
"Ugh!" Shana merasakan kekuatan yang sangat kuat menghantam Nietono no Shana. Hal ini membuat kedua tangannya kesemutan dan mati rasa.
"Ini sangat kuat!"
Tentu saja itu kuat. Dengan efek Sarung Tangan Heavy Silver, tendangan Ryan memiliki efek kerusakan ganda.
Serangan sederhana seperti itu, meski tidak menggunakan Flashing Dash dari Teknik Membunuh Nanaya, setelah diluncurkan, Shana pasti tidak akan bisa menahan kekuatan serang Ryan sepenuhnya.
Apalagi, dalam pertarungan ini, Ryan belum menggunakan Prana-nya untuk meningkatkan kekuatan serang.
Jika Ryan menggunakan Prana dalam tendangan tadi, maka Shana sudah pasti akan terbang seperti bola.
"Padahal jelas kamu hanya seorang manusia, tapi kenapa Kemampuan Fisikmu bisa dilatih hingga sekuat ini?!"
Dengan ucapan seperti sedang curhat ini, Shana langsung membanting Nietono no Shana di tangannya dengan galak, menciptakan lingkaran api yang berputar dan mengalir pada bilahnya.
Odachi merah menyilaukan ini membawa gelombang panas merah dan langsung memotong ke arah Ryan.
"Sudah aku duga, Teknik Pedang Shana sangat sederhana. Tapi, karena kesederhanaannya, ia memiliki tebasan yang kuat. Itu benar-benar gaya bertarung yang sesuai dengan wataknya." gumam Ryan sambil mundur ke belakang seperti hantu.
Slash
Tebasan gelombang panas yang tajam dari Shana ini langsung menggores sedikit pakaian Ryan.
Ryan yang berhasil lolos dari serangan mematikan ini langsung berhenti sesaat. Tak lama kemudian, Ryan kembali bergerak dengan kecepatan tinggi
Shana yang baru saja melakukan serangan kuat masih dalam posisi menebas dan tidak sempat menarik Nietono no Shana untuk bertahan.
Dalam keadaan seperti itu, mulut Ryan sedikit terangkat. Tanpa ada jeda, Ryan langsung mengulurkan tangan kirinya ke arah Shaba.
"Flashing Sheath: One Wind (Sensa: Ippu)!"
Bagaikan burung elang yang menyambar mangsanya, telapak tangan Ryan meluncur melintasi ruang.
Dalam sekejap, tangan Ryan langsung mencengkram erat tangan Shana yang memegang Odachi.
"Akulah pemenangnya!"
Dengan pernyataan seperti itu, Ryan memutar tangan Shana kebelakang dan membantingnya ke tanah
One Wind adalah teknik melempar dan membanting.
Oleh karena itu, tindakan Ryan ini sangatlah halus, semulus air mengalir, tidak ada perselisihan di dalamnya.
Dalam keadaan seperti ini, kemenangan Ryan sudah dapat dipastikan.
Namun, saat Ryan bersiap untuk mendaratkan Shana di tanah, pandangan mata Ryan menangkap sesuatu di tanah.
Tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba saja Ryan mengehentikan bantingannya di tengah-tengah.
Tak mau melewatkan kesempatan emas ini, Shana langsung bergerak
"Haaa!"
Shana berteriak dan memutar kembali lengannya. Ia lalu menarik tubuh Ryan ke depan, dan menjatuhkannya.
Braak
Ryan jatuh dengan keras ke tanah. Karena kejadian yang begitu mendadak, Ryan tidak sempat menggunakan Prana untuk memperkuat pertahanannya. Akibatnya, walau tidak terluka, tapi Ryan sedikit meringis kesakitan
Shana menatap Ryan yang telah jatuh ke tanah. Namun, tidak ada ekspresi kegembiraan di wajah lembut Shana. Sebaliknya, Shana mengangkat alisnya dan bertanya dengan sedikit dingin, “Kenapa kamu tiba-tiba berhenti? Apa kamu mengasihaniku?”
Bagaimanapun juga, Shana adalah seorang Flame Haze, tentu saja ia tahu ada keanehan pada diri Ryan pada saat tubuhnya akan dibanting ke tanah.
__ADS_1
Karena hal inilah, Shana jadi memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja, kemenangan seperti itu sama sekali tidak membuat Shana senang.
Ryan yang sedang berbaring di tanah, teringat bahwa Shana memiliki harga diri yang tinggi sama dengan Aria.
Mengingat hal tersebut, Ryan tersenyum dan berkata, “Nggak mungkin lah aku mengalah. Aku hanya belum menguasai Teknik ini sepenuhnya.”
