Reincarnation Room

Reincarnation Room
Kabur


__ADS_3

Setelah menyelesaikan diskusinya, dua Crimson Lord jaman kuno itu sekali lagi mengalihkan pandangan mereka ke tubuh Hecate.


Di sana, Hecate masih tenggelam  dalam dunianya sendiri. Ia sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan Sydonay dan Bel Peol.


Tidak, harus dikatakan bahwa Hecate sama sekali tidak dapat mendengarkannya.


Pada titik ini, hati Hecate telah dipenuhi dengan beberapa pertanyaan. 


"Bagaimana mungkin?"


Mengingat lautan penuh kematian, Hecate terus bergumam mempertanyakan apa yang telah dilihatnya.


"Bagaimana mungkin kamu bisa hidup dengan hal-hal seperti itu?"


Hecate telah berdoa sepanjang waktu. Itu adalah cara Hecate untuk mengisi hati dan tubuhnya agar tidak benar-benar kosong. Jika ia tidak melakukannya, Hecate merasa dirinya tidak hidup.


Dan Ryan justru kebalikan dari Hecate. Dalam jiwa dan tubuh Ryan, telah diisi dengan hal-hal yang tidak mampu dimiliki oleh Hecate. Namun hal itu justru membuat Ryan semakin kehilangan emosinya dan menjadi tidak hidup.


Oleh karena, Hecate menjadi benar-benar bingung.


"Aku tidak memiliki emosi karena kehampaan dan kekosongan dalam diriku "


"Sementara dia mulai kehilangan emosi dan rasa takutmu karena jiwamu sudah sangat penuh."


"Tidak memiliki emosi sama dengan tidak hidup."


"Jadi, bagaimana rasanya hidup?"


"Apakah aku tidak hidup?"


"Apakah dia bisa dianggap hidup?"


"Mengapa aku dan dia bisa hidup?"


"Mengapa?"


"Yah, bagaimana rasanya hidup?"


Pertanyaan-pertanyaan absurd ini telah memenuhi hati Hecate.


Karena sekarang, Hecate sadar bahwa dirinya sudah kenyang dan tidak lagi kosong.


Namun, pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah Hecate merasakan hal baru seperti sekarang.


"Aku ingin tahu jawabannya ..."


Dengan cara ini, Hecate telah tenggelam dalam kegelisahan ganda. Ia terus memikirkan apa arti dan filosofi dari kehidupan dan kematian yang terus memenuhi hatinya. Berbagai pertanyaan ini, bercampur dengan rasa trauma dan ketakutan, benar-benar telah menyiksanya.


Keadaan Hecate ini jelas tidak akan dapat pulih dalam waktu yang singkat.


Di sisi lain, Sydonay dan Bel Peol, yang sangat peduli dengan Hecate, tidak menyadari, bahwa keputusan mereka tidak membunuh Ryan secara langsung, akan membawa Seireiden masuk ke dalam kekacauan.


~***~


Clang Clang


Suara rantai bergema dengan lembut di ruang terbuka ini.

__ADS_1


Seperti patung yang terletak di tengah altar sebuah kuil, Ryan berdiri dengan tubuh yang masih terlilit rantai tebal. Ia terus menundukkan kepalanya dan juga menutup matanya seakan-akan ia sedang tidur.


Suasana hening menyebar ke mana-mana.


Sampai saat tertentu, Ryan dengan kepala tertunduk berbisik. "Sudah hampir waktunya …"


Dengan ini, Ryan mengangkat kepalanya. Di matannya, Mystic Eye of Death Perception telah aktif.


Sebelum Trinity pergi menemani Hecate ke kamarnya, Bel Peol kembali menggeledah tubuh Ryan untuk mencari Reiji Maigo. Namun ia sama sekali tidak menemukan apa-apa di tubuh Ryan, termasuk senjata utama Ryan, Moon Blade dan juga Seraph.


Hal ini disebabkan Ryan telah menyimpan semua senjatanya ke dalam cincin Black Space yang sebelumnya tidak dijual. Ryan telah mempersiapkan semua ini untuk menanggulangi kejadian seperti ini.


"Untung saja aku nggak menjualnya. Jadi aku bisa mengganti Cincin Ionic dengan Cincin Black Space, dan menyimpan semua senjataku di sana."


Oleh karena itu, Bel Peol sama sekali tidak menemukan apa-apa di tubuh Ryan. Apalagi Ryan menggunakan mode digital sehingga orang lain tidak dapat melihatnya.


Tak


Disertai dengan suara yang sangat rendah, sebuah belati tajam dengan lambang bulan sabit mendadak muncul di telapak tangan kanan Ryan.


Ryan memegang Moon Blade dengan erat, dan segera melirik rantai yang menahan tubuhnya menggunakan Mystic Eye of Death Perception.


Rantai kuat ini jelas merupakan Treasure Tool (Hogu) yang dirancang untuk menahan seseorang dengan tingkat kekuatan setara Crimson Lord.


Akan tetapi, di mata Ryan, rantai ini terlihat rapuh. Di bawah pengawasan Mystic Eye of Death Perception, garis kematian seperti retakan muncul di sekujur badan rantai dan menutupi setiap sudutnya.


Menatap rantai yang mengikat tangan kanannya, Ryan segera menggerakkan Moon Blade di telapak tangan kanannya dan dengan lembut membelai garis kematian dari rantai tersebut


Klak


Dalam suara yang renyah, rantai kokoh itu langsung putus terkena sentuhan lembut Moon Blade


Detik berikutnya, tiga suara tebasan terdengar satu demi satu, membuat rantai di tangan Ryan kirinya, dan rantai yang menahan kedua kakinya, terpotong dengan rapi.


