
Laminamors sedikit terkejut melihat Ryan menggenggam ujung pedang Greatsword yang menembus bahunya. Hal ini menyebabkan darah mengalir keluar dari telapak tangan Ryan.
Dalam keadaan seperti itu, Laminamors yang sedang memegang pedangnya erat-erat menjadi terlambat untuk mundur.
Keterlambatan ini langsung menyebabkan kekalahan Laminamors.
"Flashing Sheath: Swift Wind (Sensa: Kyū Kaze)!"
Kilatan cahaya pisau dingin tiba-tiba muncul dari samping Laminamors, bagaikan sabit yang indah.
Croot
Suara semburan darah yang muncrat terdengar sangat memuaskan.
Pergelangan tangan Laminamors terpotong dengan sangat rapi, membuat sejumlah besar darah menyembur dan mengotori lantai koridor.
Laminamors pun tak kuasa menahan rasa sakit yang dialaminya. "Ugh!"
Telapak tangan yang terpotong itu tampak masih tetap mencengkram erat gagang Lux Greatsword.
Ryan kemudian mencabut paksa Lux yang menusuk bahunya dan segera melemparnya ke samping. Lux tersebut akhirnya nonaktif dengan sendirinya karena kehilangan sumber Prana-nya.
Tak lama setelahnya, Ryan kehilangan kekuatannya dan jatuh berlutut dengan satu kaki.
"Uhuk uhuk …" Ryan terbatuk disertai dahak penuh darah.
"Ryan-san!" Sylvia dengan cepat menghampiri Ryan dan langsung memegangi tubuhnya.
Di saat yang sama, Valda-Vaoth juga menghampiri Laminamors dan memegangi bahunya. Begitu melihat telapak tangan kanan Laminamors yang telah hilang itu, hati Valda-Vaoth terasa menggigil.
"Aku tidak menyangka hasilnya akan seperti ini." gumam Valda-Vaoth.
Karena kemisteriusan Ryan, Laminamors dan Valda-Vaoth tidak mau mengambil resiko dan memilih untuk menemui Ryan saat Prana-nya hampir habis.
Mereka melakukan semua ini untuk memastikan informasi apa yang diketahui Ryan, dan juga dugaan bahwa Sylvia adalah kenalan dari tubuh Valda-Vaoth.
Dan hasilnya, dugaan mereka tepat. Sylvia benar-benar mengenal tubuh yang digunakan Valda-Vaoth, bahkan dia adalah Guru Sylvia.
Selain berhasil memastikan hubungan Sylvia dan tubuh Valda-Vaoth, mereka juga berhasil melukai Ryan. Walau untuk melakukannya, Laminamors harus membayar biaya yang cukup mahal.
"Orang ini sangat berbahaya." Laminamors memeluk tangannya yang terpotong dan menyeringai dengan senyum masam, "Aku tidak menyangka ada murid di kota ini yang bisa memperlakukanku sampai seperti ini.'
"Jadi bagaimana?" Valda-Vaoth dengan tenang berkata, "Perlukah kita membunuhnya sekarang?"
"Jika kita bisa membunuhnya sekarang, itu adalah hal yang terbaik. Tapi seperti yang kamu lihat, dia seperti binatang buas. Semakin dia terpojok, semakin dia berbahaya."
"Untuk membunuhnya, kita pasti akan mengorbankan banyak hal, dan itu tidak sepadan." Laminamors berkata tanpa ragu, “Ngomong-ngomong, tujuan kita telah terpenuhi. Diva terkenal di dunia itu memang hubungan dengan tubuhmu."
"Meskipun bocah itu terlalu banyak tahu, tapi sepertinya dia tidak tahu seperti apa rencana kita. Untuk sementara, dia tidak akan menjadi ancaman untuk kita. Jadi, mari kita mundur dulu."
Valda-Vaoth terdiam beberapa saat, dan akhirnya menyetujuinya. "Baik, aku mengerti."
Laminamors mengangkat kepala dan menatap dalam-dalam ke arah Ryan yang berlutut dengan satu kaki di tanah, seolah-olah dia ingin mengukir wajah Ryan dalam ingatannya yang terdalam.
Saat itu, jika Laminamors terlambat mundur satu langkah, maka bukan hanya tangan Laminamors yang terpotong, tetapi juga kepalanya.
Tentu saja bukan itu inti masalahnya. Inti masalahnya adalah Laminamors dengan cepat mengubah Prana menjadi kekuatan pertahanan, akan tetapi tangan gan Laminanors tetap dapat terpotong.
"Ini sangat aneh. Jelas-jelas itu hanyalah belati biasa. Dengan kekuatan pertahananku, seharusnya belati biasa tidak akan bisa menembusnya. Tapi, dia bisa menembusnya dengan mudah dan berhasil memotong tanganku." gumam Laminanors.
__ADS_1
Laminanors lalu mengikuti Valda-Vaoth untuk mundur. Namun, saat ia baru berjalan beberapa langkah, Laminanors menoleh ke arah Ryan dan berkata, "Aku harap kamu tidak menghalangi rencana kami dan terpaksa menganggapmu sebagai musuh."
