
Sydonay mencengkeram leher Ryan dengan erat, membiarkan cakarnya menggali lebih dalam ke dalam kulit.
Wajah Sydonay tampak sangat merah, menunjukkan betapa marahnya Sydonay pada Ryan. Dengan suara rendah penuh kemarahan, ia berkata, "Apa yang sudah kamu lakukan?!"
Ryan mengangkat matanya dan menatap Sydonay. Perlahan, ujung mulut Ryan terangkat.
Melihat senyuman seperti psikopat itu, kemarahan Sydonay semakin meluap. Bahkan hawa membunuh yang luar biasa kuat, mulai keluar dari tubuhnya.
Walau begitu, tidak ada rasa takut sama sekali di mata Ryan. Ia hanya tersenyum menyeringai seakan sedang menikmati semua ini.
Sembari terus mencekik leher Ryan, Sydonay berkata dengan penuh penekanan, “Apakah kamu benar-benar tidak takut mati?”
Ryan hanya diam dan terus tersenyum. Semua hal itu sudah sangat jelas menjawab pertanyaan Sydonay.
Setelah beberapa saat, Ryan akhirnya mulai membuka mulutnya. “Bagiku, kematian adalah hal biasa dan juga paling murah.”
Ini adalah hal yang wajar. Sejak Ryan mendapatkan Mystic Eye of Death Perception, matanya akan secara otomatis merekam setiap kematian yang ia lihat ke dalam jiwanya.
Setiap kematian yang terekam, akan disimpan dalam setetes air berwarna hitam. Rekaman ini terus menumpuk dan menumpuk, hingga akhirnya berkumpul menjadi sebuah laut hitam tak berujung.
Bisa dibayangkan berapa banyak kematian yang tersimpan dalam jiwa Ryan. Oleh karena itu, sangat wajar jika Ryan menganggapnya adalah hal biasa.
“Lagipula, aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya bukan?”
Ryan perlahan berkata pada Sydonay, pada Bel Peol dan Hecate. “Wadahmu terlalu kecil, kamu tidak akan sanggup menampung semua yang aku miliki.”
Mendengar ini, ekspresi Sydonay tiba-tiba berubah menjadi sangat jelek. Alis Bel Peol pun berkerut semakin dalam.
Sementara Hecate, kondisi mentalnya belum membaik. Bahkan, setelah mendengar perkataan Ryan ini, mentalnya semakin terguncang.
Akhirnya, Trinity sadar, bahwa orang yang ada di depan mereka ini, bukanlah manusia biasa.
Meskipun sudah menyadari fakta bahwa manusia ini memiliki kekuatan yang kuat, tapi mereka tidak menyangka akan sekuat ini.
Sadar akan hal ini, selain Hecate, dalam hati Sydonay dan Bel Peol, menyeruak niat membunuh yang besar.
__ADS_1
"Akhirnya, kini aku mengerti." Sydonay berkata dengan sungguh-sungguh, "Jika aku tidak membunuhmu sekarang, kamu pasti akan menjadi penghalang terbesar kami di masa depan!”
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup …”
Sydonay perlahan mengencangkan jari berkuku tajamnya di leher Ryan.
Merasakan tekanan yang mengerikan, Ryan mulai lemas kehabisan nafas. Meski begitu, Ryan sama sekali tidak merengek kesakitan. Ia hanya tersenyum dengan mata penuh kegilaan.
Saat ini, kekuatan yang ditunjukkan Sydonay jauh lebih kuat dibanding saat bertarung dengan Ryan di sungai Mana.
Tekanan dan kekuatan ini, tidak lebih lemah dari Fan Xinglou.
Ryan tahu bahwa dalam pertempuran sebelumnya, Sydonay tidak menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.
Namun, berkat hal ini, Ryan jadi tahu bahwa kekuatan Sydonay berada pada Tingkat Authority 3.
Bagaimanapun juga, Sydonay adalah seorang Jenderal yang telah memimpin Bal Masqué selama ribuan tahun. Jadi, memiliki kekuatan sebesar itu adalah hal yang wajib.
Saat Sydonay akan membunuh Ryan, Hecate langsung menyelanya. “Hentikan!”
Cakar Sydonay perlahan meregang.
Ekspresi Bel Peol juga agak menjadi lebih suram dan tidak pasti.
