
Dor
Suara tembakan bergema ke seluruh ruang laboratorium. Percikan bagai kembang api pada moncong pistol telah menerangi ruangan remang-remang tersebut.
Peluru yang dimuntahkannya melaju lurus ke depan menembus tirai udara.
Namun sayang, Ryan yang tadi berada tepat di depan Kapten Alexei tiba-tiba menghilang.
Clang
Tembakan keras tersebut langsung mendarat ke bawah, menggosok lantai yang terbuat dari logam hingga memicu semburan bunga api.
Kapten Alexei terkejut dengan hilangnya Ryan.
Di saat yang sama, Ryan mendadak muncul dari belakang Kapten Alexei. Ia lalu mendekatkan kepalanya ke samping telinga Kapten
"Apa kamu tahu? Kamu telah membuat kesalahan besar karena telah memprovokasiku …" bisik Ryan.
Sebuah garis cahaya bulan melintas begitu cepat dan menebas tangan kanan Kapten Alexei.
Slash
Tangan yang memegang pistol itu pun akhirnya jatuh ke lantai.
"Argghhh!" Kapten Alexei berteriak kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang telah terpotong.
"Kapten!" Beberapa tentara datang dari luar laboratorium.
Sebelumnya, Kapten Alexei telah membuat rencana penyergapan di laboratorium ini. Ia meminta para bawahannya untuk segera masuk ketika ia memberi tanda berupa suara tembakan.
Maka dari itu, walau tadi sirine terus menyala, tentara-tentara tersebut tidak berani masuk dan hanya menunggu di luar sambil menunggu tanda dari Kapten Alexei.
Namun, baru saja Kapten melepaskan tembakan, kini kondisi Kapten Alexei telah kehilangan satu tangannya. Hal ini membuat tentara-tentara tersebut kaget sekaligus marah.
"Tembak penyusup brengsek ini!" perintah Kapten Alexei.
Namun, belum sempat menembak, sebuah kilat putih kebiruan dengan cepat menyambar kesepuluh tentara tersebut. Dalam sekejap, mereka semua roboh dengan kepala yang terpisah dari badannya.
Mata Kapten Alexei terbelak melihat ini. "Ini … tidak mungkin! Belum ada 5 detik, dan semuanya sudah mati …"
__ADS_1
"Nah, sekarang tidak ada lagi yang mengganggu kita, Kapten Alexei Adrik …" ucap Ryan sambil tersenyum menyeringai.
Melihat senyuman Ryan yang seperti psikopat, Kapten Alexei jadi sedikit panik. "Ba-ba-bagaimana mungkin …"
"Bagaimana mungkin kamu bisa sekuat ini? Padahal kamu hanyalah seorang tentara biasa!"
Senyuman Ryan semakin lebar melihat kepanikan itu. "Kamu terlalu meremehkanku, Kapten … Kamu selalu berpikir bahwa aku hanya seorang tentara biasa, inilah yang menyebabkan kejatuhanmu."
Bagai Iblis Pembunuh yang kejam, Ryan mengangkat belati penuh darahnya itu. "Kalau saja kamu tidak memprovokasiku, dengan menyabotase ranjau dalam tas yang diberikan padaku, mungkin aku tidak akan mempermainkanmu seperti ini dan langsung membunuhmu …"
Slash
“Arghhh!” Tangan kiri Kapten Alexei langsung tergeletak di atas lantai baja. Darah dari kedua tangannya mulai menggenangi tempat Kapten Alexei berdiri.
Tak kuat menahan rasa sakit yang dialaminya, Kapten Alexei jatuh berlutut di depan Ryan.
“Aku yang dulu, mungkin nggak akan melakukan hal seperti ini. Tapi, memberi belas kasih pada musuh adalah sebuah kesalahan besar.”
Ryan mengingat kembali tragedi penculikan Rea. Kalau saja saat itu Ryan tidak membiarkan orang yang memprovokasinya pergi, mungkin Rea tidak akan pernah diculik.
‘Setelah misi ini berakhir, aku akan kembali mengunjunginya lagi sebentar. Saat aku sudah lebih kuat lagi, mungkin aku mengajaknya ke Reincarnation Room.’
Dengan tatapan mata sedingin es, Ryan mengangkat tangannya. Tidak ada rasa belas kasih di mata Ryan. Ia benar-benar menjelma menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
"Kamu tidak bisa membunuhku! Tidak seorang pun, kecuali aku, yang tahu bagaimana mengendalikan Amor! Jika kamu membunuhku, cabang Rusia akan dihancurkan oleh Aragami!" teriak Kapten Alexei.
Dihadapkan pada kematian yang semakin dekat, Kapten Alexei memutuskan untuk menyandera cabang Rusia. Ia menjadikan cabang Rusia tameng demi menyelamatkan nyawanya.
"Tidak hanya cabang Rusia, metode mengendalikan Amor bahkan dapat menentukan masa depan nasib umat manusia! Jika kamu membunuhku, maka manusia tidak akan pernah bisa lepas dari ancaman Aragami!"
