Reincarnation Room

Reincarnation Room
Hunter


__ADS_3

Flame-Haired Burning-Eyed Hunter adalah salah satu Flame Haze yang terkenal di dunia ini. Apalagi, Denizen yang melakukan kontrak dengan gadis itu bukanlah Denizen biasa, melainkan seorang Crimson Lord dan juga Dewa di Crimson Realm.


Maka dari itu, Ryan merasa bahwa kekuatan Flame-Haired Burning-Eyed Hunter sama sekali tidak berada di bawahnya.


"Hei, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menggangguku? Seenaknya saja kamu mengambil buruanku. Apa kamu nggak diajarkan sopan santun?" ucap Ryan dengan nada sedikit jengkel.


Mendengar ucapan Ryan, ekspresi Shana sama sekali tidak berubah. Ia terus menatap Ryan dengan dingin seakan tidak mempedulikan ucapannya.


Walau Rinne sangat lemah, tapi Ryan ingin mencoba melawannya. Maka dari itu, Ryan sedikit jengkel dengan gadis kecil di depannya itu. Tapi, rasa jengkel dalam diri Ryan tidak bertahan lama.


'Melihat Shana secara langsung, aku jadi merasa penasaran, mengapa karakter loli pada Anime jaman dahulu banyak yang memiliki sikap Tsundere dan keras kepala ya? Hmm …' batin Ryan sambil mengingat-ingat karakter seperti Louise dari Zero no Tsukaima, Taiga dari Anime Toradora, dan Aria dari Aria The Scarlet Ammo.


'Walau begitu, mereka semua imut-imut. Aku benar-benar ingin membungkus mereka semua dan membawanya ke rumahku di Reincarnation Room, hehehehe …'


Saat sedang berpikir kotor seperti itu, Ryan pun langsung tersadar dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Anjir, kenapa aku jadi punya pikiran mesum seperti itu! Sadar Ryan, sadar! Jangan jadi seorang pecinta loli! Kamu sudah punya Sylvia, Ryan!'


Tingkah aneh Ryan itu sama sekali tidak mengubah ekspresi Shana. Seakan ia tidak tertarik ataupun penasaran dengan identitas Ryan. 


Setelah beberapa saat menatap dingin Ryan, Shana berkata pada dirinya sendiri. “Alastor, apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Jelas, gadis itu sama sekali tidak memperdulikan Ryan dan sangat meremehkannya.


Shana dalam Anime-nya memang dikenal sombong, keras kepala, dan berharga diri tinggi. Jadi, sikap yang ditunjukkannya saat ini sangatlah wajar.


Di depan Ryan, eksistensi bernama Alastor mulai menjawab pertanyaan Shana melalui liontin di lehernya. “Tampaknya, tubuh manusia itu menyimpan suatu rahasia. Jika tidak, maka tidak mungkin ada banyak Rinne yang dikirim ke tempat antah berantah ini.”


Umumnya, tugas Rinne adalah mengumpulkan Power of Existence untuk Tuannya. Maka dari itu, Crimson Denizen yang berniat mengumpulkan banyak Power of Existence biasanya akan menyebarkan Rinne ke berbagai tempat untuk memanen manusia.


Jadi, apa yang dilakukan Crimson Denizen kali ini sedikit aneh. Dia mengirim banyak Rinne ke satu tempat yang sama untuk mengepung seorang manusia.


"Para Rinne itu pasti diperintahkan untuk melawan manusia ini." Alastor berkata dengan penuh keyakinan, "Untuk saat ini, lebih baik kita menyelidiki dulu manusia ini."


“Baik.” Shana mengangguk tanpa ragu-ragu.


Dari awal hingga akhir, Shana terus mengabaikan keberadaan Ryan dan berbicara dengan Alastor seakan Ryan hanya angin lalu.