Kedua orang anggota Trinity tersebut telah ribuan tahun mengenal Hecate, tapi ini pertama kalinya mereka mendengar suara Hecate dengan penuh emosi. Namun sayang, emosi yang ditunjukkan Hecate dalam suaranya adalah emosi ketakutan.
Melihat gadis yang sebelumnya tidak memiliki emosi menjadi seperti ini, membuat Sydonay dan Bel Peol berpikir, apa yang sebenarnya dilihat oleh Hecate sampai membuatnya seperti ini.
“Brengsek …” Sydonay dengan getir melepaskan tangannya dari leher Ryan.
Bel Peol hanya bisa memeluk tubuh Hecate yang terus bergetar, sembari menatap Ryan dengan pandangan tidak nyaman.
“Untuk sementara, kita akan mengurungnya dulu di sini …” ucap Bel Peol.
“Untuk masalah Reiji Maigo dan juga manusia ini, kita perlu mendiskusikannya lagi.”
__ADS_1
Dengan keputusan ini, Ryan akhirnya resmi menjadi tawanan Bal Masqué.
~***~
Di suatu ruangan yang agak dingin di dalam Seireiden, Hecate sedang duduk di tempat tidurnya. Tubuhnya meringkuk dan kepalanya terkubur di lututnya, membuat orang lain sama sekali tidak bisa melihat wajahnya.
Melihat Hecate seperti ini, kedua orang lainnya yang berada di sini terdiam dan mengisi situasi ini dengan keheningan yang tak terlukiskan.
Setelah sekian lama, Sydonay menghela napas panjang. Ia lalu mengeluarkan senyum masam yang langka dan berkata, "Ini adalah pertama kalinya melihat Hecate bersikap seperti itu."
"Jujur saja …" Bel Peol juga menghela napas dan mengungkap isi hatinya. "Aku juga baru pertama kalinya melihat Hecate seperti ini."
Ekspresi kedua Crimson Lord tersebut terlihat sangat masam atas keadaan Hecate itu. Kejadian tak terduga ini membuat keduanya agak kewalahan.
Dulu, Hecate adalah seorang introvert, tidak mudah didekati, dan sangat pendiam. Dia bahkan sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Semua hal itu terjadi disebabkan hati Hecate selalu kosong dan tidak pernah terisi hingga penuh.
Akan tetapi, justru karena hal inilah, Sydonay dan Bel Peol ingin sekali menemani dan melindungi Hecate. Dan hubungan mereka telah terjalin selama ribuan tahun.
"Sial!" Sydonay sedikit bergetar dan berkata dengan getir, "Manusia itu telah membuat Hecate-ku terlihat seperti ini. Aku benar-benar ingin membunuhnya."
"Aku tidak menyangka ada manusia yang seperti itu." Bel Peol melirik Hecate dan berbisik, "Aku ingin tahu, pada saat itu, apa yang dilihat Hecate?”
Semua yang terjadi hari ini sangat tidak masuk akal bagi Bel Peol. Keberadaan anomali seperti Ryan, telah mengacaukan rencananya.
'Manusia itu benar-benar misterius dan aneh. Namun, ada satu hal yang pasti, dia bukanlah manusia biasa. Kalau tidak, Hecate. tidak akan mungkin menjadi seperti ini.' pikir Bel Peol.
"Reiji Maigo jatuh ke tangan orang seperti itu. Apakah itu berkah atau bencana?"
Bel Peol berbisik dengan kata-kata seperti itu.
"Entah itu berkah atau bencana, aku tidak peduli. Bagiku, menemukan Reiji Maigo saja merupakan sebuah berkah. Sekarang, yang terpenting adalah menemukan cara untuk mengambil Reiji Maigo darinya, dan segera membunuhnya." Sydonay berkata dengan nada datar, "Lagi pula, manusia seperti itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kita."
"Baik, aku akan memikirkan cara untuk merebut kembali Reiji Maigo." Bel Peol berkata, "Tidak peduli seberapa buruk manusia itu, kita harus mengutamakan nyawa Ketua."
"Aku tahu …" Sydonay menggaruk-garuk kepalanya dan akhirnya tenang. "Masalah Reiji Maigo, aku serahkan semuanya padamu. Ini bukanlah hal yang aku kuasai."
__ADS_1
"Tentu." Bel Peol memberikan jawaban serupa, "Ini adalah tanggung jawabku."