Reincarnation Room

Reincarnation Room
Melawan Trinity (V)


__ADS_3

Daang


Suara hantaman keras terdengar lagi.


Serangan kedua Ryan, telah diblokir oleh rantai besi yang tiba-tiba muncul di sisi Sydonay, menimbulkan percikan api yang kuat.


Beberapa saat kemudian, rantai itu berayun, dan langsung menjerat Moon Blade milik Ryan. Hal ini membuat tangan Ryan menjadi tertahan dan tertarik sedikit ke samping


Di ujung lain rantai, Bel Peol memegangi rantainya dengan erat dan berteriak, "Sekarang!"


Saat suara itu jatuh, sesosok bertubuh mungil melintas di depan Ryan dan memandangnya dengan sepasang mata tanpa emosi.


Sosok tersebut mengangkat tangannya dan mengarahkan Trigon ke arah Ryan, menunjuk ke dadanya.


"Aster!"


Dalam bisikan Hecate, nyala api biru langit meningkat dan berkumpul di depan Trigon, membentuk sebuah bola cahaya.


Kekuatan yang menakutkan berkumpul di tepat di depannya, membuat insting Ryan berteriak bahwa jika Ryan tidak melakukan apa-apa, dia pasti akan mati.


Saat Ryan akan menanggapi serangan ini menggunakan Seraph, Sydonay yang masih menekan Seraph dengan tombak bajanya berkata, "Tidak semudah itu, manusia!"


Seketika itu, salah satu lengan Sydonay berubah menjadi ular Python yang gagah. Ular tersebut lalu menjulur dengan cepat melewati tombak baja dan langsung melilit Seraph.


Kini, kedua tangan Ryan bersama dengan dua senjata miliknua, telah diikat oleh Sydonay dan Bel Peol, menarik garus lurus, memperlihatkan dadanya yang lampang ke hadapan Trigon Hecate.


Shiiiii   


Tepat di ujung Trigon yang ada di tangan Hecate, warna pada bola cahaya yang terus terkondensasi menjadi semakin cerah.


Jika ini terus berlanjut, maka Ryan bisa benar-benar mati. Apalagi, ini adalah serangan yang diluncurkan dari jarak nol. Kalau beruntung, maka Ryan akan mengalami luka serius.


Merasakan kematian yang semakin dekat, Ryan berteriak, "Menjauhlah dariku!"


Aura putih yang berkobar-kobar bagaikan api di tubuh Ryan tiba-tiba meledak dan menimbulkan gelombang kejut nyata yang menghempaskan segala seuatu di sekitar Ryan.


Sydonay, Bel Peol, dan Hecate sama-sama tidak menyangka bahwa Ryan masih dapat melakukan serangan balik dalam keadaan seperti itu.


Serangan yang tiba-tiba ini membuat Trinity tidak sempat untuk meresepon. Alhasil, ketiganya terkena gelombang kejut putih suci ini dengan sangat telak.


Boom


Suara menyesakkan seperti guntur yang dalam menyeruak.


Hecate, Sydonay, dan Bel Peol mengerang kesakitan pada saat yang bersamaan. Tubuh mereka bertiga pun langsung terpental ke belakang.


Gelombang kejut yang meledak di udara menciptakan badai dan mengguncang atmosfer. Semua orang di Seireiden melihat cincin gelombang cahaya yang menyebar dalam sebuah lingkaran, memberikan kejutan yang tak terduga pada Trinity.


Melihat semua ini, para Crimson Denizen dan Rinne secara tidak sadar memikirkan hal yang sama.


'Apakah manusia ini monster?'


Swoosh


Trinity yang terkena gelombang kejut putih menjelma menjadi seperti bola meriam. Di bawah suara tajam yang membelah langit, mereka jatuh dengan keras ke tanah.

__ADS_1


Boom


Dalam suara teredam, tanah Seireiden bergetar dan menimbulkan debu di tiga sudut yang perlahan-lahan naik dan menyebar ke sekeliling.


Dalam debu yang pekat, tanah yang dihantamnya naik ke atas bersama sekumpulan kerikil dan puing-puing. Ini menyebabkan retakan menyebar seperti jaring laba-laba.


