Reincarnation Room

Reincarnation Room
SMS Kedua


__ADS_3

“Di SMA Butei, ada sebuah sistem baru yang memungkinkan murid kelas satu untuk berlatih secara privat dibawah bimbingan murid kelas dua. Sistem ini disebut dengan Amica untuk murid perempuan dan Amigo untuk murid laki-laki."


"Kalian sekarang sudah menjadi murid kelas dua. Jadi, jika ada murid kelas satu yang ingin menjadi Amica atau Amigo salah satu dari kalian, mungkin kalian bisa memikirkannya."


"Walau sebagai senior, kalian memiliki kewajiban untuk membimbing Amica atau Amigo yang kalian miliki, mereka sebagai junior juga memiliki kewajiban untuk menuruti semua perintah seniornya."


"Oleh karena itu, jika ada murid kelas satu yang ingin menjadi Amica atau Amigo, tolong pertimbangkan lagi." jelas Guru penanggung jawab Kelas 2-A mengenai sistem baru yang telah dibuat oleh SMA Butei.


Semua murid tampak sangat serius mendengarkan penjelasan guru tersebut. Namun, hal ini tidak terjadi pada Ryan. Ia tampak tidak dapat berkonsentrasi dan sesekali melirik ke arah bangku kosong yang ada di sebelahnya.


Bangku tersebut adalah tempat duduk Riko. Tapi, hari ini bangku tersebut kosong. 


Riko memang sudah sangat sering datang terlambat. Ia juga sering membolos dengan alasan bermain game ataupun malas bangun pagi.


Jadi, ketidakhadiran Riko hari ini menjadi hal yang lumrah. Tidak ada yang khawatir ataupun penasaran dengan alasan Riko tidak hadir di kelas 


Apalagi, sebagai seorang Butei, ini bukanlah hal yang aneh. Bisa saja Riko tidak masuk sekolah karena mengerjakan Komisi Pribadi seperti yang Ryan pernah lakukan.


Walau begitu, Ryan tetap merasa khawatir. Apalagi, ucapan Riko saat meninggalkan sekolah kemarin benar-benar membuat Ryan tidak bisa mengabaikannya. "Apakah Riko akan meninggalkan Butei?"


"Kalau melihat dari kepribadian Riko yang biasanya, seharusnya semua yang ia ucapkan kemarin hanya gurauan semata."


"Tapi …"


Ryan terus menerus memikirkan Riko. Hingga tak terasa, jam ke 4 sebentar lagi akan usai. Ini artinya, pada jam berikutnya, murid-murid Butei akan pergi ke kelas profesional yang telah menjadi pilihannya.


Dengan kata lain, setelah kelas ini, Ryan tidak dapat bertemu dengan Riko.


"Aku nggak tahu apakah Riko akan datang ke kelas Inquesta atau nggak."


Ryan terus memikirkan Riko hingga tidak menyadari bahwa dari belakang kelas, Aria terus menggigit ujung penanya sambil menatapnya.


Seiring waktu berlalu, nada dering penanda selesainya jam keempat telah terdengar.


Para siswa SMA Butei mulai keluar dari kelas dan pergi menuju ke gedung khusus masing-masing.


"Ryan." Aria berbicara kepada Ryan yang sedang mengemasi tas sekolahnya. "Apakah kamu pergi ke Assault hari ini?"


"Iya, tunggu sebentar." jawab Ryan sambil mengangguk. 


Ryan lalu melihat ke belakang dan berkata kepada Kinji yang hendak keluar dari kelas, "Kinji, apakah kamu pergi ke kelas Inquesta?"


"Meskipun aku tidak ingin pergi ke kelas Inquesta, tapi jika kredit yang aku miliki tidak cukup, maka aku akan dikeluarkan dari Butei." ucap Kinji dengan lesu.


Seakan tahu apa yang diinginkan Ryan, Kinji langsung bertanya tanpa basa-basi. "Jadi, pekerjaan apa yang ingin kamu berikan padaku? Jika ini pekerjaan yang berbahaya, maka tolong minta bantuanku."


Melihat tingkah Kinji, Ryan pun tertawa. "Hahahaha … tenang, aku tidak mungkin memintamu melakukan hal yang berbahaya."


"Aku hanya ingin kamu segera menghubungiku jika melihat Riko di kelas Inquesta."


