
"Oooooooooooooooh!!"
Melihat pertarungan sengit ini, emosi semua penonton tersulut. Sorak-sorai pun terdengar sangat keras.
Bahkan kedua komentator juga ikut bersemangat di tengah gelombang sorakan yang bergema di Sirius Dome.
“Penonton sekalian! Hari ini, di depan mata kepala kita sendiri, telah hadir konfrontasi paling sengit sejak dimulai Phoenix Festa musim ini! Tarian pedang yang memukau, serta teknik belati yang belum pernah muncul dalam sejarah Festa, ini benar-benar babak final paling menarik yang pernah ada!”
“Itu benar. Baik permainan tajam belati Ryan ataupun Teknik Pedang milik keluarga Amagiri, kedua hal tersebut dimainkan dengan tingkat yang sangat tinggi. Ini adalah pertandingan yang sangat menarik. Kalau bisa, aku ingin sekali menyemangati kedua peserta tersebut.!”
“Aku jadi penasaran, siapa yang akan memenangkan Phoenix Festa kali ini?”
“Kedua belah pihak sama-sama kuat dan menarik. Bagiku, tidak penting siapa yang menang atau kalah saat ini. Mereka berdua telah memainkan pertarungan yang sangat hebat.”
Para penonton juga berpendapat sama. Tidak masalah siapa yang menang atau kalah dalam pertandingan ini. Siapapun yang kalah, para penonton tetap akan menyemangatinya karena telah menyajikan tontonan yang sangat seru dan menarik.
Perseteruan antara Ryan dan Ayato membuat rekan mereka, Cecily Wong dan Saya menjadi terabaikan.
Seakan saling memahami, Cecily Wong dan Saya menghentikan konfrontasi mereka dan sama-sama melihat pertarungan sengit Ryan dan Ayato dengan hati yang berdegup kencang penuh semangat.
Sementara itu, Ryan mulai menikmati pertarungan ini. Pada awalnya, ia merasa dirugikan oleh Dewa Pencipta Reincarnation Room atas banyaknya limitasi yang diberikan. Ryan harus bisa mengalahkan Ayato tanpa menggunakan Mystic Eye of Death Perception dan Stigma.
Padahal, Ayato yang telah melepaskan semua segel telah melampaui Ryan dalam hal kekuatan murni. Walau begitu, lama-kelamaan, Ryan mulai merasa tertantang. Senyum menyeringai mulai tercetak di wajahnya.
‘Secara kekuatan, aku kalah jauh darinya. Tapi secara kecepatan, aku nggak akan kalah!’
Dengan pemikiran seperti itu, Ryan berencana memanfaatkan kecepatannya untuk mengalahkan Ayato. Tapi, bukan kecepatan gerak yang akan dimanfaatkan Ryan, melainkan kecepatan serang.
Alasannya sederhana, karena kecepatan gerak Ayato hampir setara dengan kecepatan Ryan. Ditambah dengan insting yang menakutkan, Ayato dapat bereaksi dalam setiap serangan mendadak Ryan.
Oleh karena itu, Ryan cuma bisa mempertaruhkan segalanya untuk menyerang.
‘Untuk bisa mengalahkannya, aku harus menyerangnya secara konstan. Aku harus bisa membuat Ayato hanya bisa menangkis seranganku dan tidak bisa menyerangku balik!’
‘Untuk bisa melakukan semua itu, aku harus bisa menyerang Ayato dengan cepat!’
Dengan pikiran seperti itu, Ryan terus berteriak dalam benaknya sembari melancarkan serangan cepat bertubi-tubi dan tersenyum seperti maniak.
‘Cepat!’
‘Lebih cepat!’
‘Lebih cepat Lagi!’
‘Aku ingin lebih cepat!’
Dengan obsesi seperti itu, Ryan terus menggunakan belatinya.
‘Semua yang kumiliki sekarang …’
‘Semua yang telah aku pelajari sekarang …’
‘Akan aku gunakan semua itu dalam satu serangan ini!’
Pada saat berikutnya, kilatan cahaya belati yang tak terhitung jumlahnya menyatu menjadi satu.
"Flashing Seath: Seven Nights (Sensa: Shichiya)!"
Belati putih murni di tangan Ryan menyala terang dan meluncur ke depan bagaikan sinar laser yang menembus ruang.
