Reincarnation Room

Reincarnation Room
Alasan?


__ADS_3

Boom


Di dunia serba merah ini, entah sudah yang ke berapa kali, suara hantaman bagai ledakan bom kembali terdengar. 


Hasil serangan kali ini membuat tubuh Ryan dan Sydonay terpental mundur secara bersamaan. Jarak di antara keduanya pun semakin melebar.


Darah merah Ryan dan ceceran api ungu terus-menerus tumpah di sepanjang jalan.


Saat keduanya berhenti dan terkapar di tanah, jarak di antara keduanya telah mencapai lebih dari 10 meter.


"Uhuk uhuk!"


Ryan tak lagi bisa menahan batuk darah dan membiarkan cairan merah yang muncrat ke udara terlihat seperti bunga darah yang mekar.


"Grrrrr!"


Sydonay juga sedikit merintih kesakitan. Terdapat banyak api ungu keruh pada bulu-bulunya yang terlihat seperti percikan darah.


Kini, mereka berdua sama-sama masih tergeletak di tanah. Keduanya juga kesulitan untuk bangkit.


Tak sampai lima menit, Ryan dan Sydonay berhasil berdiri. Namun tubuh mereka berdua terlihat sangat lemah. Bahkan saking lemahnya, tubuh sempoyongan itu bisa roboh kapan saja.


Shiiii


Butiran cahaya bintang yang menyelimuti tubuh Ryan, mulai memudar dan akhirnya benar-benar hilang. Itu adalah tanda dimana Prana Ryan telah benar-benar habis.


Wuuush


Api ungu keruh tubuh Sydonay juga mulai menipis. Luka lebam dan tulang retak di sekujur tubuhnya juga banyak yang belum pulih. Itu juga merupakan tanda menipisnya Power of Existence.


Meski dengan kondisi tubuh yang seperti itu, Ryan dan Sydonay tetap berjuang keras untuk bisa tetap berdiri.


Dari samping, Shana melihat semua ini sampai lupa untuk bernafas. Pertarungan ini mau tidak mau mengubah cara pandangnya.


Di depan Shana, Ryan dan Sydonay masih terus berjuang. Tampak raut wajah Ryan sudah sangat pucat, sedangkan Sydonay hanya tampak kelelahan karena Power of Existence-nya menipis.


Dalam kondisi seperti itu, Sydonay masih dapat tersenyum dengan nafas yang terengah-engah. “Sudah lama aku tidak bertarung dengan level seperti ini. Apalagi lawanku adalah seorang manusia, ini  belum pernah terjadi sebelumnya.” 

__ADS_1


“Dapat bertarung secara seimbang melawanku, kamu seharusnya bangga dengan pencapaianmu ini.”


“Namun sayang, kamu tidak akan pernah bisa menang melawanku selama kamu hanya seorang manusia.”


Ini bukanlah sebuah arogansi  dari Sydonay, tapi memang fakta yang tidak bisa dibantah.


Ryan adalah manusia.


Oleh karena itu, ketika diserang, Ryan sebagai akan terluka dan serangan yang dilancarkannya akan mengkonsumsi stamina. Sejak awal pertarungan hingga akhir, rasa lelah akan terus menumpuk dan membuat tubuh Ryan semakin berat.


Sebaliknya, Sydonay adalah Crimson Denizen.


Crimson Denizen tidak mudah terluka dan juga tidak mudah lelah. Namun, semua itu didasarkan pada sisa jumlah Power of Existence yang mereka miliki.


Selama mereka masih memiliki Power of Existence yang cukup, maka Crimson Denizen dapat menggunakan Power of Existence untuk memperbaiki luka dan memulihkan Stamina sampai Power of Existence habis.


Dan hari ini, kuantitas Power of Existence Sydonay hampir habis. Jika ia terus menggunakannya, maka keberadaan Sydonay di dunia ini tidak akan bisa lagi dipertahankan.


Namun, sisa Power of Existence yang dimilikinya sudah cukup untuk membantu Sydonay memperbaiki beberapa bagian tubuh.


Dengan cara ini, bahkan jika Power of Existence hampir habis, kekuatan Sydonay juga akan melemah. Walau begitu, kondisi ini tentu jauh lebih baik daripada kondisi Ryan yang pucat dan dipenuhi banyak luka hingga sekujur tubuhnya berwarna merah akibat darah yang tak henti-hentinya mengalir.