"Riko?" Kinji menggaruk rambutnya dan berkata, "Yah, jika ini hanya ini, maka tidak ada masalah."


"Aku memohon padamu."


"Oke, aku akan segera menghubungimu. Tampaknya kamu sangat mengkhawatirkannya. Ini benar-benar tidak biasanya."


Ryan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kinji.


Setelah itu, Kinji mengambil ranselnya dan berjalan keluar kelas.


"Oke, Aria." Ryan berdiri dan berkata kepada Aria, "Ayo pergi."

__ADS_1


Namun, tidak ada jawaban dari Aria. Ryan lalu menoleh ke arah Aria dan melihat Aria menatap dirinya dengan sepasang mata merahnya. 


Tanpa menunggu pertanyaan Ryan, Aria yang sedikit bingung dengan sikap Ryan hari ini langsung membuka mulutnya.


"Sepertinya hubunganmu dengan Mine Riko sangat baik. Aku melihat kamu sudah mengkhawatirkannya sejak pagi."


"Kemampuan pengamatanmu cukup bagus." Ryan menghela nafas. "Tapi, apakah ini aneh?"


"Ini tidak aneh … aku hanya merasa ada hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan padaku, seperti menyembunyikan hubunganmu dengan Riko."


"Bagaimanapun juga, kamu adalah pacar dan juga partnerku. Aku tidak suka jika partnerku bertindak tidak jujur padaku."


"Padahal, partner ada karena kita saling percaya."


"Jadi, katakan padaku, apakah kalian benar-benar memiliki hubungan semacam itu?" 


Melihat Aria berbicara dengan serius, Ryan tersenyum hangat. 


Saat Ryan akan menjawab pertanyaan Aria, mendadak ponsel di saku Ryan bergetar.


Dreet Dreet


'Siapa? Mungkinkah ini Riko?' Tanpa pikir panjang, Ryan segera mengambil ponsel lipatnya dan membukanya.


Saat Ryan membaca pesan SMS yang baru saja masuk, mata Ryan menjadi sangat serius.


"Hmm?" Melihat Ryan yang melihat ponselnya dengan sangat serius, Aria mau tidak mau bertanya pada Ryan. "Apa yang terjadi?"


Ryan tidak menjawabnya. Ia hanya memperlihatkan layar ponselnya secara langsung pada Aria.


Aria lalu mencoba membaca pesan yang tampil di depan matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pada pesta ini, aku tidak tahu apakah aku dapat mengundang partner cicit detektif terkenal itu?


– Butei Killer –


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mata Aria terbelalak begitu membaca isi SMS itu.


Ryan menarik kembali ponselnya dan mulai berbicara. "Sepertinya ini adalah surat peringatan untuk aksi kejahatan Butei Killer berikutnya."


Ryan lalu melihat Aria sambil tersenyum menyeringai. "Ini sangat menarik … Aria, saatnya bekerja."


~***~


Setelah mendapatkan SMS, Ryan dan Aria memutuskan tidak mengikuti kelas pelatihan Assault.


Dengan banyaknya misi yang telah mereka kerjakan, mereka tidak perlu khawatir kekurangan kredit poin untuk naik kelas. Tidak seperti Kinji yang sudah tidak pernah mengambil Komisi Pribadi lagi.


Oleh karena itu, Ryan dan Aria dapat dengan mudahnya kembali ke Asrama tanpa mengikuti pelatihan.


Saat perjalanan menuju gedung asrama, Aria yang sejak tadi berjalan di samping Ryan bertanya, "Kenapa kita kembali ke asrama?"


"Memangnya kamu mau kemana?" 


Ryan lalu memberi penjelasan tentang alasannya kembali ke asrama. "Butei Killer berani mengirimkan SMS secara terang-terangan. Ini artinya dia sangat yakin kita tidak akan bisa menemukan jejaknya."


"Bahkan jika kita pergi ke Connect untuk meminta bantuan mereka melacak nomor Butei Killer, aku yakin itu nggak akan ada hasilnya."

__ADS_1


"Walaupun kamu ingin menggunakan jasa Inquesta, itu juga sangat sulit karena petunjuk yang ditinggalkan sangat terbatas."


"Maka dari itu, kita akan melakukan deduksi penalaran sendiri atas semua petunjuk yang terbatas ini."


