
Shiiiiiii
Begitu Ryan membukanya, dari dalam kotak logam, terpancar cahaya ringan dari berbagai warna yang cukup mempesona.
Di dalam kotak, Ryan melihat beberapa batu permata berwarna dari berbagai warna yang terletak dengan tenang di atas bantalan hitam.
Permata dalam berbagai warna ini adalah Urm Manadyte. Jumlah Urm Manadyte yang ada dalam kotak logam tersebut tidak banyak, hanya ada enam buah saja.
Namun, jumlah ini sudah lebih dari cukup. Malah awalnya, Ryan mengira ia hanya akan mendapat satu buah saja. Maka dari itu, ia sangat bersyukur bisa mendapat Urm Manadyte sebanyak ini.
Apalagi, jika setiap bagian dari Urm Manadyte ini digunakan dengan baik, itu bisa menjadi Orga Lux yang memiliki Kemampuan Khusus, atau bahkan menjadi boneka seperti Ardi, yang bisa dikatakan hampir sempurna dalam hal kekuatan tempur.
‘Sepertinya, Madiath benar-benar bekerja sangat keras agar Integrated Enterprise Foundation mau memberikan Urm Manadyte sebanyak ini.’ batin Ryan.
“Sesuai keinginanmu, enam perusahaan yang tergabung dalam Integrated Enterprise Foundations masing-masing bersedia memberikan satu Urm Manadyte. Jadi, semua yang ada dalam kotak itu adalah resmi milikmu.”
“Awalnya hanya ada satu perusahaan saja yang bersedia memberikan Urm Manadyte. Tapi dengan berbagai cara, akhirnya aku bisa meminta lima perusahaan lainnya untuk ikut memberikan Urm Manadyte yang mereka miliki.”
Madiath lalu tertawa dan berkata, "Tentu saja, meskipun Urm Manadyte ini telah diberikan kepadamu, tapi Integrated Enterprise Foundation pasti akan selalu mengawasimu. Jika kamu berencana menggunakannya untuk sesuatu yang buruk, lebih baik kamu harus berhati-hati.”
Bagaimanapun juga, Integrated Enterprise Foundation memiliki kontrol ketat atas Urm Manadyte. Bahkan jika mereka bersedia memberikan Urm Manadyte pada pemenang Festa, mereka pasti akan mengawasi Ryan dan berusaha mendapatkannya kembali melalui jalur lain.
Sayangnya, Integrated Enterprise Foundation pasti tidak akan menyangka bahwa Ryan berniat menggunakan Urm Manadyte untuk menyelesaikan Misi Reincarnation Room.
Setelah Ryan kembali ke Ruang Evaluasi Reincarnation Room, semua Urm Manadyte ini pasti diserahkan pada sistem Reincarnation Room.
Jadi, jika Integrated Enterprise Foundation ingin mengambilnya kembali, itu merupakan hal yang mustahil.
Setelah puas melihat isi kotak logam tersebut, Ryan berpura-pura menyimpannya di saku, padahal ia meletakkannya di dalam Cincin Black Space.
Di saat yang sama, suara notifikasi sistem terdengar di telinga Ryan.
Ding
[Sistem mendeteksi nomor serial 124.888 telah berhasil menyelesaikan semua Misi Utama]
[Anda dapat memilih untuk kembali ke Reincarnator Room, atau menetap di dunia ini]
[Jika Anda memilih untuk kembali ke Reincarnation Room, maka Anda akan menjalani evaluasi dan perhitungan hadiah]
[Jika Anda memilih untuk menetap di dunia ini, Anda dapat tinggal di dunia ini selama 3 hari]
Mendengar suara notifikasi ini, Ryan tidak ragu lagi dan berbisik, “Aku memilih untuk tinggal di dunia ini selama tiga hari.”
Di dunia ini, Ryan tidak bisa sembarangan untuk kembali secara mendadak. Ia memiliki banyak hubungan di dunia ini, dan Ryan ingin menyelesaikannya secara baik-baik. Ia tidak ingin meninggalkan adanya penyesalan lagi.
