
Sriiiiing
Suara gesekan yang tajam terdengar. Belati Ryan dan Wolnir Hammer yang berat saling bergesekan hingga menciptakan percikan api.
Dalam situasi seperti itu, Ryan dan Ardi akhirnya bertarung dengan sengit.
Di udara, Rimsy melihat semua yang terjadi di bawah. Ia lalu segera membidik Ryan yang masih sibuk bertarung dengan Ardi.
Akan tetapi, sebelum Rimsy menarik pelatuknya, tiba-tiba saja kilatan petir menyambar dari bawah ke arah Rimsy. Hal ini membuat Rimsy terkejut. Dengan cepat, ia mengendalikan jetpacknya dan menghindari petir yang datang.
"Akulah lawanmu!" teriak Cecily Wong.
Tangan Cecily Wong mulai membentuk segel tangan, dan semua jimat yang melayang di sekitar tubuhnya menyala. Jimat-jimat itu berubah menjadi kilat yang langsung menyambar ke arah Rimsy.
Melihat petir yang tak terhitung jumlahnya akan menghantam dirinya, Rimsy mengarahkan tangan kirinya yang masih kosong ke depan.
Weeeeng
Secara tiba-tiba, Mana yang berkumpul di tangan kiri Rimsy mengubah tangannya menjadi sebuah senjata artileri berat.
Sejumlah besar Mana berkumpul di moncong meriam, terkondensasi menjadi energi berwarna merah.
Baik Ardi maupun Rimsy adalah boneka, tetapi Master mereka tidak hanya Ernesta yang mempelajari teknik pengembangan boneka, dan tetapi juga Camilla yang berkonsentrasi pada pengembangan Lux.
Jadi, wajar saja jika Ardi dan Rimsy memiliki Lux yang sangat kuat.
Walau begitu, masing-masing dari mereka memiliki spesialisasinya. Misalnya Ardi, dia memiliki spesialisasi di bidang pertahanan. Maka dari itu, ia memiliki perisai absolut yang tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun.
Sementara Rimsy, dia memiliki spesialisasi dalam serangan, dan salah satu senjata andalannya adalah sebuah senjata artileri berat di tangan kirinya.
Dan nama Lux tersebut adalah …
"Ruinshalef, tembak."
Seketika itu juga, Mana yang terkumpul di moncong meriam berubah menjadi sinar merah dan langsung ditembakkan dengan keras.
Hal ini membuat udara di sepanjang jalan memanas, sehingga memicu aliran turbulensi. Serangan dahsyat ini pun terbang menyambut kilatan petir yang diluncurkan oleh Cecily Wong.
BOOM
Sinar cahaya merah bertabrakan dengan Kilatan petir. Dalam raungan yang memekakkan telinga, ledakan kuat yang dipicu tabrakan ini menyebabkan gelombang ledakan menyebar ke seluruh arena hingga akhirnya tertahan oleh perisai pertahanan di sekeliling arena
Para penonton yang berada di tribun mengeluarkan keringat dingin begitu melihat ledakan dahsyat tadi.
Cecily Wong berdiri di tengah gelombang ledakan sambil terus mengawasi Rimsy di udara. Perlahan, mulutnya mulai bergerak. "Ini baru menyenangkan!"
Mengatakan kalimat seperti itu, tangan Cecily Wong kembali memegang jimat.
Di sisi lain, meskipun Ryan dan Ardi tidak memiliki serangan mencengangkan seperti Cecily Wong dan Rimsy, mereka telah menampilkan pertempuran jarak dekat peringkat atas.
Tap
Kaki Ryan menapak dengan berat di tanah. Sosoknya pun kini telah berubah menjadi hantu, ada banyak bayangan after image di sekitar Ardi. Dengan belati tajam di tangannya, Ryan terus menyerang Ardi.
Clang Clang Clang Clang
Suara yang tabrakan tajam terus berdering.
Di bawah kecepatan dan tebasan yang sangat tinggi itu, Ardi benar-benar jatuh ke dalam pertahanan pasif. Dia hanya bisa membawa palu di tangannya dan mencoba yang terbaik untuk memblokir semua kilatan cahaya belati yang terus mengincar lencana di dadanya.
Di bawah kemampuan komputasi yang kuat, Ardi dapat memprediksi arah serangan Ryan. Maka dari itu, Ardi dapat bereaksi tepat waktu dan memblokir serangan dari berbagai sudut.
Selain dapat memprediksi arah serangan, Ardi juga memiliki kemampuan untuk belajar yang kuat. Dengan menangkap dan menganalisis setiap aspek gerakan Ryan, Ardi terus meningkatkan teknik dan pengalaman bertarungnya.
Namun, Ardi mau tidak mau terjebak dalam posisi bertahan. Sebab, kecepatan Ryan masih jauh dari batasnya.