"Kamu harus berpikir jernih, jangan menjadi pendosa bagi seluruh umat manusia!"
“Pendosa katamu?” Tangan Ryan berhenti tepat di depan bola mata Kapten Alexei. "Kamu pikir aku peduli?"
“A-apa?!” Kapten Alexei tidak menyangka Ryan akan berkata seperti itu.
“Jujur saja, aku nggak peduli dengan semua ini. Aku hanya memperdulikan orang-orang terdekatku saja. Berpikirlah realistis, kamu seorang ilmuwan kan?”
“Aku yakin kamu sendiri juga tidak memperdulikan umat manusia. Yang kamu pedulikan hanyalah ekor kesayanganmu itu dan juga ketamakan.”
__ADS_1
“Jika kamu memang peduli dengan umat manusia, kamu pasti sudah menyerahkan hasil penelitian ini ke markas pusat Fenrir. Tapi, kenyataannya kamu malah memilih merahasiakan proyek ini dari mereka.”
“Kalau Fenrir yang melakukan penelitian ini, tidak sampai 10 tahun, mereka pasti akan menyempurnakan teknologi ini!”
“I-ini …” Kapten Alexei mulai panik dengan pernyataan Ryan. Karena apa yang dikatakannya memang benar. Jika ia menyerahkan penelitiannya pada Fenrir pusat, maka ia akan berpisah dengan ekor Venus.
Kapten Alexei tentu tidak ingin itu terjadi. Dan seiring berjalannya waktu, timbul rasa ingin menguasai semua ini sendiri. Dengan berbagai tipu muslihat, Kapten Alexei terus mempengaruhi para pejabat yang duduk di atas cabang Rusia. Hingga akhirnya mereka menyetujui untuk merahasiakan Proyek Amor dari induk Fenrir.
“Sekarang, aku akan menagih hutangmu padaku …:” Setelah mengatakannya, Ryan dengan tatapan dinginnya langsung menusuk bola mata Kapten Alexei hingga menembus ke belakang kepalanya.
Perlahan, Ryan mencabut Moon Blade dari kepala Kapten Alexei. Seketika itu, tubuh Kapten Alexei roboh di tengah genangan darah.
“Aku bahkan nggak sudi menggunakan Mystic Eye of Death Perception untuk membunuh manusia sepertimu!” gumam Ryan.
“Hutang Kapten Alexei padaku sudah terbayarkan. Sekarang, tinggal masalah Amor.” Ryan kemudian memalingkan pandangannya ke arah tangki berisi sebuah ekor putih yang melayang dalam sebuah cairan.
‘Yang dikatakan Kapten Alexei memang benar. Kalau aku membunuhnya, otomatis nggak ada lagi orang yang dapat mengendalikan Aragami di luar sana. Jika ini dibiarkan, maka cabang Rusia akan rata dengan tanah.’
Memikirkan hal ini, Ryan menghela nafas panjang. “Haah~ aku benar-benar seorang hipokrit. Walau aku bilang bahwa aku nggak peduli dengan semua ini, tapi di cabang Rusia masih ada Hibari dan Alisa. Aku nggak bisa membiarkan mereka mati bersama hancurnya cabang Rusia.”
“Satu-satunya cara untuk mencegah hancurnya cabang Rusia, adalah memindahkan ekor ini ke tempat lain.”
“Venus terbukti dapat merasakan keberadaan ekor ini. Jadi, jika aku memindahkannya, maka Venus dan pasukannya pasti pergi ke arah ekor ini berada.”
Ryan kemudian kembali mengangkat belatinya ke arah tangki berisi Amor. Saat Ryan akan menebasnya, tiba-tiba saja, dari pori-pori ekor Venus yang ada dalam cairan bening, muncul banyak gelembung.
“Apa yang terjadi?”
Ekor Venus tersebut juga mulai bergerak-gerak tidak teratur sambil terus mengeluarkan banyak gelembung dari pori-porinya. Dengan cepat, gelembung-gelembung itu naik ke permukaan tangki dan masuk ke dalam pipa.
“Pipa apa itu?” Ryan lalu melihat ada banyak pipa di atas tangki kaca ekor Venus. Pipa-pipa tersebut tersambung ke semua tangki kaca yang ada dalam laboratorium.
Kratak Kratak
PYAR
Salah satu tangki kaca yang ada di belakang Ryan mendadak pecah. Cairan dalam tangki itu pun muncrat keluar bagaikan percikan. Tapi, anehnya percikan cairan itu tidak jatuh ke lantai, namun berhenti di udara.
Kemudian, cairan itu berkumpul menjadi satu dan perlahan mulai membentuk tubuh sesosok monster. Beberapa saat kemudian, gumpalan cairan itu berubah menjadi seekor Ogretail yang berdiri di atas bekas tangki kaca pecah itu dengan tatapan buasnya.
__ADS_1