Reincarnation Room

Reincarnation Room
Menggali Informasi


__ADS_3

Melihat tangan Ryan digenggam oleh Alisia, Lindow, Sakuya, dan Soma langsung menghentikan langkahnya. Mereka begitu terkejut melihat hal ini.


“Apa yang terjadi?”


“Apakah tentara itu menyinggung Tipe Baru (New-Type) kita?”


Orang-orang yang ada di dalam ruang Konferensi pun mulai membicarakan Ryan dan Alisa. Tapi, suara-suara tersebut tidak mempengaruhi mereka berdua.


Alisa mencengkeram tangan Ryan begitu erat sambil terus menatap Ryan. Mata Ryan kemudian menatap balik pandangan Alisa. Kedua belah pihak saling bertatapan, tapi tidak satupun dari mereka berbicara. 


Setelah beberapa saat saling bertatapan, Ryan mulai berbicara. “Maaf, ada perlu apa ya?”


“Itu kamu kan?” ucap Alisa dengan nada rendah.


‘Jadi begitu, Alisa masih belum yakin bahwa aku adalah pelaku penyusupan tadi malam. Kalau dia sudah yakin, nggak mungkin ia berbicara dengan nada rendah seperti itu. Yang artinya, dia masih ragu-ragu!’ pikir Ryan.


Ryan kemudian menggaruk-garuk kepalanya  Dengan ekspresinya kebingungan, Ryan bertanya pada Alisa. "Apa kamu mengenalku?"


Mendengar ini, Alisa mengernyitkan dahinya. Ia menatap mata Ryan dengan tajam, seolah-olah ingin memastikan sesuatu. Genggaman tangan Alisa pun semakin erat.


“Lindow, apakah pemula yang dikalahkan Ryan kemarin adalah Tipe Baru (New-Type) itu?” bisik Sakuya.


Lindow tidak menjawabnya. Tapi Sakuya dan Soma mengerti bahwa God Eater pemula yang dikalahkan Ryan tadi malam adalah wanita ini.


“Tampaknya ini sedikit merepotkan …” gumam Lindow. 


Saat Lindow akan melangkah maju untuk menolongnya, Ryan tersenyum dan mengeluarkan rayuannya. “Walaupun aku nggak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku senang bisa berbicara dengan wanita secantik dirimu. Kecantikanmu, bagaikan sekuntum bunga yang mekar di medan pertempuran, indah, cantik, dan juga kuat."


"Kalau ada yang kamu butuhkan dariku, aku siap membantumu.”


Mendengar rayuan Ryan, semua orang di ruang konferensi pun tercengang. Keheningan mengisi ruang Konferensi, seakan waktu telah berhenti sesaat. Namun sayang, Alisa hanya diam tidak merespon rayuan Ryan. 


Ryan pun merasa canggung karena rayuannya tidak berhasil. ‘Anjir, ternyata rayuanku gagal! Aku benar-benar malu! Ugh …’

__ADS_1


Alisa kemudian melepas genggamannya dan pergi begitu saja. Melihatnya pergi, Lindow, Sakuya, dan Soma langsung menghampiri Ryan.


“Hei, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Lindow.


“Ugh, pergelangan tanganku agak sedikit sakit …” jawab Ryan sambil memegang pergelangan tangannya dan merintih kesakitan. Tentu saja, semua ini hanyalah akting Ryan untuk menipu semua orang yang ada di ruang Konferensi.


“Tapi tenang saja, dia masih belum yakin bahwa aku adalah pelakunya.” bisik Ryan.


“Apa kamu yakin?”


Ryan hanya mengangguk atas pertanyaan Lindow. Kemudian, Ryan segera keluar dari ruang Konferensi dengan berpura-pura bahwa pergelangan tangannya cedera. 


Di luar ruangan, Ryan mencoba mengobrol dan berteman dengan beberapa tentara dari cabang Rusia. Tentu saja, ini adalah cara Ryan untuk menggali informasi dari para tentara Rusia.


Di antara semua orang yang Ryan ajak bicara, ada yang waspada dengan keberadaan Ryan, dan ada yang mudah diajak bicara. 


Hanya saja, mereka semua adalah tentara biasa yang tidak ada kaitannya dengan medan perang. Dengan posisi seperti itu, mustahil mereka mengetahui rahasia yang ada dalam cabang Rusia. Semua orang yang mengetahui rahasia cabang Rusia, sudah pasti sedang mengikuti Konferensi Perang.


Namun, ada satu hal yang Ryan dengar dari salah seorang tentara. Dan itu adalah informasi dari ‘itu’ seperti yang dikatakan Kapten Alexei.