Mendengar ini, Shana melihat ekspresi wajah Ryan yang tak berdaya dan mendengus dingin. Ia kemudian berbalik meninggalkan Ryan.
Setelah melihat ini, Ryan segera berteriak, “Shana!”
Saat nama itu keluar, Shana langsung berteriak, “Jangan panggil aku dengan nama itu!”
Setelah berteriak dengan penuh kekesalan seperti itu, Shana semakin mempercepat langkahnya untuk pergi.
Seketika itu juga, udara di dalam Fuuzetsu bergetar, membiarkan dunia merah cerah perlahan menghilang.
Kini, di sana hanya tinggal Ryan saja yang masih berbaring di pinggiran sungai. Ia menghela nafas dan bergumam, “Bukannya aku sengaja mengalah. Bahkan aku benci yang namanya kekalahan. Tapi …”
Ryan tidak lagi melanjutkan gumamnya dan hanya menatap langit biru sembari tersenyum kecut.
~***~
“Kenapa?! Kenapa dia melakukan hal seperti itu?!” Shana terus mengomel sembari berjalan menyusuri jalan setapak di tepi sungai Mana.
“Aku memang telah berhasil menang, tapi, aku tidak bisa menerima kemenangan seperti ini!”
Konfrontasi antara Shana dan Ryan awalnya dibuat hanya untuk meluapkan kekesalannya pada Ryan. Dan sekarang, Shana telah berhasil menang. Akan tetapi, Shana tidak merasa lega sama sekali. Bahkan, ia lebih kesal dari biasanya.
Sejujurnya, Shana tahu alasan Ryan tiba-tiba berhenti saat membantingnya.
Alastor yang hanya diam sejak tadi, juga mengetahui alasannya. Tak tahan dengan keluhan Shana, Alastor akhirnya angkat bicara, "Shana, tenanglah. Kamu seharusnya juga sudah tahu kan? Tepat di bawah wajahmu tadi, ada sebuah batu yang cukup tajam tergeletak."
Inilah alasan Ryan menghentikan serangannya secara mendadak. Sebuah batu tajam tergeletak tepat berada di depan mata kiri Shana.
Ryan juga sebenarnya tahu bahwa batu seperti itu tidak akan melukai Shana. Hanya saja, tanpa sadar, Ryan berhenti. Ini adalah keputusan yang timbul dari alam bawah sadar Ryan.
Hal inilah yang membuat Shana merasa tidak enak.
Akibatnya, suasana hati Shana yang mudah tersinggung tak hanya tidak lega, tetapi ia bahkan lebih kesal.
"Kenapa di saat seperti ini, tidak ada Denizen yang keluar?! Aku benar-benar butuh pelampiasan untuk meluapkan kekesalanku ini!"
Shana kemudian berhenti dan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat langit yang cerah.
Setelah beberapa saat, Shana berteriak, Orang itu benar-benar menyebalkan!"
~***~
Selama tiga hari setelah pertarungan Ryan dan Shana, Ryan terus membunuh Torch di Kota Misaki setiap harinya.
Ryan terus berusaha membuat Friagne keluar. Akan tetapi, Friagne tidak muncul sama sekali, seakan-akan dia telah meninggalkan kota Misaki. Maka dari itu, jumlah Torch di kota ini semakin hari jumlahnya semakin sedikit.
Mantra Tak Terbatas City Devourer hanya bisa dilakukan di sebuah kota jika jumlah Torch mencapai minimal 10% dari total penduduk kota tersebut.
Oleh karena itu, Ryan terus membunuh Torch-Torch yang ia jumpai di kota, sehingga kondisi aktivasi Mantra Tak Terbatas City Devourer tidak dapat terpenuhi.
Dalam keadaan seperti ini, Friagne masih tetap berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan Ryan sangat mengagumi kesabarannya.
Padahal, Mantra Tak Terbatas City Devourer sangat penting bagi Friagne.
"Tapi, aku tidak percaya kamu bisa tetap diam dan bersabar seperti ini."
Nyatanya, pemikiran Ryan memang benar. Friagne telah mencapai batas kesabarannya kali ini.
__ADS_1
Di sebuah ruang remang-remang, pada sebuah map hologram berwarna biru, tampak satu persatu Torch padam. Hal ini menyebabkan wajah elegan Friagne tampak sedikit terdistorsi.
Friagne menggertakkan giginya dan berkata penuh emosi, "Manusia br3ngsek!"
Jika bukan karena keberadaan Reiji Maigo yang sudah ada di depan mata, Friagne pasti tidak akan sesabar ini.
