yang ada di depannya.
Slash
Dengan mudahnya, belati di tangan Ryan merobek kulit Aragami yang keras. Darah Aragami itu pun menyembur keluar. Pada tempat di mana Ryan merobek kulitnya, terdapat Inti (Core) dari Aragami tersebut.
Kratak
Inti (Core) tersebut langsung retak dan terbelah setelah terkena tebasan belati yang ada di tangan Ryan.
Auman Aragami tersebut tiba-tiba berhenti. Pandangan matanya mulai meredup, sampai akhirnya ia roboh tak bergerak.
Tanpa adanya jeda, Ryan langsung mencabut belati penuh darahnya dari tubuh Aragami tadi. Dengan pandangan sedingin es, ia menatap target berikutnya.
Slash
Belati dengan lambang bulan sabit itu kembali merobek tubuh Aragami kedua dan langsung membunuhnya. Hanya dengan satu tebasan, lagi-lagi Ryan membunuh Aragami dengan mudah.
“Grooooaaaar”
Melihat kawannya mati, Aragami-Aragami lainnya mulai mengaum dengan keras. Satu demi satu, Aragami-Aragami itu mulai berlari mendekati Ryan.
Ryan tersenyum lebar dengan aksi para Aragami ini. “Datanglah! Ryan sang pembantai telah kembali ...”
Ryan kemudian meluncur menyambut kawanan Aragami yang datang padanya. Dengan lincah, Ryan menghindari semua serangan Aragami. Belati yang ada di tangannya langsung berubah menjadi senjata mematikan.
Bagikan Dewa Kematian, Ryan mulai membunuh semua Aragami yang ada di sekelilingnya. Teriakan demi teriakan terdengar seperti melodi pembantaian yang indah. Bermandikan darah Aragami, tubuh Ryan kini penuh dengan cairan merah.
__ADS_1
Sambil tersenyum menyeringai, ia terus melakukan pembantaian. Tak ayal, hujan darah mulai membasahi padang tandus ini. Pasir dan tanah di sekitarnya pun berubah menjadi merah.
Dari kejauhan, Alisa sangat terkejut melihat semua aksi Ryan. “Ba-bagaimana mungkin …”