Dalam hal ini, Ryan hanya mengangkat alisnya dan menyeringai. ‘Kamu ingin menyelidikiku? Hehehehehe …’


Ryan tahu, walau Shana terlihat menjengkelkan, tapi dia tidak memiliki niat jahat. Dia hanya terlalu tegas dan serius dalam melakukan pekerjaannya sebagai Flame Haze.


Karena Alastor memintanya untuk menyelidiki Ryan, Shana pasti akan melakukannya. Bahkan jika Ryan tidak menyetujuinya, Shana akan tetap menyelidiki Ryan bagaimanapun caranya.


Mengingat hal ini, Ryan mengabaikan perlakukan Shana dan berkata, “Aku nggak peduli atas apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Tapi, tamu yang telah aku tunggu telah datang. Jadi, diam lah dan tunggu dari samping. Jangan merebut buruanku lagi.”


Ucapan Ryan ini akhirnya membuat mata Shana menjadi lebih tajam. “Tamu?”


Seketika itu, dengan ganasnya, Shana langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke atas.


Wuuush


Di saat yang bersamaan, di atas langit tiba-tiba muncul kobaran api berwarna putih pucat.


Nyala api secara bertahap memadat menjadi satu kesatuan dan menjelma menjadi sosok pria berpakaian serba putih.



Dengan tatapan jahat, pria itu membuka mulutnya. Suara yang elegan pun terdengar di telinga Ryan dan Shana.


“Aku bertanya-tanya, kira-kira siapa yang membunuh para Torch yang aku ciptakan dan juga memusnahkan para pelayan manisku. Ternyata itu kau, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.”

__ADS_1


Melihat pria yang sekeliling tubuhnya yang dikelilingi oleh kain putih mirip Hagoromo muncul, mata Ryan sedikit miring dan mulutnya perlahan terangkat. “Akhirnya muncul juga …”


Shana menatap lurus ke arah pria anggun itu. Dan bertanya, “Apakah semua Rinne-Rinne ini milikmu?”


“Tepat sekali …” senyum pria itu dengan elegan.


Kemudian, pria itu berkata dengan santai, "Perkenalkan, namaku Friagne. Senang bertemu denganmu, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.”


Meskipun suaranya terdengar cukup menyenangkan, namun hal itu tidak dapat menyembunyikan kedengkian di dalamnya saat memanggil nama sebutan Shana. Seakan-akan itu adalah air berlumpur yang dimuntahkan.


Bagi banyak Crimson Denizen, Flame Haze adalah sekelompok orang yang telah menyerahkan jiwanya pada Crimson Denizen yang melakukan kontrak dengannya demi mendapatkan kekuatan untuk memusnahkan para Denizen yang pergi ke dunia manusia. Dengan kata lain, Flame Haze hanyalah sebuah alat.


Oleh karena itu, Friagne berkata dengan nada sarkas adalah hal yang wajar.


Namun, Shana sama sekali tidak peduli dengan nada sarkas dari Friagne.


"Jadi begitu, apakah kamu Hunter yang dikenal suka mengumpulkan Treasure Tool (Hogu) dan juga memburu banyak Flame Haze?" tanya Alastor dari dalam liontin.


Ini adalah cara Alastor untuk memperingatkan Shana betapa berbahayanya Crimson Denizen yang ada di depannya.


Friagne memiliki hobi mengkoleksi Treasure Tool (Hogu) dan berburu Flame Haze. Maka dari itu dia mendapat julukan Hunter. Dia memiliki kepribadian yang kokoh dan juga kecerdasan tinggi. Kekuatannya pun masuk dalam peringkat lima besar Crimson Denizen. Bisa dibilang, dia termasuk Crimson Denizen yang kuat.


"Hati-hati." Alastor berkata pada Shana. "Dia bukanlah Crimson Denizen biasa, melainkan Crimson Lord. Kamu bisa mati jika meremehkannya."


Ekspresi Shana berangsur-angsur memadat, dan matanya berkobar bagaikan nyala api.