"Tuan …"
Marianne, yang berbaring di pelukan Friagne, memanggil Tuannya dengan penuh kegelisahan.
Seruan ini, segera membuat Friagne tenang. Ia lalu menyentuh kepala Marianne di pelukannya, dan tersenyum lembut.
"Jangan khawatir, kita masih memiliki sisa Torch yang cukup. Meski Torch yang menghilang sangat banyak, tapi selama kita berhasil mendapatkan Reiji Maigo, maka kita bisa mengaktifkan Mantra kapan saja. Percayalah, kita tidak akan gagal!"
"Tapi, jika keadaan kita terus seperti ini, usaha Tuan selama ini akan sia-sia." Marianne lalu berkata dengan sedikit gentar, "Lalu, apakah Crimson Lord itu belum datang?"
"Aku sudah menghubunginya. Tapi entah mengapa, sampai detik ini dia belum tiba juga." Friagne menatap Crystal Altar di depannya. Dengan ekspresi agak cemas, ia berkata, "Mungkinkah dia tidak berminat menerima misi dariku? Ataukah dia mengira misi yang akan aku berikan tidak menarik?"
Crimson Lord yang Friagne hubungi memang terkenal senang mengambil misi dari Crimson Denizen lain. Dia benar-benar menikmati kehidupannya sebagai tentara bayaran.
Saat Friagne sedang berpikir, tiba-tiba sebuah suara terdengar di ruangan tersebut.
"Hei hei hei … jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun juga, aku sudah melakukan bisnis ini sejak lama."
Ketika suara yang begitu kuat dengan sensasi sembrono terdengar di seluruh ruangan, Friagne tertawa bahagia. Ia kemudian menoleh ke belakang dan melihat sosok yang telah ditunggu-tunggu.
Di sana telah berdiri sesosok pria bertubuh tinggi dengan setelah berwarna hitam. Rambut berwarna abu-abu gelap disisir ke belakang kepalanya.
Kacamata hitam yang pria itu kenalan membuatnya tampak seperti seorang bodyguard.
Pria paruh baya itu lalu melangkah tanpa suara dan perlahan keluar dari bayang-bayang. Ia kemudian menatap Friagne, dan menunjukkan senyum manis.
"Maaf, aku terlambat. Denizen yang mempekerjakanku baru-baru ini sangat banyak. Dan kebetulan, sebelum permintaanmu datang, aku terlanjur sedang membantu kedua sahabatku."
Mendengar ini, Friagne tersenyum, dan berkata, "Tidak masalah, yang penting kamu sudah berada di sini. Senang bertemu denganmu, Thousand Changes, Sydonay …"
"Ah, senang bertemu denganmu juga, Hunter, Friagne. Jujur saja, ketika kamu menghubungiku, aku pikir aku salah mendengar namamu."
Sydonay adalah Crimson Lord yang senang menerima permintaan misi dari Crimson Denizen lain. Ia sudah lama hidup di dunia manusia ini, bahkan lebih lama dari Friagne.
Di kalangan Flame Haze dan Crimson Denizen, nama Thousand Changes sendiri sangat terkenal, bahkan lebih terkenal dari nama Hunter.
Sydonay tahu bahwa Friagne adalah penghuni peringkat lima besar Crimson Lord terkuat di era modern ini. Maka dari itu, Sydonay sedikit terkejut saat Friagne menghubunginya.
"Secara umum, Crimson Denizen yang membutuhkan bantuan Crimson Lord lainnya adalah Denizen yang lemah. Tapi, aku tidak menyangka Crimson Lord kuat sepertimu akan meminta bantuanmu. Ini benar-benar menakjubkan!"
Setelah berkata seperti itu Sydonay mengambil sebungkus rokok dari sakunya. Ia kemudian menyalakan rokoknya dan menghisapnya. "Fuuuh~"
Di bawah asap putih yang ia hembuskan, Sydonay berkata tanpa basa-basi, "Jadi, misi apa yang ingin kamu berikan padaku?"
Mendengar ini, Friagne tersenyum, dan menatap lurus ke arah Sydonay. Ia lalu berkata dengan nada yang elegan, "Aku ingin menugaskanmu untuk membantuku menghadapi dua orang yang berselisih denganku."
"Dua orang?" Sydonay langsung bertanya, "Siapa kedua orang tersebut?"
Friagne menengok ke arah Crystal Altar. Di sana, ia melihat sebuah Torch yang berada di sudut kota tiba-tiba hilang.
Dengan suara yang agak emosi, Friagne berkata, "Flame Haze …"
"Dan satunya lagi …"
"Seorang manusia …"
__ADS_1