
Ryan berjalan masuk ke dalam ruang kamarnya dan berkata, "Untuk membunuh Friagne, aku sama sekali nggak membutuhkan bantuanmu. Jadi pergilah …"
Lagi pula, sebagai Flame Haze, Shana dapat merasakan keberadaan Friagne dengan mudah jika dia berada dalam radius tertentu dari Shana. Maka dari itu, Shana sebenarnya tidak perlu untuk berada di sisi Ryan terus.
Namun, gadis itu tanpa emosi berkata, "Alastor pernah berkata, bahwa Hunter adalah Denizen yang sangat berhati-hati dan licik. Kita tidak tahu kapan dia akan diam-diam menggunakan triknya untuk merebut Reiji Maigo darimu."
"Akan sangat merepotkan jika Reiji Maigo berhasil dicuri olehnya."
Oleh karena itu, untuk menghindari situasi terburuk, Shana memilih untuk melindungi Ryan daripada mencari Friagne dan membasminya. Karena selama Reiji Maigo ada di tangan Ryan, maka Ryan akan terus menjadi incaran Crimson Denizen.
Meski gadis Flame Haze itu tidak menyampaikan maksud dan alasan ia bersikeras tetap berada di sisi Ryan, tapi Ryan paham dengan semua itu.
"Haah~" Ryan menghela nafas panjang dna berkata, "Terserah kamu saja. Lagipula, dengan kekuatanku, aku yakin nggak akan kehilangan Reiji Maigo."
"Untuk sementara, masuklah terlebih dahulu."
Setelah mempersilahkannya masuk, Shana yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar langsung membuka sepatunya dan masuk ke dalam kamar.
~***~
Apartemen ini adalah apartemen yang telah dipersiapkan Reincarnation Room sebagai bagian dari identitas Ryan di dunia ini.
Apartemen ini tidak besar, tapi juga tidak ke kecil. Apartemen ini bertipe 1 Ruang Tidur, dan dilengkapi dengan toilet, dapur, ruang keluarga, dan juga balkon.
Perabotan di Apartemen ini juga sudah sangat lengkap, sehingga Ryan tidak perlu membeli perabot tambahan.
Walau kamar Apartemen ini tidak semegah kamar Asrama Ryan di dunia Aria The Scarlet Ammo, tentu sangat berbeda jauh. Kamar Ryan di dunia itu sangat mewah. Sedangkan kamar Apartemen yang ditempati Ryan saat ini sangat sederhana.
Kamar Apartemen ini sangat cocok untuk orang yang tinggal seorang diri, ataupun seorang suami-istri yang belum memiliki momongan.
"Kamar ini memang sangat cocok untukku yang tinggal sendiri, tapi …"
Ryan melirik ke arah Shana.
__ADS_1
Di belakang Ryan, Shana masuk berjalan masuk ke ruang keluarga tanpa memperdulikan sekelilingnya. Tatapannya tetap terfokus erat pada tubuh Ryan.
Wajah kecil Shana terlihat sangat serius. Meski terlihat seperti itu dan juga memancarkan tekanan yang sangat tinggi, tapi itu tidak bisa menutupi kelembutan wajahnya. Ada semacam keimutan yang tak terlukiskan dari wajah kecilnya itu.
Melihat keimutan tersembunyi Shana, hati Ryan mulai meronta ingin menculiknya. Ryan lalu berusaha menenangkan diri. 'Aku bukan lolicon, aku bukan lolicon, aku bukan lolicon …'
Ryan terus mengucapkan kata-kata tersebut dalam hatinya seperti sedang berdoa. Ia lalu mengambil nafas panjang, dan berkata dengan tenang, "Silahkan duduk dulu."
Setelah mempersilahkan Shana duduk, Ryan pergi ke dapur sebentar.
Di ruang keluarga, terdapat sebuah meja kecil dan pendek berbentuk persegi. Di kedua sisinya, terdapat dua buah bantal duduk yang digunakan sebagai alas duduk.
Setelah Ryan kembali dari dapur, ia dan Shana kemudian duduk berseberangan dengan meja kecil yang memisahkan keduanya.
Ryan lalu menyeduh seceret teh hijau panas dan menuangkannya ke dalam cangkir teh yang berada di depan gadis imut itu.
Uap panas menyeruak muncul dari dalam cangkir dan menghantam wajah Shana, membuat wajah menawan gadis itu yang sejak tadi terlihat serius menjadi sedikit rileks. Ia lalu memegang cangkir dan minum dengan mulut kecil dan berbisik, "Hangatnya …"
Bisa dibilang, hampir semua Flame Haze memang seperti Shana. Mereka setiap hari akan pergi berkeliling dari kota ke kota, dari negara ke negara lain. Semuanya demi mencari dan memusnahkan Crimson Lord yang merusak keseimbangan dunia.
