Reincarnation Room

Reincarnation Room
Tohyama Kinji


__ADS_3

Walau memakai seragam anti peluru, jika orang biasa terkena tiga tembakan sekaligus, orang tersebut pasti akan terpental dan jatuh ke tanah


Tentu saja, ini hanya berlaku untuk orang-orang biasa. Bagi Ryan, mengatasi serangan ini sangatlah mudah


"Dibandingkan dengan serangan Nanaya Shiki, lintasan peluru yang lurus ini sangat mudah ditebak.”


Setelah mengatakannya, belati tajam di tangan Ryan mulai bergerak.


Clang Clang Clang


Seakan dapat melihat peluru yang ditembakkan, tangan Ryan bergerak sangat cepat hingga seperti berkedip dan menghempaskan semua peluru yang meluncur ke arahnya. Di saat yang sama, suara kecil logam yang saling berbenturan terdengar.


“Tidak mungkin!”


“Ini mustahil!”


“Kau bercanda kan!”


Menyaksikan aksi Ryan yang luar biasa ini, membuat ketiga peserta tersebut membelakkan matanya.


Tidak hanya para peserta saja, bahkan para Instruktur pengawas yang melihat semua ini dari layar monitor, juga terkejut dengan penampilan Ryan.


Berbeda dengan ekspresi para Instruktur lainnya, Ranbyou hanya terlihat sedikit kaget. Malahan, ia tampak sangat senang. “Aku tidak menyangka akan ada bibit unggul di antara para peserta tes kali ini, sungguh mengejutkan …”


Bagi Ranbyou, di dunia yang terlihat damai ini, tersembunyi banyak kegelapan. Dan salah satu kegelapan ini adalah para manusia berkemampuan khusus.


Dari dunia seperti itu, Ranbyou pernah menyaksikan orang-orang yang dapat melihat laju peluru, bahkan dapat menangkapnya dengan tangan kosong. Maka dari itu, ia tidak terlalu terkejut melihat aksi Ryan.


Ranbyou hanya terkejut karena kemampuan seperti ini telah dimiliki oleh seseorang yang baru lulus SMP.


Di gedung terbengkalai, ketiga peserta tes tersebut masih dalam kondisi tercengang dan tidak segera melakukan serangan lanjutan. 


Hal ini tentu membuat Ryan tersenyum. "Hei, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian malah melamun?"


Mendengar suara Ryan, mereka pun terbangun. Namun, semua itu sudah terlambat. 


Dengan cepat, Ryan mendatangi satu persatu ketiga peserta tes tersebut dan memukul tengkuk leher mereka. Suara pukulan pun terdengar keras.


Buk Buk Buk

__ADS_1


Mereka bahkan tidak sempat mengerang kesakitan dan langsung jatuh pingsan. 


Ryan kemudian menyeret tubuh mereka ke sebuah sudut dan mengikatnya menjadi satu.


"Jika saja pertarunganku dengan Nanaya Shiki sesederhana ini, maka aku tidak akan terus-terusan mati.” keluh Ryan sambil menghela nafas panjang.


Bagi Ryan, tes ini tidak lebih dari sekedar bermain-main. Ia bahkan tidak menggunakan kekuatan penuhnya. 


Kondisi sungguh sangat berbeda dibanding ketika Ryan melawan Nanaya Shiki. Saat ia berhadapan dengan Nanaya Shiki, Ryan harus terus menerus meningkatkan kewaspadaannya hingga batas maksimal. Lengah sepersekian detik saja, Kepala Ryan pasti akan terbang.


Namun, dihadapkan dengan para peserta tes yang hanya tahu cara menembak dengan senjata, Ryan haya bisa menurunkan kewaspadaannya dan berjalan dengan santai mengelilingi gedung ini.


Melihat Ryan yang berjalan santai, satu persatu peserta tes mengikuti Ryan diam-diam dan menyerangnya. Ada peserta tes yang membuat strategi dan juga jebakan. Ada juga peserta tes yang menantang Ryan secara terbuka. Tapi itu semua tidak bekerja di hadapan Ryan


Yang paling mencengangkan, ada peserta wanita yang menggoda Ryan. Tentu saja Ryan berpura-pura tergoda dan sedikit mengambil kesempatan untuk meraba-rabanya. 


Setelah peserta wanita itu dan timnya akan melancarkan serangannya pada Ryan, barulah Ryan secepat kilat memukulnya hingga pingsan. Ia lalu menghadapi anggota tim wanita itu dengan mudah.