Hanya Ryan, yang menatap mata Friagne dengan tatapan seperti hewan yang melihat mangsanya.


Crimson Lord, Itu adalah gelar yang dimiliki individu dengan kekuatan yang sangat kuat di antara para Crimson Denizen.


Sama seperti manusia, ada manusia yang lemah dan ada juga yang lemah, di Crimson Denizen juga berlaku hal yang sama.


Crimson Denizen yang mengadakan kontrak dengan manusia untuk menjadi Flame Haze juga harus Crimson Lord. Crimson Denizen biasa tidak akan bisa melakukan kontrak.


"Apakah Anda adalah Flame of Heaven, Alastor?" tanya Friagne sambil mengamati liontin yang ada di leher Shana.



Kali ini, nada suara Friagne tidak lagi penuh ejekan, melainkan nada suara yang penuh kesopanan.


"Saya telah mendengar banyak tentang Anda, Flame of Heaven dan kontraktornya, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter. Akan tetapi, ini adalah pertama kalinya kita pernah bertemu."


"Jujur saja, saya tidak menyangka bahwa Anda, yang merupakan seorang Dewa Pembalasan (God of Retribution) di Crimson World, bersedia mendiami tubuh gadis sekecil ini."


"Lelucon ini benar-benar membuat orang tertawa." ucap Friagne dengan penuh sarkas. Akan tetapi, ia tetap bertutur dengan sangat sopan.


"Itu wajar." Alastor berkata dengan nada tenang, "Saya adalah Dewa yang mengontrol Penghakiman dan Penghukuman. Karena banyaknya Denizen yang mengabaikan keseimbangan dunia, maka sudah tugasku untuk membuat orang sepertimu tertawa."


"Jika dilihat dari yurisdiksi Anda, semua tindakan Anda tidaklah salah." Friagne mengangkat matanya dan menatap gadis berambut api yang sejak tadi menatap dirinya sendiri dengan serius. 


"Tapi, Flame of Heaven, kontraktormu sepertinya masih sangat muda. Bahkan mungkin masih belum tumbuh bulu. Apakah kamu benar-benar berpikir dapat bertarung denganku dengan kontraktor seperti itu?"     


Kali ini, bukan Alastor yang menjawab pertanyaan Friagne, melainkan Shana.


"Bisa atau tidaknya aku bertarung, bukan kamu yang memutuskannya."


Shana kemudian mengangkat Odachi-nya dan menunjuk ke arah Friagne. Ia berbicara dengan nada lembut, tapi tegas. "Tapi akulah yang memutuskannya!"


Odachi yang menunjuk ke Friagne tiba-tiba mengeluarkan bara api.

__ADS_1


Friagne memandang ke arah Odachi yang menyala-nyala itu dengan penuh ketertarikan. "Apakah kamu akan menggunakan pedang api itu untuk bertarung? Sepertinya kamu memiliki Treasure Tool (Hogu) yang cukup kuat juga."


Friagne tampak senang melihat Treasure Tool (Hogu) milik Shana. Bagaimanapun juga, Friagne adalah seorang kolektor. Maka dari itu ia merasa senang dan ingin merebut Odachi milik Shana.


Yang disebut Treasure Tool (Hogu) adalah Barang (Item) yang dapat mengeluarkan kekuatan sihir dan juga berbagai fenomena magis lainnya.


Barang-barang ini umumnya memiliki kemampuan yang setara dengan Mantra Tak terbatas. Bedanya, Kemampuan yang ada dalam Treasure Tool (Hogu) bisa langsung digunakan tanpa perlu dipelajari lagi.


Penggunanya hanya perlu mengontrol Treasure Tool (Hogu) dengan benar. Beberapa di antaranya bahkan tidak memerlukan Power of Existence untuk mengaktifkannya.


Odachi yang digunakan Shana adalah Treasure Tool (Hogu).


