Reincarnation Room

Reincarnation Room
Bertemu Sylvia


__ADS_3

Kota Akademi Asterisk, Distrik Pembangunan Kembali.


Di ruang terbuka yang dikelilingi oleh bangunan terbengkalai, sosok Ryan berangsur-angsur muncul dari sudut gang.


"Untungnya, aku masih ingat cara untuk datang ke sini …"


Ryan lalu melihat sekeliling sampai setelah beberapa saat, matanya berhenti pada suatu arah.


"Lama tidak bertemu, Ryan-san."


Ryan melihat, di atas sebuah dinding, ada seorang gadis mengenakan blus dan celana jeans, serta topi di kepalanya. 


Gadis itu memiliki rambut berwarna kastanye panjang terurai. Tidak diragukan lagi, gadis itu adalah Sylvia. 


Penampilan Sylvia masih tetap sama seperti saat pertama kali bertemu. Kini ia sedang duduk di atas dinding sambil bersenandung dan mengayunkan kakinya.


Suara Sylvia sangatlah merdu, membuat siapapun yang mendengarnya mabuk seperti minum anggur.


Ryan sendiri yakin bahwa di dunia ini, tidak ada lagi suara yang indah selain suara Sylvia.


Hal ini membuat jantung Ryan berdegup kencang. Ini adalah kedua kalinya ia seperti ini. Yang pertama terjadi adalah saat ia bertemu Rea untuk pertama kalinya.


'Apa yang terjadi padaku? Tidak biasanya aku seperti ini.'


'Apakah aku sedang jatuh cinta? Ini tidak mungkin!'


Ryan memang memiliki banyak pacar, tapi ia sendiri tidak pernah benar-benar jatuh cinta, kecuali pada Rea.


Mereka semua bagi Ryan hanya sebuah alat untuk mengisi kekosongan hati Ryan agar ia tidak menjadi pembunuh berdarah dingin yang diakibatkan oleh efek Mystic Eye of Death Perception.


Tanpa mereka, Ryan tidak akan memiliki emosi seperti sekarang ini.


Ryan lalu memendam semua perasaan itu dan bertingkah normal. Ia kemudian menyeringai dan berkata, "Sigrdrifa yang terkenal itu ternyata memiliki hobi yang aneh."


"Jika para penggemarmu tahu bahwa kamu sering berkeliaran di sini, aku yakin tempat ini akan rata dengan tanah."


Mendengar ini, Sylvia tersenyum. "Maka dari itu aku menyamar, hehehe …"


Harus dikatakan bahwa penyamaran Sylvia dapat dijelaskan dengan hampir sempurna.


Rambut ungu yang cantik berubah menjadi warna kastanye yang biasa-biasa saja.

__ADS_1


Wajah yang sangat menawan itu dibayangi oleh topi.


Blus biasa, celana jeans biasa, yang dikenakan di tubuh Sylvia, sebenarnya membuat auranya menjadi seperti seorang gadis sederhana.


Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa gadis sederhana itu adalah Sylvia.


"Tapi jika perlu, aku bisa melepaskan penyamaran ini." ucap Sylvia dengan tenang.


"Itu nggak perlu. Jika mereka melihatmu di sini berdua dengan seorang pria, aku yakin mereka pasti marah. Apalagi Kakak Senior Zhao, dia pasti ingin membunuhku!" Ryan tidak bisa menahan senyum membayangkan hal itu.


"Aku sangat berterima kasih atas dukungan yang orang-orang berikan. Tapi itu tidak berarti kebebasanku bisa dibatasi kan?" 


Sylvia tersenyum dan berkata, "Aku hanya ingin menyanyi."


Dengan kata lain, Sylvia tidak memiliki keterikatan sedikit pun dengan status dan popularitasnya saat ini.


Namun, justru karena hal ini, Sylvia memiliki karisma yang luar biasa, yang tanpa disadari membuat orang-orang tertarik padanya.


Dalam hal ini, Ryan hanya tersenyum dan bersandar di dinding.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menyanyikan sebuah lagu untukku? Anggap saja ini adalah hadiah."


"Lagipula, dapat mendengar suara surga secara langsung, ini akan menjadi momen terbaik dalam hidupku."


"Kamu memang pria yang menarik."


Setelah itu, sebuah nyanyian merdu nan indah mulai bergema di reruntuhan gedung


Duduk di atas dinding, Sylvia menggoyangkan sepasang kaki kecilnya dan mengetuk irama sambil menyenandungkan lagu kecil.