Alhasil, mereka sangat jarang bisa bersantai. Bahkan banyak di antara mereka yang hidup miskin.
"Pertama-tama, mari kita saling memperkenalkan diri." Ryan kemudian memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. "Namaku Ryan Herlambang, kamu bisa langsung memanggilku Ryan secara langsung."
"Ryan Herlambang?" Suara Alastor segera keluar dari liontin dan bergumam, "Aku belum pernah mendengar nama itu."
Sedangkan Shana, ia tetap duduk diam menatap cangkir tehnya, seolah-olah ia tidak ingin memberitahukan namanya pada Ryan.
Melihat Shana seperti itu, Ryan berpikir sejenak. Ia lalu menatap langsung Shana dan berkata, "Aku sudah memperkenalkan diriku. Apakah kamu enggan memperkenalkan dirimu padaku?"
"Aku adalah Flame Haze." Shana menutup matanya seolah-olah ia tidak ingin Ryan menatap langsung matanya.
"Orang-orang biasa memanggilku Flame-Haired Burning-Eyed Hunter. Jadi kamu bisa memanggilku dengan nama itu."
__ADS_1
Dengan kata lain, saat ini Shana masih belum memiliki nama. Ryan pun akhirnya teringat dengan asal muasal nama Shana. Yuji Sakai, Tokoh Utama dunia inilah yang memberikan nama Shana pada Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.
Gadis imut di depan Ryan ini telah dilatih sebagai Flame Haze sejak usia dini. Ia sengaja dilatih untuk mewarisi nama Flame-Haired Burning-Eyed Hunter. Nama itu merupakan sebutan bagi orang yang menjalin kontrak dengan Alastor.
Karena itulah, Shana tidak membutuhkan nama lain selain nama sebutannya. Gadis itu telah dibesarkan dengan pola pikir seperti itu. Maka dari itu Shana masih belum memiliki nama Manusianya saat ini.
'Baiklah … karena dia belum bertemu Yuji dan mendapatkan nama Shana, maka aku akan memberinya nama itu duluan, hehehe …'
Memikirkan hal ini, Ryan tersenyum dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu, aku akan memanggilmu Shana."
"Shana?" Gadis Imut itu tertegun mendengarnya.
"Shana?" Alastor juga tampak sedikit terkejut dengan ucapan Ryan ini.
Ryan lalu berkata, "Nama Flame-Haired Burning-Eyed Hunter terlalu panjang dan nggak efisien. Maka dari itu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Shana."
Mata Shana sedikit bergetar. Namun, taka lama kemudian, Shana memasang wajah cuek seakan tidak peduli bagaimana Ryan akan memanggilnya.
Sayangnya, Shana tidak tahu bahwa Ryan memilih nama ini bukan asal sembarang pilih. Selain karena di masa depan ia akan diberi nama Shana, alasan lainnya adalah nama dari Odachi yang digunakan Shana.
Odachi milik Shana merupakan sebuah Treasure Tool (Hogu) yang dapat mengeluarkan api. Nama Odachi tersebut adalah Nietono no Shana, dan panggilan singkat Odachi itu adalah Shana.
Itulah mengapa di masa depan, Yuji memberi nama gadis Flame-Haired Burning-Eyed Hunter dengan nama Shana.
"Shana, aku harap kamu mengerti …" Ryan langsung berbicara ke inti tanpa basa-basi. "Friagne adalah mangsaku. Aku sama sekali nggak peduli dengan misi Flame Haze. Aku sangat ingin membunuhnya, jadi aku nggak memiliki alasan untuk menyerahkannya padamu. Maka dari itu, jangan ikut campur …"
Setelah Ryan berbicara secara langsung Shana akhirnya mengangkat kepalanya. Meski kedua matanya tidak lagi merah membara, tapi Ryan masih merasakan adanya tekanan dari tatapan matanya.
"Aku tidak mengerti." Shana langsung berkata, "Mengapa kamu yang jelas-jelas seorang manusia, tetap gigih ingin melawan Crimson Denizen?"
"Dan sebagai manusia kekuatanmu jelas terlalu kuat." timpal Alastor dengan lugas. Ia kemudian berkata tanpa ragu, "Kekuatan Reiji Maigo tidak berguna bagi manusia. Jadi seharusnya Treasure Tool itu tidak akan bisa membuatmu sekuat ini."
"Jadi, siapa kamu sebenarnya?"
__ADS_1