Shiiiiiii
Partikel cahaya seperti bintang yang mempesona muncul dari tubuh Ryan dan mulai berkibar di sekeliling tubuhnya.
Ryan lalu memusatkan semua Prana yang keluar dari tubuhnya pada bagian bawah telapak kakinya.
__ADS_1
Seketika itu, kecepatan Ryan meroket. Sosok itu benar-benar berubah menjadi meteor.
"Flashing Sheath: Four Crossroads (Sensa: Yottsu no Kōsaten)!"
Saat berikutnya, sosok Ryan mendadak muncul di sisi Ardi. Belati di tangannya naik dan membanting empat tebasan.
Tebasan cahaya putih kebiruan, bagaikan aura pedang, menyapu ke arah Ardi.
"Hahahaha! Seranganmu sama sekali tidak berguna!"
Ardi tertawa lebar dan langsung mengaktifkan perisai pertahan absolut di depannya.
Tang
Dalam suara hantaman yang keras, empat cahaya belati jatuh pada perisai cahaya pada saat yang sama. Percikan api lagi-lagi tercipta.
Namun, saat ini, sosok Ryan juga berubah menjadi kilatan cahaya, melewati perisai pertahanan cahaya dan berhenti tepat di depan tubuh Ardi.
"Siapa bilang itu tidak berguna? Bukankah aku sekarang telah melewati perisai kebangaanmu?" Dalam tawanya, Ryan mulai menebaskan belati di tangannya. "Flashing Sheath: Seven Night (Sensa: Shichiya)!"
Tebasan tercepat telah dilepaskan Ryan. Bagaikan bulan sabit, belati Ryan bersinggungan dengan lencana sekolah Ardi.
"Oooooooooooh!"
Ardi meraung dan bergegas mengambil tindakan. Dalam jarak sedekat ini, tidak mungkin ia bisa mengaktifkan perisai pertahanan absolut. Maka dari itu, satu-satunya cara hanyalah menyerang.
Dengan sigap, Ardi mengangkat Wolnir Hammer dan menjatuhkannya dengan kecepatan tinggi.
Tang
Tabrakan logam yang intens terdengar keras. Wolnir Hammer menghantam keras kilatan cahaya belati di depannya.
Di bawah kekuatan berat Wolnir Hammer, belati Ryan terlempar dari tangannya dan jatuh agak jauh dari tempat Ryan berdiri. Ryan pun terdorong beberapa langkah.
"Kamu sudah kalah!"
Sekali lagi, Ardi mengangkat Lux berbentuk palu godam di tangannya dan mengayunkannya ke arah kepala Ryan sembari membawa angin kencang.
Tekanan udara di bawah Wolnir Hammer memicu dentuman sonik yang luar biasa, seakan memberi tahu semua orang betapa kuatnya serangan itu.
Swiiish
Begitu palu besar hendak jatuh di tubuh Ryan, sosok Ryan yang tadi terpukul mundur beberapa langkah, tiba-tiba sudah berada dalam jarak yang sangat dekat.
“Apa?” Ardi terkejut.
Bagi Ardi, setelah ia menerbangkan senjata Ryan, maka Ryan sudah tidak memiliki kesempatan untuk menang dan hanya pasrah menerima serangannya.
Entah sudah berapa kali Ryan mengatakan ini, tapi, Ryan kembali mengatakannya. "Siapa bilang tanpa senjata kita tidak bisa bertarung?"
Prana yang kaya berkumpul di bawah kaki Ryan, memancarkan cahaya bintang yang menyilaukan.
"Flashing Dash: One Deer (Sensō: Ichi Shika)!"
Telapak kaki yang membawa bintang-bintang menyilaukan, bergegas naik membawa kekuatan guntur. Dengan keras, Ryan menendang tubuh Ardi.
Boom
Dalam suara yang menyesakkan bagai ledakan, gelombang kejut kuat yang berpusat pada titik tumbukan, berosilasi di udara dan meluas.
Tendangan ini membuat tubuh besar Ardi seakan sedang ditabrak truk. Di bawah dampak yang kuat, tubuhnya terbang seperti peluru meriam. Dalam suara tajam membelah langit, dia menabrak perisai penghalang arena.
Lantai di bawahnya pecah dan memicu debu yang kuat
"Oooooooooooooooh!"
Di tribun penonton, sorakan meriah mulai berdering.
"Kerja bagus."
"Oh!"
Cecily Wong dan Rimsy, yang saling berhadapan dengan sengit, akhirnya berhenti bertarung dan berpisah setelah mendengar sorakan penonton.
__ADS_1
Kedua komentator pertandingan dengan semangat dan penuh emosi mulai berbincang.
"Oooh! Kontestan Ardi, yang selama ini dikenal dengan pertahanan mutlaknya, akhirnya bisa dipukul mundur oleh Ryan! Sungguh menakjubkan!"