Sylvia hanya bernyanyi dengan suara kecil. Namun karena begitu indahnya, suara Sylvia itu mampu merasuk dan menyentuh hati.


Tidak lama kemudian Sylvia akhirnya berhenti.


"Ini adalah sepotong lagu dari lagu baru yang sedang dibuat. Belum ada yang mendengarnya selain kamu."


Sylvia lalu melompat turun dari dinding dan melihat ke arah Ryan.


"Jadi, Ryan-san, karena aku sudah memberikanmu hadiah, bisakah kamu membantuku?"


~***~

__ADS_1


Cuaca hari ini sangat bagus.


Matahari bersinar di langit, menyinari setiap sudut Kota Akademi Asterisk.


Walau begitu, suhu udara di sini tidak terlalu panas, memberi orang perasaan hangat dan sangat cocok untuk bermain di luar.


Saat cuaca bagus, suasana hati orang akan menjadi lebih baik.


Jadi, setelah keluar dari Distrik Pembangunan Kembali, Sylvia diam-diam bersenandung sambil berjalan dan melihat sekeliling, seperti seorang gadis yang benar-benar keluar untuk bermain.


Selain itu, apa yang dilakukan Sylvia kali ini, dapat membuat siapapun di dunia ini iri pada Ryan.


Alasannya adalah Sylvia mengandeng lengan Ryan, seakan-akan mereka sedang berpacaran.


Dari sudut pandang orang lain, Ryan dan Sylvia hanyalah sepasang kekasih yang sedang berkencan.


Walau terlihat seperti itu, Ryan merasa Sylvia selalu menjaga jaraknya, hingga tubuh mereka tidak benar-benar menempel.


Jika itu Riko, tidak diragukan lagi dia akan membenamkan lengan Ryan ke dadanya.


Ryan sadar bahwa hubungannya dengan Sylvia masih belum begitu dekat. Bisa saja ia memaksa Sylvia untuk lebih dekat dan intim, tapi dengan watak Sylvia, itu hanya akan menjadi blunder.


"Kalau kamu nggak suka melakukan hal ini, nggak perlu dipaksa. Aku jadi merasa tidak enak." ucap Ryan.


Mendengar hal ini, Sylvia menatap Ryan sambil tersenyum. "Kamu berani bilang seperti itu setelah apa yang kamu lakukan padaku malam itu? Aku tahu kamu dengan sengaja menyentuh dada dan pinggangku dengan dalih melindungiku dari para preman."


Ryan pun hanya bisa tersenyum dan menggaruk hidungnya. Ia tak menyangka Sylvia cukup peka juga.


"Lagipula, aku melakukan hal ini karena aku ingin lebih dekat denganmu. Cukup tidak sopan jika aku meminta bantuanmu, tapi hubungan kita tidak terlalu dekat." lanjut Sylvia.


Ryan sendiri masih bingung dengan tujuan asli Sylvia. Karena sejak selesai menyanyi tadi, tiba-tiba dia menarik lengan Ryan dan membawanya ke kawasan bisnis.


"Apakah kamu sedang terburu-buru?" Sylvia memiringkan kepalanya dan tersenyum pada Ryan, "Aku tahu bahwa kamu selalu berlatih setiap hari sejak datang ke Jie Long. Bahkan kamu tidak punya hobi lain selain berlatih."


"Haah~ aku nggak tahu kamu telah menyelidiki sampai sejauh ini. Apakah kamu stalker?" Ryan menghela nafas.


"Bukan begitu. Sebagai Ketua OSIS Queenvail, informasi-informasi seperti ini bisa aku dapatkan dengan mudah tanpa harus menyelidiki." Sylvia tidak menyembunyikan apapun.


"Seperti informasi bahwa kamu telah mendapatkan Seraph dan juga telah mendaftar di Phoenix Festa. Ada banyak organisasi rahasia yang telah menyelidikimu. Mereka pun telah menyebarkan informasi tersebut ke berbagai pihak."


"Bahkan mereka tahu bahwa aku telah mendaftar Phoenix Festa?" Ryan mengangkat alisnya dan berkata, "kalau begitu, apakah tidak masalah jika kita bertemu seperti ini?"

__ADS_1


"Tenang saja." Sylvia tersenyum. "Aku tidak mengikuti Phoenix Festa,jadi aku tidak akan menjadi lawanmu."


"Tapi kamu pasti memiliki orang yang mewakili Akademi Putri Queenvail. Apa kamu tidak ingin sekolahmu menang? Atau apakah sekolahmu mengizinkan Ketua OSIS-nya menghubungi lawan dari sekolah lain?" tanya Ryan.


__ADS_2