
Swoosh
Di salah satu lorong Seireiden, sesosok bayangan buram melintas seperti roket, membawa suara desingan angin, dan melintasi ruang ini dengan kecepatan yang mencengangkan.
Sosok tersebut tidak lain adalah Ryan. Dengan pandangan lurus ke depan, Ryan mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini. Kalau tidak, maka Ryan tidak pernah bisa pergi dari Seireiden.
Sebelumnya, Ryan telah mencoba menghancurkan langit-langit. Namun, karena struktur dimensi yang membingungkan, Ryan akhirnya memilih mengikuti arah Trinity keluar. Ia takut jika salah langkah, maka Ryan akan terombang-ambing dalam ruang kosong di antara dimensi.
Maka dari itu, untuk mencari jalan keluar, Ryan memanfaatkan angin yang berhembus. Tidak peduli tempat seperti apa, pasti ada angin yang bertiup dari luar.
Dengan merasakan sentuhan angin dan aliran udara, maka Ryan dapat menentukan dari mana arah angin bertiup.
Inilah teknik yang pernah dipelajari Ryan di SMA Butei. Teknik ini biasa digunakan ketika seorang Butei sedang melarikan diri dalam dalam ruang tertutup yang tidak familiar.
Untuk melakukannya, sesekali Ryan akan menutup matanya, dan merasakan perubahan aliran udara di sekitarnya. Dengan segera, di benak Ryan, peta dan rute pelarian akan secara bertahap terbentuk.
Detik berikutnya, Ryan tiba-tiba berbelok sembari memejamkan matanya. Ia terus berlari bagaikan angin tanpa mempedulikan medan. Hal ini menciptakan amukan gelombang angin yang menghempaskan debu-debu dari jalan yang ia lalui.
Setiap kali Ryan berhadapan dengan percabangan jalan, Ryan tidak ragu untuk memilih sisi di mana aliran udara lebih jelas tanpa memperlambat lajunya.
Jika tren ini berlanjut, cepat atau lambat, Ryan pasti akan menemukan pintu luar.
Namun sayang, semua hal baik pasti akan ada akhirnya.
Suatu saat, dari percabangan jalan yang berada ratusan meter di depan Ryan, sekelompok prajurit yang tampak sedang berpatroli melintas dan tidak sengaja melihat Ryan.
Prajurit-prajurit tersebut memiliki wujud yang aneh. Ada yang seperti manusia, dan ada juga yang seperti binatang buas. Aura yang terpancar dari tubuh mereka tidaklah kuat, akan tetapi jumlah mereka sangat besar.
Para prajurit tersebut adalah Rinne yang telah dibuat oleh para Crimson Denizen anggota Bal Masqué.
Begitu mereka melihat, Ryan para prajurit tersebut langsung bereaksi.
"Di sana!"
"Manusia!"
"Tangkap dia!"
Semua Rinne dengan berbagai bentuk itu dengan ganas menyerbu Ryan.
Tidak ada yang tahu mengapa Ryan ditahan oleh Bel Peol. Informasi mengenai Reiji Maigo telah dirahasiakan, dan hanya beberapa anggota level tinggi saja yang tahu.
Sementara anggota Bal Masqué lainnya hanya tahu bahwa Bel Peol menangkap seorang manusia, dan manusia itu sekarang sedang kabur.
__ADS_1
Jadi, bisa dibilang, hampir 90% anggota Bal Masqué kemampuan Ryan, dan menganggap Ryan hanya manusia biasa.
Oleh karena itu, para Rinne yang malang ini tidak tahu betapa mengerikannya eksistensi yang akan mereka hadapi ini.
Melihat sekelompok Rinne datang ke arahnya, Ryan menghela nafas sembari menghentikan langkahnya. Dengan segera, tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Boom
Di bawah suara tanah yang hancur, Ryan menghentakkan kakinya ke tanah. Sosoknya langsung berubah menjadi bayangan buram yang melaju ke depan dengan cepat.
Di tangan kanannya, Ryan menggenggam erat Moon Blade. Matanya kini telah berubah menjadi biru sedingin es dengan korona merah di tengah pupilnya.