“Sesuai dengan negosiasi kita, semua yang aku janjikan dalam negosiasi telah aku penuhi.” Madiath melihat ke arah Ryan dengan tatapan penuh makna. “Jadi, aku harap Ryan-san bisa memenuhi janjimu.”
“Apa yang sudah aku janjikan, pasti selalu aku tepati.” Ryan berkata dengan acuh tak acuh. “Sesuai dengan hasil negosiasi kita, aku tidak akan ikut campur lagi dalam urusan kalian. Kecuali, jika kalian secara sukarela membuat masalah denganku, maka dengan senang hati aku akan membunuh kalian.”
“Hahaha … tentu saja kami tidak akan melakukannya.” Madiath mengangkat bahunya dan berkata dengan nada setengah bercanda, “Setidaknya, kami tidak ingin menjadi musuhmu.”
__ADS_1
Bagi Madiath, meskipun dalam segi kekuatan murni Ryan tidak seberapa kuat, namun Kemampuan yang dimiliki dan juga sumber informasi Ryan masih menjadi misteri. Maka dari itu Madiath tidak ingin bertindak gegabah. Apalagi, kini Ryan juga telah diawasi oleh Integrated Enterprise Foundation.
Kalau tidak, Madiath tidak akan mungkin mau berdamai dengan seorang murid SMA seperti Ryan. Karena itulah, Madiath sepenuhnya ingin menghindari konflik dengan Ryan.
“Hubungan kita berakhir di sini.” Ryan langsung berkata, “Mulai sekarang, aku harap kita nggak akan bertemu lagi.”
“Tidak, sebagai ketua Komite Operasional Festa, Madiath Mesa masih harus memberikan perhatian dan komunikasi tertentu kepada para peserta Festa." Madiath mengatakan sesuatu yang sengaja dibuat membingungkan. “Namun, sebagai Laminamors, hubungan ini benar-benar berakhir di sini.”
Dengan kata lain, meski perjanjian non-agresi telah disepakati, Madiath tetap akan mengawasi Ryan.
Ini adalah hal yang wajar. Perjanjian yang dilakukan Madiath dengan Ryan hanyalah perjanjian lisan tidak tertulis. Tidak ada yang tahu apakah Ryan akan merencanakan sesuatu di belakang. Maka dari itu, dengan cara ini, Madiath masih tetap dapat mengawasi Ryan sampai batas tertentu.
Ryan yang mengetahui maksud implisit Madiath, hanya bisa menahan tawanya dalam hati.
Dalam tiga hari, Ryan akan meninggalkan dunia ini, dan kembali ke Reincarnation Room sambil menunggu misi ke berikutnya. Saat itu terjadi, Madiath tentu tidak akan bisa mengawasi Ryan lagi.
Ryan kemudian tersenyum dan berkata, “Terima kasih, maaf telah banyak merepotkanmu.”
“Ini sudah menjadi kewajibanku.” Madiath balas tersenyum dan langsung berkata, “Kalau begitu aku mohon undur diri. Sampai jumpa kembali, Ryan-san.”
Setelah mengatakannya, Madiath langsung pergi meninggalkan Ryan sendiri di koridor Rumah Sakit.
Melihat punggung Madiath semakin menjauh, Ryan berbalik dan masuk kembali ke dalam kamar.
~***~
Di dalam kamar yang cukup terang, Ursula hanya berbaring diam tertidur lelap di atas tempat tidurnya dengan ekspresi wajah yang damai.
Melihat ekspresi ini, Sylvia akhirnya dapat memastikan bahwa orang yang ada di depannya adalah diri asli Gurunya.
Sambil memegang erat tangan Ursula, Sylvia tiba-tiba bernyanyi dengan sangat merdu. Ia memegang tangan Ursula, seolah-olah Sylvia mengingat semua hal yang ia lakukan di masa lalu bersama dengan gurunya.
Nyanyian manis ini pun langsung menggema memenuhi kamar.
Di saat yang sama, Ryan masuk ke dalam kamar dan melihat Sylvia bernyanyi dengan serius. Mendengarkan lagu yang dinyanyikan dengan indah oleh Sylvia, Ryan mau tidak mau tenggelam di dalamnya.