Saat asap debu sudah menipis, sudah ada tiga lubang terbentuk bagaikan tumbukan meteorit.


"Ugh …" Hecate jatuh ke dalam lubang dan mengerang kesakitan.


"Uhuk uhuk …" Bel Peol terbatuk di dalam lubang


Sementara Sydonay, ia berusaha untuk bangkit, tapi luka di lehernya membuat percikan api seperti darah terus mengalir dan mengakibatkan Sydonay kembali terbaring di dalam lubang.


Kali ini, merek bertiga terluka sangat parah, sehingga kemampan regenerasi ketiganya berjalan sangat lambat.


"Pendeta Agung!"


"Kepala Staf!"


"Jendral!"


Di sekitar Seireiden, semua Denizen yang menyaksikan kejadian ini membuat seruan penuh kekhawatiran.


Di puncak kastil Seireiden, dua Crimson Denizen melihat pemandangan ini dengan tatapan tidak percaya.


"Mustahil …"


Fecor terdengar lamban.


"Trinity … benar-benar kalah?"


"Ini benar-benar mustalahil!"


Perasaan tidak percaya terus menyerang benak Fecor. Di hati Fecor, Trinity adalah Crimson Lord terkuat dan tertua sejak zaman kuno.


Dan kini, seorang manusia yang tidak jelas asal-usulnya tiba-tiba muncu dan mengalahkan Trinity yang telah menggunakan Treasure Tool (Hogu) mereka. Semua hal ini membuat Fecor bingung dan ingin menganggap semua adegan ini hanya sebuah mimpi.


"Hmm …"


Di samping Fecor, Sabrac dalam setelan hitam mentap tajam ke arah langit, tepat di mana Ryan berdiri dengan api putih yang menyelimuti tubuhnya.


Samar-samar, Sabrac berbisik "Apakah kekuatan seperti ini dia sembunyikan saat bertarung melawanku?"


Hal ini membuat perasaan Sabrac sangat buruk.


Dari segi kekuatan, meski Sabrac juga setara Tingkat Authority 3, tapi dia tidak bisa menandingi kekuatan Trinity. Apalagi jika Trinity bekerja sama, Sabrac sama sekali tidak memiliki peluang untuk menang.


Selain itu, Hecate dan Bel Peol pernah menyebutkan bahwa satu Sydonay saja sudah cukup untuk mengalahkan Sabrac.


Andai saja Ryan menggunakan kekuatan sebesar ini saat melawan dirinya, sudah dipastikan Sabrac tidak akan berkutik.


Begitu memikirkan hal ini, Sabrac mau tidak mau menggenggam tangannya erat-erat.


"Apakah dia benar-benar kuat?"

__ADS_1


Di bawah gumaman rendah Sabrac, Fecor juga sama cemasnya.


"Sabrac-sama!" Fecor berkata dengan sangat mendesak, "Trinity telah kalah dalam pertempuran, aku yakin manusia itu akan membunuh mereka. Kita harus segera menyelamatkan Trinity dan membantu mereka mengalahkan manusia itu!"


Ini adalah sebuah rencana yang sangat tidak terbayangkan. Bahkan Trinity yang telah bekerja sama saja masih menelan kekalahan, apalagi Fecor dan Sabrac yang jelas kekuatannya masih di bawah Trinity.


Saat sedang berpikir sembari memandang Ryan, Sabrac tiba-tiba menemukan sebuah keanehan yang sangat menarik perhatiannya. “Hmm?”


"Sabrac-sama!" Fecor terus merengek pada Sabrac dan terkesan tergesa-gesa, sehingga ia gagal menyadari apa yang dilakukan Sabrac.


Sabrac mengabaikan Fecor dan terus menatap sosok yang terbakar api suci di udara. Dalam waktu kurang dari satu detik, Sabrac akhirnya dapat mengkonfirmasi keanehan yang terjadi pada tubuh Ryan. “Jadi begitu, inilah alasan mengapa dia tidak dapat menggunakannya sembarangan.”


Perkataan Sabrac membuat Fecor merasa malu karena terus mengganggu Sabrac yang masih berpikir.


