Reincarnation Room

Reincarnation Room
Pembalasan


__ADS_3

“Hoam~” Ryan bangun dengan rambut acak-acakan yang berkibar-kibar terkena hembusan angin kencang di atas gerbong kereta. Cahaya bulan menyinari wajah Ryan yang masih mengantuk.


“Aku nggak nyangka mereka sama sekali nggak mengecek atap kereta. Tapi dengan begitu, aku jadi bisa beristirahat dengan tenang.” gumam Ryan. Saat Ryan melihat lukanya, ternyata luka yang diakibatkan oleh serangan Biba sudah sembuh.


“Sistem, tinggal berapa lama lagi waktu yang tersisa untukku?”


Ding


[Reincarnator dengan nomor serial 124.888 hanya memiliki waktu kurang dari 1 jam untuk tinggal di dunia Kabaneri The Iron Fortress]


“Tunggu, kurang dari 1 jam? Bukankah itu artinya aku telah tidur selama hampir 2 hari? Pantas saja lukaku sudah sembuh.”


“Baiklah, karena aku nggak punya banyak waktu, aku harus menyelesaikan semua urusanku di sini secepatnya. Biba, tunggulah aku!” Rian kemudian berdiri dengan kemeja penuh darah yang sudah compang-camping. Warna mata Ryan berubah menjadi sebiru es, menandakan aktifnya Mystic Eye of Death Perception.


“Mari kita mulai!”


~***~


Setelah insiden yang disebabkan Ryan, kini para Hunter dalam kondisi waspada. Mereka selalu berpatroli secara berpasangan. Mereka akan berkeliling dari gerbong ke gerbong. 


Pada salah satu gerbong, ada dua orang Hunter yang sedang berpatroli. Mereka mengisi kebosanan dengan saling mengobrol. “Aku heran, bagaimana mungkin orang asing sepertinya bisa seberbahaya ini …”


“Makanya aku juga heran. Tidak hanya meninggalkan luka permanen pada Biba-sama, namun juga membunuh 20 Hunter lainnya!”


“Orang seberbahaya itu masih berkeliaran bebas di Kokujou, ini benar-benar membuatku tidak bisa tidur tenang. Bayangkan saja, ketika kita tidur, tiba-tiba kepala kita lepas …”


“Iya, aku jadi terus bermimpi buruk dalam 2 hari ini …”


Saat kedua orang itu membalikkan badan membelakangi pintu gerbong, perlahan pintu tersebut terbuka. Saat itu lah, sang Dewa Kematian memulai pembantaiannya.


Slash


Kepala milik salah satu Hunter yang sedang mengobrol menggelinding di atas lantai gerbong. Darahnya menyembur keluar bak air mancur mengenai Hunter yang ada di sebelahnya. Hunter tersebut pun membeku tidak bergerak melihat kepala temannya terpenggal dengan sangat rapi. Mental Hunter tersebut langsung jatuh. 


Belum sempat berteriak, Ryan langsung menutup mulut Hunter tersebut.


Slash

__ADS_1


Pisau di tangan Ryan memotong bagian depan leher Hunter tersebut. Seketika itu juga, tubuh Hunter tersebut lemas dan roboh menemani temannya yang sudah terkapar di atas lantai. Setelah itu, figur Ryan kembali menghilang dalam kegelapan. Tanpa suara, ia berjalan menuju gerbong selanjutnya.


Tak lama kemudian, sepasang Hunter yang berpatroli dari gerbong lain menemukan kedua jasad Hunter tanpa kepala tergeletak di lantai. Melihat ini, salah satu Hunter berteriak. “Musuh telah datang!”


Mendengar teriakan itu, semua Hunter dalam Kokujou langsung bergerak.


“Cepat! Segera tangkap Ryan!”


“Akhirnya dia keluar juga. Ayo bunuh dia!”


Satu persatu Hunter masuk ke gerbong tempat jasad tersebut ditemukan. Karena Ryan sudah tidak lagi di situ lagi, mereka pun bergegas ke gerbong selanjutnya. Namun saat mereka membuka gerbong selanjutnya, mereka lagi-lagi menemukan 2 jasad Hunter dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Terlihat kematian mereka seperti tanpa perlawanan. Ekspresi wajah yang ditunjukkan jasad tersebut juga seakan mereka sedang terkejut saat Dewa Kematian menghampiri mereka. 


“Dewa Kematian!” gumam salah seorang Hunter. Mendengar ucapannya, para samurai mulai bergetar ketakutan.


“Ki-kita harus segera menemukannya! Jika tidak, kita semua akan bernasib sama dengan mereka!” teriak salah satu Hunter sambil menunjuk ke arah 2 jasad tanpa kepala.


