Reincarnation Room

Reincarnation Room
Konfrontasi Antar Flame Haze


__ADS_3

Wuuush


Di bagian dalam Fuuzetsu, sebuah api biru tua berkobar dengan hebat dan langsung menutupi tubuh Margery.


Seketika itu, nyala api biru tua itu berubah menjadi sosok tinggi yang memiliki aura ganas. Api yang menutupi tubuh Margery pun berubah menjadi tubuh penuh bulu berwarna biru.


Saat api biru tua itu benar-benar hilang, sosok cantik dan seksi Margery sudah tidak ada lagi. Kini, di sana berdiri sesosok manusia serigala berwarna biru tua yang terlihat buas dan kejam.



"Rooooooooooar!" 


Suara raungan Margery dan Marchosias terdengar menyatu dari tubuh manusia serigala tersebut.


Di bawah raungan itu, udara di sekitar jembatan sedikit bergetar, menimbulkan angin kencang yang meniup jubah hitam Shana ke belakang.


"Itu …" Shana mengernyitkan dahinya melihat bentuk baru Margery.


"Itu adalah jubah api bernama Toga. Sama seperti Yogasa yang kamu gunakan, Toga adalah manifestasi kekuatan unik dari Flame Haze milik Claw and Fangs of Violation." jelas Alastor. 


"Kamu bisa menganggapnya sebagai bentuk yang muncul dari kombinasi (Fusion) Chanter of Elegies dengan Claw and Fangs of Violation. Dalam wujud ini, tidak hanya kekuatan serang saja yang meningkat, namun juga pertahanan tubuhnya juga meningkat."


Saat kata-kata Alastor baru saja jatuh, manusia serigala di depan Shana telah benar-benar menyelesaikan transformasinya.


"Maaf telah membuatmu menunggu. Mari kita segera mulai pertarungan kita." ucap Margery dengan suara yang telah bercampur aduk bersama suara Marchosias.


Tak lama kemudian, manusia serigala yang disebut Toga ini menyeringai.


“Kitsune no yomeiri tenki ame, Haha!” (Fox's wedding weather rain, haha!)


“Kono san-byō de odabutsu yo, tto!” (In these three seconds, you will die!)


Bersamaan dalam rapalan mantra ini, bubuk api biru tua mendadak muncul di sekitar tubuh Toga 


"!!!"


Tanpa ada keraguan, Shana mengangkat jubah hitamnya dan menariknya ke depan untuk menutupi tubuhnya.


Wuuush


Hampir pada saat yang bersamaan, serbuk api biru di sekitar tubuh Toga tiba-tiba terkondensasi dan berubah menjadi beberapa kobaran bola api besar. Bola-bola api biru itu langsung meluncur ke arah Shana dan langsung membombardir tubuhnya.


Boom Boom Boom

__ADS_1


Ledakan demi ledakan terjadi, menciptakan gelombang api biru tua di sekitar tubuh Shana yang telah berlindung di balik jubah hitam. 


Rentetan ledakan ini memicu gelombang ledakan yang kuat dan melempar tubuh Shana ke belakang.


Itulah Puisi Pembantaian Improvisasi (Improvisational Poem of Slaughter), permainan kata yang dijalin sedemikian rupa sesuai dengan situasi dalam menggunakan Mantra Tak Terbatas.


Terciptanya metode menggunakan Mantra Tak Terbatas seperti ini, menjadi bukti bahwa kemampuan Margery dalam bidang Mantra Tak Terbatas sangat brilian.


Efek ledakan api yang kuat dalam sepersekian detik itu menutupi seluruh jembatan, membuat jembatan besi itu bergetar hebat. Akibatnya, bagian tengah jembatan Misaki langsung hancur menjadi potongan-potongan besi serta puing-puing.


Dalam situasi ini, Shana yang terbungkus jubah Yogasa masih terpental ke belakang seperti bola.


"Shana!" teriak Alastor.


"Baik!" jawab Shana dengan tegas. Segera setelahnya, api teratai merah mulai keluar dan membakar tubuh Shana.


Setelah bimbingan terakhir Ryan, Shana akhirnya bisa menggunakan kekuatannya sendiri untuk menciptakan apinya. Ia tidak lagi bergantung pada Nietono no Shana untuk menarik kekuatannya.


