
Weeeng
Di bawah getaran udara, sebuah lingkaran yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia, menyebar ke seluruh kota Misaki.
Bagaikan setetes air yang jatuh di atas permukaan air, fluktuasi seperti riak air menyebar ke seluruh penjuru kota.
Gelombang fluktuasi ini hanya bisa dirasakan oleh Ryan dan Shana.
Tentu saja, Alastor juga bisa merasakan hal yang sama.
"Mantra Tak Terbatas untuk mencari seseorang?" Alastor berkata, "Dengan begitu besarnya Mantra Tak Terbatas ini, orang tersebut pasti sangat ahli dalam menggunakan Mantra Tak terbatas. Jadi, berhati-hatilah …"
Kata-kata ini bukan hanya ditujukan untuk Shana, tapi juga untuk Ryan.
Lagi pula, untuk tipe petarung jarak dekat seperti Ryan dan Shana, lawan dengan kemampuan jarak jauh tidak diragukan lagi adalah yang paling sulit.
"Sangat terang-terangan sekali menggunakan Mantra Tak Terbatas." Shana dengan tenang berkata, "Dia seharusnya bisa merasakan auraku, tapi dia tetap bersikap seperti itu."
Sikap ini membuktikan bahwa orang tersebut tidak takut ataupun mempedulikan keberadaan Shana.
"Mungkinkah dia adalah Denizen dari Bal Masqué?" duga Shana sambil menyentuh dagunya.
"Aku tidak yakin. Tentu saja kita tidak bisa membuang kemungkinan itu." Alastor dengan jujur menjawab, "Akan tetapi, jika hanya ada satu aura yang muncul, itu seharusnya bukan Bal Masqué, namun aku tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa dia adalah pemburu suruhan Bal Masqué, ataupun Denizen dari organisasi lain."
Hanya dengan aura dan distorsi yang terjadi, sangat sulit untuk mengenali secara spesifik siapa identitas lawan.
"Pokoknya, ayo pergi dan lihat siapa identitas orang tersebut."
Shana membuat keputusan ini dan segera berdiri.
Namun, Ryan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya.
Melihat Ryan seperti itu, Shana mengerutkan dahinya, dan bertanya padanya. "Kamu tidak mau pergi?"
Mendengar ini, Ryan langsung menjawab, "Nggak ah, aku nggak ikut."
Jawaban ini tentu tidak diduga oleh Shana. "Kenapa?"
Setelah mendengar pertanyaan Shana, Ryan berkata, "Karena aku merasa itu nggak perlu. Beda lagi jika orang tersebut adalah Denizen dari Bal Masqué. Aku pasti akan datang dan membuat mereka membayar hutang dari salah satu pimpinannya."
"Tapi jika itu bukan mereka, aku sama sekali tidak tertarik, kecuali kalau mereka mendatangiku langsung."
Kata-kata Ryan ini membuat api amarah Shana berkobar.
Tanpa pikir panjang, Shana meninggikan suaranya dan berkata, "Bagaimana kalau orang tersebut itu adalah Crimson Denizen? Bagaimana jika orang itu sekarang sedang menelan Power of Existence dari manusia-manusia di sekitarnya?”
"Apa hubungannya denganku?" Ryan menyambut tatapan Shana dan mengatakannya dengan lugas. "Aku bukan Flame Haze."
__ADS_1
"!!!"
Shana benar-benar terkejut mendengar jawaban seperti itu.
Tapi, apa yang dikatakan Ryan benar. Ia bukanlah seorang Flame Haze. Maka dari itu Ryan tidka memiliki alasan untuk bertarung.
Sebelumnya, Shana sangat mengagumi Ryan yang dengan gigih bertarung melawan Crimson Lord hingga berdarah-darah.
Sebab, bagi Shana yang bangga dengan misi Flame Haze, orang seperti Ryan yang dengan gigih melawan Denizen tanpa kenal menyerah adalah bentuk ideal Flame Haze yang ia dambakan.
Oleh karena itu, di mata Shana, Ryan sangat berkilau.
Namun, kini Shana terpaksa harus mengakui kenyataan, bahwa Ryan bukanlah seorang Flame Haze.
Pertarungannya bukan untuk misi Flame Haze, tetapi untuk dirinya sendiri.
Hal ini membuat Shana merasa terkhianati.
'Sangat jelas aku ingat kamu berkata bahwa -Dunia ini bukan milikmu, jadi jangan berpikir bahwa misi ini adalah milikmu seorang-'
'Tapi kenapa …'
'Kenapa kamu membiarkanku bertarung sendirian?'
Kesenjangan antara perkataan Ryan dua hari yang lalu dan sekarang, membuat hati Shana meluapkan api amarah yang tidak bisa didamaikan.
Shana tahu bahwa Ryan benar. Sebagai manusia, Ryan benar-benar tidak memiliki alasan untuk bertarung dalam situasi ini.