Melihat hal tersebut, Sabrac tidak menjelaskannya dan langsung berkata, “Tenang saja, kita bahkan tidak perlu bergerak. Karena semua ini akan berakhir.”


Seperti mengkonfirmasi perkataan Sabrac, Ryan yang sedang melayang di langit tiba-tiba berteriak kesakitan. “Aaaargh!”


Saat suara Ryan mengisi keheningan Seireiden, api putih suci yang berkobar menyelimuti tubuhnya mendadak menghilang tanpa jejak.


Pada saat yang sama, Power of Existence yang sangat besar hingga menembus seluruh cakrawala Seireiden tiba-tiba melemah hingga menghilang sepenuhnya.


Semua orang terkejut melihat perubahan ini. Termasuk Crimson Denizen dan Rinne yang tersebar di sekitar Seireiden, serta Trinity yang masih terkapar di dalam lubang.


Semua orang melihat ke udara pada saat bersamaan.


Di sana, api putih yang menyelimuti tubuh Ryan telah hilang sepenuhnya. Tubuh Ryan juga bergoyang-goyang tidak stabil, sehingga ia berlutut dengan satu kaki di udara. Wajahnya pun tampak benar-benar pucat, dan ia bernafas dengan sangat berat.


Melihat pemandangan ini, Trinity langsung mengerti.


“Jadi begitu …” Bel Peol berjuang untuk bangun dan menatap Ryan di langit. Ia tersenyum sambil menyeka percikan api menyerupai darah dari mulutnya.


“Apakah ini harga yang harus dibayar untuk menggunakan kekuatan mengerikan itu?" Mata Hecate juga berkilat dan berjuang untuk bangun.


Sementara Sydonay, ia tertawa cekikikan, seperti binatang buas pada umumnya. “Ini akhir yang membosankan.”


Setelah itu, Sydonay langsung mengangkat tombak baja berat di tangannya. Tombak tersebut kembali diselimuti api ungu keruh, dan seperti tornado, api tersebut berputar dan meluncur ke langit.


Ryan melihat pemandangan ini, dan tersenyum tidak berdaya. Bagaimana tidak, begitu api putih suci surut seperti gelombang pasang, Ryan merasakan ledakan kelelahan serta rasa sakit dari jiwa dan raganya..


“Inikah akhirnya? Aku nggak menyangka dunia dengan tingkat kesulitan Medium benar-benar sulit.”


“Aku jadi berpikir, mengapa Reincarnator lainnya terlihat sangat menikmati kehidupan mereka di Reincarnation Room?”


“Padahal aku terus berlatih setiap hari, tapi misi yang aku hadapi semakin sulit dan sulit. Apakah Reincarnator lain juga mendapatkan misi yang sulit sepertiku? Atau hanya aku saja yang mendapat misi di dunia yang tidak masuk akal berbahayanya seperti ini?”


Ryan hanya bisa pasrah, karena efek samping berakhirnya Stigma kali ini benar-benar lebih parah dari sebelumnya. Jika dulu Ryan masih dapat bergerak lemah sembari menahan rasa sakit dan mengantuk, kali ini Ryan sama sekali tidak dapat bergerak.


Namun, ketika Ryan mengingat kembali janji-janjinya untuk menjemput para wanita yang ia cintai, dan juga keinginannya untuk membangkit Rea setelah mencapai puncak Menara Reinkarnasi, emosi Ryan sedikit berfluktuasi.


Emosi yang telah hilang, tiba-tiba menyeruak, dan membuat tatapan mata Ryan yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan hidupnya, menjadi penuh tekad untuk terus hidup.


“Bergeraklah tubuhku!”


“Bergeraklah!”

__ADS_1


Ryan terus berteriak tidak menyerah sembari melihat api tornado api ungu keruh datang ke arahnya. Dengan tangan yang bergetar, Ryan sekuat tenaga Ryan berhasil mencoba mengangkat Seraph di tangannya. Ia kemudian menuangkan sebagian besar Prana yang tersisa dan berusaha memblokir tornado api yang datang kepadanya.


BOOM


__ADS_2