
Semua yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Itulah prinsip yang Ryan pegang semenjak ia memiliki Mystic Eye of Death Perception.
'Dalam serial Anime Kara no Kyoukai, Ryougi Shiki dapat membunuh kekuatan super, penyakit, dan juga dunia itu sendiri. Jika ia bisa melakukannya, maka aku juga seharusnya bisa membunuh petir ini!'
"Haaaaa!"
Sambil berteriak, Ryan melesat bagaikan anak panah yang meluncur dari busurnya.
Slash
Belati di tangan Ryan bergerak menciptakan sebuah garis putih di udara, menyambut datangnya petir yang menyerang.
Boom
Seketika itu, energi petir yang menyinari area tersebut tiba-tiba meledak. Petir yang dikeluarkan Vajra itu pun berubah menjadi percikan-percikan listrik kecil.
"Jadi begini rasanya 'membunuh' petir … walau aku bisa membunuh petir, tapi kecepatanku masih jauh lebih lambat dari petir." gumam Ryan sambil menundukkan kepalanya di bawah percikan-percikan listrik yang perlahan jatuh ke tanah.
Ryan sedang dalam proses meresapi pengalaman yang baru saja ia dapat.
Melihat aksi Ryan, mata Vajra terbelak lebar. Ia tak menyangka jurus pamungkasnya akan dipatahkan oleh seseorang yang bukan God Eater.
Ryan hanya butuh tak kurang dari 5 detik untuk memproses apa yang telah ia pelajari. Setelah itu, Ryan langsung menghentakkan kakinya ke tanah dan berakselerasi hingga batas maksimalnya menuju tempat Vajra berdiri.
Dengan Mystic Eye of Death Perception, Ryan melihat banyak sekali garis kematian di sekujur tubuh Vajra.
Sama seperti halnya Fused Colony dengan Kabane sebagai komponennya, Aragami juga merupakan entitas tunggal yang terbentuk dari banyak sel Oracle.
Walau Ryan membunuh sebagian sel Oracle Aragami, ia tidak akan bisa membunuh Aragami tersebut.
Maka dari itu, untuk membunuh Aragami, Ryan harus membunuh Inti (Core) dari Aragami. Inti (Core) milik Aragami berfungsi sebagai otak yang membentuk dan mengatur sel Aragami agar bekerja sesuai fungsinya.
Jika Inti (Core) Aragami mati, otomatis sel Oracle tidak akan bisa mempertahankan fungsi dan bentuknya. Yang artinya itu adalah kematian bagi Aragami.
"Selama Aragami memiliki awal dan akhir, aku pasti bisa membunuhnya!"
Sambil terus bergerak, Ryan melihat garis kematian yang tak terhitung jumlahnya pada tubuh Vajra.
Tak butuh waktu lama, Ryan akhirnya dapat menemukannya. Inti (Core) Vajra berada di tengah garis kematian yang paling dangkal.
"Bunuh!"
Belati dengan lambang bulan sabit itu mendadak berubah menjadi kilat cahaya dingin putih kebiruan. Dengan cepat, kilat tersebut menyambar tubuh Vajra.
Slash
Boom
Dengan suara keras yang memekakkan telinga, tubuh Vajra yang sangat besar itu langsung jatuh ke tanah. Hal ini membuat banyak debu bertebaran kemana-mana.
Berdiri di depan jasad Vajra, Ryan tidak bisa lagi menahan diri untuk berlutut dengan satu lutut jatuh ke tanah. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Dari tubuh Ryan, terlihat sedikit asap putih. Beberapa bagian tubuhnya juga sedikit terbakar.
"Jika saja kecepatanku bisa lebih cepat dari petir, maka aku tidak akan terluka seperti ini. Aku harus bisa lebih cepat lagi!" gumam Ryan sambil melihat sekelilingnya.
Aragami-Aragami tipe Kecil dan Medium telah menyingkir sejak kedatangan Vajra. Jadi, sejauh mata memandang, Ryan tak melihat adanya Aragami lain yang berkeliaran di sekitarnya.
Tidak jauh dari lokasinya, Ryan melihat tubuh Alisa yang terkapar di tanah dengan tubuh yang sedikit menghitam.
__ADS_1
Ryan kemudian menghampiri tubuh Alisa dan memeriksa keadaannya. "Syukurlah, Alisa masih bernafas. Sekarang dia hanya pingsan. Tapi, ini jadi sedikit merepotkan."