Berbeda dengan lagu-lagu yang didengarkan saat konser terakhir kali, ataupun lagu yang pernah dinyanyikan Sylvia kepada Ryan, lagu ini memberikan perasaan sedih dan juga mempesona, seolah sedang menceritakan menceritakan pengalaman masa lalu sang penyanyi.
Pada saat ini, Ryan seperti masuk ke dalam sebuah ilusi.
Dalam ilusi itu, Ryan melihat seorang wanita sedang mengajar seorang gadis muda bernyanyi.
Dalam adegan lainnya, Ryan melihat seorang wanita yang sama seperti sebelumnya, sedang bermain dengan seorang gadis muda.
Ryan juga melihat wanita itu tidur bersama seorang gadis muda.
Ryan lalu melihat wanita itu memasak untuk seorang gadis muda.
Bagaikan sebuah film 4D, semua kejadian dalam ilusi ini terlihat nyata. Bersamaan dengan nyanyian yang indah, adegan demi adegan silih berganti terlintas di depan mata dan pikiran Ryan.
Setelah beberapa saat terlena dalam nyanyian memabukkan ini, Ryan akhirnya tersadar dari kondisinya dan melihat ke depan.
__ADS_1
Di sana, Sylvia telah selesai bernyanyi dan meletakkan tangan Ursula ke dalam selimut, sebelum akhirnya berbalik untuk menatap kembali Ryan.
Tak lama kemudian, Sylvia menutup satu matanya dan berkata dengan nada bercanda, "Oke, ayo kita keluar dulu. Aku tidak ingin mengganggu tidur Ursula."
Ryan pun mengangguk atas ajakan ini.
~***~
Swiiish
Angin sejuk bersiul melintasi atap Rumah Sakit.
Setelah meninggalkan kamar Ursula, Sylvia mengajak Ryan pergi ke atap Rumah Sakit.
Atap Rumah Sakit ini adalah sebuah taman indah yang dipenuhi pepohonan di beberapa sudut, lengkap dengan bangku panjang taman dan mesin penjual otomatis.
Sylvia lalu meminta Ryan duduk di bangku taman, sementara Sylvia pergi membeli dua kaleng minuman dari mesin penjual otomatis.
Setelah memberikan salah satu kaleng minuman pada Ryan, Sylvia langsung duduk di samping Ryan.
Mereka berdua hanya duduk diam sambil memegang minuman kaleng yang sama-sama belum dibukanya.
Tak satupun dari mereka berbicara, tetapi suasananya di antara mereka sama sekali tidak canggung. Sebaliknya, ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan di dalamnya.
Tak lama kemudian, Sylvia berbisik.
"Aku sangat berterima kasih padamu."
Sebuah kalimat sederhana, tapi tentu saja itu adalah ucapan paling tulus yang ingin diungkapkan Sylvia setelah sekian lama.
Dalam hal ini, Ryan hanya tersenyum ringan dan berkata, "Nggak perlu kamu pikirkan lagi, aku melakukan semua ini juga demi orang yang aku cintai. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga."
"Benarkah?" Sylvia menundukkan kepalanya dan melihat minuman yang dia pegang di telapak tangannya. "Dasar bodoh! Jika kamu seperti ini, maka kamu hanya akan dimanfaatkan oleh para wanita!"
Ryan melihat ke arah Sylvia yang sedang menunduk dengan tatapan penuh afeksi. Sambil tetap tersenyum hangat, Ryan berkata dengan lembut. "Bukankah kamu salah satunya?"
"Ugh …" Mengingat apa yang telah diperbuatnya pada Ryan, membuat Sylvia malu.
Samar-samar, Sylvia berbisik dengan pipi merahnya. "Tapi karena semua inilah, aku jatuh cinta padamu."
"Apa? Kamu bicara apa?" tanya Ryan.
Tentu saja Ryan hanya berpura-pura tidak mendengar untuk menggoda Sylvia. Namun, tindakan Sylvia selanjutnya benar-benar di luar perkiraan Ryan.
"Dasar bodoh!"
Setelah mengatakannya, Sylvia tiba-tiba menoleh ke arah Ryan dan langsung memajukan wajahnya.
Muuch
Dengan suara samar, sentuhan yang lembut telah mencapai bibir Ryan.
__ADS_1