Treasure Tool (Hogu) yang tampak mengesankan ini, menjadi sangat rapuh di hadapan Ryan.


Dengan ini, Ryan telah bebas dari rantai yang menjeratnya. Tapi tentu saja, Ryan belum sepenuhnya bebas.


"Aku harus segera kabur dari sini. Menghadapi Trinity secara bersamaan bukanlah ide yang bagus."


Setelah bergumam seperti itu, Ryan melihat sekeliling dan akhirnya mengunci pandangannya ke salah satu arah.


Itu adalah arah dimana ketiga Trinity tersebut pergi meninggalkan tempat ini.


"Apakah itu jalan keluarnya?"     


Lokasi tempat Ryan di tahan ini sama sekali tidak memiliki dinding ataupun pintu. Yang ada di sini hanyalah kehampaan tak berujung yang mengelilingi kuil ini.


Secara logika, jika ingin mencari jalan keluar, maka ikuti saja arah ke mana Trinity pergi. 


"Tapi jika aku bertemu dengan Trinity, yang hanya bisa aku lakukan hanyalah kabur dan berusaha melawannya satu persatu."


Kekuatan Sydonay berada pada Tingkat Authority 3. Jadi, kemungkinan besar dua anggota Trinity lainnya pasti memiliki kekuatan yang tidak jauh dari Sydonay. Menghadapi ketiganya secara bersamaan tentu tindakan yang bodoh. Tapi jika berhadapan satu lawan satu, Ryan yakin bisa menang, atau paling buruk akan berakhir seimbang.


"Kalau begitu …" 


Ryan mengangkat kepalanya dan melihat ke atas. Di sana, ada langit tak berujung.

__ADS_1


Namun, sejak Ryan pertama tiba di tempat ini, langit di tempat ini sama sekali tidak berubah. Ini menunjukkan bahwa langit di atas Ryan adalah langit palsu.


"Baiklah, mari kita coba dulu. Aku yakin ini pasti berhasil."


Setelah berkata seperti itu, Ryan langsung melompat tinggi ke langit.


Mystic Eye of Death Perception bersinar. 


Dalam sekejap, belati di tangan Ryan langsung menebas cakrawala.


Slash


Seketika itu, langit berbintang tak berujung itu terbelah dua dan menghilang.


~***~


"Un?"


Di sebuah ruangan di lantai bawah Seireiden, seorang pria dengan tanduk runcing di kepalanya tampak terkejut.


Pria itu memiliki sayap kelelawar di belakangnya, ekor dengan pengait dan parang besar di pinggang. Pria paruh baya itu tampak seperti pekerja kantoran biasa yang tidak dapat melakukan apa-apa.



Mendengar suara pria paruh baya itu, orang yang duduk di sampingnya dengan gaya berpakaian seperti seorang asisten menoleh. "Apa yang sedang terjadi, Manajer?"


Mendengar pertanyaan tersebut, pria paruh baya yang disebut manajer itu tidak menanggapinya dan hanya menatap perangkat mirip bola dunia yang ada di depannya. Bola tersebut menyala-nyala merah seperti sedang memberikan sebuah peringatan.


"Tunggu …"


Dalam sepersekian detik, pria paruh baya itu langsung memahami sesuatu.


Asisten yang duduk di sebelah paruh baya itu kembali bertanya dengan ragu, "Manajer?"


"Maaf …" Pria paruh baya itu menjawab dan berkata, "Di mana Kepala Staf sekarang?"


"Tampaknya Kepala Staf sedang bersama Jenderal dan Pendeta Agung." jawab asisten itu dengan jujur. "Maaf, apa yang sebenarnya terjadi?"


 Pria paruh baya itu langsung berkata "Tahanan kita tampaknya telah kabur."


"Apa?!" Asisten itu langsung terkejut dan berkata, "Apakah yang kamu maksud adalah manusia itu?”


"Benar." Pria paruh baya itu menjawab dengan jujur, "Jadi, aku harus segera memberitahu Trinity tentang hal ini. Manusia itu telah menyembunyikan Treasure Tool (Hogu) milik Bal Masqué. Kita tidak boleh membiarkannya pergi!"


"Baik!" Asisten itu dengan hormat berkata, "Jadi, kita harus bagaimana?"


Pria paruh baya itu kembali terdiam dan berpikir.


Pria paruh baya itu bernama Fecor, seorang Crimson Lord yang memiliki julukan Tempest Hood.


Dalam Bal Masqué, Fecor memiliki posisi sebagai penjaga gerbang, dan tugasnya adalah menjaga Seireiden. Ia memiliki tanggung jawab untuk membuat keputusan di saat Bel Peol tidak ada.


Dengan kata lain, dalam "Bal Masqué", selain Pemimpin dan Trinity, penjaga gerbang ini memiliki jabatan yang cukup tinggi.


Sekarang, dengan absennya Trinity, semua keputusan tentu saja ada di tangan Fecor.


Hal ini membuat Fecor tidak berpikir terlalu lama.

__ADS_1


Dengan segera, Fecor berbicara dengan lantang di depan perangkat mirip mikrofon.


"Pemberitahuan kepada semua Denizen di Seireiden, cari manusia yang sedang dalam pelarian. Temukan dan tangkap kembali manusia itu!"


__ADS_2