
"Di tempat ini, murid yang terkenal akan menjadi seperti seorang bintang. Bahkan orang luar pun akan mengetahuinya." jelas Sylvia dengan senyum manisnya.
"Sayangnya, aku bukanlah murid terkenal. Aku sendiri baru satu bulan lebih di Jie Long. Selain itu, namaku juga nggak ada dalam Page One, bahkan dalam Named Chart pun nggak ada. Bisa dibilang, aku bukanlah siapa-siapa."
Mendengar ucapan Ryan, Sylvia menggelengkan kepalanya. "Bagaimana mungkin murid langsung Banyuu Tenra bukan siapa-siapa?"
Ryan mengangkat alisnya. "Jadi begitu …"
"Paham sekarang?" Sylvia lalu mengangkat bahunya dan berkata, "Di kota ini, tidak ada yang tidak mengenal Banyuu Tenra. Dia terkenal karena hanya merekrut orang-orang berbakat saja untuk menjadi muridnya."
"Dalam Page One Jie Long, 11 orang yang masuk di dalamnya adalah murid Banyuu Tenra semua."
"Maka dari itu, walau namamu belum masuk dalam Named Chart, namun identitasmu sebagai murid baru Banyuu Tenra sudah cukup untuk menarik perhatian sekolah lain."
Sylvia menutup matanya dan tersenyum. "Dan setelah melihat aksimu dari dekat, aku yakin kamu benar-benar memiliki kualifikasi untuk masuk dalam Page One. Terlebih lagi, kamu belum menggunakan seluruh kekuatanmu."
“Aku nggak nyangka identitasku sebagai murid Banyuu Tenra membuatku terkenal.” senyum Ryan, Ia lalu berbalik untuk mengambil ponselnya yang baru saja jatuh karena dansa tadi.
Untungnya, ponsel Ryan tidak rusak. Hanya saja, gantungan ponsel yang diberikan Zhao hufeng tidak seberuntung ponselnya.
“Rusak?”
Ryan mengambil gantungan ponsel dari tanah dengan sedikit ketidakberdayaan.
Gambar kartun Sylvia di yang ada di gantungan ponsel tampak pecah dan kehilangan kepalanya.
“Hmm?” Melihat gambar dirinya versi kartu telah kehilangan kepalanya, Sylvia mendadak menjadi sedikit kesal.
Sylvia lalu melangkah maju dan mengambil gantungan ponsel dari tangan Ryan. "Benda ini aku sita!"
“Ha?” Ryan sedikit tertegun dengan aksi Diva cantik ini. “Kenapa?”
“Tidak ada alasan.” Sylvia memutar matanya dan mendekatkan wajahnya di depan wajah Ryan. Ia tersenyum pada Ryan dan berkata, “Bukankah idol yang asli ada di sini?"
“Ya, kamu benar, Sylvia-san … benda seperti itu nggak akan sanggup menunjukkan kecantikanmu yang sesungguhnya.”
“Dapat bertemu Diva tercantik di dunia seperti ini secara langsung benar-benar membuatku menjadi orang paling beruntung di dunia.” ucap Ryan dengan nada yang lembut.
Mendengar pujian Ryan dalam jarak yang sangat dekat, wajah menawan Sylvia secara spontan memerah.
Sylvia pun langsung mundur dan menjaga jaraknya dengan Ryan. Sambil pura-pura terbatuk, ia berkata, “Aku tak menyangka murid Banyuu Tenra yang baru ternyata bermulut manis. Kamu benar-benar bukan laki-laki yang bisa diremehkan.”
"Baiklah, ayo kita segera pergi dari sini."
__ADS_1
Setelah mengatakannya, Sylvia berbalik dan berjalan perlahan ke arah tertentu.
Melihat tingkah imut Sylvia, Ryan hanya bisa tersenyum dan mengikutinya dari belakang.
15 menit kemudian, Sylvia menghentikan langkahnya dan menunjuk ke depan. “Kalau kamu terus menyusuri jalan ini, kamu akan segera tiba di Stasiun Kereta Bawah Tanah. Dengan begitu, kamu bisa kembali ke Jie Long menggunakan kereta.”
“Oke, terima kasih telah membantuku menunjukkan jalan keluar, Sylvia-san.”
"Panggil aku Sylvie."
“Sylvie?” Ryan sedikit terkejut hal ini. Di dunia ini, hanya orang terdekat saja yang memanggil nama seseorang dengan nama kecilnya.
Di saat yang sama, Sylvia melepas sebuah pita yang melilit di salah satu tangannya dan memberikannya pada Ryan.
"Ini untukmu, sebagai pengganti gantungan ponsel tadi. Jadi, jangan sampai hilang ya ….”
“Aku pasti akan menjaganya baik-baik kok.” ucap Ryan dengan wajah serius.
Melihat hal ini, Sylvie tersenyum cukup imut. "Kalau begitu, kita berpisah di sini. Aku harap kamu masih mengingatku saat kita bertemu lagi."