Setelah mengatakannya, Laminanors kembali berjalan sambil memegangi tangannya yang terpotong. Ia juga telah mengambil kembali Lux miliknya yang telah dibuang Ryan sebelumnya.
"Tunggu!" Sylvia berteriak, "Siapa sebenarnya kalian?!"
Kali ini bukan Laminamors yang menjawab Sylvia, melainkan Valda-Vaoth. "Kamu tidak perlu tahu itu, gadis kecil. Jadi segera lupakan kami."
Meninggalkan kata-kata ini, Laminamors dan Valda-Vaoth tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Itu bukanlah teleportasi seperti yang dimiliki Fan Xinglou, melainkan kemampuan memanipulasi pikiran milik Valda-Vaoth, di mana ia membuat Ryan dan Sylvia berpikir bahwa mereka telah menghilang.
Pada akhirnya, di tempat itu, kini hanya tersisa Ryan dan Sylvia, beserta jejak darah yang masih terus menetes dari luka Ryan.
"Tunggu, tunggu! Ursula!" teriak Sylvia. Ia lalu ingin segera mengejar Gurunya.
Namun, tiba-tiba saja Ryan kembali batuk darah. "Uhuk uhuk …"
“Ryan-san!” Sylvia akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengejar Valda-Vaoth dan lebih memilih menolong Ryan.
"Tenanglah, aku baik-baik saja.” Ryan menggertakkan giginya dan membuang darah dari tenggorokannya.
Senjata Laminamors adalah sejenis Greatsword dengan bilah pedang yang sangat luas. Meski tusukannya ada di bahu, tapi area tusukannya cukup dekat dengan jantung, tepat di sebelah kiri dada Ryan.
Cedera semacam ini tentu saja tidak ringan. Jadi, untuk menyembuhkannya, Ryan segera mengeluarkan Kristal Penyembuh dan segera menggenggamnya dengan erat.
Shiii
Cahaya hangat menyilaukan tiba-tiba mekar dari tangannya, menerangi tubuh Ryan.
Di bawah cahaya seperti itu, cedera tubuh Ryan berangsur-angsur sembuh dengan cepat. Hal ini cukup mengejutkan Sylvia.
Walau secara fisik Ryan baik-baik saja, tapi jumlah Prana dalam tubuh Ryan sangatlah sedikit. Nafas Ryan menjadi tersengal-sengal, bahkan wajahnya pun mulai pucat.
"Ryan-san, apakah kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Sylvia dengan penuh kekhawatiran.
"Aku nggak apa-apa kok, cuma capek saja." jawab Ryan dengan suara Ryan lemah. Ia lalu mencoba meminta bantuan Sylvia. "Bolehkah aku merepotkanmu? Aku ingin meminta tolong untuk mencarikanku tempat untuk beristirahat."
"Oke." Sylvia setuju dan segera membopong tubuh Ryan.
Sejujurnya, Sylvia tidak terlalu paham mengenai situasi saat ini. Meski begitu, ia masih memiliki banyak pertanyaan. Dibenaknya.
Akhirnya, dengan bantuan Sylvia, Ryan dibawa ke lounge VIP milik Akademi Putri Queenvail Girls di Sirius Dome. Ia lalu membaringkan tubuh Ryan di sofa.
"Bagaimana?" Sylvia bertanya dengan lembut, "Sekarang lebih baik?"
"Jika yang kamu maksud adalah lukaku, maka kamu nggak perlu mengkhawatirkannya." Ryan tersenyum dan berkata, "Luka yang aku alami sudah sembuh. Sekarang aku hanya tinggal memulihkan Prana dalam tubuhku."
Meski begitu, jika Prana dalam tubuh Ryan benar-benar habis, masalahnya bisa cukup besar. Ada beberapa kasus Strega ataupun Dante yang mengalami koma hingga 20 hari karena konsumsi Prana yang berlebihan.
"Maaf …" Sylvia berkata dengan nada agak menyesal, "Seandainya aku bisa menggunakan kekuatan penyembuh, aku pasti akan menolongmu."
Kemampuan Sylvia secara teori memang serba bisa. Ia bisa mengendalikan Mana menjadi kekuatan apapun terkecuali kekuatan penyembuhan. Entah pemulihan energi, atau penyembuhan luka, Sylvia tidak bisa melakukannya.
Maka dari itu, Sylvia sama sekali tidak bisa membantu pemulihan Ryan. Ia lalu berkata pada Ryan, "Lebih baik aku membawamu ke rumah sakit."
Yang disebut rumah sakit di sini bukanlah rumah sakit umum, melainkan tempat penyembuhan khusus Genestella dan dilengkapi dengan banyak fasilitas pemulihan.
Rumah sakit ini juga didedikasikan untuk merawat Genestella yang mengikuti Festa musim ini. Karena Ryan termasuk peserta Festa, jadi Ryan pasti akan mendapat perawatan terbaik secara gratis.
__ADS_1
Hanya saja, Ryan menolaknya.