Belati itu membawa perasaan ringan, dingin, dan juga tajam.
Di hadapan cahaya belati ini, mata Ayato berkedip. Prana yang sangat kuat tiba-tiba meledak dari tubuhnya, menimbulkan badai partikel cahaya bintang yang intens.
Dengan segera, Ayato mengayunkan Ser-Veresta secara horizontal seperti bulan sabit.
Ini adalah salah satu Teknik Pedang Amagiri Shinmeiryuu yang dirancang untuk memotong lawan tanpa henti di medan pertempuran, dan namanya adalah …
__ADS_1
"Amagiri Shinmeiryuu Tingkat Atas: Shurazuki!"
Di satu sisi adalah cahaya laser yang dingin, sementara di sisi lainnya adalah busur bulan sabit segelap gerhana.
Ryan dan Ayato saling berpapasan sembari saling menjatuhkan serangan pamungkas ke tubuh mereka pada saat yang bersamaan.
Slash
Suara tebasan dan tusukan kedua Orga Lux bergabung menjadi satu dan menciptakan suara tajam yang menggema ke seluruh Sirius Dome.
Aksi Ryan dan Ayato ini mengundang keheningan yang teramat sangat di stadion, seakan semua sorakan tadi hanyalah mimpi.
Saat ini, mata semua penonton tertuju pada arena yang berada di tengah stadion. Wajah mereka menunjukkan ketegangan.
Bahkan Cecily Wong dan Saya membulatkan mata mereka dan menatap lurus ke depan.
Di sana, Ryan dan Ayato berdiri saling membelakangi sambil tetap mempertahan postur menyerang. Kepala mereka berdua sama-sama menunduk, sehingga tidak ada yang bisa melihat ekspresi Ryan dan Ayato.
Dalam keadaan seperti itu, keheningan yang tak terlukiskan telah merasuki seluruh arena, menyebabkan ketegangan mulai meresap.
Hingga akhirnya, salah satu penonton tanpa sadar menelan ludahnya.
Glup
Suara menelan tersebut sangat ringan. Akan tetapi, keheningan yang menyeruak di stadion, menyebabkan suara sekecil itu sangat menusuk telinga.
Bersamaan dengan suara seperti itu, kedua sosok yang saling berhadapan di atas arena akhirnya bergerak.
Tees Tees Tees
Suara darah yang menetes terdengar kecil di arena.
Semua orang pun tercengang, melihat bagian dada Ryan memiliki luka tebasan yang cukup besar. Seragam merah muda yang ia kenakan, kini menjadi berwarna merah tua.
Weeng
Perlahan, rasa sakit mulai menghantam pikirannya, dan membuat Ryan berlutut dengan satu kaki. Wajahnya terlihat sangat pucat, napasnya pun juga tersengal-sengal.
Situasi tragis ini membuat warna kulit Cecily Wong memucat.
Sementara Ayato, tanpa menoleh ke belakang, ia sepertinya tahu dengan apa yang terjadi pada Ryan. Dengan nada tak berdaya, Ayato berkata, "Kamu benar-benar gila."
Alasan Ayato berkata seperti ini, karena target tebasan Ser-Veresta tadi adalah lencana sekolah Ryan. Jadi seharusnya sangat mustahil Ryan akan menderita luka yang begitu berat.
Akan tetapi, Ryan telah menebak target serangan Ayato. Jadi, ketika Ser-Veresta akan menyentuh lencana sekolahnya, Ryan langsung mengorbankan tubuhnya untuk untuk melindungi lencana sekolahnya.
Hal ini adalah sesuatu yang Ayato tidak pernah pikirkan.
"Ini hanyalah permainan. Kamu terlalu serius."
Ayato lalu tersenyum kecut dan berkata dengan penuh kekaguman dalam suaranya. "Tapi, tekadmu … aku menerimanya."
Setidaknya, pada serangan terakhir, tekad Ryan jauh melebihi tekad Ayato.
Ryan bertekad memenangkan pertandingan sampai-sampai rela mengorbankan tubuhnya sendiri untuk meraih kemenangan.
Jelas, perbedaan tekad ini telah menjadi penentu dalam pertandingan ini.
Kratak
Suara retakan mendadak terdengar dari tubuh Ayato. Itu adalah suara retakan lencana sekolah yang terpotong sangat rapi.
