Reincarnation Room

Reincarnation Room
Pesta Dansa


__ADS_3

Di bawah kegelapan malam yang diterangi cahaya bulan, sebuah Kapal Tanker besar bersandar di pelabuhan Pulau Akademi.


Bagaikan sebuah pesta kebun mewah, gemerlap lampu yang indah terlihat mengelilingi Kapal Tanker Ocean Cradle. Hal ini menimbulkan kesan cantik dan elegan dari tempat tersebut.


Di pintu masuk Kapal Tanker Ocean Cradle, terdapat sekelompok pria dan wanita yang mengenakan pakaian formal mewah sedang mengantri. Mereka semua datang membawa pasangannya masing-masing.


Pria dan wanita ini semuanya adalah orang-orang kaya, pengusaha, politisi, tokoh masyarakat, dan juga artis papan atas. Sambil tersenyum sopan, mereka menyerahkan undangan pada staff penerima tamu dan segera naik ke geladak kapal.


Saat ini, lantai geladak Kapal Tanker Ocean Cradle yang luas itu telah ditutupi dengan karpet merah cerah. Di atas karpet tersebut, berjejer meja-meja berlapis kain putih yang tersebar di banyak titik.


Di atas meja makan, sampanye dan masakan lezat tampak hampir memenuhi meja. Ditambah dengan hembusan angin laut, aroma makanan tersebut menjadi sangat unik dan menggugah selera.


Para masyarakat kelas atas itu berkumpul di geladak untuk saling mengobrol, berdansa, dan juga menjalin relasi bisnis. Terlihat banyak dari mereka yang saling tertawa dan juga bersulang. Jelas, pesta ini dibuat agar orang-orang tersebut dapat menjalin relasi bisnis atau hanya sekedar mencari link.


Tak lama kemudian, sebuah mobil Limosin panjang datang dari arah SMA Butei dan berhenti di depan Kapal Tanker Ocean Cradle.


Saat pintu Limosin dibuka, Ryan dan Aria turun dari mobil tersebut.


Wuush


Hembusan angin laut yang dingin menerpa gaun panjang milik Aria. Malam ini Aria mengenakan gaun cantik bak seorang putri dengan bagian bahu yang terbuka, sehingga bahunya yang ramping dan mulus itu terlihat sangat menggoda.


Gaun ini juga dipadukan dengan selembar kain selendang transparan yang membuat Aria tampak seperti bidadari turun dari surga.


Sementara itu, Ryan mengenakan tuksedo gelap yang membuatnya mirip seperti seorang pewaris perusahaan besar.


“Aria, kamu benar-benar tampak menawan dengan pakaian ini. Seakan-akan kamu adalah seorang bangsawan eropa yang datang berkunjung ke Pulau Akademi.” puji Ryan dengan senyum manisnya.


“Humph!” Aria mendengus sambil memalingkan wajahnya yang merah dari Ryan. “Sudah sewajarnya aku cantik seperti bangsawan, karena aku dari awal adalah seorang bangsawan asli!”


Ryan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Aria. Ia paham Aria bertingkah seperti ini karena dia tersipu malu dengan ucapan Ryan.


Setelah tiga hari hidup bersama Aria dalam satu kamar, Ryan mulai memahami sifat Aria. dia adalah seorang gadis Tsundere akut, yang ketika Tsundere-nya kambuh, dia akan bersikap sangat menjengkelkan.


Dalam hal ini, Ryan hanya mengangkat tangannya berpose menyerah dan berkata, "Oke-oke, aku tahu kok. Orang biasa nggak mungkin bisa mendapatkan undangan ini sangat cepat."


“Tentu saja, itu hal yang sangat mudah. Aku hanya perlu menelpon langsung Menteri Luar Negeri dan berkata bahwa aku sedang sangat bosan di SMA Butei.”


“Aku menekankan pada Menteri Luar Negeri bahwa aku ingin bersantai di sebuah pesta dansa di atas laut.”


“Dan keesokan harinya, aku langsung menerima surat undangan ini.” jelas Aria dengan menunjukkan wajah sombongnya.


Ryan lalu melirik limosin yang ada di belakangnya dan tertawa, "Mungkinkah Limosin ini dipinjamkan oleh Kementerian Luar Negeri?"


“Tentu saja tidak. Aku kaya, aku tidak perlu meminta hal tersebut pada orang-orang seperti itu.”


Aria tampak bingung pada Ryan dan berkata, "Kamu sendiri seorang Butei peringkat S. Seharusnya kamu juga memiliki banyak uang. Apalagi, kamu sangat gila kerja saat kelas 1.”


“Aku memang memiliki banyak uang, tapi aku tidak tertarik untuk menghamburkannya. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk membeli berbagai peralatan yang dapat aku gunakan dalam misi.” jelas Ryan.


Senjata, Kemampuan, dan Peralatan adalah kekuatan penting untuk Butei. Bahkan, di dalam Reincarnation Room, tiga hal tersebut adalah tiga pilar utama seorang Reincarnator.


