
Melihat tingkah Kinji yang seperti ini, Ryan tak kuasa menahan senyum.
"Pantas saja tadi kamu berkata bahwa jika aku seorang wanita, maka kamu akan melepaskanku."
Hysteria Savant Syndrom adalah konstitusi spesial yang berasal dari naluri melindungi kaum wanita dan juga naluri untuk berkembang biak.
Jadi, saat Kinji dalam mode Hysteria Savant Syndrom, Kinji akan berubah menjadi seorang pria yang dapat membuat kaum wanita tertarik.
Hal ini membuat Kinji mode Hysteria Savant Syndrom dan Kinji normal memiliki kepribadian yang sangat kontras.
Kinji mode Hysteria Savant Syndrom memiliki sikap yang mirip seorang gigolo. Ia juga mengingat semua perbuatannya selama dalam mode ini. Hal ini menyebabkan Kinji selalu merasa malu begitu ia kembali normal.
Dan yang paling merepotkan, Kinji akan berusaha melindungi semua wanita yang ada di sekitarnya, bahkan itu juga berlaku untuk musuh berjenis kelamin wanita.
Oleh karena itu, sekali Kinji masuk ke mode Hysteria Savant Syndrom, ia tidak akan pernah membahayakan wanita. Bahkan, jika perlu, ia akan bertindak atas nama keadilan demi melindungi seorang wanita
"Ini benar-benar kemampuan khusus yang sangat merepotkan." ucap Ryan.
Kinji pun menganggukkan kepalanya mendengar pernyataan Ryan. "Kemampuan ini benar-benar membuatku kesusahan setengah mati."
"Karena kemampuan ini, aku sering kali dimanfaatkan oleh wanita saat masih SMP. Terlebih lagi, faktor pemicunya sangatlah saru!"
Dari kata-kata Kinji, terlihat bagaimana pria ini sangat tersiksa dengan kemampuan ini.
Namun, ada satu hal yang membuat Ryan penasaran. "Bagaimana caranya kamu bisa masuk ke mode itu sewaktu tes berlangsung?"
Ekspresi Kinji tiba-tiba membeku. Ia lalu berkata dengan tergesa-gesa. "I-ini … kamu tidak perlu mengetahui hal semacam ini."
"Benarkah?" Ryan tersenyum menyeringai. "Karena kamu nggak mau mengatakannya, maka aku akan meminta Instruktur Ranbyou untuk menyelidiki rekaman dari kamera CCTV."
'Kalau nggak salah, Histeria Savant Syndrom dipicu oleh tingkat gairah seksual yang tinggi. Akan tetapi, mode ini hanya bertahan selama satu jam.'
'Dan tes masuk kelas Assault ini berjalan selama hampir satu jam. Itu artinya, Kinji memasuki mode ini saat tes berlangsung.'
'Maka dari itu, aku pasti bisa menemukannya dari rekaman kamera CCTV yang tersebar di seluruh gedung terbengkalai ini.' pikir Ryan. Tentu saja, semua ini Ryan lakukan hanya untuk memenuhi rasa penasarannya saja, tidak ada maksud lainnya.
Ryan lalu berbalik dan kembali berjalan ke arah gedung terbengkalai untuk menemui Ranbyou yang masih memberikan hasil penilaiannya pada peserta tes lainnya.
"Tunggu tunggu tunggu!" Kinji langsung meraih bahu Ryan dengan cepat.
__ADS_1
"Apakah kamu membenciku? Apakah kamu benar-benar akan melakukan ini?"
"Bukannya aku membencimu, Tohyama-san. Dan juga aku nggak ada maksud untuk menghinamu. Hanya saja, aku merasa kamu saat tes dan kamu yang sekarang sangat berbeda."
"Kamu yang sekarang sungguh sangat lemah. Aku curiga yang bertarung denganku tadi adalah orang lain yang kamu sewa agar bisa lulus tes dan mendapat peringkat tinggi."
"Maka dari itu, aku harus melakukan investigasi atas dugaan kecurangan yang kamu lakukan." ucap Ryan dengan ekspresi serius.
"Ta-tapi, bukankah kamu sudah tahu tentang mode Hysteria Savant Syndrom? Jadi seharusnya kamu tidak perlu mencurigaiku dan melakukan investigasi!"
"Hmm, mungkin kamu benar tentang hal ini." Ryan memandang Kinji dan berkata dengan gembira. "Tapi sayang, aku tetap ingin melakukannya."
"Sekarang, apa yang bisa kamu lakukan padaku? Menyerangku?" Senyuman Ryan semakin lebar setelah mengatakannya.
Mendengar ini, Kinji merasa ingin sekali membentur-benturkan kepalanya ke tembok. 'Arghhh, kenapa orang pertama yang tahu rahasiaku di masa SMA ini adalah orang sekejam dia!'
Jika dilihat dari sepak terjang Ryan selama ini, pendapat Kinji bahwa Ryan kejam tidaklah salah.
Saat Ryan di dunia Kabaneri, ia membuat Mumei marah karena kata-katanya yang terlalu kejam. Dan ketika ia di dunia God Eater, Ryan juga membuat Alisa menangis.