Lencana sekolah Ayato jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara tajam. Segera setelah itu, suara pengumuman mekanis terdengar.
"Amagiri Ayato, lencana sekolah rusak."
Setelah suara pengumuman terdengar, para penonton masih saja duduk terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Hanya Ryan, yang masih bernapas berat, dengan kekuatan terakhirnya, berdiri sambil menunjuk Seraph yang telah nonaktif ke arah Saya dan berkata dengan suara rendah, "Hei, apakah kamu berencana untuk terus bertanding?"
Saya bereaksi terhadap pertanyaan ini dan menatap Ayato yang tersenyum lebar. Setelah terdiam beberapa saat, ia kehilangan minat dan menjawab tanpa emosi, "Aku menyerah."
Kedua kata itu jelas bergema di atas arena.
Setelah beberapa saat kemudian, suara mekanik terdengar lagi.
"Sasamiya Saya, memilih menyerah."
"Permainan selesai. Pemenangnya, Ryan Herlambang × Cecily Wong."
Ketika suara mekanik tersebut bergema di seluruh stadion, semua penonton langsung berdiri dan bertepuk tangan.
Plak Plak Plak Plak
Berbagai pujian dilontarkan oleh penonton, membuat stadion menjadi sangat riuh.
"Akhirnya … akhirnya kita telah mendapat pemenangnya! Juara Phoenix Festa ke-24 ini adalah Ryan Herlambang dan Cecily Wong dari Institut Ketujuh Jie Long!”
Suara komentator langsung bercampur dengan sorakan dan tepuk tangan, membuat suasana semakin meriah.
Dengan begitu, Phoenix Festa musim ini telah dinyatakan berakhir.
"Haah~" Ryan duduk di tanah sambil menarik napas panjang. Di saat yang sama, suara notifikasi sistem mulai terdengar di telinganya.
Ding
[Selamat, nomor serial 124.888 telah berhasil menyelesaikan misi sampingan tingkat C, -Melepaskan Segel-]
[+5000 poin]
Ding
[Selamat, nomor serial 124.888 telah berhasil menyelesaikan misi sampingan tingkat C, -Genestella-]
[+5000 poin]
Ding
[Selamat, nomor serial 124.888 telah berhasil menyelesaikan misi sampingan tingkat B, -Mengalahkan Musuh Kuat-]
[+10.000 poin]
Serangkaian notifikasi ini juga menandakan bahwa Misi Utama 3 juga telah selesai, di mana Ryan harus mengumpulkan 20.000 poin.
Sementara itu, kemenangan Ryan atas Phoenix Festa adalah penyelesaian sempurna dari Misi Utama 1, di mana Misi tersebut mengharuskan Ryan untuk dapat memenangkan minimal babak perempat final dalam Festa.
Memikirkan hal ini, Ryan tertawa dan segera berdiri. Ia kemudian berjalan ke arah Cecily sambil tersenyum.
~***~
"Haah~"
Di lounge VIP Sirius Dome milik Akademi Putri Queenvail, Sylvia yang menonton babak final akhirnya merasa lega setelah kemenangan Ryan diumumkan.
Jika orang lain tahu bahwa Sylvia datang untuk menonton pertandingan Final ini, maka orang-orang akan terkejut.
Meskipun Sirius Dome memiliki lounge VIP untuk enak sekolah, tapi Sylvia jarang menggunakannya. Ia hanya akan datang ke Sirius Dome saat pembukaan Festa dan Babak 32 besar saja, yang memang membutuhkan kehadiran dari semua Ketua OSIS.
Bukan karena Sylvia tidak tertarik, tapi sebagai Diva terkenal dunia, Sylvia seringkali sibuk dan tidak sempat menonton pertandingan.
Hanya saja, hari ini Sylvia secara khusus menyempatkan diri untuk menonton laga final.
Alasannya bukan hanya terkait dengan Ursula, tapi juga ingin menyemangati Ryan.
Di atas arena, Cecily Wong mengusap-usap kepala Ryan sambil meletakkan lengannya di leher Ryan. Hal ini membuat Ryan yang terluka parah meringis kesakitan.
__ADS_1
Melihat semua itu, Sylvia tersenyum dan berkata, "Selamat atas kemenanganmu, Ryan …"