Reincarnation Room

Reincarnation Room
Maniak Roti Melon


__ADS_3

Setibanya di kamar Apartemen yang gelap, Ryan segera menekan saklar dan lampu mulai menerangi unit Apartemennya.


Ryan kemudian duduk di samping meja kayu pendek. Ia membuka tas plastik di tangannya dan menuangkan isinya di atas meja.


Satu demi satu roti melon hangat yang baru saja dipanggang keluar memenuhi meja. Total, ada satu lusin roti melon yang Ryan beli.


Saat Ryan membuka salah satu kantong roti melon, aroma harum menggugah selera melayang keluar dari kantong tersebut.


Glup


Detik berikutnya, suara yang agak halus terdengar dari balkon.


Suara ini terdengar seperti suara orang yang menelan air ludahnya dan juga seperti suara perut keroncongan.


Ryan tidak bisa menahan senyum nakal di wajahnya.


Jika Sylvia ada di sini, ia pasti akan mengetahui bahwa senyuman itu sama dengan senyuman yang ia miliki ketika Sylvia mencoba menggoda Ryan.


Dalam Anime-nya, roti melon adalah makanan favorit Shana. Maka dari itu, ketika Ryan mendengar suara penjual roti melon, muncul ide jahat untuk sedikit menggodanya.


Ryan lalu mulai memakan roti melon yang ada di tangannya. Setelah ia menghabiskan satu roti melon, Ryan mengambil satu roti lagi dari atas meja.


Dengan cara seperti ini, roti melon di atas meja berangsur-angsur berkurang.


Dari arah balkon, udara di sana tampak semakin bergejolak saat jumlah roti melon di atas meja semakin berkurang.


Saat Ryan akan mengulurkan tangan untuk mengambil roti melon kelima, Shana yang bersembunyi di balkon akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Berikan padaku!"


Bersamaan dengan teriakan seperti itu, tirai dan jendela balkon dibuka secara paksa.


Tangan Ryan segera berhenti, dan di matanya secara bertahap muncul emosi gembira.


"Kamu bahkan nggak tahu tata cara memakan roti melon yang baik dan benar. Tapi kamu terus menghabiskan banyak roti melon. Ini tidak bisa dimaafkan!"


Sebagai penggemar roti melon, cara Ryan dalam memakan roti melon sangat menyalahi aturan.

__ADS_1


"Akan aku ajarkan bagaimana tata cara memakan roti melon yang baik dan benar!"


Ryan pun terdiam dengan ucapan Shana ini. Ia sudah tahu bahwa Shana sangat menyukai roti melon, tapi Ryan tak menyangka kegilaan Shana terhadap roti melon sampai ke tahap seperti ini.


'Anjir, makan roti aja ada aturannya segala!' batin Ryan.


Melihat Ryan dengan serius memandangi wajah Shana, ia beranggapan bahwa Ryan sangat ingin mendengar tata cara memakan roti melon darinya. 


Dengan segera, Shana kembali membuka mulutnya.


"Pertama-tama, kita harus makan bagian roti yang renyah. Lalu berikutnya, makanlah bagian roti yang lembut. Setelah itu, barulah makan bagian yang renyah dan lembut sekaligus, sehingga kita bisa merasakan dua jenis rasa secara seimbang. Inilah tata cara memakan roti Melon."


Shana membicarakan semua ini seakan-akan ia sedang berbicara tentang kebenaran dan fakta yang hakiki. 


Shana lalu berbicara seolah-olah Ryan adalah pelaku kriminal yang tidak dapat dimaafkan. 


"Caramu makan roti melon ini sangat menyalahi aturan. Ini namanya menyia-nyiakan kelezatan yang agung dari roti melon."


"Apa yang kamu lakukan ini sama saja dengan para Crimson Denizen yang melahap banyak Power of Existence dan menyebabkan distorsi, ini benar-benar aksi yang tidak bisa dimaafkan!"


'Apa hubungannya cara makan roti melon dengan distorsi dunia?!' teriak Ryan dalam hati.


Ryan ingin berkomentar seperti itu, tapi ia terlalu malas untuk melakukannya. Ryan yakin jika ia melakukannya, perdebatan ini bisa sangat panjang.