Butei bukan petugas kepolisian. Jadi, tidak seperti seorang polisi yang semua biaya peralatannya dibiayai negara, Butei harus merogoh koceknya sendiri untuk melakukan perawatan senjata dan juga membeli berbagai peralatan lainnya seperti amunisi.


Oleh karena itu, dalam Butei, ada pepatah yang mengatakan bahwa uang sama dengan kekuatan.


Mendengar penjelasan Ryan, Aria setengah gemetar dan tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha … aku tidak menyangka kamu masih menganut prinsip Butei tradisional ini. Mungkin karena inilah, kamu sangat bisa diandalkan."


Ryan tersenyum dan mengulurkan sikunya ke Aria dan berkata, "Kalau begitu, izinkan aku mengawal bidadari kecilku ini sebagai orang yang bisa diandalkan.”


Melihat siku Ryan ke arahnya, sebagai putri dari keluarga bangsawan, Aria secara alami memahami arti dari aksi Ryan ini.


Dengan wajah menawan kemerahan, Aria terbatuk, dan meletakkan tangannya di siku tangan Ryan.

__ADS_1


“Mari kita masuk, bidarariku.”


Setelah mengatakannya, Ryan berjalan mendampingi Aria menuju staff penerima tamu.


Di depan Kapal Tanker Ocean Cradle. Staf penerima tersenyum sopan dan membungkuk ke arah Ryan dan Aria.


“Tuan dan Nona yang terhormat, tolong tunjukkan surat undangan Anda. Izinkan kami untuk memeriksanya sebentar..”


Ryan dan Aria saling memandang. Aria kemudian  mengeluarkan surat undangan dan menyerahkannya kepada Ryan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Ryan menyerahkan surat undangan tersebut pada staff penerima tamu.


Setelah memverifikasi bahwa surat undangan itu asli, staff penerima tamu tersebut langsung membungkukkan badannya. "Ryan-san, Nona Kanzaki, Selamat datang di Ocean Cradle."


Baik Ryan dan Aria mengangguk dengan senyum sopan. Seperti orang kelas atas pada umumnya, mereka naik ke geladak diiringi dengan rasa hormat dari staf penerima tamu.


Bagi murid kelas Assault, penyusupan untuk melakukan investigasi sudah menjadi hal biasa. Maka dari itu, Ryan sudah terbiasa dengan level penyusupan seperti ini.


Setelah mereka akan naik ke geladak secara diam-diam Ryan mengamati sekelilingnya dan menatap tajam ke atas sebuah bangunan yang terletak di dekat pelabuhan.


Di sana, sama-samar terlihat sebuah pantulan cahaya.


Melihat arah pandang Ryan. Aria berbisik padanya. "Reki ada di sana."


Ryan dengan lembut mengangguk, mengalihkan pandangannya dan mengikuti Aria naik ke geladak.


Di lantai atas kapal tanker, di sebuah ruangan, terdapat sesosok siluet hitam sedang melihat Ryan dan Aria dari kaca jendela. Saat itu, mereka berdua tampak sedang berjalan menaiki tangga menuju geladak


Pada wajah sosok siluet hitam itu, secara bertahap muncul senyum menyeringai. Senyuman itu tampak seperti mawar berduri dan sangat beracun, membuat orang yang melihatnya akan merasa bahwa sosok tersebut sangat berbahaya.


Dengan semakin banyaknya tamu undangan yang hadir, suasana di geladak juga menjadi semakin hidup.


Sebagai masyarakat kelas atas, setiap tamu di sini saling menyapa. Meski begitu, Ryan tidak melakukannya.


Pada awalnya, beberapa tamu pesta menghampiri Ryan dan mengajaknya mengobrol. Akan tetapi, Ryan tidak menghiraukannya dan menjawab pertanyaan mereka dengan asal-asalan.


Setelah beberapa kali terus melakukan gal itu, akhirnya tidak ada lagi tamu yang mengajaknya bicara.


Di saat yang sama, banyak orang yang berusaha mengajak Aria mengobrol. Status Aria yang merupakan seorang bangsawan, menjadi magnet bagi para masyarakat kelas atas. Mereka semua ingin menjalin hubungan dengan seorang bangsawan.


Berbeda dengan Ryan yang masih menjawab asal-asalan, Aria malah secara frontal mengusir mereka semua.


Dengan begitu, tidak ada yang berani mendekati Aria lagi.


Akan tetapi, hal inilah yang memang diinginkan Ryan dan Aria. Mereka berdua kini bersandar di tepi pagar geladak sambil terus memandangi keramaian yang ada di depan mereka.


"Apakah kamu ingin mengitari kapal ini sekarang?" tanya Aria.


Ryan meminum segelas sampanye di tangannya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Aria.


"Kapal Tanker ini sangat besar. Ada banyak tempat strategis untuk menyembunyikan bom di sini."


"Aku yakin kita nggak akan bisa menemukan bom tersebut dengan cepat di tempat seluas ini, kecuali Butei Killer telah memulai aksinya."


"Hmm, itu masuk akal." Aria menghela nafas dan menempelkan jarinya pada alat komunikasi di telinganya yang tersembunyi di bawah rambut panjangnya. "Reki, apakah kamu melihat ada orang yang mencurigakan di sekitar sini?"