"Meskipun bukan keinginanku untuk bertarung di sini, tapi Treasure Tool (Hogu) milikmu sungguh menggoda. Tidak sia-sia aku pergi ke sini secara langsung."


Friagne tersenyum sedikit gila dan berkata, "Kalau begitu, izinkan saya menggunakan Treasure Tool (Hogu) untuk melawanmu.”


Setelah itu, di tangan Friagne tiba-tiba muncul satu set kartu remi.


Melihat Friagne telah mengeluarkan senjatanya, Shana menggenggam pegangan Odachi dan mengangkatnya perlahan.


Dalam suasana yang tegang ini, tiba-tiba muncul suara yang merusak suasana ini. 


"Hei! Sudah aku bilang kan sebelumnya, jangan ambil lagi buruanku!"


Tanpa sadar, Shana dan Friagne langsung menoleh secara bersamaan ke arah Ryan.


Melihat keduanya menatap ke arahnya, Ryan berkata, "Kamu yang di sana, orang mesum yang bajunya serba putih. Kamu adalah buruanku. Jadi tetaplah di sana dan biarkan aku membunuhmu, oke?"


Friagne cukup terkejut dengan tingkah Ryan hingga ia tidak dapat berkata-kata.


Shana menatap Ryan, dan matanya berangsur-angsur berubah seakan mencemooh Ryan. "Dasar bodoh."


Mendengar ini, Ryan tersenyum ke arah Shana dan berkata, "Dasar naif."


Dahi Shana berkerut mendengar hal ini. Ia menatap Ryan dengan ganas dan berteriak, "Siapa yang kamu bilang naif?"


"Siapa lagi coba kalau bukan kamu?" Ryan berkata tanpa ragu, "Sifatmu masih kekanak-kanakan, gadis kecil! Kamu memang selalu mencoba terlihat serius dalam bekerja, tapi tetap saja kamu hanyalah seorang gadis kecil."


"Siapa yang gadis kecil, ha!" Shana menunjuk Ryan dan berkata dengan emosi, "Kamu hanya seorang manusia, tapi kamu bertindak sangat bodoh!"


"Wah, kebetulan ya … aku juga berpikir hal yang sama." Ryan lalu membalas perkataan Shana, "Kamu hanya seorang bocah sombong yang sok kuat. Tapi kamu malah menantang orang mesum yang di sana. Pantas saja orang mesum yang disebut Hunter itu memandang rendah dirimu."


Shana tampak benar-benar marah. Ia menutup matanya dan mengarahkan Odachi-nya ke tubuh Ryan, seakan-akan ia bermaksud untuk langsung menebas Ryan.


"Tunggu, tunggu!" Alastor sepertinya tak tahan melihat situasi ini dan berkata, "Lawan kita adalah Crimson Lord, tolong tenanglah!"


"Diam! Diam! Diam!" (Urusai! Urusai Urusai!)


Shana benar-benar mengabaikan saran dari Crimson Lord yang berkontrak dengannya. Seperti anak kecil yang mengamuk, Shana berteriak keras dan berkata, "Aku akan memotongnya. Jangan hentikan aku, Alastor!"


“Oke!” Ryan tersenyum sarkas dan segera berkata dengan nada provokatif, “Kamu bisa mencobanya, kalau kamu memang bisa melakukannya.”


Mata Shana kembali mengeluarkan api yang membara.


Melihat Ryan dan Shana mengobrol sendiri, Friagne akhirnya merespon, "Kalian berani mengabaikanku?"


Suara Friagne ini membuat Ryan dan Shana menoleh ke arahnya dan berkata dengan tegas secara bersamaan. "Tutup mulutmu dan tetap diam di sana!"


Ekspresi Friagne membeku mendengar tanggapan yang sama dari dua orang di depannya. Dengan segera, amarah yang hebat bangkit dari hatinya

__ADS_1


__ADS_2