Tapi setidaknya, rencana Ryan dalam mengusili Shana berhasil, meski hasilnya melebihi ekspektasi.


Ryan kemudian berkata pada Shana, "Lalu, apa arti dari cara makan yang merepotkan ini untuk Flame Haze yang seharusnya selalu mementingkan efisiensi?"


"Tentu saja ada artinya!" Shana berkata tanpa ragu, "Karena roti melon adalah keadilan!"


Mulut Ryan tiba-tiba mulai berkedut. Sekali lagi, Ryan terlalu malas untuk mengomentari alasan absurd Shana.


Oleh karena itu, Ryan hanya dapat menyipitkan mata sebagian dan berkata, "Kalau kamu begitu menyukainya, silahkan ambil roti melonnya. Aku masih punya banyak kok. Lagipula, aku ingin melihat demonstrasi secara langsung tentang cara memakan roti yang baik dan benar itu seperti apa."


"Demonstrasi langsung?" Mata Shana tiba-tiba bersinar. 


Tak lama kemudian, Shana menyadari bahwa ia telah menunjukkan sikap yang tidak pantas sebagai seorang Flame Haze. Ia menghentikan langkahnya dan berkata dengan ragu, "Aku … aku tidak mau melakukannya!"

__ADS_1


"Apa kamu yakin?" Ryan berkata, "Bukankah tadi kamu berkata bawa roti melon adalah keadilan? Jika kamu membiarkanku terus makan roti melon secara sembarangan seperti sekarang, bukankah itu sama saja kamu telah gagal menjaga keseimbangan dunia?"


"Ka-kamu … kamu benar." Mata Shana melirik ke bawah dan menatap roti melon yang tergeletak di atas meja.


Melihat pertahanan Shana mulai runtuh, Ryan menyulut api terakhir.


"Ini adalah roti melon yang baru saja selesai dipanggang. Kalau kamu nggak segera memakannya, maka roti ini akan menjadi keras dan dingin. Saat kamu makan di bagian renyah dan lunak, kamu nggak akan bisa menikmatinya seperti ketika masih hangat."


"Itu tidak boleh terjadi!" Shana segera melangkah maju dan duduk, seolah-olah ia benar-benar takut jika roti melonnya menjadi dingin. Ia dengan cepat membongkar sekantong roti melon dan menggigit pinggiran roti melon menggunakan mulut kecilnya.


Seketika itu, wajah menawan Shana yang sejak tadi berekspresi penuh keseriusan, kini menjadi benar-benar rileks. Bahkan muncul rona di pipinya. Shana mengunyah roti melon di mulutnya dan menunjukkan ekspresi bahagia.



Wajah Shana yang seperti itu cukup memberikan serangan mematikan di hati Ryan. 'Imutnya …'


Dalam dua hari ini, Ryan sudah menjadi lebih tenang saat berhadapan dengan Shana. Tapi, ekspresi Shana ini tetap menembus tembok pertahanan Ryan. Hanya saja, kali ini tidak timbul pikiran gelap seperti sebelumnya. Malah, kali ini ekspresi Shana membuat Ryan lebih rileks.


Shana saat ini benar-benar seperti gadis kecil biasa yang sedang bahagia memakan permen favoritnya. Dan untuk Shana, permen itu adalah roti melon.


Melihatnya seperti ini, tiba-tiba membuat Ryan teringat pada Aria.


"Aria sepertinya juga bersikap seperti ini saat makan roti persik." 


Gumaman Ryan ini tanpa sadar terdengar oleh Shana.


"Aria?" Shana menghentikan kegiatannya dan menatap Ryan dengan ekspresi bertanya-tanya, "Siapa Aria?"


Ryan tak menyangka gumamannya akan menarik minat Shana.


Karena merasa tidak ada yang perlu disembunyikan, Ryan tersenyum dan berkata, "Itu adalah nama Partnerku."


"Partner?"


"Benar." Ryan mengangkat bahunya dan berkata, "Kami bertarung bersama, makan bersama, tinggal bersama, tidur bersama, dan menghadapi banyak penjahat bersama."


Karena itu, Ryan mau tidak mau menunjukkan beberapa ekspresi nostalgia.

__ADS_1


__ADS_2