Tanpa teknik dan hanya mengandalkan nilai atribut saja, Ryan sudah sangat kuat dibanding para peserta tes ini.


Akibatnya, hanya dalam tiga puluh menit, ada lebih dari selusin peserta tes yang jatuh di tangan Ryan.


“Jika kamu terlalu bersemangat seperti ini, maka akan lebih mudah bagi orang lain untuk melihat arah tembakanmu …” ucap Ryan dengan santai. Ia kemudian langsung memukul perut peserta itu dengan keras hingga pingsan.


“Oke, ini yang ke 17 …”


Namun, sesaat kemudian, hal yang tak terduga terjadi.


Dor Dor


Dari sudut yang tersembunyi, dua buah peluru meluncur ke arah Ryan.


“Huh?”  Ryan benar-benar terkejut ketika mendengar suara tembakan itu.


‘Apakah di sana juga ada peserta lainnya? Kenapa aku nggak merasakannya?’ pikir Ryan


Sebelumnya, para peserta tes juga melakukan serangan secara diam-diam. Tapi, keterampilan mereka dalam menyembunyikan hawa keberadaan masih sangat kurang, sehingga Ryan dengan mudah menemukan mereka.


Namun, kali ini Ryan tidak dapat menemukannya sama sekali. Hal ini membuat Ryan agak terkejut. Walau begitu, gerakan Ryan tidak melambat sama sekali.

__ADS_1


Ryan mengayunkan Moon Blade dengan sangat agresif dan menangkis peluru yang ditembakkan ke dadanya.


Clang


Akan tetapi, tepat setelah Ryan menangkis peluru pertama, Ryan tersadar.


“Ini!” Dengan segera, Ryan langsung mengangkat kepalanya ke atas. 


Peluru kedua ternyata bukan ditembakkan ke arah Ryan, melainkan ke arah langit-langit.


Pada saat yang sama, peluru yang telah ditangkis Ryan memantul ke arah langit-langit. Peluru kedua dan peluru yang ditangkis Ryan pun saling bertabrakan.


Clang


Percikan api pun tercipta dari benturan itu. Dan secara mengejutkan ,setelah peluru tersebut saling berbenturan, arah kedua peluru tersebut berubah menuju Ryan.


Melihat kedua peluru tersebut melaju ke arahnya, tanpa ragu Ryan langsung menebasnya. 


Clang Clang


Dengan keras, kedua peluru ini menghantam Moon Blade hingga mencipta suara benturan metal. Tanpa sadar, Moon Blade terjatuh dari tangan Ryan.


Saat Ryan mengulurkan tangannya dengan cepat untuk mengambil Moon Blade yang jatuh, mendadak seutas tali baja tipis terbang dan langsung menjerat tangan kanan Ryan, seolah orang tersebut telah memprediksi langkah Ryan selanjutnya.


Tali yang menjerat tangan Ryan ini pun ditarik dengan sangat kuat sehingga Ryan tidak dapat mengambil Moon Blade yang jatuh ke tanah.


Situasi ini menyebabkan Ryan benar-benar terkejut. Ryan sadar bahwa peserta tes yang ada di depannya bukanlah peserta biasa. Ia memiliki teknik menembak yang sangat hebat.


Selain itu, orang itu juga dapat menyembunyikan hawa keberadaannya dengan sangat lihai. Dan juga ia dapat membuat perencanaan yang matang untuk menjebak Ryan


‘Aku nggak nyangka kesombonganku malah membuatku jatuh. Tapi ini sangat menarik! Seorang lulusan SMP bisa menyerang dan membuat perangkap di saat yang sama. Aku benar-benar bersemangat!’


‘Aku jadi penasaran siapa orang ini …’ pikir Ryan.


Dari ujung tali yang satunya, seorang remaja laki-laki dengan seragam Butei berjalan secara perlahan. Satu tangannya memegang tali baja, sedangkan satu tangannya lagi mengarahkan pistolnya ke arah Ryan. 


“Yo~” ucap remaja laki-laki itu sambil tersenyum menawan. Perlahan, Ryan dapat melihat wajah orang tersebut. Dia adalah remaja laki-laki yang Ryan lihat di gedung olahraga tadi sebelum mereka pergi ke gedung terbengkalai ini.


‘Tohyama Kinji!’

__ADS_1



__ADS_2