"Sudah lama aku nggak melakukan pembantaian besar-besaran, aku benar-benar merindukannya …"
"Untuk sementara ini, aku akan menikmati hiburan ini sambil mencari jalan keluar dari Seireiden." gumam Ryan sambil tersenyum menyeringai.
Dalam sekejap, Ryan telah tiba di depan para Rinne tersebut.
"Flashing Seath: Eight Point Opposition (Sensa: 8-Ten no hantai)!"
Kilatan cahaya belati yang tak terhitung jumlahnya hadir di sekitar tubuh Ryan.
Slash Slash Slash Slash
"Tidak!"
"Arghhh!"
Jeritan demi jeritan mulai terdengar dari kerumunan Rinne. Power of Existence mereka yang padam, memercikkan api merah bagaikan cipratan darah.
Menggunakan Mystic Eye of Death Perception, Ryan dapat melihat semua garis kematian di tubuh Rinne-Rinne tersebut. Moon Blade di tangannya telah lama berubah menjadi banyak kilatan cahaya dingin dan memotong secara presisi garis kematian di tubuh Rinne.
Slash Slash Slash Slash
Suara tebasan bilah tajam yang menembus tubuh fisik terus terdengar tanpa henti.
"Arghhh!"
Jeritan para Rinne itu terdengar bagaikan melodi kematian yang cukup merdu.
Semua tubuh Rinne yang berada dekat dengan Ryan telah dipotong dengan sangat musah. Tebasan berkecepatan tinggi ini memotong tubuh mereka seperti memotong selembar kertas. Dengan nyala api yang memercik bagaikan darah, mereka terus menjerit dan berubah menjadi debu api.
__ADS_1
Adegan ini hampir seperti penggiling daging yang menyerbu kerumunan hewan ternak.
Jika bukan karena Crimson Denizen dan Rinne tidak memiliki darah, melainkan api yang mewakili Power of Existence, maka tempat ini sudah pasti akan dipenuhi genangan darah.
Dalam situasi ini, kecepatan Ryan samak sekali tidak berkurang, dan ia terus berlari ke depan seperti roket, melambaikan kilatan cahaya belati yang tak terhitung jumlahnya untuk membunuh Rinne.
Wuuush
Tak lama kemudian, di mana Ryan lewat, tanah yang telah dilewstinya akan penuh dengan potongan tubuh Rinne yang terbakar seperti api dan perlahan berubah menjadi abu.
Tidak ada waktu bagi para Rinne yang berada sangat dekat xengan Ryan untuk melarikan diri. Sementara beberapa Rinne yang cukup beruntung, berhasil bertahan dari serangan Ryan.
Walau begitu, mereka yang beruntung ini sangat tercengang begitu melihat pemandangan yang ditinggalkan Ryan.
"Ini tidak mungkin!"
"Apakah dia benar-benar manusia?"
"Tidak mungkin manusia biasa bisa melakukan semua ini kan?"
Pembantaian masal secara sepihak ini membuat Rinne yang tersisa sulit menerima kenyataan ini. Tapi bukti konkrit di depan mata mereka membuat para Rinnerl beruntung ini mau tidak mau harus mempercayainya.
Melihat Ryan terus bergerak dengan kecepatan tinggi sembari terus membunuh membantai tanpa ampun Rinne-Rinne di sekitarnya, para Rinne yang beruntung ini mulai berteriak satu demi satu.
"Cepat hubungi Manajer!"
"Kita harus memberi tahu mereka betapa mengerikannya manusia itu!"
"Manusia itu … manusia itu …"
"Tidak! Aku tidak mau berhadapan dengannya lagi!"
"Dia bukan Manusia, dia adalah Iblis!"
Teriakan penuh kesedihan dan ketakutan menyeruak di antara para Rinne yang selamat.
Namun sayang, setelah Ryan membunuh semua Rinne yang ada di sekitarnya, ia kembali sejenak ke belakang untuk memusnahkan Rinne yang tersisa.
Pada akhirnya, tidak ada Rinne yang berhasil selamat di lorong tersebut.
Puas membunuh semua Rinne di sana, Ryan kembali bergerak dan segera pergi ke lorong lain.
Sampai akhirnya, Ryan tiba di sebuah ruangan yang sangat besar.
__ADS_1