Setelah menggali informasi lebih lanjut, ternyata penjagaan di tempat itu baru terjadi beberapa bulan ke belakang.


Karena ketatnya penjagaan tempat itu, mulai muncul rumor mengenai apa yang sedang dijaga oleh cabang Rusia. Rumor terebut mengatakan bahwa ‘itu’, mungkin adalah sesuatu yang dapat menyelamatkan dunia.


Karena adanya rumor ini, para tentara Rusia pun bersemangat untuk menjaganya. Bagi mereka, ini adalah suatu kehormatan besar, bisa menjaga sesuatu yang sangat berharga seperti itu.


‘Ini aneh … ini seperti disengaja. Apakah Kapten Alexei sengaja menyebarkan rumor ini?’ pikir Ryan.


‘Bisa dibilang, daripada menyembunyikannya rapat-rapat sebuah rahasia, lebih baik mengungkapkan sesuatu berupa rumor yang tidak dapat dipastikan untuk menggiring opini orang-orang.’


‘Lagi pula, tidak ada rahasia yang bisa benar-benar disembunyikan dengan sempurna. Maka dari itu, menggunakan rahasia kecil sebagai umpan untuk menjauhkan orang-orang dari isi rahasia yang sebenarnya adalah salah satu strategi yang biasa dilakukan banyak perusahaan besar.’


Saat Ryan sedang berpikir sambil terus mengobrol dengan salah satu tentara, tiba-tiba terdengar suara Kapten Alexei. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

__ADS_1


Melihat sang Kapten datang, tentara yang sedang mengobrol dengan Ryan langsung memberi hormat pada Kapten Alexei. “Kapten!”


Ryan melihat Kapten Alexei berjalan perlahan dari depan. 'Jika Kapten Alexei ada di sini, ini artinya Konferensi Perang sudah berakhir! Haiss, kenapa dia harus datang saat aku sedang mendapat informasi penting!'


Kapten Alexei melihat sebentar ke arah Ryan, kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada tentara yang ada di samping Ryan. "Sekarang cabang Rusia dalam masa-masa kritis. Kita harus selalu siaga dan tidak boleh bermalas-malasan seperti ini! Apakah sudah jelas!?"


"Jelas Pak!" Tentara itu pun undur diri dan segera melakukan patroli.


Sekarang, hanya tinggal Ryan dan Kapten Alexei di sana.


"Apakah Amamiya Lindow memintamu untuk mencari informasi tentang rumor itu?" tanya Kapten Alexei.


Sampai sekarang, Kapten Alexei masih menaruh kecurigaan kepada anggota Fenrir cabang Timur Jauh.


Setelah konfrontasi langsung kemarin, Kapten Alexei berpikir bahwa pelaku penyusupan semalam bukanlah Ryan, si tentara biasa, melainkan Lindow.


Baginya, Ryan hanyalah pion Lindow yang telah diperintahkan untuk menggali informasi dari cabang Rusia.


Menghadapi pertanyaan Kapten Alexei, Ryan berpura-pura bingung. “Apa maksud Kapten? Aku sama sekali nggak paham.”


Melihat Ryan dengan sengaja berpura-pura bodoh, Kapten Alexei tertawa.


"Memahaminya atau tidak, tapi camkan baik-baik kata-kataku. Di dunia ini, ada hal yang sebaiknya kamu tidak ketahui. Jika suatu saat kamu terkena masalah karena hal ini, aku yakin Bos mu akan membuangmu sebagai tindakan perlindungan diri."


Setelah mengucapkan kalimat ini, Kapten Alexei menepuk bahu Ryan dan kemudian pergi.


Melihat punggung Kapten Alexei yang tampak semakin menjauh, ekspresi wajah Ryan berubah menjadi agak aneh.


'Sepertinya Kapten Alexei ingin membuatku menaruh rasa tidak percaya pada Lindow, makanya ia berkata seperti itu.'


'Ini memang rencana yang bagus untuk memecah belah tim. Namun sayang, kamu sama sekali nggak memahamiku, Kapten. Aku mau melakukan semua ini bukan demi Lindow, melainkan demi menyelesaikan misiku.' gumam Ryan.


Setelah itu, Ryan memutuskan kembali ke ruang Konferensi. Saat Ryan tiba di sana, ia melihat Lindow, Sakuya, dan Soma telah menunggu Ryan di depan ruang Konferensi.

__ADS_1


Melihat Ryan datang, Lindow memanggilnya. "Ryan, bersiaplah-siaplah untuk perang. Besok, kita akan memulai penyerangannya."


__ADS_2