Ryan lalu mengambil God Arc Alisa dengan hati-hati dan mengikatnya pada punggungnya.
Alasan Ryan berhati-hati karena God Arc dapat memakan manusia yang tidak cocok dengannya. Maka dari itu, Ryan membawanya dengan hati-hati agar God Arc Alisa tidak aktif dengan sendirinya.
Setelah itu, Ryan menggendong Alisa dengan gaya putri. Ia kemudian mulai berjalan pergi dari tempat pembantaian itu untuk menghindari kembalinya Aragami-Aragami tadi.
~***~
Di padang tandus tak berujung ini, Ryan terus berjalan dengan lambat. "Pedang ini benar-benar berat."
"Tapi setidaknya, aku bisa melihat pemandangan indah di depanku, hehehe …" Ryan tersenyum mesum melihat dua gunung kembar Alisa yang sejak tadi terus bergoyang-goyang seiring Ryan melangkahkan kakinya.
"Ughh …" Suara rintihan kesakitan terdengar dari mulut Alisa.
Perlahan, Alisa membuka matanya. Dari ekspresinya, Ryan paham bahwa Alisa merasakan rasa sakit yang hebat di sekujur tubuhnya.
"Apakah kamu sudah sadar?"
Mendengar suara Ryan, tubuh Alisa membeku. Matanya kemudian terbelak lebar dan benar-benar bangun dari kondisi setengah sadarnya. Akhirnya Alisa sadar bahwa ia sedang digendong Ryan.
"Kamu!" Alisa langsung berusaha turun dari gendongan Ryan.
Namun, gerakan yang terlalu intens ini membuat Alisa merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
"Ughh …"
Ryan tersenyum melihat Alisa seperti ini. “Sepertinya sekarang aku tidak perlu lagi mengingatkanmu untuk jangan banyak bergerak dulu. Luka yang diakibatkan serangan petir Vajra cukup parah. Jadi beristirahatlah dulu.”
Mendengarkan ucapan Ryan, dikombinasikan dengan situasi saat ini, Alisa jadi sangat bingung. "Kenapa kamu menyelamatkanku?"
Dengan senyum hangatnya, Ryan menjawab pertanyaan Alisa.
"Berkat kamu, tentara yang berhasil kamu selamatkan bisa kabur dari tempat itu dengan menggunakan Helikopter yang tersisa. Meninggalkan kita berdua bersama Vajra."
"Jujur saja, aku sangat menyukai wanita sepertimu. Sudah cantik, kuat, dan juga baik hati. Maka dari itu, ketika aku melihatmu terkena serangan telak Vajra, aku langsung lari menggendongmu." senyum Ryan.
Tentu saja Ryan tidak memberitahu Alisa bahwa Vajra telah berhasil ia bunuh.
Mendengarkan kata-kata Ryan, Alisa mengernyitkan alisnya. Ia seakan tidak peduli dengan rayuan Ryan dan hanya mencoba memahami situasinya sekarang.
Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Alisa mengangkat tangannya dan menekan komunikator di telinganya.
"Jangan lupa bahwa kamu telah terkena serangan petir Vajra. Semua alat komunikasimu pasti rusak terkena aliran listrik arus besar seperti itu." ucap Ryan.
Hal yang sama juga terjadi pada Ryan. Komunikator yang ia bawa rusak setelah tubuhnya beberapa kali terkena serangan petir Vajra. Hal ini membuat Ryan tidak dapat menghubungi Hibari.
Mendengar penjelasan Ryan, Alisa hanya diam. Terlihat kekecewaan yang mendalam di wajahnya.
Merasakan hal ini, Ryan kemudian dengan sengaja menusuk hati Alisa dengan ucapannya. "Ini adalah misi pertamamu kan? Di misi pertamamu, kamu pertama kalinya merasakan kegagalan dalam menjalankan misi."
"Selain itu, ini pertama kalinya kamu melihat secara langsung pengorbanan para tentara itu."
"Di saat yang sama, ini juga pertama kalinya kamu melawan Aragami dan terluka cukup parah. Ironisnya, kamu di selamatkan oleh orang yang kamu anggap sebagai musuh."
Semua kata-kata ini cukup menohok dan membuat Alisa menggigit bibirnya.
Ryan sengaja melakukan ini karena ia ingin Alisa bisa bangun dari keterpurukannya. Dukungan manis dan lembut tidak akan berhasil pada tipe orang seperti Alisa.
