Reincarnation Room

Reincarnation Room
Rusalka


__ADS_3

Saat tangan Ryan menyentuh pipi Sylvia dengan lembut, tubuh Sylvia gemetar hebat.


Kini, Ryan dapat dengan jelas melihat bahwa di mata Sylvia, muncul emosi yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Hal ini juga membuat dada Sylvia berfluktuasi tajam, dan bahkan ujung hidungnya mulai mengeluarkan keringat halus, yang terlihat sangat menarik.


Suasana di balik mesin penjual otomatis mulai menjadi sedikit panas.


Di bawah pengaruh suasana seperti itu, bahkan Diva terkenal Dunia, hanya menjadi seorang gadis biasa.


Pikiran bawah sadar Sylvia mencoba untuk berbicara, tetapi langsung berhenti.


Pada saat yang sama, di depan mesin penjual otomatis, semburan suara mulai terdengar.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"


"Terus mencarinya?"


"Tentu saja kita harus terus mencari!"


"Benar."


"Aku bisa merasakan wanita itu pasti ada di dekat sini!"


Setelah mendengar pembicaraan seperti itu, kata-kata Sylvia yang baru saja mengalir ke tenggorokannya langsung tertelan kembali.


Meski belum melihat wajah orang yang menguntitnya, Sylvia sangat familiar dengan suara gadis-gadis tersebut.


Oleh karena itu, Sylvia sudah tahu identitas orang yang mengikutinya.


Justru karena ini, Sylvia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Jika gadis-gadis itu melihat situasi Sylvia dan Ryan, maka hal ini bisa menjadi berita sensasional.


Bayangkan saja, muncul sebuah berita bahwa Diva terkenal dunia berpelukan di balik mesin penjual otomatis dengan seorang pria misterius, lengkap dengan foto dan video, pasti berita itu akan menjadi Headline 


Dalam keadaan seperti ini, Ryan membelai pipi Sylvia dan mengangkat wajah menawan itu lebih dekat.


Napas Sylvia tiba-tiba menjadi lebih mendesak.


Melihat pupil berwarna gelap di matanya, Sylvia tahu situasi seperti apa yang dia hadapi.


Saat ini, Sylvia menggelengkan kepalanya dengan kuat. 


Namun, Ryan yang sudah hilang akal langsung menyerbu bibir Sylvia.


Muuuch


Bibir Ryan pun seketika itu menyentuh bibir Sylvia. Hal ini sontak membuat Sylvia tersentak.


"Mmmmm!" Sylvia mencoba berteriak. Tangannya juga menempel di tangan Ryan untuk mendorongnya menjauh.


Namun sayang, tempat ini terlalu sempit, jadi Sylvia tidak bisa mendorong tubuh Ryan.


Akhirnya, setelah beberapa saat menutup rapat bibirnya, Diva terkenal itu akhirnya menyerah. 


Saat bibir dan gigi putih Sylvia terbuka, lidah Ryan langsung menyerbu dengan sewenang-wenang.


Lidah Ryan langsung menangkap lidah Sylvia. Sensasi bibir dan lidah yang terhuyung-huyung membuat kepala Sylvia mulai lumpuh.


Semakin lama, perlawanan Sylvia semakin melemah, hingga akhirnya benar-benar menghilang.


Ryan dengan agresif menciumi Sylvia. Bahkan tangannya juga mulai berbuat nakal.


Sylvia mulai menunjukkan erangan yang sangat seksi.


Dengan keadaan seperti itu, Ryan dan Sylvia berciuman tanpa henti dengan panas

__ADS_1


Tanpa terasa, mereka melakukan itu hingga matahari mulai terbenam.


Kelima gadis yang mencari Sylvia telah lama pergi. Bahkan para pasangan yang sedang berpacaran di taman juga sudah mulai kembali.


Dari belakang mesin penjual otomatis, Ryan dan Sylvia keluar secara diam-diam.


Keheningan yang tak terlukiskan meliputi suasana di antara mereka berdua. Ekspresi canggung sekaligus malu tercetak di wajah Sylvia.


Ryan sendiri tak menyangka bahwa ia lepas kendali. Untungnya, apa yang diperbuatnya hanya sebatas meraba dan mencium. 


Jika lebih, Ryan yakin Sylvia akan membencinya. Karena Ryan tahu, Sylvia memiliki harga diri yang cukup tinggi walau tidak terlihat seperti itu.


Setelah beberapa saat hening, Sylvia akhirnya berbicara duluan. "Oke, hari ini cukup sampai di sini dulu."


Saat mengatakannya, Sylvia sama sekali tidak menatap ke arah Ryan.


"Aku akan menghubungimu nanti!” Ketika kata-kata itu jatuh, Sylvia tidak tahan lagi dan bergegas pergi.


Melihat punggung gadis muda itu berlari semakin jauh, Ryan hanya bisa menghela nafas panjang. "Haah~"


"Sepertinya dia sekarang membenciku. Aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak bisa menahan diriku!"


"Aku nggak yakin dia akan menghubungiku lagi." 


Setelah beberapa saat memandang matahari terbenam, Ryan akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi dan kembali ke Jie Long.


~***~


Asrama Akademi Putri Queenvail.


Di sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas, beberapa gadis berlutut bersama mengelilingi meja dan terlihat sedikit lelah.


"Aku sangat lapar …"


"Lelah sekali …"


"Aku tida tahu …"


"Kita sudah mencari mereka dari siang hingga sore, tentu saja kita kelelahan sekarang.".


Gadis-gadis muda inilah yang membuntuti Ryan dan Sylvia.