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan gadis secantik dirimu, Sylvie …”
Sylvia lalu berjalan mundur ke arah gang sambil terus melambaikan tangannya dan menghilang dalam gelapnya malam.
Ketika Ryan kembali ke Jie Long, tepatnya ke Kuil Naga Kuning, Ryan bertemu Zhao Hufeng yang telah berdiri di depan pintu Star Room.
Melihat Zhao Hufeng Ryan tersenyum, namun matanya sama sekali tidak tersenyum. “Kakak Senior Zhao …”
"Kenapa tatapanmu seperti ingin melahapku?" protes Zhao Hufeng.
"Aku cuma ingin bertanya, apakah Kakak Senior akhirnya dapat bertemu dengan Slyvia-san?"
"Aku tidak berhasil menemuinya."
"Jadi begitu ya …" Ryan menganggukkan kepalanya sambil menatap tajam Zhao Hufeng. "Lalu, mungkinkah Kakak Senior tidak punya sesuatu untuk dikatakan padaku?"
Mendengar pertanyaan ini, Zhao Hufeng jadi sedikit merasa bersalah."Ughh … maafkan aku."
Begitu mendengar permintaan maaf Zhao Hufeng, ekspresi Ryan kembali seperti sedia kala. "Oke."
Ryan tidak ingin membesar-besarkan masalah ini. Apalagi berkat Zhao Hufeng meninggalkannya, ia jadi tersesat dan secara kebetulan bertemu Sylvia.
"Lalu, mengapa Kakak Senior malam-malam begini berdiri di depan kamarku?"
__ADS_1
"Ehem …" Zhao Hufeng segera terbatuk dan ekspresinya menjadi serius. "Adik Seperguruan, karena kamu sudah kembali, pergilah bersamaku menemui Guru."
"Menemui Guru?" Ryan berkata dengan sedikit terkejut, "Sekarang?"
Ryan tersesat cukup lama di dalam Distrik Pembangunan Kembali. Alhasil, saat Ryan berhasil kembali ke Jie Long, malam sudah hampir larut.
Berdasarkan kebiasaan Fan Xinglou dalam melatih, malam hari adalah waktu untuk istirahat. Jadi, kejadian seperti ini sangat tidak biasa.
"Adik Seperguruan pasti tahu betapa egoisnya Guru. Bisa saja kali ini Guru hanya iseng, atau bisa saja ada pemberitahuan penting dari Guru."
Zhao Hufeng tampak pusing memikirkan bagaimana sikap Fan Xinglou selama ini. "Singkatnya, Guru sudah menunggu kita di ruang audiensi. Selain kita, Saudara Seperguruan lainnya juga datang."
"Saudara Seperguruan lainnya?" Ryan mulai penasaran.
Setelah menjadi murid Fan Xinglou, Ryan belum pernah sekalipun melihat Kakak Senior lainnya kecuali Zhao Hufeng.
Walau begitu, Ryan pernah mendengar tentang murid Fan Xinglou lainnya, terutama Wu Xiaofei.
Terlebih lagi, selama satu bulan terakhir, Fan Xinglou dan Zhao Hufeng berkali-kali membahas Wu Xiaofei di depan Ryan.
Dari perbincangan mereka, Ryan tahu bahwa Kakak Senior Pertama memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan Zhao Hufeng mengakuinya.
Seakan mengetahui apa yang dipikirkan Ryan, Zhao Hufeng berkata, "Kakak Senior Pertama tidak akan hadir."
"Kakak Senior Pertama selalu berlatih di bagian yang lebih dalam Kuil Naga Kuning. Tanpa perintah Guru, dia tidak akan pernah muncul. Maka dari itu, kali ini seharusnya dia tidak akan datang."
"Jadi begitu ya …" Ryan mengangguk paham. "Kalau begitu, ayo kita pergi."
"Oke." Zhao Hufeng juga mengangguk.
Setelah perbincangan singkat ini, mereka berdua pergi menuju Ruang Audiensi.
Mereka hanya membutuhkan waktu lima menit untuk tiba di sana.
Di dalam Ruang Audiensi, Fan Xinglou duduk di sebuah singgasana sembari memandang Ryan dan Zhao Hufeng yang masuk dari depan.
Fan Xinglou lalu menyapa mereka dengan semangat. "Oooh, akhirnya kalian datang juga. Wanita tua ini sudah menunggu kalian dalam waktu yang lama."
Dari nada perkataannya ini, dapat dilihat bahwa suasana hati Fan Xinglou tampak sangat baik.
Biasanya, jika Fang Xinglou bersikap seperti ini, itu artinya ia akan segera memberitahukan alasan mengapa Fan Xinglou memanggil mereka.
Dalam hal ini, Zhao Hufeng hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
Sementara Ryan, ia lebih tertarik melihat tiga orang lainnya yang juga hadir di dalam Ruang Audiensi.