"Aku hanya kehabisan Prana. Sedangkan tubuhku sudah baik-baik saja." Ryan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Biarkan aku beristirahat sebentar. Setelah aku mampu bergerak lagi, aku akan kembali ke Jie Long dan beristirahat di sana."
"Benarkah?" Sylvia merasa lega.
Setelah Sylvia bahwa kondisi Ryan tidaklah parah, pertanyaan yang telah ditekan di dalam hati sejak tadi mulai muncul kembali.
"Ryan-san." Sylvia menatap langsung ke arah Ryan dan berkata dengan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi hal yang paling ingin aku ketahui hanya satu …"
"Apakah semua ini berkaitan dengan Kalung yang Ursula kenakan?" Sylvia bertanya dengan sedikit kegelisahan dan juga harapan, "Intuisiku mengatakan bahwa orang itu adalah Ursula, tetapi sepertinya ada sesuatu yang berbeda."
Dalam keadaan seperti itu, akan aneh jika Sylvia tidak menemukan anomali pada tubuh Ursula.
"Tolong beritahu aku." Sylvia bahkan memakai suara dengan nada vibrato saat mengatakannya.
Mendengar permintaan Sylvia, Ryan menjadi sedikit ragu-ragu. Ryan bingung, apakah ia harus jujur menceritakan semuanya pada Sylvia atau tidak.
Melihat Ryan seperti itu, Sylvia menghela nafas dan berkata sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, Ryan-san, katakan saja dengan jujur. Bahkan sekarang, meskipun itu berita buruk, aku mampu mengatasinya."
"Jadi, aku ingin memastikan hal ini terlebih dahulu, apakah Ursula masih hidup?"
Mendapat pertanyaan seperti ini, Ryan melihat ke arah Sylvia dan dengan jelas melihat ekspresi wajahnya
Itu adalah wajah tulus, jujur, dan juga penuh tekad.
"Baiklah." Ryan hanya bisa mengangguk.
"Meskipun ini tidak sesuai dengan rencanaku, tapi aku akan memberitahu semua yang aku tahu. Jadi, dengarkanlah, Sylvia."
~***~
Sepuluh menit kemudian, Sylvia yang telah mengetahui semuanya dari mulut Ryan, hanya duduk terdiam. Beberapa emosi yang rumit muncul di wajah menawannya.
"Aku nggak tahu apakah Ursula melakukan ini secara sukarela atau nggak, tapi yang pasti tubuhnya telah diambil alih oleh Valda-Vaoth. Aku menduga, kehilangan kendali atas tubuh adalah biaya yang harus dibayar untuk menggunakan Orga Lux Valda-Vaoth." ucap Ryan.
Menggunakan Kemampuan Orga Lux selalu disertai biaya yang harus dibayar oleh penggunanya. Dan biaya tersebut berbeda-beda tiap Orga Lux.
Contohnya saja Seraph milik Ryan, biaya yang harus dibayar untuk menggunakan kekuatannya adalah Prana dalam jumlah besar. Hal ini juga yang menyebabkan kondisi Ryan menjadi lemah dan menjadi sasaran empuk Laminamors.
Tentunya biaya tersebut sudah terbilang sangat murah.
Seperti Pan-Dora, biaya yang harus dibayar membuat penggunanya mengalami kematian mereka sendiri dalam mimpi mereka setiap hari. Itu benar-benar kejam.
Tapi, biaya yang harus dibayar pengguna Valda-Vaoth lah yang paling luar biasa, yaitu merebut tubuh penggunanya. Bahkan orang lain tidak akan curiga dengan hal tersebut, kecuali orang-orang terdekatnya, seperti Sylvia yang sadar bahwa Gurunya bukan lagi dirinya sendiri.
“Awalnya, aku telah membuat rencana untuk merebut kembali tubuh Gurumu dari Valda-Vaoth setelah pertemuan pertamaku dengannya." Ryan dengan agak tak berdaya berkata, "Tapi aku nggak nyangka, ternyata mereka malah mendatangiku terlebih dulu sebelum rencanaku berjalan."
"Merebut kembali tubuh Guruku?" Pandangan mata Sylvia langsung berubah cerah. "Apakah kamu memiliki cara untuk mengembalikan kesadaran Guru dan membuatnya merebut kendali atas tubuhnya?"
"Aku sebenarnya memiliki dua rencana. Salah satunya adalah melawan Valda-Vaoth secara langsung dan memaksanya mengembalikan tubuh Ursula. Tapi, itu artinya aku harus menghadapi Organisasi di belakang Valda-Vaoth. Ini menjadi cukup sulit." jelas Ryan.
Sulit adalah hal yang wajar. Jika terlalu mudah, maka Sylvia tidak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menemukan Ursula.
Menghadapi kesulitan ini, Sylvia hanya tersenyum dan berkata, "Dibandingkan saat tidak adanya informasi sebelumnya, ini sudah sangat bagus."
Paling tidak, Sylvia akhirnya tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan Gurunya kembali.
"Terima kasih telah membantuku menemukan Guru, Ryan-san."
__ADS_1
Sylvia mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Ryan. Setelah itu, ia berkata, "Selanjutnya, biarkan aku yang menanganinya sendiri. Kamu cukup beristirahat saja."