Meskipun sementara ini efeknya hanya meningkatkan suhu nyala api yang keluar dari tubuh Shana, tapi ini merupakan peningkatan yang luar biasa dibandingkan dengan menggunakan Nietono no Shana untuk memanipulasi api sebelumnya.


Kemarin, di bawah bimbingan Ryan, Shana mencoba memanipulasi api menjadi berbagai macam bentuk untuk memproduksi ulang kekuatan asli dan bagian tubuh Alastor.


Dari latihan ini, Shana akhirnya dapat membuat sebuah pedang dengan bilah api tanpa bantuan Nietono no Shana. Ia juga dapat memanipulasi api teratai merahnya menjadi sepasang sayap api yang memiliki efek serupa dengan Mantra Tak Terbatas, yaitu kemampuan untuk terbang.


‘Ya, aku pasti bisa melakukannya. Aku hanya perlu memanipulasi api merah ini seperti kemarin …’


Shana yang sedang berpikir seperti itu di dalam hatinya, tiba-tiba saja terbangun.


‘Seperti kemarin?’


‘Apa yang terjadi kemarin?’


‘Jadi, bagaimana cara aku menggunakannya kemarin?'


Pikiran negatif seperti itu satu persatu mulai muncul memenuhi benak Shana. Di saat seperti itu, tiba-tiba bayangan wajah Ryan yang dengan sabar membimbingnya  muncul di hatinya.


‘Ya, saat itu Ryan lah yang telah membimbingku.’


‘Tapi saat ini, pria menyebalkan itu sedang bersamaku untuk memberikan arahan.’


‘Itu bukan masalah.’


‘Meski Ryan tidak ada untuk membimbingku, namun setelah latihan kemarin, aku telah berhasil memanipulasi apiku.’ 

__ADS_1


‘Jadi, aku harus terus berkonsentrasi dan mengingat kembali perasaan saat aku memanipulasi api milikku.’


Walau Shana berkata seperti itu dalam hatinya, tapi pada kenyataannya, Shana seperti mengalami amnesia. Ia benar-benar lupa bagaimana cara memanipulasi api seperti kemarin.


Karena saat ini, tidak ada lagi orang yang memberinya petunjuk. Tidak ada Ryan yang dengan sabar membimbingnya.


‘Tidak mungkin!’


‘Aku harus mengingatnya!’


‘Aku harus bisa memanipulasi apiku sendiri tanpa bantuannya!’


Keinginan kuat Shana ini membuat api teratai merah di sekitar tubuhnya lepas kendali dan langsung meledak.


BOOM


Suara raungan gemuruh ledakan terdengar di udara. Gelombang api merah mekar seperti kembang api di udara.


“AAAAAAAH!” Shana mengerang kesakitan.


Tubuh Shana seketika itu juga langsung terhempas akibat ledakan apinya sendiri. Bersamaan dengan asap gelap yang muncul di tubuhnya, Shana jatuh menghantam aspal.


"Shana!" teriak Alastor terkejut dengan apa yang terjadi.


Tak lama kemudian, suara Margery dan Marchosias terdengar dengan nada penuh ejekan.


“Ini bercanda kan? Seorang Flame Haze terhempas oleh apinya sendiri? Apakah gadis kecil ini mau melawak di sini?”


“Kontraktor Dewa Penghukuman yang terkenal itu ternyata seperti ini? Hal ini benar-benar membuatku tertawa!”


Setelah berkata seperti itu, sosok manusia serigala bernama Toga itu terbang tinggi ke langit, merentangkan kedua telapak tangannya seolah-olah sedang memeluk sesuatu, dan mengkondensasikan api biru tua di dalamnya.


Sesaat berikutnya, gumpalan api biru tua yang telah dikompres tersebut berubah menjadi pilar api yang turun dari langit. Pilar api ini jatuh menembus ruang dan membuat udara di sekitarnya menguap.


Shana yang melihat pilar raksasa itu jatuh ke arahnya, hanya bisa melebarkan matanya.


Akan tetapi, di saat pilar api biru tua akan menghantam tubuh Shana secara telak, sesuatu yang mengubah jalannya pertarungan ini terjadi.


Swoosh


Itu adalah suara tembakan benda tajam yang menembus penghalang angin dengan keras.


Di sana, Shana melihat sebuah cahaya dingin bergerak dengan kecepatan tinggi dari sisi lain seperti meteor.

__ADS_1


__ADS_2