"Jadi bagaimana? Apakah kamu mau menceritakannya?" Ryan lalu berkata dengan nada yang cuek. "Kalau kamu tetap nggak mau menceritakannya, aku nggak masalah kok."
"Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi kalau aku mengajukan investigasi. Selama kamu nggak masuk mode Hysteria Savant Syndrom, mereka pasti akan mencurigaimu …"
"Ka-kamu …" Kinji tidak mau hal itu terjadi. Akhirnya, Kinji pun mau berterus terang.
"Saat tes baru dimulai, aku bertemu Juliet."
Ryan bingung mendengar penjelasan Kinjj. "Juliet? Apa itu? Apakah itu nama peserta tes yang membuat libidomu naik?"
"Ahh! Maaf, aku lupa kalau kamu lulus dari SMP umum, makanya kamu tidak tahu istilah Butei ini."
Kinji mulai menjabarkan istilah Butei ini. "Dalam Butei, ada sebuah teknik yang menggunakan ketampanan atau kecantikan seorang Butei untuk menggoda target pelaku kejahatan. Teknik ini disebut Honey Trap."
"Seorang Butei yang ahli menggunakan Honey Trap, jika dia wanita, disebut Juliet, dan jika dia pria, disebut Romeo."
Setelah mendengar ini, Ryan akhirnya paham. "Dengan kata lain, kamu terjebak Honey Trap?"
"I-iya, itu tepat sekali." Kinji mengucapkannya dengan wajah yang sangat merah, seakan sedang terbakar api yang sangat panas.
__ADS_1
Melihat betapa malunya Kinji, Ryan tak hentinya tertawa. "Hahahahaha …"
"Ughh …" Kinji menutup wajahnya yang merah itu dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, Ryan menyadari sesuatu. "Hei, tunggu! Apakah Juliet yang menggodamu adalah seorang loli dengan rambut berwarna pirang dan memiliki dada bulat yang sangat terasa pas di tangan?"
"Iya, bagaimana kamu tahu? Tunggu! Bagaimana kamu tahu kalau ukuran dadanya sangat pas di tangan?!"
"Aku juga bertemu dengannya. Tapi berbeda denganmu, aku berhasil menangkapnya. Dan tentu saja, saat menangkapnya, aku dengan sengaja menyentuh dadanya, jadi wajar jika aku tahu." ucap Ryan seakan itu adalah hal yang sudah semestinya.
Kinji pun sampai tertegun mendengar pengakuan blak-blakan Ryan dengan wajah serius.
"Lalu, aku menduga, karena efek Hysteria Savant Syndrom, kamu melepaskan wanita itu dengan alasan dia adalah seorang wanita kan?"
Kinji hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia merasa malu dengan perbuatannya.
"Sudah ku duga. Kemampuanmu ini benar-benar merepotkan."
Setelah itu, mereka berdua berbicara panjang lebar sambil menunggu peserta tes lain menerima penilaian. Tentu saja, dalam perbincangan ini, Ryan lebih banyak menggoda Kinji yang ternyata sedikit takut dengan wanita.
Satu jam berlalu dengan cepat. Penilaian para peserta tes lain telah berakhir. Kami pun diantar kembali ke sekolah.
Meskipun SMA Butei adalah institusi yang melatih Butei, akan tetapi SMA Butei juga menerapkan kurikulum SMA umum.
Sebagai murid SMA Butei, akan jadi masalah serius jika mereka tidak mendapat pengetahuan umum seperti matematika, fisika, dan lain sebagainya. Karena sekuat apapun seorang Butei, ia tetap harus memiliki pengetahuan yang luas.
Namun, dibandingkan dengan SMA umum, penekanan SMA Butei pada mata pelajaran biasa tidak begitu tinggi.
Di SMA Butei, pelajaran umum hanya diajarkan di empat sesi pertama saja. Mulai dengan sesi ke lima dan seterusnya, akan diisi dengan materi pelatihan Butei, sesuai dengan penjurusan kelas yang telah diambil.
Setiap jurusan, memiliki fasilitasnya sendiri-sendiri. Maka dari itu, sejak sesi kelima, para murid harus pergi ke gedung sesuai dengan kelas penjurusannya masing-masing untuk menjalani pelatihan
Dalam pelajaran umum, setiap murid akan menerima pembagian kelas secara acak, terpisah dari penjurusan kelas.
Oleh karena itu, setelah tes masuk kelas Assault selesai, para peserta tes yang telah lulus diantar kembali ke sekolah untuk melihat pembagian kelasnya.
Setibanya di sekolah, Ryan bergegas menuju papan pengumuman. Kinji juga berjalan di belakang Ryan, namun ekspresi Kinji tampak sangat tidak bersemangat, seakan ia enggan untuk melihat pengumuman pembagian kelasnya.
__ADS_1
Di depan papan pengumuman yang ramai oleh murid-murid lainnya, Ryan membutuhkan waktu beberapa menit untuk menemukan namanya. Di sebelah namanya, tertera nama kelas yang akan ia huni setahun ke depan.