"Itu benar, kekuatan Ryan sangat luar biasa. Dia menyembunyikannya terlalu dalam!"
Sorakan penonton tiba-tiba menggema di atas arena. Meski pertarungan di dalam arena berhenti sesaat, tapi antusias para penonton tidak mereda.
Layar hologram yang melayang di atas arena mulai memutar ulang kembali secara lambat pertempuran Ardi dan Ryan. Gelombang demi gelombang sorakan terus terdengar begitu adegan dalam layar menunjukkan kemenangan Ryan.
Namun, Ryan mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Ardi yang sekarang telah berdiri sambil membawa palu raksasanya.
Seluruh tubuhnya utuh, tidak ada kerusakan sama sekali. Hanya ada beberapa goresan kecil di permukaan baju besi Ardi.
Setelah melihat ini, Ryan bergumam, "sudah aku duga, ini nggak akan mudah."
Lagi pula, lawannya bukanlah manusia melainkan robot.
Jika manusia yang menerima kekuatan penuh dari tendangan Ryan, maka 90% dari mereka tidak akan selamat.
"Sungguh luar biasa!!”Ardi tertawa keras dan berkata, "Kami tidak pernah mendapat serangan seperti itu. Untungnya, kami adalah boneka!"
"Jarang sekali kamu berkata seperti itu." Rimsy juga melayang turun dari udara dan berkata dengan agak dingin, "Berterima kasihlah kepada Master karena memberi tubuh seperti itu."
Seperti Rimsy, Cecily Wong juga kembali ke samping Ryan.
"Sepertinya rencana kita gagal." Cecily Wong melemparkan belati yang terlepas dari tangan Ryan kembali. Ia lalu menatap lurus ke depan dan berbisik, "Ryan-kun, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Kondisi pertempuran sejauh ini sebenarnya telah diatur oleh Ryan sebelumnya.
Ryan tahu bahwa Ardi akan membuat deklarasi satu menit di awal permainan seperti sebelumnya, dan memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyerang terlebih dahulu.
Jadi, jauh sebelum pertandingan dimulai, Ryan berdiskusi dengan Cecily Wong, untuk merencanakan serangan mendadak setelah deklarasi dan permainan dimulai.
Dengan kecepatan Ryan, ada kemungkinan besar Ryan bisa langsung merusak lencana sekolah Ardi
Jika gagal, maka Cecily akan memancing Rimsy untuk bertarung dengannya, sembari mencari peluang untuk membantu Ryan.
Oleh karena itu, kondisi pertempuran sejauh ini sudah sesuai dengan rencana Ryan dan Cecily Wong.
Hanya saja, baik Ardi maupun Rimsy kini masih baik-baik saja.
"Mereka berdua tidak bisa diremehkan." Cecily Wong menghela nafas.
Ini baru babak 32 besar, tapi Ryan dan Cecily Wong sudah mendapat lawan sesulit ini. Keberuntungan mereka benar-benar buruk.
Tentu saja, ini juga berlaku untuk lawan mereka.
"Sepertinya, jika kita ingin menang, kita tidak akan bisa hanya dengan kekuatan seperti ini." Ardi melihat ke arah Rimsy dan berkata, "Rimsy, menurutmu apakah sudah waktunya untuk menggunakan itu sekarang?"
Kata-kata Ardi sangat jelas di telinga semua orang.
"Itu?" Cecily Wong menyipitkan matanya
"Itu?" Kedua komentator di ruang broadcast juga sedikit terkejut.
Bahkan para penonton mulai penasaran dengan apa yang dimaksud Ardi.
Hanya Ryan, yang tetap tenang menatap Ardi dan Rimsy.
Dalam hal ini, Rimsy pertama-tama terdiam beberapa saat, lalu tanpa emosi berkata, "Meskipun bukan keinginanku, tetapi karena lawan kali ini sangat kuat, dan juga Master telah mengijinkannya, maka aku harus melakukannya."
Setelah mengucapkannya, tiba-tiba cahaya Manadyte muncul dari tangan Rimsy.
"Transfer kontrol kekuatan dan baju zirah eksternal, buka sistem penahan."
Baju zirah yang menutupi tubuh Rimsy satu persatu lepas dan terbang ke udara.
Seluruh tubuh Ardi memancarkan cahaya pemandu seperti laser, yang terhubung ke potongan-potongan baju zirah di angkasa.
Seperti sedang dipandu, potongan-potongan baju zirah itu langsung terpasang sempurna di tubuh Ardi.
Shiiiiiii
__ADS_1
Dari tubuh Ardi, semburan cahaya biru tiba-tiba mekar. Respon Mana yang sangat kaya menyebar dari tubuhnya, membuat seluruh arena menjadi biru.