Para Hunter itu kemudian bergerak maju melangkahi jasad rekannya tersebut. Yang ada dipikiran mereka kini adalah sesegera mungkin menemukan Ryan. Jika tidak, maka merekalah yang akan menjadi mayat tanpa kepala berikutnya.


“Tembak!” Semuar Hunter yang ada dalam gerbong tersebut langsung menekan pelatuknya.


Dor Dor Dor Dor


Melihat hujan peluru yang datang, Ryan melempar salah satu jasad Hunter di kakinya. Peluru-peluru tersebut pun menghujani jasad tanpa kepala itu.


Menggunakan atribut AGI yang tinggi, Ryan dengan lihainya berpijak pada dinding gerbong dan berlari di atasnya. Bagaikan kilat, Ryan muncul di belakang para Hunter tersebut. Pisau di tangannya pun menjelma menjadi taring putih kebiruan yang memotong leher para Hunter


Croot Croot Croot


Setelah membunuh 3 Hunter sekaligus, Ryan mulai mengincar Hunter lainnya. Saat ini, Ryan bagaikan serigala di antara kawanan hewan ternak. Ia terus menerjang satu demi satu Hunter yang ada. Satu persatu Hunter pun mati di tangannya.


Setelah Ryan membunuh semua Hunter yang menyerangnya, tiba-tiba datang 20 Hunter lain dari gerbong belakang. Mereka pun takjub melihat begitu banyaknya jasad tanpa kepala. 


"Ini gila!"


"Bagaimana mungkin Ryan membunuh orang sebanyak ini!?"

__ADS_1


"Brengsek kau!" Salah seorang Hunter terlihat emosi melihat temannya telah tewas. Ia langsung membidik Ryan dan menembaknya.


Dor Dor Dor


Melihat temannya mulai menembak, 19 Hunter lainnya pun ikut menembaki Ryan. Melihat begitu banyaknya orang yang menembaknya, Ryan malah tersenyum menyeringai. 


'Hahahaha … bagus! Semua berjalan sesuai rencana' Ryan kemudian lari menuju gerbong berikutnya. 


Ryan bergerak secara zig-zag, ke kanan dan ke kiri dengan cepat untuk menghindari hujan peluru. Tak pelak, beberapa peluru berhasil menggores tubuhnya. Walau begitu, Ia terus berlari hingga akhirnya ia tiba di depan pintu gerbong berikutnya. Gerbong yang ada di depan Ryan terlihat sangat berbeda. Bahkan pintu gerbongnya saja terlihat lebih tebal. 


Ryan kemudian membuka pintu tersebut dan langsung menutupnya ketika ia telah masuk


Clang Clang Clang


Suara peluru menghantam pintu besi ini pun terus terdengar berirama. Namun Ryan sama sekali tidak memperdulikannya. Yang ia pedulikan hanyalah tempat ia berada kini.


"Hahahaha … sudah ku duga tempatnya ada di sini!"  Di dalam gerbong ysng gelap ini, terdapat banyak kandang berjeruji besi berisi kabane. Melihat kedatangan Ryan, mereka mulai gaduh. Beberapa di antaranya mengulurkan tangannya ke luar jeruji dan berusaha menangkap Ryan.


"Graa"


"Graa"


Semua kabane pada gerbong itu adalah milik Biba. Ia menangkap kabane-kabsne ini hidup-hidup untuk penelitiannya. Selain untuk penelitian, Biba juga mempersiapkan kabane-kabane tersebut untuk menyerang Kongoukaku.


Di luar gerbong khusus itu, para Hunter telah menghentikan tembakan mereka. Kini mereka semua berkumpul di depan pintu besi tempat Ryan mengurung diri. Mereka semua berusaha untuk membuka pintu besi itu. Namun Ryan telah menguncinya dari dalam.


Tiba-tiba, dari dalam gerbong khusus tersebut, terdengar suara Ryan berteriak. "Aku dengar bahwa kalian para Hunter sangat ahli dalam membasmi kabane? Maka dari itu, biarkan aku mengetes kemampuan kalian semua!"


"Mengetes? Apa yang dibicarakannya?" Para Hunter tersebut bingung dengan ucapan Ryan. 


Saat mereka sedang berpikir, salah satu Hunter akhirnya sadar mengenai isi dari gerbong tersebut. "Sial! Itu gerbong tempat kita mengurung Kabane!" 


Tiba-tiba saja, pintu gerbong itu terbuka. Dari dalam gerbong, Ryan menerjang keluar dari dalam gerbong dan langsung melompati para Hunter. Di saat yang sama, bagaikan air bah yang membanjiri daratan, ratusan kabane menyeruak keluar dari gerbong tersebut. 


"Graa"


"Graa"

__ADS_1


__ADS_2