
Saat Ryan bangun, ia merasa seluruh tubuhnya sangat lemah. Tak hanya lemah fisik, tapi juga rasa lemah pada jiwanya.
Ketidakberdayaan ini membuat Ryan tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri. selain itu, tubuhnya juga terasa sangat lelah dan mengantuk.
"Apakah ini efek samping dari penggunaan Stigma? Tapi hal ini wajar untuk Kemampuan (Skill) kuat seperti Stigma."
"Lagi pula, beban pada tubuh fisik akan hilang saat aku bertambah kuat. Aku juga bisa mengatasinya dengan menggunakan ramuan ataupun kue kering."
"Yang menjadi masalah, bagaimana caranya aku bisa memulihkan beban yang ada pada jiwaku?"
"Sejauh ini, aku belum pernah melihat adanya Barang (Item) yang dapat memulihkan jiwa. Tapi aku yakin, di Reincarnation Room, pasti ada Barang (Item) yang bisa digunakan untuk memulihkan jiwa."
"Setidaknya, Kemampuan (Skill) Stigma memang pantas aku gunakan sebagai kartu As."
"Walau begitu, aku masih sangat lemah. Jika saja aku tidak berhasil mendapatkan Kemampuan (Skill) Flashing Dash (Sensō) dan Flashing Sheath (Sensa), aku nggak akan bisa mengalahkan Dyaus Pita (Heavenly Father)."
"Sepertinya setelah ini, aku harus kembali berlatih di rumah pelatihan Reincarnation Room untuk meningkatkan Kemampuanku."
Setelah Ryan selesai memikirkan langkah untuk ke depannya, Ryan mulai melihat ke sekelilingnya. Kini ia berada di sebuah ruangan berukuran 4x4 yang hampir runtuh. Terlihat dinding dan atap yang penuh lubang serta retakan.
Saat Ryan menengok ke kanan, ia cukup terkejut dengan pemandangan yang ada di sana. Tepat di sisi kanan Ryan, terbaring seorang wanita cantik yang terlihat sangat kelelahan.
Di tangan Alisa, ada sebuah sapu tangan yang penuh dengan noda darah. Tapi anehnya, tubuh Alisa masih terlihat kotor dan banyak bercak darah di sekitar mulutnya.
Ryan kemudian mencoba melihat tubuhnya. Ternyata, tubuhnya kini telah bersih dari noda darah. "Jadi begitu, selama aku pingsan, ia terus merawatku."
“Jujur saja, aku nggak menyangka Alisa bakal merawatku sampai seperti ini.”
“Dalam rencanaku, saat aku pingsan, Alisa hanya akan membawa tubuhku ke tempat yang aman dan menjagaku sebagai bayaran karena telah melindunginya saat Dyaus Pita (Heavenly Father) akan membunuhnya.”
“Tapi, hal yang dilakukannya kali ini benar-benar tidak sesuai dengan karakternya, aneh sekali …”
Walau Ryan masih curiga atas motif Alisa yang mau merawatnya, Ryan tetap merasa berterima kasih padanya.
Ryan lalu mengeluarkan senyuman hangat sambil membelai rambut Alisa. “Terima kasih …”
“Hoaam~” Alisa tiba-tiba menguap dan membuka matanya.
Ketika ia membuka matanya, Alisa melihat Ryan telah duduk dan sedang membelai rambutnya dengan lembut. Senyuman hangat di wajah Ryan membuat hati Alisa berdegup kencang.
__ADS_1
Deg Deg Deg Deg
‘Apa yang terjadi padaku? Apa aku sedang sakit?’ gumam Alisa.
“Ah, maaf … sepertinya aku membangunkanmu.” ucap Ryan yang telah menarik kembali tangannya.
“A-aku tidak apa-apa. Yang lebih penting lagi, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Alisa dengan penuh kecemasan.
“Tenang saja, aku baik-baik saja kok. Aku hanya perlu beristirahat sebentar untuk memulihkan sedikit kekuatanku.”
“Syukurlah …”
Melihat ekspresi Alisa yang tampak gembira dan lega, Ryan jadi sedikit terkejut. ‘Apakah orang di depanku ini benar-benar Alisa? Setahuku, Alisa tidak pernah memperlihatkan emosinya! Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pingsan!?’
Setelah mengetahui kondisi Ryan, Alisa kembali ke mode dinginnya. Seakan, ekspresi yang ia perlihatkan tadi hanyalah ilusi.
Untuk sesaat, suasana canggung menyeruak di antara Ryan dan Alisa.
Tidak tahan dengan suasana canggung ini, Ryan bertanya pada Alisa. "Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Seharusnya tidak sampai satu hari, karena aku membawamu ke sini semalam." jawab Alisa dengan suara rendah. Dengan kata lain, Alisa merawat Ryan semalaman.
“Lalu, apa yang terjadi pada Dyaus Pita (Heavenly Father)?”