Akan tetapi, perkataan Ryan berikutnya membuat situasi ini semakin tidak menentu.


“Jika aku bisa menggunakan semua kekuatanku, maka kamu akan semakin mustahil untuk menang."


Ryan mengatakan ini seakan ia telah melihat isi hati Sydonay yang paling dalam. “Kamu ingin berkata seperti itu kan?”


Mendengar ucapan Ryan itu, mata Sydonay langsung terbelalak.


Ryan berusaha mempertahankan postur tubuhnya seolah-olah semua luka dan darah yang ada di tubuhnya tidak mempengaruhinya sama sekali. 


Sydonay kemudian menunjukkan senyum menyeringai pada Ryan dan berkata. “Aku tahu, karena suatu alasan, kamu belum mengeluarkan kekuatan penuhmu. Tapi, apakah kamu nggak pernah terpikir, bahwa aku juga memiliki kartu As tersembunyi?”


“Ayo kita lanjutkan pertarungan kita. Mari kita lihat, kartu As siapa yang akan mengunci kemenangan dalam pertarungan ini.”


Kata-kata yang diucapkan Ryan dengan penuh percaya diri ini, membuat ekspresi Sydonay berubah dan terdiam.

__ADS_1


Bisa dibilang, saat ini Sydonay mulai meragukan kesempatannya untuk menang. ‘Apakah dia masih memiliki kartu As yang belum digunakan? Atau semua ini hanyalah gertakan?’


Sydonay tidak yakin.


Namun, meski Ryan benar-benar menyembunyikan kartu As-nya, Sydonay tidak akan terkejut.


‘Seorang manusia dapat memiliki kekuatan bertarung seperti itu dan dapat melawanku sampai sejauh ini. Jika aku menceritakan hal ini pada Crimson Lord lainnya, mereka semua pasti tidak akan percaya dan menertawakanku.’


‘Apalagi, manusia ini tidak hanya kuat secara fisik, tapi dia juga dapat menggunakan energi yang aneh.’


‘Jika dia benar-benar menyembunyikan kartu As-nya, dan aku secara gegabah menyerangnya, maka situasi ini akan berbalik. Aku bisa saja kehilangan nyawaku hari ini.’


‘Aku tidak boleh mati di sini!’


Sydonay adalah Crimson Lord yang cerdas. Maka dari itu, ia benar-benar serius memikirkan langkah apa yang harus diambilnya sekarang.


Setelah menimbang pro dan kontranya, Sydonay akhirnya lebih memprioritaskan informasi mengenai keberadaan Reiji Maigo ketimbang kemenangannya atas Ryan.


Jika Sydonay sampai mati di sini, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat besar. Karena ia mengemban misi yang sangat penting, dan itu berkaitan dengan Reiji Maigo.


'Ini terlalu beresiko. Aku tidak mau kehilangan nyawaku sebelum misi besarku selesai.'


Memikirkan hal seperti ini, Sydonay terdiam sesaat dan kemudian ia membuka mulutnya. "Mengapa kamu, yang hanya seorang manusia mau berjuang sampai sekeras ini?"


Kebetulan atau tidak Sydonay ternyata mengajukan pertanyaan yang sama dengan Shana.


Ini adalah pertanyaan yang wajar. Entah itu Flame Haze ataupun Crimson Denizen, mereka selalu selalu percaya bahwa hanya mereka saja yang saling bermusuhan dan berperang.


Sementara manusia, bagi Flame Haze mereka hanya sebatas penduduk dunia ini yang patut dilindungi. Sedangkan bagi Crimson Denizen, manusia hanyalah setumpuk makanan.


Dengan kata lain, Flame Haze dan Crimson Denizen telah saling bertarung dalam sejarah yang panjang.


Dan manusia hanyalah sekelompok pengamat yang bodoh.


Tapi, kemunculan Ryan membuat akal sehat kedua kubu tersebut goyah. Maka dari itu sangat wajar jika Sydonay juga memiliki pertanyaan yang sama seperti Shana.


Baik Shana maupun Sydonay, sangat penasaran dengan Ryan dan juga rahasia kekuatannya.

__ADS_1


Menghadapi pertanyaan itu, Ryan hanya menyeringai dan berkata, "Apakah aku, sebagai manusia, tidak boleh melawan balik makhluk yang telah memangsa keberadaan kami? Apalagi, jika makhluk tersebut mengincar benda milikku."


__ADS_2