"Ugh, deduksi penalaran …" Aria mengeluh sambil menundukkan kepalanya. "Aku benar-benar membenci hal ini. Kamu sendiri tahu bahwa aku sangat lemah dalam area ini."


"Bukankah ada aku?" 


Ryan kemudian menggenggam tangan Aria dengan lembut. "Bagaimanapun juga, aku adalah partnermu. Dan sudah tugas partner untuk saling menutupi kelemahan partnernya. Jadi, serahkan masalah deduksi ini padaku, Aria." 


Aria mengangkat kepalanya dan menatap Ryan. Wajah muda menawan itu dipenuhi dengan senyum manis yang imut. "Aku mempercayaimu, Ryan."


Melihat senyuman imut ini, Ryan tak kuasa menahan senyum. Mereka berdua pun terus bergandengan tangan selama perjalanan kembali ke asrama.


Setibanya di kamar asrama, Ryan segera memasuki ruang tamu, melempar tas punggungnya ke sofa, dan duduk sambil membuka laptopnya.


Aria bertanya pada Ryan, "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Sangat mudah. Pertama kita harus tahu dulu dimana tempat Butei Killer akan melakukan kejahatannya." ucap Ryan sambil mengoperasikan laptopnya.


"Tempat melakukan kejahatan?" Aria memiringkan kepalanya.


"Benar … dalam SMS, Butei Killer menyebutkan kembang api akan mekar dengan indah di lautan malam. Itu artinya, lokasi Butei Killer menjalankan aksi selanjutnya ada di laut."


"Lalu pada kalimat kedua, ada kata pesta. Yang artinya, Butei Killer akan menjalankan aksinya pada sebuah acara yang dilaksanakan di laut."


"Dan Butei Killer, selalu mengincar atau menggunakan alat transportasi dalam menjalankan kejahatannya."


"Dari petunjuk ini, aku mendeduksi bahwa Butei Killer akan melakukannya di atas sebuah kapal berukuran besar yang dapat menampung sebuah pesta."


"Selain itu, dalam SMS disebutkan bahwa kembang api ini mekar di malam hari. Jadi kita hanya perlu mencari informasi adanya pesta di atas kapal yang dilaksanakan pada malam hari."


"Dengan begitu, kita dapat mengunci lokasi dan waktu Butei Killer akan melakukan aksinya."


"Benarkah? Jadi itu alasanmu memutuskan untuk langsung kembali ke asrama?" tanya Aria.


"Bagaimanapun juga, teka-teki seperti ini terlalu mudah untuk dipahami. Jadi kita nggak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa jasa Inquesta dan Connect membantu kita."


"Selain itu, sang pelaku menyebutkan bahwa dia mengundang partner dari cicit detektif terkenal. Bukankah ini adalah provokasi?" jawab Ryan yang masih mencari informasi di internet.


"Kamu benar-benar kekanak-kanakan." Aria memandang Ryan dengan penuh senyuman. "Tapi, aku tidak membencinya."


Tak lama kemudian, Ryan menemukan informasi yang ia butuhkan. "Aria!"


Mendengar namanya dipanggil, Aria langsung duduk di samping Ryan dan melihat ke layar laptop.


Dalam sebuah halaman web portal berita, ada sebuah berita mengenai adanya pesta dansa.


"Kapal Tanker berukuran besar, Ocean Cradle, telah selesai dibangun dan akan mulai beroperasi dalam waktu dekat."


"Untuk itu, perusahaan pemilik Ocean Cradle akan menyelenggarakan pesta dansa dalam rangka peresmian Ocean Craddle di atas kapal tersebut."


"Pesta dansa ini akan diselenggarakan pada 18 April. Saat itu, semua perusahaan besar di Pulau Akademi akan diundang untuk berpartisipasi."


Melihat berita ini, Ryan dan Aria saling memandang.


"Selain pesta dansa ini, tidak ada acara serupa dalam waktu dekat ini. Ditambah dengan lokasinya yang berada di pelabuhan Pulau Akademi, sudah jelas sang pelaku mengundang kita ke pesta ini." jelas Ryan.


"Jadi, bagaimana menurutmu?"


"Kamu tidak perlu menanyakannya lagi, Ryan. Kita terima tantangannya!" jawab Aria dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2