Pertanyaan Ryan membuat Alisa curiga. Kalau seandainya Ryan masih sadar, maka seharusnya, Ryan dapat melihat kaburnya Dyaus Pita (Heavenly Father). ‘Mungkinkah perkataan terakhir Ryan saat itu hanya gertakan?’
Melihat ekspresi Alisa, Ryan dapat menebak isi pikiran Alisa. “Jujur saja, saat itu aku telah mencapai batas.”
“Akan tetapi, aku masih bisa melancarkan satu serangan terakhir. Jadi, seandainya Dyaus Pita (Heavenly Father) memilih untuk menyerangku, maka akan ku gunakan seluruh kekuatan terakhirku untuk menebasnya!”
Ryan lalu tersenyum, namun matanya terlihat sangat serius dan penuh kebencian. “Walau aku bersyukur dia lebih memilih untuk kabur daripada terus menyerangku, namun jika kita bertemu lagi, akan ku pastikan aku membunuhnya!”
Mendengar kalimat terakhir Ryan, ekspresi Alisa menjadi lebih rumit.
“Kenapa?" Ryan memandangi tatapan rumit Alisa dan berkata, "Apa kamu nggak rela kalau aku mencuri mangsamu?"
"Mangsa?" Alisa tidak kuasa menertawakan dirinya sendiri, "Aku sama sekali bukan tandingan Dyaus Pita (Heavenly Father). Bagaimana mungkin aku menyebutnya sebagai mangsa. Yang ada, malah aku yang menjadi mangsanya …"
Alisa terlihat sangat kecewa dengan kekuatan yang ia miliki sekarang. Ia lalu menundukkan kepalanya sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dalam benaknya, ingatan mengenai kedua orang tuanya dilahap oleh Dyaus Pita (Heavenly Father) kembali tampil.
__ADS_1
Dengan lembut, Ryan memegang kedua tangan Alisa. “Aku yakin kamu bisa menjadi lebih kuat dari sekarang. Jadi, jangan takut akan kelemahanmu. Kamu harus berani menghadapinya.”
Kali ini, kata-kata Ryan benar-benar merasuk ke dalam hati Alisa.
“Aku akan memberitahumu sesuatu … di dunia ini, nggak ada yang nggak bisa aku bunuh …”
"Jadi, jika kamu benar-benar merasa takut, jangan khawatir … ketakutanmu itu, aku akan membunuhnya!"
"Setelah itu, yang perlu kamu lakukan hanyalah terus maju untuk menggapai tujuanmu."
"Percayalah padaku, kamu bisa mengandalkanku …."
Mendengar ucapan Ryan, Alisa benar-benar terkejut. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan memandang Ryan dengan mata penuh kehidupan.
Kesedihan dan ketakutan dalam diri Alisa bertahap mulai menghilang.
Alisa lalu membalas genggaman tangan Ryan. Mereka berdua kini saling bergenggaman tangan. Tidak ada lagi ekspresi dingin dan cuek di wajah Alisa.
Suasana canggung di antara Ryan dan Alisa pun berangsur-angsur berubah menjadi hangat.
Selama setengah hari, mereka berdua saling mengobrol. Tapi tentu saja, Ryan lah yang paling banyak berbicara. Sementara Alisa menjadi pendengar yang baik. Beberapa kali, Alisa juga bercerita mengenaI masa kecilnya.
Tanpa terasa, langit dengan cepat kembali menjadi gelap. Gemerlap bintang-bintang di langit mulai bermunculan menemani sang rembulan.
Di ruang terbuka yang dikelilingi oleh reruntuhan bangunan besar yang ditinggalkan, kegelapan menyelimuti bumi. Namun, tidak ada cara untuk menyembunyikan bercak darah yang telah mengering di tanah.
Ketiga mayat Vajra yang pada malam sebelumnya tergeletak di antara reruntuhan itu, kini telah dimakan habis oleh Aragami lainnya.
Namun, sekelompok Aragami yang berkumpul di sini sebelumnya, belum sepenuhnya pergi. Terlihat sejumlah besar Ogretail masih berkeliaran di reruntuhan tersebut.
Selain Ogretail, ada sosok Aragami setinggi 2 meter yang sedang berdiri di depan Helikopter.
Sosok Aragami itu memiliki postur tubuh yang mirip dengan manusia. Akan tetapi, ia memiliki sepasang sayap besi yang bergabung dengan lengannya.
Di sudut reruntuhan, di samping rumah besar yang telah ditinggalkan, Ryan dan Alisa bersembunyi di balik kegelapan malam sambil terus mengawasi Aragami-Aragami yang berkeliaran di sekitar Helikopter.
"Apakah itu Chi-You?" tanya Ryan sambil melihat ke arah Aragami bersayap besi itu.
__ADS_1
Alisa menganggukkan kepalanya pada Ryan.
Setelah memastikan identitas Aragami asing itu, Ryan mulai tersenyum menyeringai. "Kalau begitu, saatnya memulai pembantaian …"