"Negatif." jawab Reki dengan suara tanpa emosi dari alat komunikasi.


“Namun, frekuensi gerakan Kapal Tanker itu tampak agak tidak normal."


"Frekuensi gerakan Kapal Tanker?" Ryan juga mendengar ucapan Reki melalui earphone. "Kamu juga bisa melihat hal seperti ini?"


“Ya.” Suara Reki masih tanpa emosi. "Meskipun mungkin ada fluktuasi yang disebabkan oleh ombak, frekuensi gerakan Kapal Tanker ini telah berubah sejak beberapa menit yang lalu."


Penglihatan Reki benar-benar tidak bisa.diremehkan. Jarak bangunan tempat Reki bersembunyi berjarak ratusan meter dari Kapal Tanker Ocean Cradle.

__ADS_1


Bahkan pada jarak sejauh ini, Reki dapat melihat dan merasakan adanya perbedaan pada gerakan kapal tersebut.


"Reki, jika kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan, tolong segera beritahu aku." ucap Aria.


Reki tidak menjawabnya, tapi Aria dan Ryan tahu bahwa Reki setuju.


Setelah mengumpulkan informasi dari Reki, mendadak Ryan mendengar suara sindiran yang sangat tidak asing di telinganya.


"Oya? Bukankah ini Ryan-san?"


Mendengar suara ini, Ryan mengangkat alisnya dan melihat ke arah asal suara tersebut.


Di sana, terlihat seorang pria berkacamata dengan setelan tuksedo gelap datang menghampiri Ryan dan Aria.


Saat melihat identitas orang ini, Aria berteriak, "Sayonaki-sensei?"


"Rupanya Kanzaki-san juga di sini." Senyum sempurna muncul di wajah tampan Sayonaki. "Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian berdua di sini."


Ryan juga tidak mengira bahwa Sayonaki akan muncul di sini. Akan tetapi, Ryan tidak menunjukkan ekspresi tersebut. Ia tetap tenang dan tersenyum di depan Sayonaki.


"Apakah Sayonaki-sensei juga datang untuk berpartisipasi dalam pesta dansa ini?"


"Aku diundang oleh penyelenggara." Sayonaki menjelaskan. "Ada banyak orang yang aku kenal di sini. Jadi ini bukan pertama kalinya aku berpartisipasi dalam pesta dansa seperti ini."


"Sebaliknya, bertemu Ryan-san di sini, sungguh sangat mengejutkanku." Sayonaki tertawa.


"Kanzaki-san adalah seorang bangsawan dari Inggris. Tidak mengherankan jika dia muncul di sini."


"Namun, Ryan-san …"


"Kamu tampaknya tidak memiliki latar belakang yang cukup menonjol. Aku hampir mengira bahwa aku telah salah melihat."


Sepintas, tidak ada masalah dengan kalimat yang diucapkan Sayonaki. Akan tetapi, banyak orang yang telah mendengar suara Sayonaki ini mengerti maksud ucapannya.


Intinya, Sayonaki menyindir Ryan dan berpendapat bahwa ini bukanlah tempat yang bisa dikunjungi oleh orang seperti Ryan.


"Namun, aku mendengar bahwa Ryan-san dan Kanzaki-san tampaknya telah membentuk sebuah tim."


Sayonaki tersenyum, akan tetapi, arah pembicaraan Sayonaki-sensei tiba-tiba berubah.


"Bisakah kamu menjadi pasangan yang baik untuk Kanzaki-san, yang merupakan seorang bangsawan, Ryan-san?"


"Kamu benar-benar seorang pria yang sangat beruntung. Jika semua ini berjalan dengan baik, mungkin nanti kamu tidak akan perlu lagi melakukan misi berbahaya untuk menerima uang."


Arti kalimat ini bahkan lebih jelas lagi.


Sayonaki menganggap bahwa Ryan hanya memanfaatkan Aria demi mendapat uang dengan mudah darinya.


"Kanzaki-san, bukan?" Sayonaki mengatakan dengan nada yang sama seperti saat sedang mengajar.


“Ryan-san adalah talenta yang sangat berharga di komunitas Butei. Dia adalah orang hanya bisa berkembang jika dilatih dengan benar.”


Kali ini, bahkan Aria tidak bisa menahan emosinya lagi. Saat Aria akan mengatakan sesuatu, tangan Ryan memegang bahunya.


Ryan memandang Sayonaki dengan wajahnya yang tenang dan dengan acuh tak acuh berkata, "Terima kasih Sensei."


"Sama-sama …" Sayonaki tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian berdua lagi. Jika ada sesuatu, kalian bisa langsung menemuiku."


Setelah itu, Sayonaki berbalik dan berjalan menjauh dari tempat Ryan dan Aria


Melihat punggung Sayonaki semakin menjauh, alis Ryan akhirnya mulai berkerut.


Ryan tidak peduli dengan provokasi dari Sayonaki. Namun, hal ini malah memperdalam keraguan Ryan.

__ADS_1


"Kenapa orang ini selalu menentangku?"


__ADS_2