__ADS_1
"Harga dirimu terlalu tinggi, Alisa. Kamu harus bisa menerima kegagalan ini. Ingatlah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kamu memang gagal kali ini. Tapi dari sini, kamu bisa belajar untuk bertambah kuat. Kalau kamu nggak bisa menerima kegagalan ini, maka kamu nggak akan pernah bisa tumbuh!"
Kali ini, Alisa benar-benar tidak bisa menahan emosinya. "Kamu sama sekali tidak mengerti! Aku tidak memiliki waktu untuk menerima kegagalan apa pun! Ada sesuatu yang harus aku lakukan."
"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan? Apakah hal itu terkait dengan Vajra? Bagaimana perasaanmu ketika secara gegabah melawan Vajra tanpa tahu apa kekuatannya?"
Hati Alisa sedikit bergetar. Alisa memang sedikit gegabah saat menghadapi Vajra. Hal ini dikarenakan keberadaan Vajra membuat Alisa teringat akan mimpi buruknya.
Hal ini mengingatkan Alisa pada nasib Vajra yang menyerang mereka. "Apa yang terjadi pada Vajra?"
Setelah energi petir yang kuat dari Vajra menyambar dirinya, ia jatuh pingsan. Hal terakhir yang ia lihat adalah adegan di mana Ryan memegang belati dan berlari menuju Vajra. Hal ini pun ia lihat secara samar-samar.
"Aku bukanlah seorang God Eater. Jadi tidak mungkin bisa membunuh Vajra. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah lari." jelas Ryan
Alisa merasa ada yang janggal dari penjelasan Ryan. Terlebih ia samar-samar mengingat Ryan tanpa ada rasa takut berlari menuju Vajra. Tapi Alisa lebih memilih diam dan memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Lalu, apa yang kamu rencanakan berikutnya? Kemana kita akan pergi?" tanya Alisa.
Ryan menjawabnya dengan singkat. "Aku hanya ingin kabur dari dari Vajra."
Alisa terkejut dengan jawaban Ryan. "Tunggu, apakah kamu memutuskan lari ke arah ini karena memilihnya secara acak!?"
"Ya nggak lah … aku nggak sebodoh itu juga. Walau aku nggak tahu apa-apa mengenai wilayah Rusia, tapi aku memilih arah ini karena aku melihat banyak Aragami bergerak ke arah ini. Maka dari itu aku memilih arah ini." jelas Ryan.
"Jadi begitu … karena semua Aragami saat ini menyerang secara berkelompok menuju cabang Rusia, maka ketika ada sejumlah besar Aragami yang pergi ke arah tertentu, maka arah itu kemungkinan besar adalah cabang Rusia!"
"Betul sekali … " senyum Rian.
Alisa menilai keputusan Ryan dalam kondisi seperti ini sangatlah tepat l. Hanya saja, Alisa tidak mau terus bergantung pada orang lain.
"Biarkan aku turun. Aku bisa berjalan sendiri."
"Kamu yakin?" Ryan menatap Alisa sambil tersenyum. "Kalau kamu bisa turun sendiri dari gendonganku, aku tidak akan menghentikanmu."
"Kembalikan God Arc ku." pinta Alisa.
Ryan lalu mengambil God Arc milik Alisa dari punggungnya dan memberikannya kembali pada Alisa agar ia dapat berdiri.
"Ayo pergi." ajak Alisa tanpa melihat ke arah Ryan.
Alisa kemudian menggunakan God Arc miliknya sebagai alat bantu jalan. Ia pun berjalan selangkah demi selangkah.
Alisa terlihat sangat malu dengan keadaanya, namun ia menyembunyikannya dengan ketegasannya.
Melihat hal ini, Ryan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia pun berjalan ke depan menemani Alisa yang berjalan dengan sangat lambat.
Tiba-tiba saja, tanah di sekitar mereka bergetar. Suara langkah kaki raksasa terdengar semakin dekat.
Dum Dum Dum Dum
Ryan dan Alisa terkejut dengan semua ini.
Sesaat kemudian, suara mirip tangisan seorang gadis kecil terdengar sangat keras.
"RAAAAAAAAAAA …"
Sontak, Ryan dan Alisa langsung menutup telinga mereka.
Setelah suara teriakan tersebut mereda, Ryan dan Alisa segera melihat ke arah asal suara itu terdengar.
__ADS_1
Seketika itu, mereka berdua terkejut dengan apa yang mereka lihat di sana.
"Venus ..."