Hanya saja, pada saat ini, gadis-gadis ini melepas masker mereka, topi dan kacamata mereka. Meski belum mengganti bajunya, tapi masing-masing dari mereka lucu dan juga cantik.


Jika Ryan ada di sini dan melihat wajah asli dari lima penguntit yang kelelahan ini, ia pasti sadar akan identitas kelima orang tersebut.


Karena kelima gadis muda itu adalah anggota band rock wanita kelas dunia yang cukup populer, Rusalka.


Vokalis utama dan gitaris, peringkat ketiga Page One Queenvail, Miluse.


Drummer, peringkat kesembilan Page One Queenvail, Paivi.


Bassist, peringkat ketiga belas Queenvail, Monica.


Gitaris, peringkat kedua puluh Queenvail, Tuulia.


Dan seorang pemain keyboard yang tidak memiliki peringkat, Mahulena.



Kelima gadis muda ini, menduduki peringkat kedua secara popularitas, baik di Queenvail maupun dunia. 


Tentu saja yang menempati peringkat pertama adalah Diva yang mendapat sebutan Sigrdrifa, Sylvia Lyyneheym.


Namun, justru karena itulah, para anggota Rusalka membuntuti Sylvia.

__ADS_1


Alasannya juga sangat sederhana, mereka iri dengan kesuksesan Sylvia.


Sebagai vokalis utama dan gitaris, Miluse yang menjadi leader dalam tim tiba-tiba mengangkat badannya dan raut lelahnya berangsur-angsur berganti dengan kegirangan. 


"Setidaknya, kerja keras kita hari ini, sepadan dengan hasil yang kita dapatkan!"


Kata-kata Miluse ini, membuat para anggota Rusalka yang lain terlihat gembira. Mereka pun juga ikut mengangkat tubuh mereka dan melihat ke sebuah layar hologram.


Dalam layar tersebut, tampak sebuah foto di mana Ryan dan Sylvi duduk di bangku taman sambil tertawa bahagia, benar-benar mirip seperti sepasang kekasih.


Melihat gambar ini, Miluse mengepalkan tangannya dan mendongak dengan teriakan semangat.


"Kali ini, kita dapat mendepak Sylvia Lyyneheym dari singgasananya dan berdiri di puncak dunia!"


Mendengar ucapan Miluse, semua gadis di ruangan tersebut sangat bersemangat.


"Benar!"


"Selama foto ini ada, kelemahan Sylvia Lyyneheym ada di tangan kita!"


"Kita bisa menjual foto ini ke surat kabar dan meminta mereka melaporkan skandal Sylvia Lyyneheym. Dengan begitu, popularitasnya akan jatuh dan menghilang!"


Paivi, Monica, dan Tuulia semuanya berteriak keras, dan emosi mereka jelas sangat bersemangat.


Hanya Mahulena, yang duduk diam di salah satu sudut sambil menghela nafas. "Apakah ini tidak apa-apa? Apakah menurut kalian Inspektur Pengawas akan setuju dengan apa yang kita lakukan?"


Sebagai pilar Akademi Putri Queenvail, keberadaan Sylvia sangat penting, baik bagi sekolah maupun bagi Integrated Enterprise Foundation yang ada di belakang sekolah. Bagi mereka. Sylvia adalah ayam bertelur emas.


Dengan pentingnya Sylvia, jelas mereka tidak akan setuju dengan apa yang dilakukan Rusalka.


Tiba-tiba saja, suara keenam terdengar menanggapi ucapan Mahulena.


"Kalaupun kalian melakukannya, sebelum berita tersebut keluar, Inspektur Pengawas  pasti akan lebih dulu memanipulasi berita untuk menggiring opini publik."


Mendengar suara ini, para anggota Rusalka langsung membeku. 


Tak lama kemudian, para gadis itu, melihat ke arah pintu kamar yang ternyata telah terbuka.


Di depan pintu, seorang gadis yang sangat cantik sedang tersenyum kepada para anggota Rusalka.


"Hai Rusalka, lama tak berjumpa."


Para anggota Rusalka tiba-tiba berdiri dan berteriak. "Sylvia Lyyneheym!"


Mengenakan seragam Queenvail, Sylvia muncul dengan temperamen yang elegan. 


"Aku tahu bahwa beberapa dari kalian mengikutiku."


Sylvia hanya tertawa, dan bahunya sedikit bergetar. "Tapi, sayangnya, kalian telah ketahuan. Aku juga sudah melaporkan semua ini kepada Inspektur Pengawas."


Mendengar hal ini, raut wajah Rusalka berubah menjadi biru.


"Singkatnya, pertama-tama aku akan menyampaikan kepada kalian apa yang diucapkan Inspektur Pengawas." 


Sylvia berkedip dan dengan agak bercanda berkata, "Gambar yang kalian miliki, jika sampai bocor, maka hal itu akan menjadi tanggung jawab kalian. Saat itu tiba, kalian akan mendapat hukumannya."


Setelah menyampaikan pesan tersebut, Sylvia melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Rusalka.


~***~


Setibanya di kamar, Sylvia bersandar ke dinding sambil mengelus dadanya. Ia terlihat agak murung.


Mengingat kejadian hari ini, jantung Sylvia berdetak secara spontan dan dia mulai mengeluh. "Ini semua gara-gara mereka! Jika saja mereka tidak membuntutiku, maka kejadian itu tidak akan terjadi!" 


Mengingat semua kejadian di belakang mesin penjual otomatis, Sylvia benar-benar merasa malu. "Aku tidak menyangka ada hari di mana aku mengalami kejadian seperti itu."

__ADS_1


"Tapi, semua itu tidak penting! Demi menemukan Ursula, aku harus terus berhubungan dengan Ryan."


__ADS_2