Jadi, perkataan Ryan sangat benar dan logis.
Dan tentu saja, Shana tidak dapat menerima semua itu. Ia tak lagi bisa mengendalikan amarahnya.
Dengan perasaan jengkel, Shana menundukkan kepalanya dan berbalik menghadap balkon.
Wuuush
Diiringi dengan suara api menyala, tubuh Shana kini telah dikelilingi bubuk api, membuat rambut dan kedua matanya membara. Tanpa mempedulikan Ryan di belakangnya, Shana langsung melompat keluar dan menjelma menjadi pita merah.
Melihat Shana sangat marah dan pergi tanpa berpamitan, Ryan duduk di tempat tidur dan melihat pita merah yang bergerak semakin menjauh dengan cepat.
"Haah~ benar-benar gadis kecil yang nggak sabaran."
Faktanya, jika Shana mengajak Ryan dengan baik, Ryan tidak memiliki alasan untuk menolak. Ia sebenarnya hanya ingin sedikit mengusili Shana, karena melihatnya marah sedikit membuat hati Ryan terhibur.
"Mungkinkah aku orang yang sadis? Tapi, aku merasa bahwa aku adalah orang yang memiliki kepribadian baik dan santun." gumam Ryan sambil terus melihat keluar balkon.
~***~
__ADS_1
Di sisi lain, bagaikan sebuah meteor yang fleksibel, Shana melompat dari satu gedung ke gedung lainnya menuju ke jembatan Misaki.
Rambut api miliknya meninggalkan bubuk api merah di udara. Kedua matanya yang terbakar memantulkan cahaya indah di angkasa. Karena penampilan seperti inilah, Kontraktor Alastor mendapat julukan Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.
Namun, di bawah penampilan keren ini, lubang di dalam hati Shana semakin membesar. Kekosongan di hatinya semakin menjadi-jadi dan kuat.
Dalam perasaan seperti itu, Shana mau tidak mau berbisik. “Apa yang harus aku lakukan?”
Efek dari perkataan ini membuat hati Shana semakin kosong.
“...”
Alastor pun hanya bisa diam. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Shana.
Tak lama kemudian, Shana segera melompat tinggi ke jembatan Misaki yang telah ada di depan matanya.
~***~
"Margery!"
Di atas tiang baja jembatan Misaki, teriakan Marchosias tiba-tiba terdengar dari buku hardcover.
“Aku tahu!” teriak Margery membalas Marchosias.
Detik berikutnya, lingkaran yang terus melebar dari ujung jari Margery perlahan menghilang, Dalam prosesnya, Margery dengan santai menyerap Power of Existence dari beberapa Torch untuk mengisi kembali energi yang digunakan dalam Mantra Tak Terbatas.
Cara seperti itu, hanya bisa dilakukan oleh seorang Ahli Mantra Tak Terbatas yang cerdas.
Segera setelahnya, Margery mengangkat kepalanya dan melihat ke arah area pemukiman.
Di sana, sebuah meteor merah menyala turun dari langit dan mendarat dengan berat di atas tiang baja jembatan. Serbuk api teratai merah beterbangan di sekitar sosok mungil itu.
“Flame-Haired Burning-Eyed Hunter?”
Margery dan Marchosias sama-sama terkejut dengan kehadiran gadis berambut merah di seberang tiang jembatan.
Pada saat yang sama, suara terkejut Alastor juga bergema dari liontin yang Shana kenakan. "Chanter of Elegies?"
Chanter of Elegies, itulah julukan Margery sebagai Flame Haze.
Meskipun tidak sepopuler Flame-Haired Burning-Eyed Hunter, tapi Chanter of Elegies juga bisa dianggap cukup terkenal di beberapa kalangan.
Ada tiga alasan mengapa Chanter of Elegies cukup terkenal.
Yang pertama adalah Chanter of Elegies telah bertindak sebagai Flame Haze selama ratusan tahun dan telah lama melakukan pekerjaannya dengan baik.
Kedua, Chanter of Elegies adalah seorang Master dalam Mantra Tak Terbatas, jadi dia terkenal akan keahliannya dalam Mantra Tak Terbatas. Mantra Tidak Terbatas yang digunakan Chanter of Elegies dalam pertempuran semuanya menggunakan rapalan puisi.
__ADS_1
Oleh karena itu, Mantra Tidak Terbatas yang digunakan Margery disebut Puisi Pembantaian Improvisasi (Improvisational Poem of Slaughter). Margery lah satu-satunya Flame Haze yang menggunakan cara tersebut dalam menggunakan Mantra Tak Terbatas.
Lalu alasan yang ketiga atau yang terakhir, Chanter of Elegies dikenal sebagai maniak bertarung. Dia tertarik dengan pembantaian Crimson Denizen. Karena hal ini, banyak Flame Haze yang menjauhinya.